Sunday, September 29, 2013

Changing

Well yeaaaa ... ada perubahan yang sangat mendasar disini. I've changed my url address (from: cupcakerealm.blogspot.com to be nugina.blogspot.com) and also the tittle of this blog (previously Cup Cake Realm), why? I have some reasons.

First: This blog turns to be something I've never decided before.
Originally, this blog is designed to share the interesting moments in my life while finally it turns to be a media for me to tell a story of characters living in my head.

Second: The nature of this blog is changing.
Even though the subject of this blog is still concentrating in ME, there are some basic change. See that I wrote stories and the subject in the most of each story is YOU and I, which actually it can be summarized that I am the main character here like a QUEEN in a kingdom. That's why I change the tittle of this blog to A Drama Queen.

It doesn't mean that Cup Cake Realm disappear like dust. It just changed. To be better.
Share:

Koesma dan Soemah

Gina Kecil mengetuk-ngetukan ujung pensil di atas buku tulisnya. Ada sepuluh pertanyaan disana, dan hanya ada satu pertanyaan yang belum terjawab. Gambarkan pohon silsilah keluargamu dari kakek-nenekmu!

Pertanyaan itu sulit. Sangat sulit bagi Gina kecil yang tidak tahu nama kakek-neneknya yang tinggal di pegunungan sana.

Gina berusaha keras mengingat-ngingat apa nama kakek-neneknya yang selama ini membesarkan dia. Okay, jujur saja dia tidak ingat. Tak jadi soal tentang masalah ini, toh pada kenyataannya dia bisa saja bertanya pada ibunya sendiri. Tapi masalahnya pertanyaan ini harus bisa dia jawab di sekolah, dimana dia tidak bisa bertemu dengan Ibunya dan menanyakan nama Kakek dan Neneknya. Jadi Gina Kecil mulai mengarang sepasang nama. Amin dan Neni. Nama yang terpilih untuk menggambarkan kakek-neneknya dari pihak ibu.

Bagaimana dengan kakek-neneknya dari pihak Ayah? Diapun sama sekali tidak tahu. Dia kembali mengarang sepasang nama. Membolak-balik buku teks Bahasa Indonesianya dan mencomot nama yang dirasa cocok olehnya.

Setelah empat nama dia pilih untuk kakek-neneknya, dia beralih ke nama anak-anaknya,

Okay, dia tahu nama orang tuanya. Dodo Rohanda dan Suherni. Bagian ini mudah sekali.

Nama adik ibunya: Ade dan Nana, ditulis dengan lancar tanpa ragu.

Tapi, bagaimana dengan nama saudara-saudara ayahnya? Dia bahkan tidak tahu pasti ayahnya anak keberapa. Gina Kecil kembali berfikir, Dia tahu beberapa orang adiknya, Cicih, Maman, Ono. Tapi apakah hanya mereka adik Ayahnya?

Lalu bagaimana dengan Bapak Ageung, Ua kaler, Ua Momoh atau Ua Pendi yang sering dia sapa selama ini. Apa hubungan mereka semua dengan ayahnya?

Waktu terus berputar. Beberapa temannya telah maju kedepan, mengumpulkan hasil pekerjaan mereka, tapi Gina Kecil masih saja berjibaku dengan pertanyaan yang sama.

Dia hampir saja menangis.

Tapi ide jenius itu tiba-tiba muncul. Ibu guru tidak tahu sama sekali tentang keluargaku. Yang dia inginkan adalah bahwa aku mengerti susunan keluarga ini. Dia kembali mengarang jawabannya.

Dia menuliskan, ayahnya sebagai anak pertama, Ono, Maman dan Cicih sebagai adik-adiknya.

Membuat garis penghubung antara Suherni dan Dodo Rohanda, lalu membuat garis ke bawahnya menghubungkannya dengan namanya sendiri dan nama adiknya, Bayu Juliansyah.  Dia lalu berlari ke depan kelas dan mengumpulkan hasil pekerjaannya.

Seminggu berlalu. Saat Gina Kecil mengunjungi neneknya dari pihak ibu, Gina membaca dua buah kata yang diukir indah diatas papan kayu di depan rumah neneknya. Koesma & Soemah.

Dia bertanya-tanya tentang dua kata itu dan bertanya pada ibunya.

"Bu, Koesma dan Soemah itu apa?"

"Itu kan nama Abah sama Ema"

Gina Kecil teringat nama kakek nenek yang dia tuliskan pada buku nya: Amin dan Neni. Semoga ibunya tidak menemukan hasil karangannya itu.

***


Meskipun Ibu selalu memeriksa buku pelajaran Gina, dia tidak pernah menemukan kertas halaman pertanyaan tersebut karena Gina Kecil merobek halaman itu dan membuangnya.

Kisah ini nyata dan terjadi padaku. Pastikan saja saat kalian punya anak nanti, kalian menjelaskan silsilah keluarga kalian pada anak-anak kalian
Share:

Wednesday, September 25, 2013

Apa Mau Ku? Apa Mau Mu

Kamu dan Aku, biasanya menjadi Kita. Tapi saat kau tanya apa inginku, selalu saja jawabannya adalah apa inginmu.
~gina

Kamu mengetuk-ngetukan sol sepatumu pada lantai yang keras. Aku tahu, kamu kesal menungguku. Tanpa melihat ekspresi marah di wajahmu itu, aku tahu wajahmu memerah menahan amarah. Tak perlu menghardikku, tatapanmu nanti akan mencambukku karena aku bersalah, membuatmu menungguku.

"Maaf membuatmu menunggu, kamu mau pesan apa? biar aku yang pesankan makanannya!"

Matamu menatapku nyalang. Ada api disana. 

"Kau sebaiknya berhenti mengikuti kegiatan klubmu yang tak pernah bisa membuatmu punya waktu untuk dirimu sendiri!" 

Aku malas memperdebatkan hal yang sama denganmu sayang, jadi aku putuskan untuk menyunggingkan senyuman terbaikku dan bangkit berdiri. "Aku pesan makanan sekarang ya! Kamu mau pesan yang biasa kan?"

Aku tak akan menunggu jawabanmu. Aku tahu, tak akan menjawabnya, lebih memilih tenggelam membalas chat-chat yang sudah memenuhi smartphone mu.

Sepuluh menit kemudian, aku sudah kembali dengan nampan ditangan. Diatasnya ada dua piring makan siang. Tanpa sepatah kata, tanpa ucapan terima kasih, kau segera menghabiskan makan siangmu, bahkan sebelum aku menghabiskan separuh bagian dari porsi yang ada di atas piringku.
Detik berikutnya, kau akan menghabiskan air dalam gelasmu. Setelah menarik nafas dalam, kau akan meninggalkanku sendiri disini. Puluhan kali kita berjanji makan bersama disini, ratusan alasan kau utarakan untuk meninggalkanku sendiri.

"Aku harus pergi lebih dulu. Harus menemui dosen pembimbing skripsiku!"

Sudahlah, tak perlu banyak alasan. Aku mengenalmu sayang, pergi saja. Tak perlu banyak berbohong. Kau tak suka tempat ini yang kau bilang kumuh, dan tidak higienis.

"Kalau saja tadi kamu datang lebih cepat, aku bisa berlama-lama denganmu" 

Aku kembali tersenyum ke arahnya. Aku harap senyumku cukup meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja. Biar dia segera pergi. Biar saja aku merasa sepi di tengah kerumunan begini.

***

"Aku tahu kamu suka mengajar, aku tahu kamu suka anak-anak! Tapi apa harus kamu menjadi guru relawan di kolong jembatan?"

Kembali memperdebatkan hal yang sama. Kesukaanku, hobiku, passion-ku.

"Kamu bisa mengajar di lembaga bimbingan belajar. Lebih normal, higienis, aman!" 

Dadaku bergemuruh menahan amarah yang akan meledak. Tak ada sedetikpun dia berikan untukku untuk sekedar membela diri.

"Aku punya kenalan yang bekerja di tempat bimbel. CV-mu sudah aku berikan. Kau bisa interview besok jam 3 sore!"

"Aku tak akan datang. Besok aku harus mengajar!"

"Di kolong jembatan? For God sake! Aku mendukungmu untuk menyalurkan hobimu, hanya satu pintaku, lakukan di tempat yang aman!"

"Heaven, mereka anak-anak yang bersemangat belajar tanpa bisa memilih dimana mereka bisa bersekolah. Semangat mereka membuat aku cinta. Apa kau tega membiarkan mereka begitu saja?"

"Kau cinta mereka? Bagaimana dengan cinta padaku?"

"Kau hanya membuat semua ini semakin sulit. Cinta pada mereka dan padamu berbeda!"

"Tidak! Kau harus memilih, pilih aku atau mereka?"

Air mulai menggenang di pelupuk mataku. Tidak, aku tidak boleh menangis dihadapannya.

"Selama ini aku selalu berusaha sabar mengikuti maumu, tapi kau tak pernah mengerti! Di luar sana, ada banyak gadis yang mau denganku, dan mereka sejalan dengan pemikiranku. Tapi aku memilih bertahan denganmu, mengikutimu. Dan sekarang, saat aku memintamu untuk memilih, kau bahkan tak memilihku"
"Jika kau pikir begitu, sebaiknya memang kita tak usah bersama lagi! Kita tak sejalan, kau baiknya bersama gadis-gadis yang MAU DENGAN MU DAN SEJALAN SENGAN PEMIKIRANMU!"
"Apa kau bilang? Setelah semua yang kulakukan untukmu, kau melakukan ini padaku?"

"Lakukan apa? Lakukan semua inginmu? Aku pernah ingin melihat bintang, mauku naik gunung dan menatap bintang disana, tapi kau lebih senang membawaku ke puncak, melewatkan malam dengan terjebak macet di jalan dan akhirnya kepayahan tidur semalaman. Aku pernah ingin berenang, mauku berenang di antara ikan dan terumbu karang, tapi kau memilih membeli tiket terbang ke Bali, jalan-jalan di pertokoan, duduk di tepi pantai dan berenang di kolam hotel. Inginku selalu berakhir dengan inginmu!"

***

Aku tahu aku cinta padamu, ku percaya, kau pun mencintai aku. Kita saling mendukung dengan cara yang tak bisa diterima oleh masing-masing dari kita, jadi buat apa lagi kita bersama?
Share:

9,8 m/s2 Bodoh

Tak bisakah aku menyalahkan gravitasi
Menjatuhkan hatiku pada cinta yang ku harap sejati
Layaknya setiap benda yang dilemparkan dari bumi
Selalu ditarik kembali oleh gravitasi
Seperti itulah aku jatuh hati
Pada diri yang kupikir akan setia sampai mati

Ku kira kita seperti bulan dan bintang
Berjodoh karena disandingkan
Seperti cahaya dan terang
Ditakdirkan untuk sebuah alasan
Pernyataan hati ini susah payah aku sampaikan
Berharap cinta berakhir di pelaminan

Hingga muncullah satu pemahaman
Bahwa kasih tak hanya sabda mesra dan senyuman
Tidak! Tak perlu kau banyak jelaskan
Kebohongan sering terungkap dari mulutmu sayang
Dan aku tak sekuat batu karang di tengah gelombang
Jadi biarkan, lepaskan aku dari genggaman
Biarkan saja aku bebas terbang
Melayang
Tanpa gravitasi mengekang

Ini bukan jodoh
Hati ini hanya ceroboh
Dan kerap hati berseloroh
Terkecoh
Bukan
Bukan jodoh
Bodoh
Share:

Tuesday, September 24, 2013

Autumn Leaves



Autumn Leaves is enchanting. I could not stop playing the rhythm inside my head right after I listen this song in a radio. It was ‘Hard Rock’ which played it (if I was not mistaken). All I knew at that time that I fell in love with this song. I was sure that is jazz, but I had no idea what its tittle is. Hard for me to find this song, even internet was useless because I have no idea what I should type as the key words.
After months, I almost forget about this song.
But it came up like a haunted ghost. It just showed up in the radio and the DJ kindly told that it was Autumn Leaves, sung by Nat King Cole.It just like a bottle of cold water in the desert  disappear the thirst.

The lyric is so sexy and romantic.
Yaaap, I am not ashamed to admit that I like this old song like an old school grandma.
Share:

Sunday, September 15, 2013

Pertanyaan Pagi

Ada apa dengan tweet-mu pagi ini? Tak ada sapaan kepada tweeps, tak ada kesyukuran atas mentari pagi. Kamu tidak seperti biasanya. Kenapa? Ada apa denganmu? Sedang marahkah dengan seseorang? Ataukah kamu sedang marah padaku? Baiklah ... aku sepertinya mengkhayalkan bahwa aku adalah seseorang yang sangat spesial dalam hidupmu meski dalam kenyataannya itu sama sekali tidak pernah terjadi. Tapi bagaimana bisa aku beranggapan bahwa kau sedang marah padaku jika dalam tweet-tweet itu sepertinya membahas tentang kita berdua?

Ya, membahas kita berdua!

Kita pernah dekat. Bagaimanapun versimu, bagiku kita pernah sangat dekat. Kita sering kali berkirim pesan hingga larut malam. Paling aktif mengomentari update BBM yang masing-masing dari kita. Kita pernah menghabiskan malam panjang, makan berdua dan membicarakan banyak hal. Membicarakan hal-hal yang jarang sekali dibicarakan dengan seorang kenalan pada umumnya. Membicarakan kebiasaan di rumah, kehidupan sehari-hari, kegiatan di kampus, aksi sosial, mimpi, bahkan tentang cinta pertama. 

Jujur saja, kau membuatku jatuh cinta. karena setiap perhatianmu, setiap tutur katamu, setiap motivasimu membuatku merasa bahwa aku 'bisa'. Kau selalu bisa menopang hidupku ketika aku merasa bahwa hidupku terlalu berat, kuliah ku terlalu padat, kegiatan sosialku terlalu menyita waktuku dan lain-lain. Kau selalu bisa meyakinkanku bahwa aku bisa menghadapi semua itu.

Dan beberapa kali aku mendengar bahwa kau mengharapkan aku menjadi kekasihmu. Sungguh tiap kali kau mengatakannya, meski dengan gaya yang santai dan tak romantis, permintaanmu itu selalu membuat jantungku berdegup tak menentu. Aku tak yakin degupan seperti itu apakah baik untuk kesehatanku atau tidak, tapi yang pasti: aku menyukainya.

Aku menyukai kenyataan bahwa kau menyukaiku, dengan segala kekuranganku, dan rahasiaku yang pernah aku ceritakan padamu. Tapi bukan berarti aku bisa menerimamu begitu saja. Bukan karena aku seorang pemilih, bukan karena ada yang kurang dengan mu, atau membandingkanmu dengan yang lain. Tapi karena AKU. AKU merasa bahwa aku tak pantas untukmu, dengan segala kekuranganku, dan rahasiaku yang pernah aku ceritakan padamu.

Itulah mengapa aku mulai mengurangi intensitasku mengomentari updates BBM-mu, menahan diri untuk berkeluh-kesah kepadamu; pendek kata aku mulai membuat jarak denganmu. Aku ingin mengikis perasaan suka ini padamu. Aku berharap bahwa perasaan suka ini bisa hilang seiring berkurangnya perhatian yang aku dapatkan darimu. 

Tapi aku harus mengakui, setiap hari aku merindukan energi positifmu. Tetap memperhatikan setiap perubahan update BBM mu. Aku bahkan secara rutin  mulai membaca setiap tweet-mu. menyerap tenaga untuk aku gunakan setiap harinya. Namun tweet-mu pagi ini buatku terpana. Kau singgung-singgung tentang perasaan yang aku coba hilangkan melalui salah satu tweet-mu: Jangan pernah kamu tutupi perasaanmu. Karena meskipun mulutmu mampu untuk berkata tidak, matamu tak akan bisa menutupinya.

Aku pun membaca yang lainnya,  

Saya belajar Utk mengerti Bahwa.. saya tdk dpt memaksa org lain utk mencintai saya.. Saya hanya dpt melakukan sesuatu utk org yg saya cintai

Masih mikirin mantan? Emangnya mantan itu pahlawan, tiap hari harus dikenang? Move on Woi!!

Ya! tapi bukan untuk mengharapkannya kembali. Dia adalah sebuah pelajaran yang berharga bagiku.

Jika kamu marah padaku karena aku menjaga jarak dengan mu, dan kamu berfikir aku masih mengharapkan seseorang yg pernah mencampakan aku untuk kembali, kamu salah besar. Kamu sepatutnya tahu benar bagaimana perasaanku kini.

***

Sebenarnya pada siapa tweet-tweet itu kamu tujukan? 



Credit: 
Bunch  of thanks was dedicated to Gumi 
who inspired me to write this.
He is an adorable person with low profile,
"glad to know you, 
I'd love to hang out with you just to listen what you've done"
His tweets sometime hit the bull's eye 
and his tweets in #bacotgue that I was quoted in this prose.
Share:

Monday, September 9, 2013

Turning Point

Yeay, I am glad that some of my writings get reviews from fellas. However, I am not sure that I can keep on writing some stories both short one and running one, why? Because I was accepted working in a TV station. And today is THE DAY! on 10 am sharp, I'll sign the contract working there. Please congratulate me.

You pretty know that media runs for 24/7, and I just simply think, my work's gonna be tight as a brand new tights. So, there will be some switch here, I won't upload as many stories as I did previously but one thing for sure, I'll keep this blog alive by publishing some proses or such at least one in a month (even I am sure I can do better than that though :))

Aaah yaaa ... last word from me who is no longer unemployed:  

Let's work for satisfaction of having diamond!!!
Share:

Saturday, September 7, 2013

Surat Untukmu yang Aku Tunggu

Hallo kamu,

Yaa, kamu yang ada disana. Laki-laki yang menyayangi ibunya, menghormati ayahnya, mengasihi adiknya dan faham agamanya. Kamu yang selalu aku tunggu meski kita tak pernah bertemu.

Bagaimana kabarmu? Aku harap kau selalu dalam lindungan-Nya.

Saat aku menuliskan ini, aku baru saja menyelesaikan solat hajatku. Meminta pada Tuhan agar aku bisa segera bertemu denganmu dalam ikatan sakral yang bisa membuatku masuk surga karenamu.

Sering kali aku bertanya-tanya. Harus berapa lama aku menunggumu? Sehari? Sebulan? Setahun? Bisakah kamu segera muncul? Aku tak sabar untuk dapat bertemu denganmu. Mengetahui rupamu. Menatap lama-lama kedua matamu. Mendengar suaramu. Tak perlu takut aku tak menyukai fisikmu! Aku tak peduli dengan postur tubuhmu, tinggi badanmu, warna kulitmu ataupun bentuk wajahmu. Selama kau berani bertemu ayahku, meluluhkan hati ibuku dan mengasihi kedua adikku, kau sudah mendapatkan cintaku.

Aku menduga-duga, apa hobimu?

Mungkin kau suka berolahraga. Pergi jogging setiap Minggu pagi, bermain futsal di Jum'at malam, nge-gym di hari Selasa, Rabu dan Kamis atau simply having tread-mill di Hari Senin. Kau mungkin punya badan yang bagus jika suka berolah raga. Atau kau tipe orang yang senang tinggal di dalam ruangan, membaca buku seharian? Kau suka novel klasik milik kakek Hemingway, atau fiksi milik Dan Brown. Tenggelam seharian dalam buku-buku mereka. Aku juga suka membaca. Membaca komik dan fiksi lebih tepatnya. Biasanya aku menghabiskan beberapa jam untuk membaca habis satu novel, dan hanya menghabiskan beberapa puluh menit untuk membaca komik. Aku senang jika kita bisa menghabiskan waktu berdua. Berdiam diri berhadapan sambil membaca buku. Meski tak banyak bicara dan tak banyak yang kita lakukan, membayangkannya saja sudah sangat menyenangkan.

Ah, mungkin kau lebih menyukai musik. Memainkan satu-dua alat musik sambil bersenandung di pojok ruangan. Aku menyukai lirik-lirik lagu yang romantis. Dan sejujurnya aku lebih menyukai lagu-lagu lama seperti Autumn Leaves atau L.O.V.E yang dinyanyikan oleh Nat King Cole. Tapi seleraku tak setua itu kok. Aku masih suka lagu-lagu milik Justin Timberlake ataupun Eminem. Yaa, tergantung lirik lagunya. Jika bisa membuatku terkesima, maka aku akan menyukai lagunya.

Atau ternyata kau penyuka jalan-jalan dan wisata kuliner. Ajak aku serta pliss, pliiisss ... Aku tak pernah benar-benar pergi jalan-jalan atau mencoba semua masakan. Mungkin karena aku cuma anak rumahan di kota kecil. Terbiasa go home right after school dan dilarang jajan yang aneh-aneh sama ayah-ibu. Pasti akan menyenangkan sekali merasakan petualangan mengunjungi tempat-tempat baru, mencicipi makanan-makanan asing. Aku sangat menunggu kesempatan seperti itu.

Ada beberapa paradoks dalam hidupku yang sepatutnya engkau tahu. Pertama, aku tak menonton TV di rumah sejak sekolah dasar hingga aku lulus dari perguruan tinggi. Tapi aku senang menonton Film. Aneh. Memang. Di zaman ini bagaimana bisa keseharian dilepaskan dari keberadaan TV? Bagaimana bisa tidak menonton TV tapi menyukai Film? Tapi itulah yang terjadi.

Kedua, saat ini aku bekerja di bagian RnD salah satu TV Swasta besar di negeri ini, padahal aku lulusan Akuntansi. Sebuah pekerjaan yang tak pernah terlintas dalam hidupku terlebih ketika aku memulai kehidupan perkuliahan dulu. Hidup memang penuh misteri, kadang tak bisa ditebak dan jauh melampaui apa yang bisa manusia bayangkan.

Melihat dua paradoks paling jelas dalam hidupku membuatku memikirkan kamu. Apa dirimu akan menjadi bagian dari paradoks hidupku? Jujur saja, tak banyak laki-laki yang dekat denganku. Jumlah mereka tak lewat dari jumlah jari yang ada di kedua tanganku. Apa mungkin kau adalah laki-laki yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Kau seorang astronot misalnya. menemukan salah satu surat yang aku pernah kirimkan menggunakan balon berisi nitrogen ke angkasa.Oke, itu terdengar mustahil dan mengada-ngada. Tapi siapa yang tahu? Paradoks bukankah begitu? Tampak seperti mustahil namun itu kebenarannya.

Aku ingin bilang padamu untuk segera datang. Tapi jujur saja, aku masih belum siap bertemu denganmu di tahun ini. Bagaimana jika kau datang saja tahun depan? Minimal kau temui aku dalam alam mimpi. Muncul di hadapanku dan bilang, 'Maukah kamu menjadi halalku?'
Share:

Friday, September 6, 2013

Akhirnya Kau Menikah Nak



Aku kembali melirik jam yang menggantung di tembok ruangan. Jarum-jarumnya tak lelah berputar. Entah apa yang mereka cari. Apa dia sedang mencari angka 13 yang tak mungkin dapat mereka temui? Sejujurnya itu merupakan pertanyaan bodoh. Kebiasaan burukku ketika sedang menunggu, otak ini terus bekerja, meski untuk mempertanyakan fenomena-fenomena bodoh seperti menanyakan mengapa jarum jam tak pernah mau berhenti berputar selama dia masih memiliki tenaga. Ayah berulang kali mengingatkanku untuk berhenti melakukan ini. Dia menyarankanku untuk berdzikir selama aku menunggu. Itu jauh bermanfaat daripada membuat pertanyaan-pertanyaan konyol bukan?

Sekarang ini aku sedang berada di ruang tunggu apotik. Menunggu sang apoteker meracikan obat untuk ayahku.

“Rohenda” teriak seorang wanita, tak jelas pada siapa. Tapi aku tahu, itu ditujukan untukku. Ayahku bernama Rohenda. Aku bergerak menghampiri. Wanita itu menjelaskan dengan cepat bagaimana cara mengkonsumsi obat-obat itu. Otakku masih belum kembali dari jarum jam tak bisa menangkap penjelasannya, namun apoteker sudah selesai dengan kalimatnya.

“Maaf, bisa diulangi?” tanyaku sopan. Dia sedikit merengut tidak suka. Tapi dia tetap menjelaskannya padaku. Aku mencoba mengingat apa yang dia jelaskan. Bukan hal yang sulit untuk mengingat jika kita sudah fokus bukan?

Ayahku tidak sakit parah. Dia hanya mengeluh bahwa kepalanya sering pusing, tubuhnya terasa berat, dan dadanya terasa sesak. Aku memaksanya untuk pergi menemui dokter untuk mendapatkan perawatan. Hari Minggu ini, aku menemaninya bertemu Bias, seorang teman sejak SMA yang telah menjadi dokter. Kami menemuinya di rumah sakit tempatnya praktek. Dia menjelaskan bahwa ayahku tidak sakit parah. Dia hanya kecapekan, bekerja terlalu keras di usianya yang tidak muda lagi

Ibu menyuapi ayah sepiring bubur. Ayah terlihat begitu bahagia disuapi istrinya. “Sudah lama ayah ingin disuapi ibu” guraunya menggoda pasangan hidupnya. Aku tertawa mendengarnya. Adik laki-lakiku merasa risih mendengar ayahnya mulai menggombal, sedangkan adik bungsuku dia ikut tertawa sambil merebahkan diri di kasur samping ayah.

Tahun ini usiaku genap 25 tahun. Adik laki-lakiku berusia 21 tahun dan adik perempuanku 17 tahun.  Kebersamaan ini jaranglah terjadi padaku. Aku sekarang menjadi seorang internal auditor sebuah perusahaan energi. biasanya aku pulang larut malam. Tak jarang aku harus menggunakan weekend ku untuk lembur.

“Kakak harus cepat menikah! Lihat ayah sudah renta. Ayah ingin sekali menjadi walimu ketika akad nikah nanti” kata ayah setelah menghabiskan makanannya.

Aku hanya memajukan bibirku tanda tak setuju. Beliau masih ‘muda’. Okay, dia memang sudah tidak muda, tapi 58 tahun belumlah tua. Penyakit yang beliau derita hanyalah sakit akibat kelelahan semata.

Ibu meminta kedua adikku untuk membereskan bekas makan ayah dan menyiapkan obat yang harus beliau makan. Sepeninggal kedua adikku, ibu turut membuka suara, “Kakak sudah menolak pinangan 3 orang laki-laki sejauh ini. Menikahlah” Katanya sambil menggenggam kedua tanganku. Aku terdiam. Selama ini sudah ada 3 orang laki-laki yang mencoba menyuntingku, tak ada satupun yang aku terima. Kedua orangtuaku tahu alasannya. Aku punya standar, begitu pemilih.

“Bulan depan keluarga Pak Rasyid akan datang, cobalah pertimbangkan anak laki-laki mereka” tambah ibu.
Aku hanya menganggukkan kepala mengiyakan permohonannya.

Hanya ada satu orang yang mengetahui lika-liku kehidupanku. Astrin. Adik Bias. Aku bersahabat dengan kakaknya sejak SMA. Tapi aku terbiasa curhat pada adik perempuannya. Ada perasaan takut jika curhat pada lawan jenis. Takut jika suatu hari nanti aku akan dibingungkan oleh perasaan aneh akibat perhatian yang diberikan kepadaku. Aku takut itu menjadi benih-benih maksiat untukku. Itulah mengapa aku lebih memilih untuk menceritakan semua kisahku pada Astrin.

Aku menuliskan email panjang untuk Astrin yang kali ini sedang menyelesaikan program pendidikan medisnya di Taiwan. Astrin akan segera membalas emailku segera setelah dia membacanya. Aku menutup layar notebook-ku. Kupijat lembut leherku yang terasa pegal. Jam digitalku menunjukkan pukul 02.46 dini hari. Baiknya aku solat dan meminta petunjuk-Nya sebelum aku mengistirahatkan tubuh lelah ini.

***

Hari pertemuan itu akhirnya tiba. Kondisi ayah membaik. Dia bisa kembali berkebun, hobinya. Tak ada persiapan spesial. Ibu hanya membeli beberapa kudapan untuk dihidangkan nanti.

“Kakak sudah memikirkan jawabannya?” tanya ibu.

“Iya bu. Sudah kakak pikirkan. Tapi maafkan kakak. Mungkin kakak akan mengecewakan ayah ibu lagi” kataku pelan.

Ibu menghentikan kegiatannya. Ayah menatapku lembut. Mereka berdua tak menuntut sebuah penjelasan.

Tapi aku rasanya harus memberikan penjelasan. “Aku tahu siapa anak Pak Rasyid, Amar. Beberapa teman menceritakan bagaimana sifat dan keseharian Amar. Sepertinya kakak tidak siap jika harus taat kepada suami berperangai seperti Amar”

Ibu tersenyum. Terdengar jelas desahan nafas Ayah. “Ayah dan Ibu sudah tau Amar seperti apa. Kami mengerti keputusanmu nak.” Kata ayah pelan.

Lalu hari itupun itikad baik keluarga Pak Rasyid ditolak.

Aku kembali menggeluti pekerjaanku. Larut dalam pekerjaan adalah salah satu obat paling mujarab untuk menjauhkan otakku dari mempertanyakan fenomena-fenomena dengan cara yang bodoh. Tak terasa tujuh bulan telah berlalu semenjak pertemuan antara kedua keluarga itu. Tak ada lagi obrolan pernikahan dalam percakapan kedua orangtuaku. Menurut adik-adikku, aku sudah cukup terkenal sebagai ‘heart breaker’, si tukang nolak lamaran. Julukan yang cukup menggelikan. Hal itu membuat orang berfikir beberapa kali untuk meminangku. Aku senang karena itu artinya tak ada lagi topik ‘pernikahan’ dalam waktu dekat ini. Tapi itu menjadi masalah serius bagiku ketika aku menerima kabar bahwa ayah meninggal akibat serangan jantung.

Ibu bilang bahwa ayah mendapatkan serangan jantung ketika dia sedang bermain bulutangkis bersama teman-temannya. Aku menatap sosok tak bernyawa yang terbaring di ruangan keluarga kami. Selesai disolati, jasadnya akan dikuburkan di pemakaman keluarga. Aku tak dapat mengantarkannya ke pembaringan terakhirnya. Aku dan adik perempuanku menemani ibu yang tergugu lemas ditinggal pergi kekasihnya untuk selamanya. Adik laki-laki ku, sebagai laki-laki tersisa dalam keluarga kami berangkat bersama para pelayat.

Aku mendapatkan telepon dari sebuah nomor asing. Ternyata Astrin meneleponku dari Taiwan. Koneksinya sangat buruk. Suara kresek-kresek mengganggu kenyamanan percakapan kami. Akhirnya itu menjadi percakapan yang sangat singkat. Hanya ungkapan bela sungkawa yang Astrin sampaikan, diapun mendoakan ayah agar dapat mendapatkan tempat terbaik di pembaringannya. “Kak, apa permohonan papah sebelum beliau pergi?” tanya Astrin sebelum dia mengakhiri percakapan kami. Aku semakin sedih mendengar pertanyaan itu. “Ayah ingin aku menikah” jawabku dengan uraian air mata yang semakin deras.

Rombongan pelayat telah kembali dari pemakaman. Kulihat sosok Bias berjalan beriringan dengan adik laki-lakiku yang sedang berurai air mata. Adik laki-laki ku itu bukanlah anak yang sentimental. Tapi kehilangan seorang ayah memang merupakan cobaan terberat seumur hidupnya. Dia langsung duduk bersimpuh pada ibu. Kami serempak menangis sesegukan. Rasanya dada ini terhimpit dua tembok besar hingga kami sulit bernafas. Bias menatapku penuh simpati. Aku hanya melemparkan sedikit senyuman sebagai ungkapan terimakasih. Tak mau larut dalam duka yang berkepanjangan, sebagai laki-laki pengganti ayah, adik laki-lakiku berhenti menangis. Dia berjalan ke arah dapur lalu mencuci mukanya di westafel. Dia kembali menghadapi para tamu yang melayat dengan wajah sembab habis menangis.

***

Sebulan berselang. Keluarga ini menjadi sedikit tidak seimbang. Suasana duka masih menyelimuti kami meskipun kami berusaha untuk melanjutkan kehidupan kami secara normal. Tapi tidak bisa. Urusan kebun dan tiga ratus ekor kambing yang biasa diurus ayah terpaksa harus kami ambil alih agar bisa terus berjalan. Berkebun dan berternak kambing ini yang menjadi penopang hidup keluarga kami ketika ayah mengalami PHK dulu. Dia merintis semua ini dari nol. Berbekal uang tabungan yang tersisa, pinjaman uang dari sanak sodara dan lain-lain dia memulai usahanya. Kami harus bisa menjaganya, karena dengan inilah ayah terus hidup bersama kami. Aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan tempatku selama ini bekerja agar bisa fokus mengurusi usaha ayah ini. Aku menyibukkan diri dengan bekerja. Dengan ini aku bisa sedikit mengurangi rasa sedih kehilangan seorang ayah. Tapi ternyata bekerja terlalu keras dengan terus memupuk perasaan sedih yang berlarut-larut ini membuatku ambruk dan terpaksa harus dirawat di rumah sakit.

“Kamu harus berhenti tenggelam dalam kesedihan tak berujung. Sadarilah, kepergiaan ayahmu adalah sebuah takdir Tuhan.” Teguran telak dari Bias menamparku dengan tangan tak kasat mata. “Kamu tahu amalan apa yang pahalanya  akan terus mengalir kepada ayahmu meski dia telah tiada?” ujar Bias tanpa memperdulikan adik perempuaanku yang sedang menyuapi aku makan.

Aku terdiam. Air mata kembali menggenang. Sebentar lagi meluap membentuk sungai.

“Salah satunya adalah anak yang tak berhenti mendoakan orangtuanya” katanya lembut sambil menatap kedua mataku.

Dia telah sukes membuat bendungan ini roboh. Aku kembali menangis. Kali ini aku tak mengerti, apa yang sedang aku tangisi.

***

Tiga hari setelah aku keluar dari rumah sakit, Astrin meneleponku, dari rumahnya. Dia pulang ke Tanah Airnya setelah hampir dua tahun tidak pulang. “Kak, bagaimana kabarmu? Aku bisa jenguk kakak akhir pekan nanti?”

Aku tersenyum senang, “Tentu saja bisa. Kita sudah lama tidak bertemu. Kau harus banyak bercerita tentang Taiwan padaku”.

“Papah dan mamah juga ingin bertemu kakak. Mereka berniat untuk melamar kakak.” Kata Astrid sedikit berhati-hati mengucapkan kata ‘melamar’.

Aku terdiam beberapa detik, tapi akhirnya ada suara yang keluar dari mulutku sendiri tanpa aku sadari, “Kalau begitu datanglah, bukankah sebuah itikad yang baik harus disambut dengan baik pula.”

Aku tak percaya mulut ini dengan lancar berkata seperti itu. Tubuhku bergetar, aku menceritakan percakapanku dengan Astrin pada ibu. Seperti biasa ibu dengan suara lembutnya memintaku untuk memikirkan pinangan tersebut dengan baik-baik.

***

Saat hari pertemuan itu tiba, seperti biasa ibu menanyakan kesiapanku. “Bagaimana nak, apa kali ini kau sudah memikirkannya masak-masak?” tanya ibu sambil menggenggam lembut tanganku.

Aku mengangguk mengiyakan. “Bias orang yang baik. Perangainya baik. Diapun seorang kakak yang baik. Aku mengenalnya dengan baik, bu” Kataku pelan.

“Jika ayahmu masih hidup, dia akan senang mendengar jawaban ini” katanya lembut.

Aku menatap kedua matanya yang sayu. Ya, andai ayahku masih hidup, ayah mungkin akan menatapku dengan lembut seperti biasanya dan berkata, Akhirnya kau menikah nak.
Share:

Thursday, September 5, 2013

Cerita Sang Rembulan



Malam ini purnama begitu angkuh dalam gelap, tak butuh teman saat malam. Bahkan anginpun bergerak segan. Seolah takut mengusik purnama di langit kelam. Sesungguhnya dia hanya sibuk menatap seseorang. Gadis yang selalu berdiri di depan cermin. Diam, tak mau diganggu. Mengunci mulutnya tak mau bicara. Menutup telinganya tak ingin mendengar.

Wajahnya pucat, matanya sembab dan bibirnya bergetar.

Dia membenci hidupnya. Membenci orang-orang yang menatapnya berbeda.

Ya, tatapan itu! Dia benci tatapan itu. Tatapan yang selalu dia terima sejak dia masih kanak-kanak. Tatapan yang membuat hatinya miris teriris, pilu hingga ke ulu.

Lalu bisik-bisik itu. Dengungan yang tanpa permisi menggetarkan gendang telinganya. Mereka pikir Dia tidak akan mendengar bisikan mereka. Bisikan yang muncul setelah melihat dirinya. Dia tahu, tak ada seorangpun yang sanggup mempertahankan pengelihatan mereka terhadap dirinya.

Malam ini, ketika tubuhnya terlalu lelah untuk berdiri, ketika kesadarannya berlari ke alam mimpi, dia dapati dirinya kembali dihujani tatapan yang paling dia benci. Dikelilingi oleh orang-orang yang menatapnya jijik. Beberapa orang mengutuki, berharap Dia tidak menularkan penyakitnya ini. Sungguh karma apa yang sedang Dia hadapi? Bahkan dalam mimpi dia disakiti dan memaksa diri untuk terbangun dengan air mata di pipi.

Esok adalah hari penting baginya. Dan Dia tahu bahwa setiap mata akan menatapnya. Tatapan itu, tatapan yang dibencinya. Akankah dia bisa bertahan menerima tatapan itu selama sepuluh menit paling penting dalam hidupnya?

***

Dia mengenakan kebaya yang dijahitkan ibunya. Hanya sebuah kain brukat berwarna pastel seharga tiga puluh lima ribu rupiah per meter. Dengan kain samping bermotif mega mendung berwarna serupa warisan dari neneknya. Rambutnya yang panjang digulung membentuk sanggul kecil, menyisakan juntaian tipis di kedua pelipisnya. Seorang ibu yang menjadi pelanggan jahit ibunya dengan senang hati memoles dirinya. Mengusapkan serbuk-serbuk berwarna dengan kuas-kuas asing ke atas kulit wajahnya.

Bayangannya bergumam ‘Cantik’. Tapi hatinya sedih saat melihat sobekan besar menganga di bibir bagian atasnya hingga menyentuh bagian hidungnya. Dia tertunduk. Tak lagi sanggup menatap bayangannya sendiri.

Seseorang mengetuk ruangan tunggunya. Seorang wanita paruh baya yang juga mengenakan kebaya masuk tanpa dipersilahkan sambil membawa sebuah tas hitam besar. Wanita itu menatap satu-satunya gadis yang diruangan itu dengan tatapan memuja. Dia meletakkan tas itu di atas meja dan membukanya. Mengeluarkan sebuah kecapi lalu menempatkannya dengan hati-hati.

Dia melangkah perlahan mendekati kecapinya. Meraba permukaan kayunya.

“Mainkanlah sepenuh hatimu! Tak perlu khawatirkan orang-orang itu. Mereka bukan datang untuk melihat permainanmu, tapi untuk mendengarkannya.”

Dia tersenyum. Sungguh, senyumnya tampak mengerikan. Tapi, kedua matanya tersenyum sangat bahagia.

***

Setelah penampilan tari Jaipong, gilirannya maju. Dia berjalan menuju pojok ruangan dimana kecapinya tengah menunggu pemiliknya datang untuk memainkannya.

Dia membungkuk hormat. Tak ada bisikan-bisikan berdengung disana. Ruangan itu sunyi senyap. Beberapa orang memalingkan pandangan setelah sedetik menyadari ada yang aneh dengan bibirnya. Sisanya adalah orang tampak berusaha biasa saja dengan terus menatapnya. Padahal dalam hati mereka memanjatkan kesyukuran pada Tuhan bahwa mereka memiliki bibir yang sempurna.

Tapi tidak ada dengungan-dengungan pengganggu itu merupakan awal yang cukup baik.

Dia mulai memetik senar kecapinya. Suaranya nyaring, memenuhi seluruh ruangan. Jari-jari lentiknya mulai bergerak lincah menghasilkan melodi yang indah. Beberapa orang menatapnya takjub. Beberapa orang menutup matanya hanya untuk dapat menghayatinya lebih dalam. Suara yang dihasilkan adalah nada-nada yang mengekspresikan kesedihan. Suara lembut namun nyaring yang dapat membuat bulu meremang.

Saat permainan kecapinya berhenti. Orang-orang bertepuk tangan takjub.

Tak ada yang menatapnya dengan tatapan jijik ataupun kasihan. Benar kata wanita itu. Mereka disini datang untuk mendengarkannya, bukan untuk melihatnya.

Lima orang yang melakukan performace di ruangan itu adalah lima orang dengan kemampuan seni tradisional yang mengagumkan. Mereka di seleksi untuk dapat tampil di salah satu acara seni tahunan di New York. Hanya ada 1 orang yang akan berangkat kesana.

Mereka semua menunggu pengumuman yang akan diumumkan satu jam lagi di ruangan dimana mereka melakukan performance. Lima belas menit berlalu dan mereka terlalu bosan untuk menunggu empat puluh lima menit lainnya.

Dia akhirnya memilih memain-mainkan kecapinya. Memetik senar dengan tempo lambat. Seorang pria penabuh kendang menghampirinya dan mengulurkan tangan. “Raka”

Dia menatap tangan yang terulur kearahnya. Dia menggigit bibir bawahnya dan menyambut uluran tangan itu. “Asa” katanya yang lebih terdengar seperti ‘Aca’

Raka tersenyum. Seorang gadis penari jaipong dan penyanyi sinden datang menghampiri. Mereka berduapun mengulurkan tangan perkenalan.

“Nurul”

“Nyai”

Semuanya berjabat tangan.

Seorang anak laki-laki paling muda pun turut menghampiri, dia turut mengulurkan tangan.

“Dimas”

“Kalian tahu lagu toxic? Britney Spears?” tanya Raka pada semua orang.

Asa memetik beberapa senar kecapinya. Membuat ketiga orang lainnya mengingat melody itu. Dimas meniup sulingnya mengiringi nada-nada yang dimainkan oleh Asa. Nyai mulai melafalkan bait-bait Toxic dengan nada khas sinden dan Nurul menggoyangkan bahunya, melenggokkan pinggulnya, mengikuti irama suara yang dihasilkan.

Raka duduk bersimpuh dekat kendangnya, memukul-mukul kulitnya, menciptakan ketukan dan hentakan. Mereka memainkan musik itu bersama-sama, penuh suka cita, penuh canda tawa. Setelah habis lagu itu, mereka mulai memainkan lagu-lagu yang lainnya. hingga tak menyadari, tiga orang yang menjadi Assessor telah berada di ruangan itu dan memperhatikan mereka yang sedang asik bersenang-senang dengan keahlian mereka masing-masing.

Mereka tersadar begitu mereka selesai memainkan sebuah lagu dan mendengarkan tepuk tangan dari sudut ruangan yang lain.

Seorang pria maju. “Kalian sepertinya cukup bersenang-senang sambil menunggu pengumuman ini. penampilan kalian semua sungguh luar biasa. Tapi hanya ada satu orang yang akan pergi ke New York. Nurul. Selamat!”

Nurul berteriak kegirangan. Empat orang sisanya bertepuk tangan dan mengucapkan selamat. Kelima remaja tanggung itu kemudian berpelukan. Permainan kolaborasi mereka yang kurang dari satu jam itu cukup membuat mereka merasa bersaudara menghilangkan aura kompetisi.

“Setelah melihat apa yang kalian lakukan untuk menghabiskan waktu, Mr. Bright Director of Traditional Fest mengajak Nurul, Nyai, Dimas dan Raka untuk ikut tampil di Festivalnya di Paris.

Keempatnya saling menatap satu sama lain. Asa kembali merasakan tantapan yang dibencinya. Tatapan dikasihani. Tapi tak ada api amarah di hatinya, bagaimana bisa api itu berkobar disana sedangkan hatinya sendiri sudah hancur menjadi serpihan debu.

Tapi Asa sudah sering berada dalam situasi ini. Dia bersikap tegar. Dengan fasih melafalkan ‘Aku tidak apa-apa’ meskipun lebih terdengar seperti sedang berkumur-kumur.

Kelimanya berjalan lunglai ke arah pintu keluar. Asa berjalan paling akhir, dia membereskan kecapinya memasukannya kedalam tas dan menjinjingnya keluar.

“Asa, kau bisa tunggu sebentar?” tanya Mr. Bright.

Asa menghentikan langkahnya, keempat orang lainnya sudah keluar, hanya ada dia, Mr. Bright dan tiga orang assessor.

“Aku minta maaf tak bisa mengajakmu untuk tampil di Paris. Kau tahu, akan sulit bagi kami jika salah satu performancer kesulitan dalam melafalkan kata.”

Asa tahu ke arah mana pembicaraan itu akan berakhir. Aku mohon Tuan, jangan anda lanjutkan.

“Dengan keterbatasanmu itu, jadi kami memutuskan ...”

Asa tak mau lagi mendengar.

***

Asa menatap bayangan dalam cermin. Dia selalu melakukannya jika dia sendirian dikamar. Menatap bayangannya sendiri yang menakutkan. Biasanya dia akan kesal sendiri melihat bayangannya itu.
Bibir sumbing itu penyebab seluruh penderitaannya selama ini. Siapa yang inginkan bibir seperti ini? Siapa yang memintanya? Dia tidak pernah, begitu pula orang tuanya.

Tapi kali ini dia menatap bayangannya tanpa ada rasa kesal sedikitpun. Dia menatap wajahnya lamat-lamat. Mengingat-ngingat bentuknya. Berharap dia tidak akan pernah lupa dengan bayangan yang selalu dia benci tapi membentuknya menjadi seorang pribadi yang mandiri.


Rembulan itu tetap menatapnya, menyaksikan semuanya. Dia bahkan akan tetap menatapnya ketika Asa di Cina untuk operasi ataupun di New York saat bersekolah Julliard nanti. Rembulan ingin tahu kelanjutan kisahnya yang memiliki kejutan-kejutan seperti misteri.
***

Saat itu, Mr. Bright menawarkan untuk operasi bibir sumbing pada Asa. Selain itu diapun menawarkan Asa untuk mengikuti test masuk Juilliard jika Asa telah sembuh dari operasinya. Tapi asa terlanjur tidak mau mendengarkan. Hingga akhirnya surat itu datang diantarkan tukang pos. Surat yang berisikan jadwal operasinya di Cina. Ibunya segera mengurus beberapa dokumen, pembuatan paspor, surat keterangan tidak mampu dan lainnya. Dia sangat bahagia, senang hati mengumumkannya pada para tentangga, ‘Asa akan operasi di Cina’. Maka, inilah dia. Menanti detik-detik keberangkatannya.
Share: