Thursday, April 24, 2014

Monday, April 14, 2014

Edelweiss

Terbangun dengan angin dingin menyesap sukma
Mata berusaha menembus kabut tapi tak bisa
Dimanakah aku berada?
Aku tak bisa ingat apa-apa

Tak lama, sinar mentari menjelmakan sosok sang surya
Mengeyahkan kabut silaukan mata
Tampaklah bunga liar tanpa aroma
Warnanya coklat muda
Terbentang hingga tepi horizon sana
Tercekat aku melihatnya
Tak mampu membuka suara

Sebuah padang edelweiss surga dunia
Mereka bilang itu bunga cinta
Meski aku tak pernah percaya
Tapi kini aku terpesona
Oleh keindahannya.

Aku bukan pujangga yang pandai merangkai kata
Bukan juga penyair yang pandai menggubah sastra
Ini hanya sebuah karya
Untuk edelweiss yang aku tinggal di puncak gunung sana

Share:

Saturday, April 12, 2014

If it is a good bye, thank you for making my day

I heard familiar sound out my apartment, it is shalat calling for subuh.

Dawn is in coming, but my body still couldn't take a sleep. I open the window. The sky is dark without a single star. Fresh air fill my lungs, cold starts creeping on my skin. Today finally comes. In less than 6 month this is a good bye.

Ya, hopefully I have a change to have a good bye and express the grace I had during these days. Telling him that it is more than just good to having him lately. I dont want to feel sorry or even say such. I dont want to say how awful our ending is even this farewell has to come in a rush without any notice.

At least we speak, perhaps we still have things to fix. I am not dare to think that we will face this life together just to save my heart from serious hurt, but I need to have the last speak just to confirm this heart that it is out of blue we agree to be seperated by two.

Share:

Friday, April 11, 2014

At last

Ketika kamu merasa aku tidak sebaik yang kamu harapkan dan aku merasa kamu mulai mengokohkan benteng perbedaan.

Sepertinya kamu nyaman dengan hubungan baru kita yang menggantung tak jelas. Tak ada bedanya sebelum dengan sesudah kau katakan cinta.
Pesan-pesan penuh perhatian tak lagi aku dengar. Bahkan ucapan salam tak pernah lagi kita utarakan.

Kau mungkin sudah jengah dengan ingatanku yang payah, mood ku yang sering berubah atau bahkan muak dengan sikap malasku yang ah--- sudahlah.

Tapi mungkin kau setidaknya memengingat kembali apa yang kita berdua telah lewati sebelum akhirnya benar-benar memutuskan untuk pergi. Temui aku lagi mungkin masih ada yang bisa kita perbaiki, misalnya 
----hati ini----
......
.....
...
.

Tuh kan, galau lagi
Share:

Monday, April 7, 2014

Dilema

Kamu dan aku terpisahkan oleh yang namanya jarak
Jarak yang membentang melewati daratan dan lautan

Aku dan kamu tak bisa disatukan
Karena kita berdiri di beda ujung jalan

Kamu dan aku hanya bisa memadu kasih lewat pikiran
Lewat cahaya bulan saling kirimkan kerinduan

Jika saja kau pilih dia dan aku pilih yang lainnya maka kita akan punya cerita yang berbeda.

Sekarang tentukanlah jawaban,
Kita harus ambil satu keputusan
Akankah kita tetap bertahan
Ataukah memilih untuk saling melupakan

Share:

Pioggia Nella Capitale

Aku rasa melankolis kali ini hanya karna aku terbawa suasana. Hujan deras di luar sana menjebakku di sebuah kedai kopi, memaksa aku meminum cairan hitam dan pahit yang aromanya mengundang selera. Kabut tipis bergoyang diatasnya, memandakan minuman ini masih terlalu panas. Aku mengurungkan niat untuk mencicipinya. Membiarkannya untuk sedikit lebih dingin.

Tak hanya itu, hujan bagiku tak hanya buatku tertahan di kedai kopi, dia tak hanya ciptakan genangan di atas jalanan, tapi membawa kembali kenangan yang sempat terlupakan. Kenangan bersama dia yang aku temui setengah tahun yang lalu.

Kala itu aku berbagi mejaku untuk dia orang asing yang menghentikan motornya untuk berteduh. Di warung kopi tepi jalan ibu kota memang hanya menyediakan 1 meja yang kami pakai beramai-ramai tanpa merasa terganggu satu sama lain. Ditemani dua cangkir kopi kami berkenalan lalu berbincang layaknya seorang teman. Tak banyak yang kami bicarakan, hanya seputar bagaimana kami bisa terjebak oleh hujan.

Dia pria dengan rambut sebahu, menguncirnya hingga menyerupai ekor kuda. Lengan kemeja putihnya  digulung. Dia menceritakan bahwa aku baru saja mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja. Tak ada guratan sedih di wajahnya. Dengan binar yang tak mungkin aku lupa dia ceritakan mimpinya: memajukan desa terpencil di pulaunya.

Melalui secangkir kopi kami berkenalan, ditemani suara rinai hujan kami bertukar cerita kehidupan.  Saat perpisahan kurasakan detak jantungku tak beraturan. Sepertinya aku telah jatuh cinta padanyaTuhan. Tapi perasaan itu tak pernah aku utarakan. Bagaimana bisa di pertemuan pertama kuungkapkan bahwa hatiku tak inginkan sebuah perpisahan.

Aneh, memang aneh.

Dia orang asing yang memikirkannya selalu bisa buatku merinding. Tak pernah aku temui dirinya setelah pertemuan malam itu. Tak pernah mengharapkan untuk tak sengaja bertemu di kedai kopi lainnya saat hujan turun. Tapi sosok bermantel selutut dengan topi rajut itu buat mataku terpaku pada sosoknya. Sepertinya mata ini menangkap pria yang berperawakan sama dengan dia, ataukah otak ini yang mengharapkan mata memindai semua pria dengan bentuk tubuh seperti dia?


Manusia itu lalu berdiri mengantri di belakang wanita tua yang memesan sandwich tuna. Menatap punggungnya dan berharap dia menoleh agar bisa memastikan kalau itu dia buatku ingin mati saja. Setiap detiknya benar-benar membunuh sisa sisa harapan kalau itu adalah dia, sosok yang aku ingin lihat dengan mata kepala.

"Perkeh?"

Teriak seorang wanita dalam bahasa Italia.

Sebuah teriakan yang menyadarkanku bahwa sosok itu bukan pria asing-ku. Dia yang aku temui di Jakarta tidak mungkin ada di kota Roma, itulah faktanya.

Ku tatap lamat-lamat cairan hitam di depanku yang tak lagi mengepulkan kabut. Aku lepas kacamata minusku, lalu meletakannya di atas meja.

Bodoh, sungguh bodoh. Bagaimana bisa setengah tahun ini aku hanya terpaku pada orang asing di warung kopi tenda?

"Ciaò?"

Aku terkejut melihat sosok yang baru saja menyapaku. Gelas kopi miliknya yang menggumpalkan asap putih mengaburkan pengelihatanku yang buruk atas wajahnya.

"Posso sedermi qui?"

Meski dengan mata rabun ini aku tahu bahwa ada banyak kursi lain yang kosong. Mengapa dia memilih untuk duduk di mejaku?

Tapi pertanyaan itu tak semerta membuat aku mengusirnya.

"Si può stare qui"

Aku bisa dengar dia menahan tawa ketika dia duduk di depanku.

"Ci incontriamo nella pioggia di nuovo, signorina"

Meski bahasa italiaku sungguh masih sangat buruk, kalimat yang barusan aku dengar buatku terkejut. Sialnya, dalam jarak pandang kurang dari 100 sentimeter ini aku masih saja belum bisa melihat sosok pria itu dengan jelas.

"Kau----"

"Kali ini kita terjebak hujan ibu kota Roma, nona"


_____________________
I miss Mr. Bruno who taught me Italian. 
He pretty knows that I am lame in learning this language.
Share:

Sunday, April 6, 2014

Pinta si gadis 24 tahun

Bagaimana dia yang sudah 24 tahun memandang cinta?

Masih bisa tertipukah dengan dusta berbalut kata kata manis pilihan si Casanova? Akankah jatuh hati pada mereka yang dibalut kemeja atau luluh pada pandangan teduh kedua matanya?

Tidak, gadis itu terlampau tua untuk cukup bahagia karena penampilan luarnya saja. Yang dia butuhkan adalah seorang yang mau hidup bersama hingga ajal tiba, meski keriput memudarkan pesona tapi tak akan tergoda untuk mendua. Dia inginkan pria yang bisa selalu buatnya merasa aman dalam dekapannya, hujani dia dengan kasih sayang, meski sesekali dia pasti menginginkan kata-kata romansa terucap untuk dirinya, bual gombal bukanlah yang paling utama yg dinginkannya.

Pertanyaan orangtuanya tentang pendamping hidup mulai menghantuinya. Basa basi murahan teman-temannya tentang kekasih yang tak kunjung muncul buatnya tenggelam dalam pikirannya. Tergurat kesedihan pada raut wajahnya.

Oh, jangan sok tahu tentang pikiran gadis 24 tahun ini Gina, bisa jadi dia sedang terlampau melankolis akhir-akhir ini. Memikirkan cinta yang sering kali buat hatinya terluka. Padahal inginnya sangat sederhana, mendapatkan cinta yang bisa buatnya merasa bahagia memilikinya meski hidup terkadang berikan duka. Dia hanya inginkan kesederhanaan cinta. Seperti saat merasakan kehangatan ditengah hujan saat bersepeda motor membelah malam; sederhana cinta segelas teh manis hangat dikala senja, atau sederhana cinta nasi goreng keasinan saat pagi tiba.

Tidakkah orang mengerti cintanya si gadis 24 tahun ini tak banyak pinta, seperti perantau yang berharap ibu kota berbaik hati padanya, tak menjebaknya di tengah macet jalan kota Jakarta. Dia berharap lelakinya baik hati, tak menjebak dengan dusta, menorehkan luka lalu membuat hidupnya dalam nestapa.
Gadis 24 tahun ini tak bosan-bosannya meminta pada Yang Maha Kuasa, agar dia dipertemukan dengan pria setia yang hanya akan mencintainya, menjalankan kewajibannya dan bisa membuatnya masuk surga atas ketulusan hatinya.
Share:

Thursday, April 3, 2014

What's my name?

Surprising.

I've just found this in wikipedia

Ekajaṭī is one of the 21Taras, is one of the most powerful and fierce goddesses of Indo-Tibetan mythology.  According to Tibetan legends she is an acculturation of the Bön goddess of heaven, whose right eye was pierced by the tantric master Padmasambhava so that she could much more effectively help him subjugate Tibetan demons.

Ekajati is also known as 'Blue Tara'. She is generally considered one of the three principal protectors of the Nyingma lineage, along with Rāhula and Vajrasādhu (Dorje Legpa).
Often she appears as liberator in the mandala of Green Tara. Along with that her ascribed powers are removing the fear of enemies, spreading joy and removing personal hindrances on the path to enlightenment.

In her most common form she holds an axe, drigug (cleaver) or khatvanga (tantric staff) and a skull cup in her hands. In her chignon is a picture of Akshobhya.

That's mine, how's yours?
Share:

Wednesday, April 2, 2014

Without you


Ya, aku yang kalah dalam permainan ini. Aku pikir meninggalkanmu dan menempuh jalan ini sendiri akan buatku capai kebahagiaan yang hakiki.

Salahkan diri ini yang terlampau picik dan hanya pikirkan diri sendiri. Hidup ini tak lagi sama tanpamu disisi. Kurasakan hampa akan kesuksesan yang kuraih tanpa cinta darimu yang terkasih.

Aku melihatmu menari dibawah hujan dengan gembira. Dengannya yang mau bersamamu dalam suka dan duka.

Aku terperangkap oleh kebahagian semu.
Telah kehilangan cintamu.
Aku, si dungu itu

Note:
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari http://t.co/pk32j90nVG di Facebook dan Twitter @nulisbuku"

Share:

Cinta putih

Lebih dari setahun kita lewati. Ungkapan cinta, sehidup semati terlafal sebagai janji. Banyak suka, duka, canda juga tawa kita lalui. Tapi ditemani kopi pahit ini, kau ungkapkan kau tak cintaiku lagi.
Sudah kuduga, ini tentang gadis yang baru kau temui. Gadis yang kau sebut cantik akhir-akhir ini. Tak jarang kau bungkam aku dengan cerita tentangnya yang kau dapatkan dari seorang sahabat yang kau percayai. Kau sanjung dan puji tinggi-tinggi di depan aku yang tak sengaja kau lukai. Senyum ku yang memudar mungkin tak pernah kau sadari. 
Sayang,
Ikuti saja apa kata hati, jika kau merasa dia adalah cinta sejati, tinggalkanlah aku sendiri. Namun ku yakin kau akan minta aku kembali karena hanya aku yang menerima kekuranganmu sepenuh hati. Kau akan pinta aku, mohon aku unyuk kembali padamu lagi.
Tapi kau harus tahu diri, aku tak akan kembali karena hati ini telah mati.

Note:
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari http://t.co/pk32j90nVG di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Share:

Tuesday, April 1, 2014

Di sunyi mega


Personal galery
captured from Pari Island

------ saat itu buatku merenung sejenak, adakah aku sedikit dihatimu?
Ah, lagi-lagi aku terlalu melankolis, senja akan selalu kembali jika saatnya tiba
Share: