Sunday, June 18, 2017

NHW Week #5: Learning How to Learn

📝 *BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR*📝 (Learning  How to Learn)

Setelah malam ini kita mempelajari tentang "Learning How to Learn"  maka kali ini kita akan praktek membuat *Design Pembelajaran* ala kita.

Kami tidak akan memandu banyak, mulailah mempraktekkan "learning how to learn" dalam membuat NHW #5.

Munculkan rasa ingin tahu bunda semua tentang apa itu design pembelajaran.

Bukan hasil  sempurna yg kami harapkan, melainkan "proses" anda dalam mengerjakan NHW #5 ini yg perlu anda share kan ke teman-teman yg lain.

Selamat Berpikir, dan selamat menemukan hal baru dari proses belajar anda di NHW #5 ini.

Salam Ibu Profesional,


/Tim Matrikulasi IIP/

------


Menarik sekali Nice HomeWork Kali Ini. Saya memutar otak bagaimana mengerjakan tugas Ini Dan menuangkannya kedalam tulisan.

Saya mencari-cari apa itu desain pembelajaran dan seperti apa contohnya (agar saya mendapatkan gambaran lebih untuk bisa menerapkannya Dalam praktik).

Sejauh yang saya dapatkan Dari mesin pencari, desain pembelajaran adalah praktik penyusunan media teknologi komunikasi dan isi untuk membantu agar dapat terjadi transfer pengetahuan secara efektif antara guru dan peserta didik (Begitu kata Wikipedia). Karena penyusun desain pembelajaran dan pelaksananya adalah saya sendiri maka melakukan desain pembelajaran Ini menjadi mudah-mudah-sulit. Bagian mudahnya adalah dari NHW sebelumnya. Disini saya akan lebih banyak mencomot isi NHW yang lalu.

Begini kira-kira penjelasan saya selanjutnya.

Mari saya mulai dengan bagian pertama: Awal, yang akan saya pelajaran adalah pengenai ilmu parenting (ada di NHW Week #3). Caranya sesuai dengan Adab Menuntut Ilmu (NHW Week #1). Tidak semua info yang berkaitan dengan parenting saya telan bulat-bulat. Ada proses seleksi. Sikap skeptis harus diterapkan. Ada pedoman Quran-Hadist Yang tidak boleh dilanggar.

Bagian kedua adalah: Tengah, Di bagian Ini adalah bagian praktik. Ilmu yang telah didapatkan mulai diterapkan Dalam kehidupan sehari-hari (NHW Week#2). Butuh kemauan keras juga konsistensi untuk melaksanakan Ini. Cara pengajaran orangtua saat kanak-kanak dulu; lingkungan tempat kini tinggal; ataupun permasalahan diri bisa jadi salah satu penyebab sulitnya mempraktikan ilmu parenting. Sehingga yang harus terlibat Dalam program ini adalah semua orang yang berkaitan dalam proses parenting Ini tidak hanya ibu, melainkan Tim tumbuh-kembang anak (ada ibu, ayah, nanny, kakek, nenek, tetangga, dll). Jangan ragu untuk meminta mereka memahami cara kita membesarkan anak. 

Bagian ketiga adalah: Akhir, observasi Dan assessment diperlukan untuk menindak-lanjuti pencapaian Dari ilmu yang sedang diterapkan. Apakah praktik harus ditambahkan kuantitasnya, ataukah harus diganti metode nya; semua itu berdasarkan observasi dan penilaian (NHW Week #2).
Share:

Friday, June 9, 2017

NHW Week #4: Mendidik Dengan Kekuatan Fitrah

Pascal Campion


Kali ini kita akan masuk tahap #4 dari proses belajar kita. Setelah bunda berdiskusi seru seputar mendidik anak dengan kekuatan fitrah , maka sekarang kita akan mulai mempraktekkan ilmu tersebut satu persatu.

Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?

Saat mengerjakan NHW Week #1, saya memilih jurusan Kebaikan. Sebuah jurusan yang teramat luas setelah 3 minggu berselang mengikuti Matrikulasi IIP. Pada akhirnya, di titik Ini saya merasa bahwa yang sangat saya butuhkan sebagai ibu adalah ilmu parenting, terutama mengenai tumbuh-kembang anak. Jurusan Ini sangat saya butuhkan sebagai bekal saya menjalani peran sebagai ibu dengan anak berusia 1.5 tahun.

Mari kita lihat Nice Homework #2, sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu "memantaskan diri" setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.

Saya men-design checklist harian saya dengan tingkat kesulitan yg cukup rendah. Namun ternyata manusia hanya bisa berusaha sementara Allah lah yang menentukan.

Sebagai individu, yang menginginkan diri ini faham agama, sehat jasmani & rohani, serta terpenuhi pula kebutuhan akan ilmu yg bermanfaat; sebagai istri yang bisa terus menyenangkan Mata dan hati suaminya; serta sebagai ibu yang menjaga titipan Allah dengan memenuhi semua kebutuhannya; ternyata sering kali tak bisa menetapi target harian hanya karena 'ikut-tidur-siang' saat menidurkan anak, atau sibuk cari Sayur karena abang Sayur tidak berjualan ke komplek. Harapan saya semoga saya bisa menetapi checklist Ini dengan sepenuh hati apapun yang terjadi. 

Baca dan renungkan kembali  Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang  akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.

Peran sebagai ibu & istri sangat tidak bisa dipisahkan. Saya senang mengamati tumbuh kembang anak saya. Mendapati diri kagum karena seberapapun ringkihnya ia saat dilahirkan, ternyata anak mampu bertahan hidup dan tumbuh sesuai dengan pencapaian di usianya. 
Kemampuannya dalam menyerah informasi sekitar (belajar) -pun rupanya sudah menjadi fitrah seorang anak. Tanpa saya ajari anak saya sudah mampu melafalkan takbir sejak umur 1 tahun. Dan setelah saya amati, Ternyata dia menikmati teriakan takbir anak-anak yg sedang bermain sambil menabuh bunyi-bunyian. 

Sementara itu, sebagai istri, saya menyadari betapa kehidupan rumah tangga begitu krusial. saya yang masih sangat awam mengenai masalah ini dituntut untuk senantiasa belajar dan memperbaiki diri sebagai bagian mencetak peradaban.

Dengan demikian, misi internal saya adalah untuk dapat menyertai anak saya untuk tumbuh Dan berkembang sesuai sesuai fitrahnya; Dan misi eksternalnya adalah berbagi cerita perjalanan fitrah kehidupan kepada teman-teman melalui tulisan. 
Bidang: pendidikan ibu & anak
Peran: praktisi & penulis

Setelah menemukan 3 hal tersebut,  susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut. 

Saya sependapat dengan kurikulum Institut Ibu Profesional, dimana ilmu-ilmu yang sekiranya saya butuhkan adalah: 
Ilmu-ilmu seputar pengasuhan anak
Ilmu-ilmu seputar manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga
Ilmu-ilmu seputar minat dan bakat, kemandirian finansial
Ilmu tentang berbagi manfaat kepada banyak orang 

Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup
Saya baru terpikirkan mengenai 'KM 0' saat menerima materi Matrikulasi week 4. Lalu saya berkomitmen bahwa KM 0 saya pada usia sekarang, 26 tahun. Berkomitmen 5.000 jam* terbang di satu bidang yang saya senangi. Dengan milestone sebagai berikut:
KM 0 – KM 2 ( tahun 1 - 2): Menguasai Ilmu-ilmu seputar pengasuhan anak 
KM 2 – KM 3 (tahun 3 ): Menguasai Ilmu-ilmu seputar manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga
KM 3 – KM 4 (tahun 4): Ilmu-ilmu seputar minat dan bakat, kemandirian finansial
KM 4 – KM 5 (tahun 5): Ilmu tentang berbagi manfaat kepada banyak orang 

Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.

Setelah mendapatkan penjelasan dan lainnya, tentu checklist saya butuh penambahan point agar ilmu-ilmu yang saya butuhkan bisa masuk ke jadwal kuliah di 'universitas kehidupan' saya.

Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan

Sekarang buatlah sejarah anda sendiri. 

Karena perjalanan ribuan mil selalu dimulai oleh langkah pertama, segera tetapkan KM 0 anda.


Salam Ibu Profesional,


/Tim Matrikulasi IIP/
Share:

Monday, June 5, 2017

NHW Week #3: Membangun Peradaban Dari Dalam Rumah

Bagi anda yang sudah berkeluarga dan dikaruniai satu tim yang utuh sampai hari ini.

Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki "alasan kuat" bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda. Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.

Saya harus mengakui bahwa saya selalu jatuh cinta pada Suami saya setiap harinya. Tanpa membuat Surat cinta pun percikan cinta selalu saja muncul tiap Kali kami berbincang berdua.

Satu fakta tentang masa kecil kami adalah: kami bertetetangga, menghabiskan masa kecil singkat bersama-sama. Saya tahu baik, buruk dan juga yang ada diantaranya. Dia menyebalkan dengan caranya (but I still want to be by his side). Lalu fakta lain terkuak saat dia mengajak saya menikah tanpa ada basa-basi pembuka ataupun tebar-tebar pesona. Saat kenangan masa kecil diubah 'pov'-nya, versi yang dia punya membuat versi yang saya punya tampak 'menggelikan'. Dia menjelaskan bahwa saya anak yang paling menarik diantara anak lain seangkatanku. Tentu saja saya meleleh mendengar pengakuannya itu.

Mengenai Surat cinta, dia selalu merasa geli dengan hal yang seperti ini. Dia pernah membaca tulisan serupa itu di blog saya dan mengakui bahwa dia tidak mampu membacanya dengan seksama hingga tuntas karena dia tak tahan, tulisan itu terasa kekanakan. Namun, saya pastikan dia membaca Surat cinta Ini. Belum ada jawaban, tapi saya tahu bahwa Surat cinta ini berharga untuknya karena ernah suatu Kali dia mengirimiku screen shoot penggalan chat yang aku kirimkan padanya saat awal pernikahan, dia bilang, "chat itu yang meyakinkan dia bahwa menikahiku adalah keputusan yang tepat". Chat yang menjadi jimat baginya disaat merasa lelah.

Sebagai orang yang saya andalkan keberadaannya, dia orang yang paling layak menjadi ayah dari anak-anak kami. Dia berusaha menjadi pribadi yang lebih baik agar menjadi contoh bagi anak kami. Dia selalu berusaha memenuhi tanggung jawab sebagai seorang ayah dan suami. Meski ada kesulitan ataupun halangan, itu tidak menyurutkan keinginannya untuk melakukan semua itu.

Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.

Drama kelahiran anak saya masih bisa saya ingat dengan jelas. Saat lahir, dia begitu ringkih dan mungil. Selang-selang yang menyambungkan tubuh dengan monitor atau alat medis lainnya masih bisa aku ingat. Hentakan tubuh saat pengecekan darah masih saja terbayang. Grafik peningkatan berat badan adalah salah satu pengobat rasa pahit atas ketidakberdayaan saya menjalani semua Ini. Anak saya tumbuh sehat. Kemampuan dia merespon suara, bertepuk tangan, mengenali bentuk, berjalan, berteriak semuanya selalu membuat saya tercengang Dan yak ada hentinya mengucap syukur. Dia pandai belajar, mudah mengerti, senang membantu, dan memakan semua masakan yang aku buatkan untuknya. Dia miliki semua yang dia butuhkan untuk menjadi apapun yang dia inginkan. Selama itu baik, maka aku akan senantiasa mendoakan demi kesukaan dan kebahagiaan dalam hidupnya.

Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.

Saya tidak yakin dengan potensi yang ada dalam diri saya. Saya senang menulis fiksi, ada beberapa tulisan yang saya anggap bagus Dan dapat penilaian serupa dari orang lain. Tapi hanya beberapa, tidak semua. Jika saya menyambung-nyambungkan semua hal, Dan menganggap potensi yang saya miliki adalah menulis, maka keberadaan saya sebagai pendamping hidup Suami Dan ibu dari anak saya ini adalah agar saya memahami bahwa saya tidak hidup dalam 'kepala saya' seperti halnya tulisan fiksi yang sering saya buat. Namun layaknya sebuah cerita, ada akhir bahagia yang selalu dinantikan. Maka sepatutnya selalu mengusahakan yang terbaik dengan tetap meyerahkan hasil akhir kepada Yang Maha Esa. Semoga dengan demikian, saya bisa menjalani kehidupan dengan ikhas namun tetap memiliki harapan tinggi. 

Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?

Saya mulai menyadari bahwa meniti kehidupan rumah tangga tidak sederhana. Ada banyak orang yang terlibat, tidak hanya Suami, anak dan saya saja; ada lebih dari itu karakter yang beririsan dalam kehidupan kami. Sebagai keluarga perantau yang juga tinggal di lingkungan perantau pula tentu saya menemui banyak kebiasaan baru. Saya menyadari bahwa ada banyak hal yang bisa menjadi konflik, hal yang baik sekalipun. Disini saya menyadari ada banyak hal yang bisa kami jadikan pelajaran hidup.
Ref:
Potensi diri:
Share: