Sunday, November 18, 2012

Cerita Saat Hujan

Journal 15 November 2012

Hari ini bertepatan dengan tahun baru Hijriah. Pemerintah sepertinya menyetujui untuk memberikan libur pada tanggal tersebut.
Tapi bukan berarti aku libur dari semua tugas. Beberapa hal tetap harus aku kerjakan.

Teman-temanku mengusulkan untuk survey tempat penginapan untuk acara Kongres Nasional kami.
Kami pergi mengunjungi beberapa tempat dan mendapatkan banyak reverensi penginapan yang dapat kami gunakan untuk acara akbar ini.

Tapi yang ingin aku ceritakan bukanlah suka duka kami selama pencarian pemondokan di TMII.
Sebuah potret dari tepi jalan protokol di Jakarta.

Aku sedang menunggu bus 121 jurusan Jakarta - Cikarang di halte Semanggi. Saat itu hujan mulai turun. Hujan turun cukup besar. aku menyayangkan bahwa aku mengenakan sepatu kets yang bisa kebasahan. Seharusnya aku mengenakan sandal saja.

Seorang ibu, duduk berteduh tepat di samping kananku. Dia mulai menggrutu saat air hujan mulai menggenangi tempat kami berteduh. cukup aneh memang, Pavement yang ada di sini lebih rendah daripada jalan asphalt.  dan seingatku, bagian ini memang dibuat cekung tanpa pavement. Entah apa yang dipikirkan oleh Departemen Pekerjaan Umum saat membuatnya seperti ini. Mungkin, saat dia membuat halte ini, dia mendesign nya dengan tanpa trotoar. 

Ibu itu mengeluh lebih banyak. Mulai menyalahkan Jokowi, Gubernur baru yang terpilih.
"Mana nih Jokowi" 
Aku hanya tersenyum mendengar gerutuannya. beberapa sampah plastik mulai berenang terbawa arus air yang semakin tinggi. Debit air yang menggenang semakin meningkat, aku terpaksa menjinjitkan kaki agar air tidak membasahi kanvas sepatuku.

"Waaaahhh, sampah. Bisa banjir disini" ujar ibu itu lagi.
Aku mulai tergelitik untuk mengomentari keluhannya, "Yaaahhh, sampahnya dibuang sembarangan sih, bu. Coba dibuang ke tempat sampah!"
"Bener, udah jadi kebiasaan buang sampah sembarangan.Wajar aja kalau banjir. Orang-orang yang tiap tahun kebanjiran juga anteng-anteng aja toh! Udah biasa!"
"Mereka disana bukannya anteng sama banjir bu. Mereka ga punya pilihan lain selain pasrah. Mereka pasti udah berusaha untuk bikin tempat mereka enggak kebanjiran"
"Orang-orang emang sukanya buang sampah sembarangan. Udah jadi tradisi. Jadi banjir juga jadi tradisi"

Lalu ibu itu kembali mengkritik Jokowi, "Seharusnya Jokowi bikin saluran dibawah trotoar, salurannya harus dilengkapi filter supaya bisa nyaring sampah"

Aku tidak menanggapi komentar awam ibu itu. Menurut lo di bawah kaki lo itu enggak ada saluran air apa? Filter yang lo bilang itu bakalan mangpet sama sampah dan tetep bikin banjir juga! Kuncinya kan ga buang sampah sembarangan, bukan bikin saluran pake filter!
Aku kesal dengan komentar-komentarnya yang tidak memberikan solusi.

Bus yang aku nantikan tak juga kunjung datang. Tapi ada seeorang yang menarik perhatianku.
Seorang pria. Mungkin usianya sekitar 35 - 40 tahun. Dia berjalan dengan bantuan tongkat, kaki kirinya diamputasi sebatas lutut. Dia berjalan cukup cepat (secepat yang dia bisa) untuk mengejar metro mini 640. tinggal selangkah lagi dia sampai ke pintu bus. Tapi saat itu hujan cukup lebat. Air menggenang cukup tinggi, jalanan menjadi licin. Saat tongkat penyangga tubuhnya tergelincir, seketika itu pula tubuhnya jatuh.

Terkejut, aku menyebutkan, "innalillahi" dengan spontan.

Aku ingat wajah itu wajahnya meringis menahan malu. Rasa sakit karena jatuh itu mungkin akan terasa sesampainya dia di rumah.Tapi wajanya yang memerah menahan malu atas disability yang dia miliki.

Aku bangkit dari dudukku. Tak menghiraukan sepatuku yang terendam di kubangan air. Aku berniat membantunya berdiri disaat setiap pemilik mata yang berada disana tidak mau bergerak dari tempatnya bernaung dari hujan. Laki-laki itu menatapku. Tapi tatapan matanya langsung menghentikan niatku. Dia menatapku dengan tatapan memelas, kepalamya menggeleng perlahan. Aku mendengar apa yang tak dia katakan. "Jangan kasihani aku. Aku cukup kuat untuk bangkit dari jatuh"

Tangan kirinya masih tetap menggenggam erat tongkatnya. tapi air hujan membuatnya menjadi licin. Dia berusaha keras untuk bangkit. Aku melihatnya dia sangat kesusahan. sangat sulit membuat tongkat panjangnya berdiri tegak dengan posisinya duduk di atas aspal. Tak ada benda yang dapat digunakannya untuk bertumpu.

Mataku menatap galak kernet metromini yang hanya berdiri terpaku. Saat dia menatap mataku, kuberika sinyal agar dia membantu orang yang jatuh tersebut. Dia melakukannya. membantu orang tersebut hingga masuk kedalam bus.

Dia kembali menatap mataku. Aku hanya bisa memberikan senyuman terimakasih kepadanya.

Tapi laki-laki itu terus memunggungiku. Dia hanya berdiri di dalam bus yang sudah padat penumpang. Tangan kirinya tetap mengapit tongkat penyangganya, sedangkan tangan kanannya yang bebas memegangi pegangan kursi agar dia tidak terjatuh. Celana army nya yang berwarna krem telah menyerap air karena gaya kapilaritasnya. satu sisi betisnya terlihat kotor dari tanah dan lumpur jalan raya. Sepatu olah raganya aku yakin sudah pasti basah ketika dia terjatuh tadi. 

Lalu mertro mini itu melaju menyisakan asap di hadapanku.

"Hidup itu keras" komentar ibu itu.
Aku sudah tak tertarik untuk membalas ocehannya. Aku tahu hidup itu keras. Tapi bukan untuk mengeraskan hati nurani. Hidup itu keras karena kita sedang memperjuangkan sesuatu yang berharga. Hidup itu keras karena ada tujuan yang ingin dicapai. Hidup itu keras tapi bukan untuk mematikan hati.
Hidup itu keras, oleh kerena itu harus bekerja lebih keras dan saling membantu. 

Aku tak peduli dengan hujan yang masih mengguyur bumi. Aku lebih memilih pergi dari situ dan mencari tempat berteduh lain. Meninggalkan ibu itu dengan ocehannya yang bembuatku kesal sendiri
Share:

Saturday, November 17, 2012

Energi Negatif Insomia

Mari ikuti pengalamanku tidak tidur lebih dari 24 jam.

Hari itu tanggal 9 November 2012,
Aku cukup sibuk mempersiapkan Kongres Nasional KOPHI 2012. Selain itu, akupun merasa tertekan dengan kenyataan bahwa aku belum membuat progres yang berarti untuk undergraduate thesis-ku. Rasanya benar-benar tertekan. Beberapa pesan masuk ke HP, dikirim oleh ibu. Beliau selalu menanyakan kabarku setiap harinya dan memastikan bahwa aku membuat perkembangan dalam penulisan skripsiku.

Satu-satunya hal yang bisa membuatku merasa terhibur adalah twitter. Ada banyak orang yang men-tweet tentang hujan yang sering sekali turun akhir-akhir ini. Mereka mengeluhkan tentang jemuran mereka yang gagal kering. Ada pula yang men-tweet tentang kemacetan dikala pulang kantor. Jakarta memang juaranya macet kelas nasional negeri ini. Yang paling unik adalah keluhan tentang banyaknya undangan pernikahan yang harus mereka datangi esok hari. Tanggal 10-11-'12 memang cukup cantik untuk merayakan momen yang indah (red: Resepsi Pernikahan). Bahkan ada yang dengan isengnya, seseorang menghitung jumlah janur kuning yang melengkung sepanjang jalan pulang kantor menuju rumahnya. Pendapatku mengenai moment yang dijadwalkan pada tanggal 10-11-12 adalah momen-momen bentuk paksaan. Aku hanya mencoba beretorika, di jaman modern semacam ini, ternyata masih banyak orang yang terpaksa menikah karena tanggal cantik, bayi-bayi terpaksa dikeluarkan dari janin hanya karena tanggal ini indah dan yang lebih lucu lagi, pasangan-pasangan memutuskan hubungan cinta mereka hanya untuk kembali di tanggal yang mereka anggap baik. Picik.

Hidup memang butuh retorika hanya agar kita dapat melihat kehidupan dari perspektif yang lain. 

Jika kembali pada jurnalku tangga 9-Nov-2012, aku akan menceritakan bahwa hidup ini keras.
tweet-tweet keluhan itu menjadi hiburan tersendiri bagiku, tapi masalah yang sangat nyata adalah kenyataan bahwa kedua orangtuaku akan menangis darah jika aku tidak dapat menyelesaikan pendidikanku tepat pada waktunya. Kenyataan yang cukup membebaniku ini membuatku tetap terjaga hingga pukul 3 pagi, ketika alarm solat malam-ku berbunyi. Aku mulai panik, aku tak pernah bisa terjaga lebih dari 24 jam seperti ini sebelumnya. Ini adalah untuk pertama kalinya.

Aku teringat dengan janjiku untuk menemani salah satu teman pergi ke resepsi pernikahan temannya di Bogor. Aku cukup tahu diri bahwa aku tidak akan bisa terjaga lebih lama dari ini, maka aku dengan berat hari membatalkan secara sepihak perjanjian tersebut. Aku lalu mandi dan mencoba untuk tidur. Hingga pukul 5, rasa kantuk itu belum juga datang. Aku merasa lebih panik sekarang. Aku sangat ketakutan bahwa aku mengalami insomia. Aku tak mau itu terjadi.

Lagi-lagi aku teringat dengan janjiku menghadiri pernikahan itu.
Aku pikir, aku sangat tidak bertanggung jawab dengan membatalkan perjanjian itu secara sepihak. Maka dengan berharap bahwa aku masih bisa bertahan hingga sore hari nanti, aku kembali mengirim pesan kepada temanku.

Yang aku sesalkan dari diriku saat itu adalah ketidak-seimbangan emosiku. Emosiku memang lebih cenderung ke arah negatif. Kamar yang berantakan, perut kosong, banyak tekanan akan memudahkan diriku untuk pasang wajah cemberut dan mood-ku menjadi buruk.

Pagi itu, temanku menjemputku satu jam lebih awal. Dan yang membuatku kesal adalah dia menungguku tepat di depan pintu kamarku.
Sejujurnya saat itu aku cukup memakai kerudungku. Tapi mendengar pintu kamarku yang diketuk, membuatku yang saat itu penuh dengan energi negatif menjadi semakin negatif. Should I really open the door or I just pretend that I am sleeping?

Melihat kondisi kamarku yang berantakan,
Koper terbuka.
Pakaian-pakaian berserakan.
Sepatu - boots - high heels bertebaran di atas lantai

Sepertinya aku lebih memilih pura-pura tidur saja.

Lalu pintu kamar kembali diketuk.

Aku kembali panik. Hatiku dengan mudah mengumpat. Otak-ku mulai memaki dan mulutku mulai bersungut.

Dengan kesal aku keluar kamar. Menemui temanku. Membentaknya.

Tentu saja temanku tak bersalah.
Dia membelikan sarapan pagi untukku. Bukan bermaksud untuk menjemputku.
Tapi aku terlalu marah dan malu. Energi negatif itu telah menyelimutiku.

Aku kembali masuk kamar, meninggalkannya sendiri.
Ku dengar langkah kakinya pergi. Meninggalkanku dengan sarapan pagi.
Rasa bersalah hinggap dalam hati. Perlahan energi negatif itu pergi.

Aku segera memasukkan sepatu kedalam tas, membawa bungkusan sarapan lalu berlari menyusulnya. Meminta maaf nya dan berterimakasih untuk sarapan paginya. 

Aku tidak mau memulai pagi hariku dengan bertengkar dengan seorang teman. 
I was really acting like a jerk.
Akhirnya aku pergi ke pernikahan itu sesuai dengan janjiku padanya.
Meskipun selama perjalanan tak suasana menjadi canggung atas apa yang telah aku lakukan pagi tadi.
Tapi setidaknya aku sudah mencoba untuk memperbaikinya. Setidaknya, setelah kejadian ini, kami tak lagi bersikap canggung. Mungkin dia telah mencoba untuk memaafkanku. Mengacuhkanku selama perjalanan telah cukup menghukumku atas kelakua bodohku pagi ini.

Selalu ada pelajaran yang didapat pada setiap cerita. Memiliki energi negatif yang menyelimuti diri memberikan hasil yang negatif pula. Selama yang diharapkan adalah hasil yang positif, maka gunakan pula energi positif.
Share:

Wednesday, November 14, 2012

Being Trainer, Trained

Sudah lama aku tidak bercuap-cuap disini.
Bisa dibilang aku cukup sibuk akhir-akhir ini.  Sibuk menulis skripsi, sibuk mempersiapkan Kongres Nasional dan yang terbaru adalah menjadi trainer di green ambassador kampus.

Aku merasa beruntung bisa bergabung di organisasi luar kampus. Beberapa orang percaya bahwa aku punya kemampuan lebih dan punya wawasan lebih karena itu. Hingga akhirnya beberapa hari yang lalu, seseorang mengirimi message, meminta aku untuk menjadi trainer di acara green ambassador.

Keterlibatan aku di Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI) di divisi R&D memberikan  kepercayaan diri bahwa aku bisa menjadi trainer di acara tersebut. Sehingga aku meng-iya kan permohonannya. Sedetik ketika aku mendapat tawaran itu, ada beberapa materi yang dirasa cocok untuk dibawakan di acara training tersebut. Aku hanya perlu memastikan bahwa materi yang akan dibawakan diteririma oleh panitia. Setelah mereka bilang 'oke' akhirnya aku buat rincian materinya.

Selidik punya selidik, ternyata beberapa finalist yang akan mengikuti training ini berkewarganegaraan Vietnam. Alih-alih aku membuat materi yang cukup berbobot, aku malah berusaha membuat materi tidak tampak membosankan jika dibawakan dalam Bahasa Inggris. 

Sejujurnya, sudah hampir 1 tahun aku tidak menggunakan bahasa internasional ini. Kecuali untuk presentasi internship tengah tahun ini dan untuk sekedar chat dengan John, 'green-advisor' -ku di waktu senggang. Terakhir kali, ketika aku diundang untuk menjadi pembicara di salah satu acara UN, (yang dengan bodohnya aku hanya membuat persiapan ala kadarnya), menurut aku pribadi, hasilnya cukup kacau karena tiba-tiba saja aku harus menjadi pembicara dalam bahasa Inggris (karena datang pula se-kompi UN officers + beberapa international foundations, macam Ford-Fondation). Aku punya kesempatan 5 menit berbicara di atas panggung untuk menjelaskan bahwa kami KOPHI, mendukung penuh acara UN tersebut. Namun dengan kemampuan Bahasa Inggrisku yang tiba-tiba menghilang, menguap ke negeri antah berantah, what I did was acting like a comedian on the stage. *jleeeeb. Saat itu juga aku berharap, seseorang meledakkan ruangan itu, lalu aku mati syahid. Tapi tentu saja tak ada ledakan bom disana, (beruntung) yang ada adalah ledakan tawa dan gemuruh tepuk tangan dari orang-orang yang merasa terhibur dengan ke-gugup-an ku diatas panggung. Meskipun se-usainya acara ini aku akhirnya mendapat pujian dari beberapa UN officer (yang mengatakan, your presentation is amusing. Finally I could laughed in this event, I love it, let's exchange our card), dan mendapatkan interview dari beberapa journalist. For the record, It was launched streaming. Comedian me can be watched through internet connection. Benar-benar mati aku.


Dan aku tidak ingin semua itu terulang kembali.

Belajar dari pengalamanku yang terdahulu, kali ini aku menyiapkan materiku sebaik-baiknya. Terlebih lagi, John mungkin akan datang dan mengikuti training tersebut. Aku tidak ingin kehilangan muka-ku didepannya. Maka aku siapkan semua yang aku butuhkan dengan sebaik-baiknya termasuk beberapa lelucon dan games menginat tenyata kebanyakan orang cepat bosan mengikuti training yang berisi 'only-talk'

Lalu acarapun dimulai,

Namun tak ada tanda-tanda John datang. Setelah aku ingat-ingat, dia sedang berada di luar negeri sekarang.

Tapi bukan berarti bebanku untuk membawakan materi dalam bahasa Inggris berkurang. Peserta dengan kewarganegaraan Vietnam itu datang lebih cepat. Artinya, dia telah menunjukan keseriusan dalam mengikuti training ini.

Akupun harus serius bukan.

Menyampaikan materi dengan diselingi beberapa jokes dan beberapa pertanyaan membuat session itu menjadi lebih interaktif. FYI, anak vietnam itu sepertinya benar-benar berniat untuk mengikuti acara training itu. Dia benar-benar memperhatikan, dia menjawab setiap pertanyaan, dia mengajukan pendapat, overall dia cukup aktif mengikuti pelatihan ini. Aku menyayangkan anak-anak Indonesia yang kurang aktif dan bahasa Inggris mereka kalah dengan Vietnamese itu. Padahal mereka sama-sama mother-tongue non-english, tapi qualitas english nya berbeda cukup jauh.

Memiliki kesempatan menjadi trainer dalam acara ini membukakan sebuah pemahaman baru untukku. Tak ada kata berhenti untuk belajar.  Aku cukup percaya diri dengan bahasa Inggrisku pada awalnya, namun dengan hampir 1 tahun aku jarang sekali menggunakannya, sepertinya aku mulai kehilangan ability ku. Aku harus terus belajar; jangan berhenti untuk berlatih bahkan untuk sesuatu yang telah kita kuasai sekalipun.


Share:

Tuesday, November 6, 2012

Bus Ekonomi


Ini pengalamanku naik bus ekonomi jurusan Kuningan-Jakarta.
Jangan pernah bertanya bagaimana rasanya naik bus itu. Cukup baca secara lengkap entri postingan ini dan kamu bisa menyimpulkan sendiri bagaimana rasanya.

Dari berbagai jenis options alat transportasi yang bisa aku gunakan dari Kuningan ke Jakarta dan sebaliknya, bus ekonomi adalah pilihan terburuk dari segala pilihan yang ada. Pengemudi ugal-ugalan, mengemudikan bus dengan kapasitas gigantic ini seperti kesetanan. dia bisa saja menaikan separu badan bus ke trotoar hanya agar tetap bisa melaju dalam kemacetan parah. Ide para pengemudi ini tak kalah gila dengan nekat menerobos menggunakan jalur arah yang berlawanan hanya agar dia dapat terus melaju disaat semua kendaraan lain tersendat karena macet. Ditilang polisi yang diakhiri dengan perampasan STNK, tak membuat para pengemudi ketakutan. Seperti semua itu hanyalah kerikil kecil yang dapat dengan mudah dilindas roda bus.

Full rokok, tentu saja. Entah kenapa orang-orang yang mengaku bahwa mereka tidak mampu, suka sekali membakar uang mereka dengan melintingnya dan menghisap asapnya. Tindakan bodoh, tidak bijak. mereka merasa kepanasan dalam bus ekonomi, mengeluh atas hujan yang tak kunjung turun tapi mereka MEROKOK sepanjang jalan. Tolol. Super Tolol. Dan yang lebih bodoh lagi adalah, mereka tetap saja merokok meskipun bus berada di SPBU. Hanya karena faktor Kemurahan Hati Tuhan yang menyebabkan mereka masih hidup hingga sekarang.
Tak pernah jelas sebenarnya berapa kapasitas bus ekonomi ini. Yang pasti, semua orang yang melambaikan tangan di pinggir jalan akan selalu mereka tampung dan mereka jejalkan kedalam bus, bersama para penumpang yang sudah kepayahan lainnya. Full

Mengenai tarifnya, tentu saja lebih ekonomis dibandingkan dengan jumlah uang jika menggunakan alat transportasi lain, hanya saja perlu kalian ingat bahwa mereka tidak punya tarif yang tetap. Kau hanya perlu membayar bus ini sebesar yang bisa kamu tawarkan padanya.

Apa kamu mengerti maksudnya?

Eheeemmm ...

Bayangkan kamu sedang berada dalam bus ekonomi. Tentu kamu sudah mencari tahu berapa ongkos yang harus kamu bayar, namun pada prakteknya, saat sang kernet / kondektur menghampirimu, mereka akan memberikanmu karcis dengan harga yang sangat fantastis. Sangat fantastis untuk ukuran bus ekonomi tanpa AC, gelap, pengap, full asap rokok dan full dangdut. Pada dasarnya kernet dan pengemudi bus ekonomi (kebanyakan) adalah preman terminal. Mereka akan berusaha memalak kamu dengan dalih ongkos naik bus. 
Bayangkan saja, aku biasa naik bus ekonomi semacam ini Kuningan-Jakarta dari tol Cikopo seharga 30 ribu on top, dan mereka akan memberikanku karcis dengan tarif yang tertera disana sebesar 50rb (bahkan aku pernah dapat yang harga karcisnya 100 ribu). Jangan terlalu lugu untuk membayar sesuai dengan tarif yang tertera. Biasanya aku dengan wajah jutek bilang: "Apaan nih? biasanya juga 25!", dan si Kernet akan dengan cuek bilang, tarifnya 50 ribu neng!"

Jangan takut dengan premanisme kelas kecil begini. Aku biasanya bilang, "Naik bus AC aja ongkosnya 35rb, apaan ini sekarang mintanya 50rb. 25 ribu bang!"

Biasanya klo udah begini, dia bakalan males buat gontrot-gontrotan, takut kedengeran penumpang lain. Jadi dia bakalan minta tambahan 5 ribu lagi, lalu dia pergi.

Sejujurnya, tarif 30rb yang aku sebutin ini masih termasuk katagori mahal loh mengingat beberapa penumpang lain yang pernah aku ajak ngobrol biasanya mereka bayar 20-25 ribu saja. Tapi, coba pikirkan, bayar lebih mahal dari orang lain dan masih bisa sampai ke tempat tujuan dengan selamat saja sudah sebuah karunia yang sangat besar untuk saya pribadi. 

Tapi bukan berarti bus ekonomi jelek se jelek-jeleknya.
pas naik kelas ekonomi semacam ini, kita punya kesempatan untuk lebih ingat pada YME, sepanjang jalan akan berdoa, mengharapkan keamanan dan keselamatan. Sepanjang jalanpun bisa bersyukur bahwa kita punya kehidupan yang lebih baik (in term of comfort and safety) dibandingkan dengan tukang asongan dan pengamen yang bisa kita temui jika naik bus ekonomi. Kitapun bisa beramal karena kadang ada beberapa orang yang meminta kita bersedekah, meskipun tidak jelas apakah permohonan sumbangan itu benar adanya atau tidak. Naik bus ekonomi seperti inipun bisa memotivasi kita untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Aku selalu berfikir, jika aku sudah mulai bekerja nanti, aku pantas mendapatkan yang lebih baik dari sekedar bus ekonomi.


So,
Bisa ambil kesimpulan sekarang bagaimana rasanya naik bus ekonomi.
Kita ga bisa judge bagaimana rasanya tanpa ada limitation. jika membatasinya dengan fasilitas yang dimiliki oleh bus ekonomi, tentu saja jawabannya 'ga enak'. Tapi jika melihat faktor lain yang bisa membuka sisi positifnya, naik bus ekonomi bisa memperkaya hati kita. Membuat kita lebih dekat dengan Tuhan karena sepanjang jalan akan berdoa meminta keselamatan dan sepanjang jalan akan bersyukur dengan segala karunia yang telah Dia berikan kepada kita.

Yang perlu kita lakukan untuk bus ekonomi ini adalah merawatnya. Setidaknya penumpang tidak membuang sampah di dalam bus, tidak merokok. Bus ini akan sedikit lebih nyaman. Tunjukan bahwa ekonomis bukan berarti tidak nyaman. Buktikan bahwa minim fasilitas bukan berarti tidak aman.

Semoga saja ada penumpang bus ekonomi yang membaca postingan ini.
Share: