Wednesday, March 25, 2015

Apa kamu merasa bahagia?

________
Pertanyaan pada suatu malam. Kita menyepakati 1 jawaban yang sama untuk alasan yang berbeda

Share:

Sunday, March 22, 2015

Surat dari Dewi

Apa kabar kita? Sepertinya sudah lama sekali kita tak bertukar cerita. Terakhir yang aku tahu, kau sedang dilema dengan materi thesis-mu yang tak kunjung selesai. Bagaimana sekarang kelanjutannya, sudah beranjak dari chapter yang sempat kau diskusikan denganku dulu? Ah itu pertanyaan paling bodoh karena aku tak akan pernah mendapatkan jawabannya. Aku sudah tak berani lagi bertanya.  Nyaliku ciut.

Aku ingat saat pertama kali kita jumpa. Tempat kerjamu mengundangku untuk menjadi pembicara. Kamu yang bertanggung jawab atas keberadaanku disana kala itu. Sosok tinggi kurus rambut gondrong menjemputku di bandara. Dengan kaos hitam, celana jeans buluk dan sepatu kets hitam kau menghampiriku, menyapaku,  memastikan bahwa aku adalah orang yang harus kamu jemput.

Tak sepatahkatapun keluar, apalagi obrolan basi untuk sekedar memecah keheningan. Perjalanan saat itu seperti sebuah kutukan. Aku yang ber-ego sebesar gunung bertahan dengan aksi tak mau memulai percakapan lebih dulu. Aku sibuk memakimu dalam hati. Menyibukan diri dengan mengumpat. meneriaki diri sendiri dengan sebutan 'bodoh', yang mau menerima tawaran menjadi pembicara di ibu kota hanya karena merasa jemu menghadapi rutinitas yang itu-itu saja. Aku menyesali keputusan emosionalku. Keputusanku untuk datang memenuhi undangan ke metropol.


Sampai akhirnya aku melihatmu memainkan saxofon. permainanmu sungguh buatku meremang. Aku tak pernah tau jika alat musik itu bisa menghasilkan nada-nada yang luar biasa, merangkai melodi yang bisa menyayat-nyayat hati. Kau membuatku harus merevisi penilaianku atas dirimu. Kau bukan laki-laki berhati dingin. Kau hanya laki-laki misterius yang tak banyak bicara.

Dan kemudian keingintahuanku atas permainanmu melelehkan gunung es egoku. Aku, menyapapu, memulai percakapan denganmu di perjalanan menuju bandara. Aku dapati bahwa kau baru saja patah hati. Gadismu memilih mengencani sahabatmu sendiri. Ya, itu jadi landasan emosi paling masuk akal atas permainan saxophone dengan nada pilu siang tadi.

Sekarang, aku sedang menikmati live music di Kuta. Seorang pria kulit hitam sedang memainkan saxophone. Dia mengingatkanku padamu. Kita pernah menghabiskan malam dengan bertelepon hingga fajar tiba.  Aku ingat sekali, aku menginap di kantor kelurahan saat itu. Hanya disana satu-satunya tempat dengan layanan telpon. Signal handphone? Jangan tanyakan fasilitas itu di sini. Hingga saat ini, daerah itu masih diluar jangkauan kemewahan signal handphone. Kemewahan yang ada disana adalah udara segar dengan pemandangan yang menyejukan. Ah, tapi jangan kau tanya tentang air. Air sudah tak sama seperti dulu. Kami harus berjalan kaki setidaknya 3 km untuk mendapatkannya dan memanggulnya diatas kepala-kepala kami. Malam ini, di hotel ini aku sedang menunggu seseorang yang tertarik membantu desa untuk menyediakan air bersih.

Ah, kembali lagi ke permainan saxophone.  Pria ini memainkan Broken Vow. Lagu Josh Groban yang kita sukai. Ada bagian yang selalu tak bisa kita nyanyikan dengan baik. Kita sepakat bahwa bagian itu sungguh menyakitkan. Kau tahu? performer yang ada di depanku, dia berhasil melewatinya. Aku hampir tak bernafas saat bagian itu dimelodikan dengan apik. Aku semakin memikirkanmu.

Hei, apa kau sudah sembuh dari lukamu?

Lagi-lagi aku bertanya padahal aku tak berani mengungkapkannya. Sudah aku bilang, aku wanita dengan segunung ego. Nyaliku ciut membayangkan jika aku menanyaimu lebih dulu, ternyata kau sudah punya kekasih baru.

Sudahlah, aku menuliskan semua ini pun hanya akan berakhir di kotak sampah.


____________________
Sedari tadi aku hanya menyebutkan kita, dan mungkin kau, pembaca tulisan ini, jadi bingung dibuatnya. Baiklah, biar aku beri gambaran sedikit tentang objek disini. Aku, sebut saja Dewi. Ini tahun kelima-ku tinggal di pedalaman pulau dewata. Aku sedang jenuh terjebak diantara birokrasi pemerintah yang amat lamban dalam menangani kami, masyarakat di pulau dewa yang amat jauh dari jangkauan sektor pariwisata. Saat seorang teman yang bekerja di sebuah stasiun TV nasional mengirimiku undangan untuk menjadi pembicara di talk show nya. Dengan harapan kemunculanku di TV nasional akan meningkatkan proses birokrasi pemerintah atas projek yang sedang aku kerjakan, aku mengiyakan tawarannya.


Lalu dia, seorang PA program talk show yang mengundangku untuk menjadi pembicara. Dia menjemputku karena dia sendiri baru saja pulang dari cutinya. Tak heran kala itu dia terlampau malas memulai percakapan dengaku. Dia selalu tidak suka dengan perjalanan udara. Membuatnya merasa sakit meski tak benar-benar sakit.
Share:

Thursday, March 19, 2015

Katamu: kataku buat bahagia; kataku: katamu torehkan luka

Entah apa maumu. Datang tanpa undangan, diam-diam menyusup ke dalam kepalaku, berputar-putar, tersenyum-senyum, bersenang-senang. Kau pikir kepalaku taman bermanin?

Ya aku mencintaimu. Entah sejak kapan ketertarikanku atasmu berubah menjadi cinta. Yang pasti, sejak pertemuan pertama kita, aku mulai memikirkanmu. Bertanya-tanya tentang siapa kamu, apa namamu, dari mana asalmu dan apakah kau punya kekasih?

Aku mencinta dengan perbuatan. Aku mewujudkannya dengan perbuatan. Aku memperhatikanmu tanpa selalu berharap kau balas memperhatikan aku. Aku menjagamu tanpa selalu ada disisimu. Tapi akulah orang yang pertama mengetahui jika kamu sakit. Aku orang yang mau repot-repot mendatangimu hanya untuk memberikan pertolongan pertama atas sakitmu. Aku mencintaimu dengan caraku. Maka ketika aku utarakan perasaanku dan menyatakan niat baikku, tentu aku mengharapkan jawaban yang tak akan mengecewakan.

Tapi dengan dalih kau masih berkubang dalam luka lama, kau menolakku dengan sangat halus. Kau menjawab perasaanku dengan jawaban paling diplomatis. Kau bilang kau tak mau pikirkan cinta.

Sayangnya, senyuman  indahmu, nada ceria suaramu, cerita-ceritamu sama sekali tak menunjukan itu. Kau berkelakar tentang cinta sejati menurut versimu. Kau sama sekali tak terlihat menderita seperti yang kau ceritakan padaku sebelumnya bahwa kau masih terluka. Kau tak membuatku percaya bahwa kau pernah terluka karena cinta. Lagipula laki-laki macam apa yang akan mencampakan wanita sepertimu?

Kamu, wanita hebat. Mandiri, tegas dan berani. Meski artinya kamu selalu membuat orang di sekitarmu kelelahan menghadapi pertanyaanmu dan kritisanmu. Tapi disisi lain kamu pintar berdongeng untuk anak-anak. Kau begitu menakjubkan dengan mata membulat dan  saat berusaha menirukan suara monster jahat, atau suara penyihir hitam, atau bahkan suara induk burung.  Meski kau berulang kali bilang bahwa kau tak tahan pada tangisan anak-anak, aku tak pernah melihat kesabaranmu habis saat bermain bersama bocah-bocah itu. Tunjukan padaku, pria bodoh mana yang mencampakanmu? Sedangkan disini, ada pria tak tahu malu yang kau campakkan tapi masih saja betah memperhatikanmu dan menjagamu.

Kamu tahu apa yang paling menyedihkan dari cerita ini? Suatu hari kau bercerita. Katamu, karena aku, kau mulai memikirkan cinta. Katamu, karena ucapanku, kau akan berhenti membuat orang lain menunggu pulih dari luka. Katamu kau menerima dia. Katamu kau bahagia.

dan kau tau, aku bilang aku merana
Aku yang sadarkan kau untuk kembali cinta
Bukan suka yang kudapat, hanya ucapan terima kasih yang menyayat.

_________

Share:

Saturday, March 14, 2015

Balada Malam Minggu: None of Your Business

Kelakuan teman-temanku memang selalu memberiku inspirasi untuk menulis. Kali ini yang akan aku tuliskan adalah sesuatu yang "BUKAN URUSANMU"

Saat sahabat lama kembali bersua, ada banyak hal yang menjadi topik pembicaraan, mulai dari rasa rindu, sampai kenangan masa lalu. Dan tentu saja update dari orang-orang masa lalu itu menjadi salah satu topik yang cukup seru untuk dibahas karenaaaa --- people love talking behind one's back.

Lalu mulailah komentar-komentar judgement meluncur; 'itu namanya egois', 'dia emang ga pengertian', 'itu kan salah, harusnya ga boleh begitu', dsb. Itu sih biasa,  rata-rata orang ngelakuin hal itu pas kongkow ngobrol-ngobrol macam ini, tapi ada satu orang yang dengan santainya cuma nanggepin komentar-komentar itu sambil senyam-senyum dan ketika dia punya kesempatan bicara dia dengan santainya bilang, 'udah deeeeeeh, ngapain sih ngomongin ginian? Ini bukan urusan kita.'

Saluteeeeee.

Aku angkat gelas buat komentarnya yang satu itu. Karena berdasarkan pengamatanku, dulu dia adalah motor-rumpi-nya kita.

Saat kita tinggal berdua, (aku nunggu suamiku jemput, dan dia nunggu taksi pesanannya datang, sedangkan yang lain udah pada ngilang), aku kembali bahas 'bukan urusan - kita' yang tadi.

Kira-kira begini penjelasan dia atas kalimat 'bukan urusan kita'

Apapun keputusan dia saat itu, yg kita anggap 'egois', bisa jadi adalah keputusan paling wise yang dia punya. Kita cuma third parties yang ga tau kondisinya, ga tau kendalanya, ga tau banyak hal detail dari masalahnya. Jadi apa hak kita menghakimi tindakan dia?

Lain halnya jika kita menjadi orang yang dia mintai tolong, dia mintai nasehat, atau setidaknya hanya untuk dimintai mendengarkan isi hatinya. Disana kita punya kapasitas untuk memberikan tanggapan. Karena kita dengan keserbatahuan itu sebagai pihak netral yang bisa berfikir lebih jernih, bisa mengambil keputusan dengan kepala dingin. Dan meskipun demikian, tetap saja, kita tak punya hak untuk membicarakan dia; dibelakang punggungnya, terlebih kita adalah teman-temannya, orang yang pernah dekat dengannya.

Pemikiran yg baik.

Tapi aku sedikit tergelitik dengan fakta kita tak melulu membicarakan seseorang untuk bergunjing, terkadang kita membicarakan seseorang untuk membantunya.

Dan dia kembali tersenyum. Tentu saja itu boleh dilakukan. Dan itulah yang teman lakukan. Tapi tadi, kita hanya membicarakan dia dengan kalimat penghakiman, mengatakan apa yang seharusnya dia lakukan tapi aku yakin tak ada satupun diantara kita yg tahu pasti ada masalah apa, atau bahkan menanyakan masalahnya padaorang yang bersangkutan.

Obrolan kami berlanjut dengan cerita lainnya yang dia bacakan dari pesan berantai yang dia dapatkan dari grup whatsapp:


  1. Saudara laki2nya bertanya saat kunjungan seminggu setelah ia melahirkan : " hadiah apa yang diberikan suamimu setelah engkau melahirkan ? " ... " tidak ada " jawabnya pendek ... saudara laki2 nya berkata lagi : " masa sih ... apa engkau tidak berharga disisinya ?? aku bahkan sering memberi hadiah istriku walau tanpa alasan yang istimewa " .... siang itu ... ketika suaminya lelah pulang dari kantor menemukan istrinya merajuk dirumah ... keduanya lalu terlibat pertengkaran ... sebulan kemudian ... antara suami istri ini terjadi perceraian ... dari mana sumber masalah ??? kalimat sederhana yang diucapkan saudara laki2 sang istri ....
  2. Saat arisan seorang ibu bertanya : " rumahmu ini apa tidak terlalu sempit ?? bukankah anak2 mu banyak ?? " ... rumah yang tadinya terasa lapang sejak saat itu mulai dirasa sempit oleh penghuninya ... ketenangan pun hilang saat keluarga ini mulai terbelit hutang kala mencoba membeli rumah besar dengan cara kredit ke bank. 
  3. Seorang teman bertanya : '' berapa gajimu sebulan kerja di toko si fulan ?? " ... ia menjawab : " 1 juta rupiah " ... " cuma 1 juta rupiah ... sedikit sekali ia menghargai keringatmu .. apa cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupmu ?? " ... sejak saat itu ia jadi membenci pekerjaannya .. ia lalu meminta kenaikan gaji pada pemilik toko ... pemilik toko menolak dan mem PHK nya .... kini ia malah tidak berpenghasilan dan jadi pengangguran ...
hweeew, cerita itu terlampau ekstrim memang. Kita berdua hanya bisa saling menatap sambil menggelengkan kepala.

"none of your business, darl ---- none of them is your business"
Share:

Friday, March 13, 2015

Bayi yang tertidur

I would share an ugly truth happens around us,
well written by a girl.


written by Dokter Fina
published at her tumblr



Tahukah Anda, Mengapa Bayi Pengemis Selalu Tertidur?


Wanita itu duduk di lantai kotor dan di sampingnya terletak sebuah tas. Dalam tas itu orang melempar uang. Di tangan wanita, tidur seorang bayi berusia dua tahun. bayi itu berpakaian kotor.
Banyak orang yang lewat akan memberikan uang.


Selama sebulan aku melewati pengemis yang sama dan dengan waktu yang berbeda- beda. Dan ada hal yang mengganjal dalam benakku. Bayinya selalu tertidur saat aku lewat.
Ya bayinya tidur. Tidak pernah menangis atau menjerit , selalu tertidur di dalam gendongan pengemis itu.
"Kenapa dia tidur sepanjang waktu?" Aku bertanya (kepada pengemis), menatap bayi.


Pengemis pura-pura tidak mendengar saya. Dia menunduk dan menyembunyikan wajahnya di kerah jaket lusuh nya. Aku mengulangi pertanyaan itu. Wanita itu mendongak , melhatku, seakan kesal dengan pertanyaanku.
"B*ngs*t" , bibirnya bergumam.


Di belakangku seseorang menaruh tangannya di bahuku. Aku menoleh ke belakang . Seorang pria tua itu menatapku tidak setuju: “Apa yang Anda inginkan darinya? kamu tidak melihat seberapa keras kehidupannya?.” Dia mengambil beberapa koin dari sakunya dan melemparkannya ke kantong pengemis tsb.Pengemis itu menunjukkan raut wajah wajah berterima kasih dan kesedihan pada umumnya. Orang itu melepaskan tangannya dari bahuku dan berjalan keluar dari stasiun.
Hari berikutnya aku menelepon teman. Dari temanku itu, aku baru mengetahui bahwa pengemis itu adalah bisnis, meskipun terlihat spontanitas, jelas terorganisir dan diawasi oleh lingkaran organisasi kejahatan.


Anak-anak yang digunakan adalah anak hasil “menyewa” dari keluarga pecandu alkohol, atau hasil penculikan.
Lantas mengapa bayi itu selalu tidur? Dan dengan tenang temanku menjawab, “Mereka diberikan heroin, atau vodka”
Aku tercengang . “Siapa yang diberikan heroin atau vodka?!”
Dia menjawab, ” Anak itu, sehingga ia tidak berteriak. Wanita itu akan duduk sepanjang hari dengan dia, bayangkan bagaimana caranya anak yg sewajarnya rewel tidak merengek seperti itu kalau bukan dengan obat bius atau semacamnya?”


Untuk membuat bayi tidur sepanjang hari, ia dicekoki dengan vodka atau obat-obatan. Tentu saja, tubuh anak-anak tidak mampu mengatasi bahan2 keras tersebut. Dan anak-anak seringkali tewas. Hal yang paling mengerikan - kadang-kadang anak-anak meninggal selama “hari kerja” . Dan seorang “ibu” harus memegang mayat anak kecil di tangannya sampai malam. Ini adalah aturan.


Bila Anda melihat seorang wanita dengan seorang anak, mengemis, berpikirlah sebelum Anda menyumbang. Pikirkan tentang hal itu, jika bukan karena ratusan ribu pemberi sedekah, bisnis seperti ini tidak akan lagi ada. Bisnis akan mati dan bukan anak-anak. Jangan melihat anak yang sedang tidur dengan kasih sayang. Lihatlah dengan logika dan pengetahuan yang luas. Karena Anda membaca artikel ini , Anda tahu sekarang mengapa anak tersebut selalu tertidur di tangan pengemis.


Share:

Wednesday, March 11, 2015

Monday, March 9, 2015

The Diary of a Young Girl


It’s difficult in times like these: ideals, dreams and cherished hopes rise within us, only to be crushed by grim reality. It’s a wonder I haven’t abandoned all my ideals, they seem so absurd and impractical. Yet I cling to them because I still believe, in spite of everything, that people are truly good at heart.
Share:

Wednesday, March 4, 2015

Diet

I love talking, daaaaaan salah satu yg bisa bikin aku susah berhenti bicara adalah NGELUH

For the sake of happy life, aku memutuskan salah satu gaya hidup baru yang membuat lebih sehat jasmani dan rohani:

DIET NGELUH

Cukup lakukan setiap kali akan ngeluh, ga usah lama-lama, cuma tiap kali, ga banyak kok.

Share: