Monday, September 18, 2017

Insane


I was insane once.

Feel so stressful, so stupid, so invaluable, and so ugly. I lived in a boring, hateful lyfe.

Then S hugged me and talked to me whether I needed some holiday. And hell I said yes.

The days after, I live in same life happily. Without that goddamn holiday

That's insanity

Share:

Thursday, September 14, 2017

Review: Dove 3 in 1 Make Up Remover



Lucky me,

Sebagai orang yang sedang sering mendapatkan undangan pernikahan, ada kewajiban yang ga wajib sebenernya buat ber-make up. Frankly, yang menyenangkan dari menghadiri undangan ini adalah fakta dari bermake up yang mampu nutupin noda-noda bekas jerawat. Berasa cantik gitu. Tapiii, bagian yang paling menyebalkannya adalah remove semua itu dari wajah. Bukan karena berubah jadi jelek lagi (karena perempuan kan cantik ya kan ... ya kaaaan), tapi karena ribet gak sik harus pake susu pembersih, dan toner? Eh, kan ada misscellar water! ----- Iya siiih, tapiii, ada kan ya orang yang tetep cuci muka lagi pake facial wash setelah removing pake miscellar water, dan hal ini ga baik karena bisa bikin kulit dehidrasi. Ibarat baju yang dicuci terus-terusan, kainnya bisa tambah tipis dan sobek.

Sayangnya I am in this gank.

Beruntung, dari hometester aku dapet kesempatan buat coba Dove 3 in 1 remover. Jadi bisa ngapus make-up dengan cara cuci muka. Cukup 1 kali, ga pake ribet. Ga dipelotin suami karena ngaca mulu, dan ga diliatin Inu. Ga diliatin Inu itu penting banget loh karena dia lagi di masa suka niru. Bakalan horor liat bayi laki ini niru mamanya make-up an.

Dari fisiknya, ukuran botol Dove 3 in 1 besar, ukuran 150 ml, ga travel-friendly sih menurut aku. Tapiii, ngapain juga dibawa-bawa? Emangnya mau hapus make-up di tengah jalan? Kan sayaaaang. Justru botol ini bisa kita simpan di kamar mandi. Ga ramein meja rias, atau menuh-menuhin pouch make-up.

Oh ya, Dove 3 in 1 ini bentuknya foam. Pump-nya besar, sekali tekan foam yang keluar banyak. Setelah 2 minggu pemakaian produk ini, aku dapat pengalaman kalau untuk menghapus make up yang tebal, butuh sekitar 3 kali pumping, sementara kalau tipis, cukup 1 kali saja --- semua make up bisa terangkat sempurna, termasuk bagian mata, bibir. Tapi hati-hati saat menggosok kulit wajah ya. Wajah kita bukan pantat wajan. Gosok dengan lembut; dan juga hati-hati yaa, jika mata kena foam ini rasanya perih sekali.

Dan jujur saya, ini pertama kalinya aku coba cleanser bentuk foam. Ternyata enak loh. Dibanding bentuk cleanser lainnya yang butuh sedikit air dan digosok-gosok dulu untuk mendapatkan busa, ini tuh simpel, tinggal tekan aja. Dan foam ini rasanya ringan banget. Awalnya terasa mustahil bisa angkat foundation tebal, tapi ternyata bersih juga. Karena pernah aku coba pakai kapas ­ + minyak zaitun diusap ke wajah setelah pakai Dove 3 in 1, ternyata ga ada bekas make-up yang terangkat. Jadi bisa dipercaya lah kemampuan produk ini.

Hasil setelah membersihkan make up dengan Dove 3 in 1 ini rasanya bersih. Untuk tipe kulit normal cenderung berminyak seperti aku, awalnya kulit terasa kering yang ringan. Tapi setelah beberapa saat, kulit kembali lembab. Kalau baca flyer Dove 3 in 1, dia mengandung Nutrium Beauty Serum yang mengembalikan kelembaban pada kulit. Jadi aku rasa untuk kulit yang kering pun produk ini layak untuk dicoba.

Mengenai harga, aku belum tahu. Tapi logikanya, produk pabrikan besar seperti dove dari unilever akan mudah ditemukan di drugstore dengan harga terjangkau.
Jika kalian butuh make up remover, kalian bisa loh coba Dove 3 in 1.

Atau kalau mau gratisan, main sini ke rumah aku. Kalian boleh pake Dove 3 in 1 aku disini.

 ----------- Please consider the environment before printing this email -----------
 ----------- Please consider the environment before printing this email -----------
Share:

Friday, September 8, 2017

Saturday, September 2, 2017

Balada Malam Minggu: Listening, not just hearing

We live once. Meski di beberapa kasus ada orang yang dinyatakan meninggal lalu tidak berapa lama dia hidup lagi --- alaminya manusia itu hidup hanya satu kali. Dan oooh, jangan terlalu berharap banyak bahwa kamu salah satu orang yang bisa kembali hidup setelah dinyatakan meninggal, karena kemungkinan hal itu terjadi hampir-hampir mustahil.

Lalu ada apa dengan fenomena bunuh diri ini? Siswa sekolah, pasangan suami-istri, dua saudara kandung, pengusaha, lelaki yang putus cinta seolah sedang menjalani tren bunuh diri. Sepertinya maut menjadi favorit akhir-akhir ini. Bahkan menurut Into The  Light (komunitas pencegah tindakan bunuh diri) tidak semua kasus bunuh diri tercatat di kepolisian karena sebagian besar kejadian bunuh diri ini ditutup-tutupi oleh kerabat terdekat dengan dalih aib; beberapa kejadian bunuh diri pula dikategorikan sebagai kecelakaan. Sementara itu tak ada data yang kongkrit mengenai jumlah  orang yang mengaku berniat bunuh diri, ataupun orang yang berfikir untuk bunuh diri. Jumlahnya bisa berpuluh-puluh kali lipat lebih besar dari data bunuh diri yang dimiliki kepolisian. Jadi bisa dibilang fenomena ini bukan hal asing lagi di masyarakat.

Mengapa bunuh diri menjadi pilihan mereka?

Karena beban hidup yang besar; Dianiaya; Kehilangan orang yang paling penting; terjebak dalam tumpukan hutang; merasa tidak memiliki arti untuk hidup; atau bahkan mengakhiri hidup karena tidak ingin menyusahkan atau menjadi aib bagi orang tercinta. Banyak alasan yang bisa dibuat, banyak alasan yang bisa menjadi penyebabnya.

Namun, apa kita aware dengan keberadaan alasan-alasan itu jika ada disekitar Kita? Bisa jadi, sahabat kita yang eksis di sosial media memiliki masalah hingga ia berniat untuk bunuh diri; atau tetangga yang terlihat kalem dan santun ternyata terus memikirkan bagaimana cara untuk bunuh diri; atau teman kantor yang cerewet dan ceria Ternyata diam-diam log in ke forum bunuh diri. Apakah Kita menyadari bahwa niatan bunuh diri itu ada di pikiran orang-orang sekitar kita?

Yuk mulai aware. Lebih peka sama orang-orang sekitar. Tanyalah kabarnya, kabar orangtuanya, kabar pasangan ya, kabar anaknya. Tanya bukan buat basa-basi; bukan buat pamer kedekatan di media sosial; bukan buat kepo juga; tanyalah karena kita peduli dengan keberadaannya

Berhenti menganggap bahwa pelaku bunuh diri adalah seorang kriminal; atau seorang pendosa lemah iman. Orang-orang yang berniat bunuh diri itu orang-orang yang butuh pertolongan. Bila perlu, libatkan psikolog untuk jalan keluarnya. Please take them with care, we deal with lifes. Dan juga, jangan sok-sok-an jadi tempat curhat dengan menganggap "mereka cuma butuh didengarkan". No! That's a stupid mistake. Punya ilmu apa sampe-sampe berani ngasih konseling sama orang yang berniat mengakhiri hidup? Mau berkhotbah apa? But one thing for sure, bisa kontak @IntoTheLightID untuk sebuah langkah permulaan.
Share: