Thursday, March 7, 2013

Tuesday, March 5, 2013

A fate that I feel blessed



Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Aku berumur 4 tahun saat aku secara resmi menjadi seorang kakak. Aku sangat bahagia memiliki seorang adik. Terlebih lagi orang-orang  di sekitar aku; dad, mom, uncles, aunties, grandma, grandpa – pendek kata, semua orang turut bahagia mengetahui bahwa ibu sedang hamil anak ke-2. Saat itu aku mengambil kesimpulan bahwa kelahiran seorang manusia ke dunia ini merupakan berita yang membahagiakan.

Semuanya baik-baik aja hingga akhirnya hari kelahiran itu tiba, 21 Juli, 1995. Orang-orang datang mengunjungi kami hanya untuk menjenguk bayi laki-laki sehat yang baru saja menghirup oksigen dengan paru-parunya sendiri. Headline hari itu dan minggu-minggu selanjutnya adalah si bayi. Lalu aku, aku adalah salah satu peran pendukung yang dikait-kaitkan dengan si bayi. Sesekali mereka menggodaku karena kini aku telah resmi menjadi seorang kakak. Tapi hanya itu. Semua perhatian dan hadiah-hadiah yang mereka bawa itu untuk si bayi. Tak ada satupun yang diberikan khusus untukku.

Itu adalah sepenggal cerita awal saat aku adalah seorang anak berusia 4 tahun yang cemburu pada innocent baby brother. Perasaan cemburu itu tak berlangsung lama karena kedua orangtuaku bisa membantuku untuk mengatasi masalah kecemburuan itu hingga saat aku mendapatkan seorang adik lagi di 28 Januari, 1999, aku sudah mengerti dan cukup dewasa dengan tidak merasa cemburu. Kini justru giliran adik laki-lakikulah yang merasa cemburu karena kelahiran adik bayi kami. Mungkin perasaan cemburu itu adalah sebuah perasaan yang lumrah terjadi pada seorang anak yang baru saja menjadi seorang kakak.

Menjadi anak pertama bukan pilihanku. Itu adalah takdirku. Aku menjalaninya biasa saja tanpa merasa beruntung bisa menjadi kakak mereka. It’s not something special for me, kira-kira seperti itulah hidupku hingga akhirnya pemikiranku berubah saat aku aku menginjak usia 18 tahun.

Adik bungsuku tengah malam menangis sesegukan. Ketika aku bertanya ada apa, dia menjawab bahwa lomba yang pernah aku dan adik pertamaku ikuti tak akan diselenggarakan lagi. Dia merasa sedih karena dia merasa bahwa mengikuti dan memenangkan lomba tersebut merupakan tradisi keluarga kami. Dia ingin mengikuti jejak langkah kakak-kakaknya, dia ingin foto dirinya memegang piala dipajang oleh sekolah seperti apa yang kami dapatkan waktu itu. Aku hanya bisa memeluknya agar dia tidak merasa sendirian. Lalu ku tatap kamar kami berdua. Semua barang-barangnya adalah jenis barang yang aku sukai saat seumur dengannya. Aku teringat komik dan novel yang dia sembunyikan di kolong kasur, akupun melakukan hal itu dulu. Celengan gentong plastik miliknya hanya akan dibuka saat dia berulang tahun tahun depan, sama seperti yang aku lakukan. Beberapa buku tulisnya adalah cerpen picisan yang tak akan ia ijinkan siapapun untuk membacanya, aku punya buku macam itu, masih tersimpan di lemari bukuku. Sobekan kertas berisi percakapan dia dan teman sekelasnya saat pelajaran sedang berlangsung, disimpan dalam kotak ‘harta’ dan akupun masih memilikinya.

Saat tangisannya mulai mereda, dia dengan terbata-bata, “Aku ingin kayak teteh sama aa yang bisa nerusin SMP sama SMA-nya tanpa testing soalnya jadi juara lomba”. Aku terenyuh mendengarnya. Gadis kecil dalam pelukanku itu adalah diriku saat kecil dulu. Dia betah bermain game berjam-jam sama seperti aku waktu itu. Malas mandi sore dan senang bermain-main bersama anak tetangga menangkap capung, hobiku saat kecil. She is really my copy.

Basically, I’m just an ordinary girl living in an ordinary world. Aku pernah jadi anak yang bikin orang tua khawatir seharian (pas aku lagi bandel-bandelnya). Aku juga pernah jadi anak baik yang bikin kedua orangku menangis karena bangga. Itu semua lumrah terjadi pada setiap anak. Tapi dibalik semua ordinary ini, aku beruntung menjadi seorang kakak dari adik-adik yang sangat amat baik. Kenyataannya adalah selama ini mereka mencintaiku dan mengidolakanku. Ternyata aku menjadi inspirasi hidup mereka. Sebuah kenyataan yang baru aku sadari setelah bertahun-tahun aku menjalaninya. Dan kini mereka adalah alasan untukku menjadi seorang individu yang baik.

Share: