Sunday, August 31, 2014

Part 3: Reality

2 Tahun kemudian.

Aku berani bersumpah bahwa yang aku lihat saat ini adalah kamu. Kau terlihat lebih tinggi dari yang aku ingat, kulitmu lebih gelap, bentuk badanmu lebih tegap, tapi rambut yang kemerahan di bawah sinar matahari itu meyakinkanku bahwa itu adalah kamu.

Atau bukan?

Tren saat ini adalah mengecat rambutnya. Tetap terlihat hitam saat normal dan baru terlihat semburat warnanya tatkala terpapar sinar. Tapi aku yakin itu rambutmu. Aku masih mengingat setiap detik ketika kau merebahkan kepalamu di pangkuanku dan aku senang mengelus rambutmu. Aku bahkan masih bisa merasakan halusnya di telapak tanganku.

"Nay, you forget your phone again!"

Aku menolehkan kepalaku ke arah sumber suara. Kulihat Navid mengacung-acungkan smartphone-ku di atas kepalanya. Tapi aku kembali memalingkan wajah, berharap saat aku menatap kursi tempatmu tadi duduk, aku masih bisa melihatmu disana.

Itu kamu, bukan?

Tapi kursi itu sudah kosong. Orang disana lenyap dalam hitungan detik.

"Nay?"

Navid kembali meminta perhatianku. Tapi aku tak peduli. Pandanganku kini menyapu seluruh ruangan, masih berharap bahwa aku melihatmu. Bahwa kamu ada di sini. Di kota ini.

Pintu cafe seketika terbuka, menggoyangkan bel yang dipasang diatasnya. Angin musim gugur menyeruak masuk. Lalu aku mencium aromamu. Hugo Boss. Parfum yang aku beli dengan menggunakan kartu kredit papah, parfum yang sejak saat itu menjadi andalanmu.

Aku menolehkan kepalaku ke sebelah kanan. Aku melihatmu berdiri di depan counter.

"Nay, are you okay?" Navid sudah berdiri di dekatku. Dia masih menggenggam smartphone-ku. Dia tampak bingung dengan tingkahku yang mendadak tidak dia mengerti. "You're look so tense."

Aku menggelengkan kepalaku, membantah anggapan Navid atas sikapku saat ini. Aku kembali mengalihkan pandanganku ke arah counter, tempatmu berdiri. 

Dan kamu pun sedang memandangiku.

Kamu menyunggingkan senyuman khasmu dengan sudut kanan bibir lebih tinggi dibandingkan sudut lainnya. Sambil menggelengkan kepala kamu berjalan ke arahku.

"Nayla, aku tak percaya kita bisa bertemu disini."

Aku masih belum bisa berkata-kata. Sepertinya Hugo Boss-mu telah memenuhi saluran pernafasanku hingga aku tak bisa menggetarkan pita suaraku.

"Dan kau selalu tampak cantik, seperti biasa."

Gosh, aku masih saja bisa meleleh dengan rayuan tua darinya. Jantung ini disusupi terlalu banyak adrenalin hingga berdetak dengan liar. Aku kembali melihat matanya yang berwarna coklat menatap kedua mataku. Mata yang selalu dapat membaca apapun yang aku sembunyikan. Mata yang memenjarakanku kedalam pesonanya.

Jangan lupa bernafas Nayla!

Kamu melingkarkan kedua lenganmu dipinggangku. Aku bisa merasakan dada bidangmu dan hangat pelukmu setelah bertahun-tahun kau pergi dariku.

"Aku merindukanmu, Nay."

Ini bukan sekedar cerita yang aku tulis dalam naskah novelku,  dia benar-benar nyata, ada di kota yang sama denganku, bahkan sedang memeluk tubuhku. Hugo boss yang beraroma musky itu benar-benar ada,  tak hanya sekedar dalam ingatanku belaka.

"Ada apa denganmu Nay? Kau tak merindukanku? Sepertinya kau tak senang bertemu denganku disini."

Aku mengerejapkan mataku. Berusaha meraih kembali kemampuan berbicaraku yang mendadak hilang.

"Aku tak menyangka akan bertemu kau disini, aku pikir kau ada di Polandia," kataku dengan suara pelan dan bergetar.

Dia menahan senyumnya. Kedua tangan kokohnya masih berada di pinggangku. 

"Aku akan tampil bersama Phill Harmonic untuk acara tahunan di sini."

Aku masih saja mematung seperti orang tolol.

"Kau tak memberikan ucapan selamat kepadaku, Nay?"

Aku memaksakan diri untuk tertawa. Menertawakan diri yang lupa bahwa Phill Harmonic adalah orkestra terbaik Amerika, satu dari yang terbaik di dunia. Bisa bergabung dengannya untuk acara musik tahunan mereka di Kota New York sungguh prestasi yang sangat luar biasa.

"Selamat, itu sungguh prestasi yang luar biasa."

Dia tertawa lebar. Aku bisa mencium bau kopi yang keluar dari mulutnya.

"Mengapa kau begitu kaku, Nay?"

Karena semua ini sungguh mengagetkanku tolol! Karena kamu yang pernah mencuri hatiku dan tak mengembalikannya membuat aku si zombie ini seperti kembali bernyawa.

"Nayla!" Navid menyela kami berdua dengan wajah yang berkerut. Dia menatapku lalu memelototi pria yang sempat memelukku dengan tajam. Tatapannya itu menyadarkan kami bahwa kami berada di ruang publik. Dia memutuskan lingkaran lengannya dari pinggangku.

"Ah ya, Navid ...." aku benar-benar lupa pada editor yang sekaligus kekasihku ini. "Please meet my super friend, Bias. And Bias, this is my editor, Navid."

"Super friend?" kata kedua laki-laki itu bersamaan.

Aku terkejut mendengar dua suara bass yang tiba-tiba berserukan hal yang sama. 

"Wooow, you two are seem good each other"

Baik Navid ataupun Bias terlihat tidak nyaman satu sama lain, mereka saling menatap untuk beberapa detik lalu bersikap aneh. "We have to go back to the office,  Nayla!"

Aku menganggukan kepalaku beberapa kali. Lalu menatap mata coklat kesayanganku untuk terakhir kalinya dalam jarak sedekat ini.

"Senang bertemu denganmu lagi, sampai jumpa."

"Nay, bisakah kau menonton pertunjukanku nanti?"

"Akan aku usahakan."

"Berdirilah di barisan paling depan agar aku bisa melihatmu."

Aku menganggukkan kepalaku lagi lalu membiarkan tangan Navid menuntunku pergi meninggalkan coffee shop.

Udara kota New York menjelang musim dingin selalu membuatku menggigil. Angin yang berhembus selalu saja menyelinap ke balik mantel tebal yang membungkus tubuhku.

Tapi tidak kali ini. Hangat pelukan tadi masih terasa dan menyisakan rasa kebal atas udara dingin ini.

Share:

Saturday, August 30, 2014

Surat untuk Kalian Para Gadis Cantik yang Sedang Merasakan Cinta

Untuk kalian adik-adikku yang mulai beranjak dewasa.

Kalian bukan lagi adik kecil bawel tukang ngompol yang suka merengek seperti yang aku ingat dalam benakku. Kalian tumbuh sehat, tubuh kalian bahkan tumbuh dengan pesat, melewati tinggi badanku sendiri. Kalian tak lagi berteriak-teriak menuntut permen atau coklat, sekarang kalian berteriak-teriak saat lelaki tampan tertangkap oleh pandangan. Aku rasa, kalian pun mulai sembunyikan pesan-pesan cinta untuk mereka para lawan jenis yang mengagumi kalian sebagai seorang wanita. Berharap pesan-pesan dari hati itu tak pernah dibaca oleh orangtua. Tapi percayalah, ayah-ibu kita tahu semua tentang anaknya.

Kalian pergi menjauh saat sebuah nomor yang kalian hafal di luar kepala menggetarkan handphone meminta jawaban, bertelpon dengan suara pelan sambil menahan senyuman. Ayah-ibu mulai curiga dengan siapa kamu berbicara. Tapi mereka mungkin engan bertanya,  takut kamu jadi tak mau bicara. Atau mereka memang menunggu waktu yang tepat untuk menanyakannya. Mereka sungguh mengasihimu dan tak ingin kamu pergi menjauhi mereka karena persoalan curiga. Saat ini mungkin mereka diam saja, tapi saat usiamu kepala 2, situasinya akan berbeda.

(Sigh)
Kalian sungguh tumbuh menjadi anak perempuan cantik nan menarik, sayang. Kalian bukan lagi adik kecil bergigi ompong dan ingusan. Kepribadian kalian yang menyenangkan, hati yang penuh kasih, selera humor yang baik dan pengetahuan yang kalian miliki membuat mereka para lawan jenis terpikat oleh kalian. Tutur kata yang sopan, kedewasaan kalian sungguh mengagumkan. Jujur aku sangat senang dengan semua itu, tapi aku sebagai kakak jadi khawatir. Khawatir kalian dengan keluguan dan kepolosan kalian malah bertindak bodoh yang buat kalian menyesal.


Aku yang dilahirkan beberapa tahun lebih dulu pernah berada di usia kalian. Merasakan debaran yang serupa saat melihat dia si lawan jenis.  Merasakan sensasi kupu-kupu yang terbang di dalam perut, menggelitik dan aku menikmatinya. Atau mungkin kalian pernah merasaan adrenalin yang melunjak ketika tahu si sahabat juga terpikat pada dia yang kita suka. Lalu buat persahabatan yang terbangun saat awal masuk sekolah itu roboh karena angin 'perasaan-terkhianati'. Percayalah aku pernah mengalaminya dan itu jadi kenangan yang masih aku ingat hingga sekarang.

Sebenarnya, yang ingin aku sampaikan saat ini mungkin sulit untuk dimengerti. Ini tentang cinta yang tumbuh dalam hati. Maukah kalian berjanji untuk menjaganya hingga kalian siap untuk memberikannya pada orang asing yang inginkan kalian dengan cara yang suci?

Tunggulah, kalian hanya perlu bersabar 6-8 tahun untuk berikan cinta yang tumbuh tanpa pernah tersentuh oleh siapapun. Aku mohon dengarkan aku, itu waktu yang sungguh sangat singkat, dengan fokus menyelesaikan pendidikan senior kalian, menyelesaikan kuliah kalian, lalu bekerja 1 tahun, semua waktu itu sungguh sangat singkat. Jadi bersabarlah. Selama itu kamupun tak perlukan cinta orang asing. Cinta ayah-ibu,  kakak, adik, dan saudara-saudara yang lain sudah sangat cukup untuk menemani kalian hingga ke tahap itu. Mungkin tak jarang mereka memarahi, menuntut banyak hal padamu. Tapi itu semua bentuk cinta agar kamu tumbuh menjadi gadis kuat, mandiri, dan bisa diandalkan ketika kelak mereka pergi meninggalkan.

Jangan pernah takut cinta yang sudah dirawat selama 6-8 tahun itu terpaksa kau berikan pada orang yang tidak sesuai dengan keinginan kalian. TUHAN tidak miskin hingga hanya berikan 'hadiah-ala-kadarnya' untuk dirimu, masa depanmu. Pantaskan dirimu untuk bersiap menerima hadiah penantian itu hingga saatnya tiba. Tingkatkan qualitas dirimu untuk disandingkan dengan dia yang baik untukmu dan hidupmu.

Mungkin kamu masih belum paham dengan permohonanku ini. Aku sendiri butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa memahaminya.

Setidaknya jagalah cinta kalian hingga kalian menyelesaikan pendidikan senior kalian, mungkin seiringnya waktu kaliam akan paham dengan sendirinya mengapa cinta itu cukup diberikan pada 1 orang yang tepat yang bisa janjikanmu surga.

Salam sayang,
Kakakmu

____________
Untuk adik-adikku tersayang, 
aluh, laras, agis dan gledis yang sudah besar
Share:

Saturday, August 23, 2014

BIACH

Tentang matamata yang malas membaca pesan tak berguna
Yang terlanjur benci menghabiskan semenit untuk berbasa-basi berbalas kata
Jengah dengan kelakuan manusia yang namanya kembali muncul di deretan pesan yang belum terbaca
Wanita-wanita yang ku tahu tapi tak mau aku tahu siapa

Tentang telingatelinga yang senang mencuri dengar
Untuk sekedar dibahas di balik punggung dengan makian kasar
Sambil tersenyum lebar
Mereka mengumpat sambil berkelakar

Tentang selera yang buat intepretasi kita tak berada di titik temu

Tentang cemburu

Kamu

Padaku

Atas mereka yang ada di hatimu tanpa pernah tahu karna kau lupa beri tahu

Yang lalu bernafsu musnahkanku

Jadi abu


Share:

Thursday, August 21, 2014

Moonlight Densetsu

Maaf ku tak pernah berterus terang
Bukan ku tak mempercayaimu
Namun sebelum kuberganti rupa
Ingin aku menemuimu

Ku kan bermandi cahaya bulan
Yang cemerlang di malam yang cerah
Memang telah lama kurasakan
Ingin menolong yang lemah

Tiba-tiba keajaiban terjadi
Kekuatan muncul di diri

Untuk melawan semua kejahatan
Kekuatanku harus digunakan
Menegakkan segala kebenaran

Ini keajaiban alam
Aku mempercayainya
Ini keajaiban alam…


---
Sailormoon
Short Indonesian Version
Share:

Wednesday, August 20, 2014

Lewat

Lewat malam, kita:
Berbincang tanpa sungkan

Lewat kata, kita:
Melagu bait rindu

Lewat setahun, kita:
Mencintai tanpa memiliki

___________
Nay,
Setahun sebelum dia pergi

Share:

Tuesday, August 19, 2014

You

Marriage is never only an option

Make in love is always as sweet as the first time

You understand me and you know just how to make things right

There will be other guys out of you, but no matter they come and go, thank you for coming into my life

Seche 3090,


Keith Martin, ‘Because of You’
Share:

Aku pernah begitu yakin bahwa patah hati adalah sesuatu yang dilebihlebihkan. Lalu aku bertemu dengan kau. Sebentar. Dan keyakinan itu dipatahkan oleh patah hatiku sendiri.

Overture,  disa tannos

_____________
Teruntuk kamu yang baru saja patah hati,
Sial memang, kenapa harus berakhir seperti ini?

Share:

Monday, August 18, 2014

I might do things wrong, create chaos or even put some people in critical situation. I am wrong and feel like the whole day is totally wrong because of my fault, yet I am just too afraid to face the world
A friend of mine just told me: you forgot that god set everything right

_____________________
Be strong, keep moving on, conquer their look by admiting the fault.
Share:

Friday, August 15, 2014

Didepak Dari Surga

Baik kamu dan aku pandai bercerita.
Senang bercengkrama hingga fajar tiba
Kita tertawa lepas, memaki dan mengumpat tanpa pernah berubah menjadi jahat
Lalu terdiam tercekat saat mentari datang mendekat

Ya, aku milik Fajar
Dan kau milik Mentari

Tanpa sadar kita lebih menyukai malam tanpa takut menjadi kelam

Kita masih asik bercerita hingga fajar tiba
Lalu mentari datang dengan membawa realita

Kita berhenti bercerita
Keluar dari utopia
Kembali ke dunia
Yang kita sebut fana

Share:

Thursday, August 14, 2014

Monday, August 11, 2014

Balada malam minggu: tentang bibit-bebet-bobot cinta

Bagaimana kita memulai bahasan ini?

Mungkin dengan mengingatkan bahwa satu diantara kita pernah mengalami kegalauan luar biasa ketika dihadapkan pada pilihan. Terutama pilihan yang sangat erat kaitannya dengan masa depan.
Seperti pernikahan.

Faktanya tak satupun dari kita yang ingin menikahi orang yang salah bukan? Seperti yang orang orang tua yang telah hafal dengan kosa kata bibit bebet bobot, kata-kata itu membayang-bayangi banyak anak adam dalam memilih pasangan hidup. Mencari yang paling tepat dari segala aspek yang ada, yang bisa menjadi pendamping hidup hingga akhir hayat. Matrealistis? Tentu saja tidak. Itu namanya realistis. Siapapun akan mudah beranggapan bahwa buah yang baik biasanya memiliki bibit-bebet-bobot yang baik. 

Sebagian lainnya, tak pedulikan kembar siam bibit-bebet-bobot; mereka yang tidak mempedulikan dari mana orang itu berasal, tak peduli dengan apa pekerjaan orang itu saat ini, tak pedulikan apa kata orang tentang orang itu, dia hanya permasalahkan satu, cinta. Mereka adalah golongan orang yang beranggapan bahwa hidup yang tak melulu berikan yang dia harapkan akan terasa membahagiakan karena memiliki cinta, hidup bersama orang yang dicinta.

Jujur saja, sangat membuang-buang waktu hanya untuk membandingkan, mana yang lebih baik dalam memilih pasangan hidup, apa dengan bibit-bebet-bobot itu atau dengan cinta. Tak ada ahli sains sekalipun yang mau berlelahlelah mencari kebenaran untuk mencari jawabannya.

Ah ya, tentang bibit-bebet-bobot,  setidaknya semua itu tampak cukup beralasan dijadikan sebagai tolak ukur dalam menentukan seorang pendamping. Sedangkan CINTA, cinta itu hal abstrak, tak tampak. Mungkin salah satu indikasinya keberadaan cinta akan buat jantung berdetak tak berirama, adrenalin keluar lebih banyak daripada biasanya, tapi lidah kelu tak berkata lalu membuat kita terlihat lebih bodoh dari yang pernah orang kira. Mungkin satu diantara kita pernah merasakannya.  Tapi kemudian apa? Apa cinta yang tak kasat mata itu mampu menjadi pondasi atas keputusan besar manusia dalam hidupnya?

Beberapa kali aku, pribadi, merasa iri pada mereka yang mengklaim sedang merasakan cinta. Mereka sering tampak salah tingkah saat berada di dekat yang dipuja, terlihat berbinar saat menceritakan dia yang disuka, wajahnya cerah, indah, aku senang melihatnya. Tampak luar biasa. Tapi jujur seringkali aku tidak mengerti, mengapa cinta senang datang dan pergi? Seperti rambutan, hanya muncul saat musimnya tak bisa berbuah jika waktunya belum tiba. Menyakitkan sekali ketika cinta itu harus hilang karena musimnya sudah berakhir,  saat satu dari dua insan itu memilih untuk menyerah, tak mau bertahan hingga musim berikutnya datang. Itu yang jadi problematika cinta sejauh ini.

Gaibnya cinta memang sulit dimengerti tapi yang sedang aku percayai saat ini adalah cinta akan hadir tepat waktu, saat musimnya tiba pada bibit-bebet-bobot yang layak menerimanya. Dan semoga saat musim itu tiba, aku siap untuk berjanji suci sehidup semati, karena saat musim cinta berakhir, dua insan yang telah berikrar akan berusaha memeliharanya untuk tetap hidup hingga menemui musim selanjutnya.
Share:

Saturday, August 9, 2014

Hanya Satu, Tidak Semua

.....

"Tapi tidak semua orang berfikir seperti itu"

"Kita ga perlukan 'semua orang' berfikir seperti itu, yang kita butuhkan 'satu orang' yang berfikir seperti itu jadi pendamping hidup kita. Kamu hanya akan menikahi satu orang bukan?'

"Hahaha, iya, hanya satu orang"
____________
Suatu malam, sepenggal percakapan Gina dan seorang fotografer.
Share:

Thursday, August 7, 2014

Catch

Aku berani bersumpah bahwa yang aku lihat saat ini adalah kamu. Kau terlihat lebih tinggi dari yang aku ingat, kulitmu lebih gelap, bentuk badanmu lebih tegap, tapi rambut yang kemerahan di bawah sinar matahari itu meyakinkanku bahwa itu adalah kamu.

Atau bukan?

Tren saat ini adalah men cat rambutnya. Tetap terlihat hitam saat normal dan baru terlihat semburat warnanya tatkala terpapar sinar. Tapi aku yakin itu rambutmu. Aku masih mengingat setiap detik ketika kau merebahkan kepalamu di pangkuanku dan aku senang mengelus rambutmu. Aku bahkan masih bisa merasakan halusnya di telapak tanganku.

"Nay, you forget your phone again!"

Aku menolehkan kepalaku ke arah sumber suara. Ku lihat Navid mengacung-acungkan smartphone ku di atas kepalanya. Tapi aku kembali memalingkan wajah, berharap saat aku menatap kursi tempatmu tadi duduk, aku masih bisa melihatmu disana.

Itu kamu, bukan?

Tapi kursi itu sudah kosong. Orang disana lenyap dalam hitungan detik.

"Nay?"

Navid kembali meminta perhatianku. Tapi aku tak peduli. Pandanganku kini menyapu seluruh ruangan, masih berharap bahwa aku melihatmu. Bahwa kamu ada di sini. Di kota ini.

Pintu cafe seketika terbuka, menggoyangkan bel yang dipasang diatasnya. Angin musim semi menyeruak masuk. Lalu aku mencium aromamu. Hugo Boss.

Aku menolehkan kepalaku ke sebelah kanan. Aku melihatmu berdiri di depan counter.

"Nay, are you okay?"

Navid sudah berdiri di dekatku. Dia masih menggenggam smartphone ku.

"You're look so tense"

Aku menggelengkan kepalaku, membantah anggapan Navid atas sikapku saat ini. Aku kembali mengalihkan pandanganku ke arah counter, tempatmu berdiri.

Dan kau pun sedang memandangiku.

Kau menyunggingkan senyuman khas mu dengan sudut kanan bibir lebih tinggi dibandingkan sudut lainnya. Sambil menggelengkan kepala kau berjalan ke arahku.

"Nayla, aku tak percaya kita bisa bertemu disini"

Aku masih belum bisa berkata-kata. Sepertinya Hugo Boss mu telah memenuhi saluran pernafasanku hingga aku tak bisa menggetarkan pita suaraku.

"Dan kau selalu tampak cantik, seperti biasa"

Aku kembali melihat matanya yang berwarna coklat menatap kedua mataku. Mata yang selalu dapat membuat jantungku berdetak lebih kencang. Mata yang memenjarakanku kedalam pesonanya.

Jangan lupa bernafas Nayla!

Kau melingkarkan kedua lenganmu dipinggangku. Aku bisa merasakan dada bidangmu dan hangat pelukmu setelah lima tahun kau pergi dariku.

"Aku merindukanmu, Nay"

Share:

Tuesday, August 5, 2014

X : Stop pretending that you are a salmon, stop swimming against the flow.
Y : But I am not a dead fish which follows the flow
X : No, you are not a dead fish,  you just an ordinary fish in the river that eventually will swim to the sea.

----
I hate when people turn me off just like that
Share:

Saturday, August 2, 2014

Balada malam minggu: is (s)he my future?

Keindahan lahiriah selalu berhasil menarik perhatianku, there is no second change for first impression. Begitulah faktanya. Mudah sekali mengingat orang-orang yang 'berbeda', menonjol, lebih bersinar dibandingkan dengan yang lain. Sedikit banyak, muncul keingintahuan yang lebih banyak tentang dia. Apa hobinya, warna kesukaannya, tanggal lahirnya, dan lain sebagainya.

Tapi hal itu sama sekali tidak berlaku saat jatuh cinta. Jatuh cinta sangat berbeda dengan 'tertarik'. Jatuh cinta itu seperti ada bunyi 'klik' saat pertama kali melihatnya. Berbeda dengan 'tertarik', Jatuh cinta selalu berhasil membuat semuanya menjadi sebuah kesan pertama yang tak pernah terlupa. Namun apa jatuh cinta bersama setiap momen kesan pertama itu akan membuat kita memilih dia menjadi pendamping selama kita hidup?

Sebuah pertanyaan yang tak mudah dijawab.

Seolah kesan pertama beserta informasi-informasi pendukung dirasa belum cukup untuk meyakinkan hati bahwa orang itu adalah orang yang tepat yg bisa mendampingi dalam suka maupun duka. Tidak mudah memang untuk memutuskan persoalan yang satu ini. Karena kita semua berharap ini akan menjadi once in a life time.

Tapi pernahkan mempertimbangkan tentang visi hidup dan prinsip hidup?

Saat dua insan mengikrarkan diri untuk hidup bersama dalam ikatan suci, artinya mereka akan menjalani kehidupan ini sebagai satu kesatuan. Tak ada lagi aku dan kamu, yang ada adalah kita. Kesatuan 'kita' yang menjalani hidup demi sebuah tujuan. Tujuan itulah yang disebut visi.

Beberapa orang percaya, visi adalah sesuatu yang tidak akan pernah tercapai. Terkadang mereka menetapkan visi yang  terlampau tinggi hingga acap kali membuat visi itu terlihat begitu mustahil. Tapi kita jangan mau terperangkap pemikiran itu. Secara sederhana kita bisa mendefinisikan visi sebagai sebuah tujuan yang berusaha kita capai. Jika kita diibaratkan bunga, maka visi adalah matahari yang menarik setiap sel dalam bunga untuk selalu menghadap padanya. Jika kita diibaratkan sebagai perahu, maka visi adalah sebuah tujuan agar tidak berputar-putar tak tentu arah di lautan yang luas.

Hidupku aku dedikasikan untuk visi ini. Aku bahkan berharap bahwa aku bisa terus melaksanakan visi ini saat aku menjalani hidup dengan seorang pendamping. Tak akan aku paksakan visi hidupku kepadanya.  Yang kuharapkan adalah dia memiliki visi hidup yang baik dan mendukung visi hidupku.
Tapi, tak berhenti hanya disini.

Ada prinsip yang aku pegang teguh dalam mencapai visi. Layaknya seorang petinju yang berniat untuk menang, dia akan menjaga asupan gula yang masuk kedalam tubuhnya karena gula akan membuatnya lemas. Ada aturan-aturan yang tidak boleh aku langgar. Aturan yang membentukku menjadi seperti ini. Dan dengan prinsip hidup itu, aku tak akan memilih seseorang yang memiliki prinsip hidup yang berlawanan. Mengapa? Karena sebuah kereta hanya akan berjalan diatas sepasang rel ke arah yang sama. Sebuah tujuan tak dapat tercapai dengan aturan yang saling bertolak belakang.

Mungkin setelah membaca ini satu diantara kalian cukup terinspirasi untuk bagaimana menentukan pasangan hidup. Setidaknya mulai mencari tau apa yang akan menjadi visi hidupnya lalu mulai mengingat-ngingat apa guidance dia selama ini untuk dijadikan prinsip yang tersusun dengan rapi. Lalu, saat kalian temukan orang yang cukup menarik atau bahkan menciptakan bunyi 'klik' saat pertama kali melihatnya, mungkin visi dan prinsip ini akan bisa sedikit membantu men-define, is (s)he my future?
Share: