Thursday, October 31, 2013

If I am trapped in a time when I am too pissed off, I hope I can curse people whom tear my heart of and hope I freely write what I am thinking without worrying what people think of me
Share:

Tuesday, October 29, 2013

Tuhan Kami Satu, Tapi Berbeda

Bersambung dari Bagian Dua

Bagian 3

Kedekatanku dengan Marcelino semakin bertambah. Persepsiku terhadap dia Si Sok Model atau Mr. Popular dan sebagainya berangsur-angsur hilang. Dia benar-benar berbeda setelah aku mengenalnya lebih dalam. Akhir-akhir ini aku sering diajak untuk berkumpul bersama teman-teman populernya. Cukup menyenangkan juga mengenal mereka secara lebih dekat. Ternyata mereka tidak se-sombong yang aku bayangkan. Mereka cukup menyenangkan untuk dijadikan teman. Perbedaan dari mereka para populer dan kami para cupu ternyata hanya berbeda dari kadar kepercayaan diri dan narsisme. Mereka kebanyakan memiliki kepercayaan diri melebihi batas normal dan tingkat narsisme yang kelewatan dibandingkan para geek yang terlanjur rendah diri.

Selang beberapa waktu, kosakata Gue-Lo berubah menjadi Aku-Kamu. Kami menjadi sering pergi berdua. Dia mengajakku makan berdua, hang out berdua dan pergi nonton berdua. Menyenangkan sekali bisa menghabiskan waktu dengannya yang mau mendengarkan aku berceloteh tentang menjahit kepadanya. Bahkan dia mau  membantuku untuk membuatkan web online shop untuk hasil karyaku agar bisa dipasarkan lebih baik lagi.

Dia tak merasa keberatan ketika aku asik menggambar design dan tidak memeperdulikannya. Dia mengingatkan aku untuk sholat ketika aku terlalu larut dalam kesibukanku sendiri. Dia merapikan poniku yang basah setelah berwudhu dan menyimpan sebuah mukena+sajaddah dalam dashboard mobilnya. Tak ayal aku jatuh cinta padanya dan tak kuasa menolaknya saat dia menyatakan bahwa dia menyukaiku.

Kebersamaan kami penuh cinta. Tapi selalu ada hari dimana kami berdua merasakan duka. Bagaimana tidak? Tuhan kami satu tetapi berbeda. Aku yang berdoa dengan cara menengadahkan telapak tangan, sedangkan dia berdoa dengan menyatukan kedua tangan.

Aaah, kami tidak suka membahas topik ini. Biarkan saja hidup mengalir seperti air.

Beberapa orang menggunjingkan hubungan kami. Membahas perbedaan diantara kami. Mereka bilang, masalah kami adalah masalah prinsip. Kami tak peduli, sengaja berpula-pura menjadi tuli. Apa salah kami? cinta ini telah tumbuh di dalam hati! Mengapa orang-orang seakan tak mengerti, persoalan hati memang rumit sekali.

***

Aku berbaring di pangkuan Marcelino sambil membuka-buka portfolio milikku selama ini.

"Di, kamu udah Sholat Ashar?"

"Aku lagi ga solat Cel"

"Hmmm ... Kamu ga akan wudhu dong?"

"Iya, emangnya kenapa?"

"Aku suka wajahmu sehabis wudhu!"

Aku tersenyum mendengar pengakuannya. menutup file portfolioku dan menatap wajahnya yang kini menatap wajahku juga. Aku tidak mau detik seperti ini menghilang dalam hidupku. "Menurut kamu, kira-kira sampai kapan kita akan bertahan seperti ini Cel?"

Marcel menggenggam bandul salib yang menggantung di lehernya.


TAMAT
Share:

Sunday, October 27, 2013

Tuhan Kami Satu, Tapi Berbeda

Bersambung dari Bagian 1

Bagian 2

Aku sudah bilang sejak awal, aku dan Marcelino berbeda bangsa. Tapi semenjak mengerjakan tugas itu, aku rasa hubungan kami setingkat lebih baik daripada sebelumnya. Setidaknya dia selalu menyapaku terlebih dahulu. Tapi kedekatan kami hanya sebatas itu. Aku masih 'bukan teman'-nya. Hanya sekedar pernah berpartner dalam mengerjakan tugas, dan sebagai orang yang sekeleas saat kuliah. Jadi ketika dia memberikan sebuah undangan kecil berwarna-warni, aku cukup kaget melihatnya.

"Queen ulang tahun yang ke-8, dia ingin kamu datang dalam pestanya"

Aku senang sekali mendapatkan undangan itu, "Waaah, kapan pestanya?"

"Minggu depan!"

Aku mengagguk-anggukan kepala sambil membaca tulisan yang tertera dalam undang itu.

"Okay, gue pergi dulu kalo gitu. Jangan lupa datang ya!"

Aku tersenyum lebar mengiyakan. Mataku menatap kepergiannya menghilang ditengah kerumunan teman-teman sebangsanya.

***

Aku memilih-milih kain flanel yang membuatku bersemangat. Aku berniat untuk membuat sebuah bantal berbentuk pizza untuk kado ulang tahun Queen. Aaah, mungkin aku lupa bilang pada kalian bahwa aku senang sekali menjahit. Bukan untuk membuat baju, tapi menjahit membuat bentuk tiga dimensi seperti boneka atau bantal. Terkadang aku membuat tasku sendiri, membuat clutch bag, baggy dan sebangsanya. Beberapa hasilnya aku jual, ada perasaan senang melihat hasil tanganku sendiri disukai dan dipakai oleh orang lain.

Ide membuat bantal pizza ini muncul karena aku teringat bahwa Queen suka Pizza. Lebihan kain yang tersisa aku buatkan menjadi key holder ukuran mini dan tempat pensil. Cukup sehari aku mengerjakan project ini. Aku membayangkan wajah Queen yang mengemaskan akan senang melihat kado dariku nanti.

***

"Di, hari Minggu besok jangan lupa ya sama ulang tahun Queen! Pestanya di rumah. Lo tau rumah gue?"

Mana mungkin aku lupa dengan pesta itu. Tapi saking exciting, aku benar-benar lupa tentang alamat rumahnya. "Aku ga tau alamatnya, Cel. Boleh aku minta?"

"Biar gue jemput aja klo gitu! Gue takut lo nyasar nanti!"

"Okay..." lalu aku menyebutkan nama jalan dimana rumahku berada.

***

Marcelino menjemputku tepat waktu. Dia sempat bertemu dengan mamah dan menyalami tangannya. mengobrol barang sejenak untuk sekedar berbasa basi menceritakan perihal adiknya yang berulang tahun. Setelah berpamitan, kami berdua segera meluncur ke rumah Marcelino yang ternyata jaraknya cukup jauh. Tak heran dia mengkhawatirkanku akan tersesat jika berangkat sendirian. Selama di mobil kami tak banyak bercakap-cakap. Hanya sekedar membicarakan beberapa pelajaran singkat lalu kami berdua kembali diliputi keheningan. Untungnya dia dengan baik hati memutarkan lagu sepanjang perjalanan. Setidaknya menutupi kebisuan yang ada di antara kami.

Rumah itu dipenuhi oleh rumbai berwarna-warni dan juga balon. Tipikal pestanya anak SD. Beberapa anak berpakaian pesta sudah memenuhi ruangan. Queen, anak yang paling cantik hari itu berdiri di dekat meja yang dipenuhi tumpukan kado.

"Hallo Queen! Selamat ulang tahun."

Queen terlihat sumringah melihat ukuran kado yang aku bawa untuknya. "Waaaah, terima kasih kakaaak. Apa ini isinya?"

Aku tertawa mendengar pertanyaannya. "Nanti Queen buka sendiri yaaa!"

Queen tersenyum lalu meminta Marcelino untuk meletakkan kado itu di antara kado-kado lainnya.

Aku bergabung dengan anak-anak lainnya mengikuti prosesi pesta ulang tahun itu. Marcelino dan aku juga ikut bergabung bermain game bersama mereka meski beberapa kali mendapatkan sorakan "Wuuuuu" dari anak-anak yang merasa tidak fair karena orang yang lebih tua dari mereka berhasil memenangkan permainan. Tapi kami cukup tahu diri. Kami hanya bermain di dua buah game dan sisanya menonton kekonyolan tingkah laku para bocah berpesta.

Pesta itu sangat menyenangkan. Tapi aku tidak bisa menikmatinya dengan sepenuh hati. Beberapa kali aku melirik ke arah jam digital yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Aku belum Sholat Dzuhur. Dan sepertinya Marcelino memperhatikan tingkahku.

"Kenapa Di? Belum solat ya?"

Aku mengangguk kuat. "Aku pulang duluan ya Cel!"

"Kamu solat di sini aja!"

Aku ragu. Setahuku, agama kami berbeda.

"Kamu bawa alat sholat kan?" tanya Marcelino memastikan.

"Iya aku bawa!" 

"Kalau gitu, ga ada masalah! Kamu bisa Sholat di kamarku!"

Aku mengekor mengikuti Marcelino ke lantai dua menuju kamarnya. "Kamu bisa solat disini. Arah Sholatnya ke sana!" katanya sambil menunjuk ke arah jendela. "Dulu, pengurus rumah ini Muslim Di, jadi sedikit banyak aku tahu gimana Sholat disini!"

Aku ber 'Oooh' menanggapi penjelasannya. "Wudhu-nya Cel?"

Dia keluar dari kamarnya lalu menunjuk ke lorong yang lain. "Toiletnya sebelah sana. Kamu bisa Wudhu disana!"

Aku kemudian pergi berwudhu dan kembali lagi ke kamar Marcelino. Disana dia telah melipatkan selimut dia sebagai pengganti Sajaddah ke arah kiblat.

Ya Allaaaaah, sungguh baik hati sekali Marcelino ini!



Share:

Saturday, October 26, 2013

Tuhan Kami Satu, Tapi Berbeda

Bagian 1

Hari ini langit kembali mendung. Tak ada semangat terpancar untuk menjalani kelas paling pagi dalam semester ini. Pintu kelas tiba-tiba saja terbuka memecah rasa bosan di kelas Math Business. Aku tahu sosok yang datang kesiangan itu. Dia laki-laki yang biasa datang terlambat di semua kelas yang dia ikuti. Mahasiswa yang lebih memilih duduk di deretan kursi bagian belakang supaya bisa mencuri-curi waktu untuk bercanda atau tertidur. Kali ini dia datang dengan stelan kaos hitam bergambar Mickey Mouse dilapis blue jeans-vest. Celananya jeans berwarna merah yang berpipa sempit semata kaki. sepatunya Converse berwarna ungu dengan tali berwarna senada. Dia masuk dengan mengenakan sun glasses frame besar dan tompi-hat. Setelan yang 'asik' tapi C'moon dude, it's a math business class not a hang out place. Namun dosen kami tidak merasa terganggu dengan si sok model yang baru saja menunjukkan batang hidungnya.

Tak ada perdebatan yang berarti dalam kelas ini. Karena kebanyakan dari materi yang disampaikan adalah fakta-fakta spesifik yang keabsahannya tak perlu dipertanyakan. Kelas kami berakhir setelah 90 menit tepat. Ada sebuah tugas yang harus dikerjakan berkelompok. Dan aku mengerjakannya bersama Marcelino, si sosok model itu.

Jika ada yang bertanya apakah aku merasa senang menjadi teman sekelompoknya? Jawabannya adalah TIDAK. Bukan berarti aku Benar-Benar Tidak Suka, aku hanya merasa biasa saja. Nothing special. Tak merasa perlu bersorak riang bisa satu-kelompok dengan Mr. Everybody Knew. Kenyataannya aku tidak keberatan jika pada akhirnya aku harus mengerjakan tugas ini sendiri. Aku tak akan berharap banyak pada Mr. Popular menyisihkan sebagian waktu ber-sosialize dengan bangsanya hanya untuk berdiskusi dan mengetikannya dalam tulisan bersama geek sepertiku.


Geek & Popular. Dua kaum yang dipisahkan oleh pembatas tak kasat mata. Tentu saja kedua kaum itu memiliki dunia yang berbeda. Kebanyakan kaum popular merasa malas untuk bergaul dengan kaum geek dan ekstrimnya bahkan mereka merasa bahwa kaum geek akan menularkan virus yang membuat mereka kehilangan kepopuleran mereka. Oleh karena itu aku merasa takjub dia menyapaku terlebih dahulu untuk membahas tugas ini.

"Diana! Gue sekelompok sama Lo! Kapan Lo mau ngerjainnya?"

Aku mengehentikan kegiatanku memasukan barang-barang kedalam tas. "Besok?"

"Oke, Besok! Ngerjainnya mau kan di rumah Gue?"

"Boleh aja"

"Good. Lo mau ke kantin?"

"Enggak. Gue bawa bekal makan."

"Okay. Bisa minta kontak lo?"

Aku merapalkan sederet angka yang aku hafal di luar kepala. Sedangkan dia menuliskannya dalam handphonenya.

"Okay, sip. Kita kontak-kontakan ya nanti!"

Aku hanya mengangguk. Dia kemudian tersenyum. segerombolan anak datang menghampiri kami dan hanya menyapa Marcelino tanpa mengacuhkan keberadaanku. Aku kembali menyibukan diri membereskan barang-barangku. Mereka masih saja bergurau tanpa memperdulikanku. Yaa, kaum geek memang jarang sekali dianggap keberadaannya oleh mereka para populer.

***

"Morning, Di"

"Morning". Tumben dia datang pagi-pagi.

"Hari ini kita jadi kan ngerjain tugas di rumah gue?"

"Yes, sure." Padahal gue lupa sama yang satu itu.

"Hmmm, lo  mau ngerjain jam berapa?"

"Setelah makan siang?"

"Okay, kita bisa jalan setelah makan siang nanti. Tapi, kita jemput adek gue dulu dari sekolahnya ya. Lo ga masalah sama itu kan?"

Aku tak menjawab. Sepertinya tak ada pilihan lain selain tersenyum menerimanya bukan?

***

Again, Marcelino, bukan sosok teman bergaulku. Dan aku juga bukanlah tipe teman yang akan diajaknya hang out. Dia tipe ekslusif yang berteman dengan 'sebangsanya' saja. You know what I mean. Dia keren, aku cupu. Dia terkenal, dan aku ga terkenal. Bukan berarti gw merendah ataupun ada di kasta paling bawah dalam rantai kehidupan. Tapi itulah gambaran aku vs Marcelino secara kasat mata. Aku yang biasa sedangkan dia begitu luar biasa.

Jadi, apapun tawaran yang dia berikan demi mengerjakan tugas ini aku terima tanpa banyak membantah. Cukup bersyukur ternyata dia tidak seperti dugaanku yang akan membiarkanku sendirian mengerjakan tugas kelompok ini. Saat dia mulai bercerita bahwa dia harus menjemput adiknya terlebih dahulu penilaianku tentang dia mulai sedikit berubah. He is low profile.

"Kakak lama!" kata adiknya sambil bersungut-sungut.

Marcel meminta maaf dengan wajah memelas. "Maaf ya Queen!"

"Pasti pacaran dulu ya!" kata adiknya sambil menatap mataku galak.

Marcel tertawa renyah. "Anak kecil tau apa tentang pacaran?"

Adiknya yang bernama Queen itu masih saja tetap cemberut. Bibirnya sedikit mengerucut membuat wajahnya tampak menggemaskan. Aku teringat

iAku teringat permen Yuppi yang selalu ada dalam tasku. "Queen suka Yuppi?" Tanyaku menawarkan sekotak Yuppi berbentuk pizza.

Raut muka Queen berubah cerah, dia senang sekali mendengarnya. "Aku suka pizza!"
"Aah, kalo gitu kita ngerjain tugasnya sambil makan pizza aja Di, kamu mau kan? Queen kan suka makan pizza!" usul Marcelino.

Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum meng-iya-kan. Ini bukan ide buruk bukan?

***

Akhirnya, rencana kami mengerjakan tugas itu di rumahnya berubah. Kami mengerjakan tugas itu di tempat makan pizza. Makanan gratis juga wifi gratis membuat kami betah berlama-lama duduk disana. Begitu pula Queen, dia sama sekali tidak merengek minta pulang. Gadis kecil itu sibuk makan, bersenandung, mengerjakan PR, juga mengganggu kakaknya Marcelino. Dia tidak takut mewarnai kuku-kuku kakaknya dengan menggunakan spidol dan herannya, Marcelino tidak marah dengan tingkah laku adiknya yang menggemaskan selama dia tidak merengek minta pulang sebelum tugas ini selesai dikerjakan. Pria itu ternyata berbeda dengan aku bayangkan.

Waktu bergulir begitu cepat. Jarum-jarum jamnya menunjukan waktu hampir pukul 2 siang. Aku buru-buru meminta izin untuk sembahyang yang dijawab dengan anggukan.

Samar-samar aku mendengar Queen bertanya pada Marcelino, "Kak, Solat itu apa?"


***

Share:

Palu atau Gada

Apa yang akan kau pilih untuk hancurkan hatiku?

Setelah kau hancurkan hatiku berkeping-keping dan kau berusaha memungutnya, memperbaikinya seperti memasangkan puzzle, aku tak akan pernah bergeming. Ambil saja pecahan tak berguna itu! Benda itu sudah mati! Tak bisa hidup kembali.
Share:

Thursday, October 24, 2013

Working Field

I never share about my exciting work world, so I think, today is the day.

Like I've said couple weeks ago, I was accepted in a National TV station. It was surprising since I was placed in Research and Development Division while my education background is Economy under Accounting Major. About my work here are much more indefinable. Do you have any idea how TV station calculate Rating and Share? --- That's what I am doing here: extracting data of Rating and Share.

 Talking about Research, you should be familiar with Qualitative and Quantitative terms especially for you who are about to finish the thesis or for you who just finished it. Here, I am in Quan-titative one, providing data for Quali-tative team regarding data they need.

The excitement here is when I should racing with time in providing Rating and share prediction every morning for my director. I should submit that prediction report to his secretary before He arrives to the office. It's like I have very important job of the world. Wakakaka, That's pretty super bluffing actually but it is what I feel when doing this job.

Of course I do many things besides creating this 'prediction'. But so far, it is what I can share about my job, because I want to move to talk about MY FELLAAAASS.

My team-mates here are  VVIP! They are very very important people in this TV station. I really need special moment just for talking about them. So for now, It's gonna be just pictures. Even frankly I have no full team picture, above is pretty describing how the important people look like.
Share:

Wednesday, October 23, 2013

Tuesday, October 22, 2013

Bayangan Yang Berkelebat Itu Masih Saja Bisa Aku Ingat

Biar aku ingat-ingat. Rasanya baru kemarin aku berteriak kegirangan pada Catherina saat kau tersenyum kepadaku. Rasa senang ini membuncah, meledak ke segala arah. Senyum pertamamu kepadaku membuat mendung hari itu begitu cerah. Rasanya masih jelas teringat saat aku memeluk May dengan erat karena aku berhasil berbincang sejenak denganmu. Aku bahkan berhasil mendapatkan nomor telepon langsung dari mu meski jujur saja aku sudah memilikinya dan tersimpan dalam handphone ku. Rasanya bahagia sekali saat kita akhirnya hangout bersama. Menonton film di bioskop di akhir pekan meski kita melewatinya bersama teman-teman. Aku menyimpan potongan tiket film itu layaknya benda berharga yang tak mungkin aku buang begitu saja. Teringat pula perasaan marah yang tak bisa aku luapkan saat aku tahu kau menyukai Mayang. Aku hanya bisa terisak menangis di kamar Vania tanpa bisa memberikan penjelasan yang baik padanya atas perasaan absurd yang aku miliki ini. Aku kesal padamu yang mulai hobby menceritakan Mayang padaku. Hanya bisa marah-marah di Kamar Indri memakimu yang tak mengerti perasaanku. Tapi siapa sangka, Mayang itu akhirnya jadian dengan Adrian senior kita yang anggota Senat itu. Aku senang diatas kesedihanmu, yang membuatmu semakin dekat denganku.

Enam bulan, waktu yang aku lewati dengan segala perasaan yang berkecamuk itu. Meluapkan semua emosi selama setengah tahun terakhir pada empat orang teman yang berbeda. Setiap berinteraksi dengannya membuat perasaanku berubah-ubah seperti cuaca. Aku masih bisa mengingat semuanya seolah baru kemarin aku mengalaminya. Aku sungguh menikmatinya, menikmati setiap detiknya.
Share:

Sunday, October 20, 2013

Saturday, October 19, 2013

Sudahlah

Tegamu.

Aku tak mau membuat masalah sederhana ini menjadi rumit. Sulit untukku berdiri tegar seperti sekarang ini dengan semua yang terjadi. Butuh empat orang yang terus menyemangatiku, meyakinkan aku bahwa semesta ini masih ada untukku, Tuhan tak pernah tinggalkanku. Tidak seperti KAMU yang masuk menyelinap kedalam hati ini tanpa mau tahu apa aku mau lalu pergi menghilang seperti hantu.

Kamu sebut aku wanita jahat karena tak membalas rindumu?

Sudah sewindu aku mengenalmu, sejak kita masih memakai seragam berwarna biru. Aku mengagumimu, mengagumi bakatmu, juga kepribadianmu. Kau bahkan punya tempat spesial di hatiku. yang tak bisa terganti oleh orang-orang baru.

Kamu, lancangnya mengataiku!

Tanyakan pada para pujangga itu, apa salahmu! Kenyataannya kau baru saja bermain permainan rindu, disaat aku sudah jemu dan keluar dari permainan itu. Jadi jangan salahkan aku yang tak membalas rasa seperti yang kamu mau.


Okay, tulisan ini lebaaaayy banget cuma buat nanggepin kemunculan kamu yang setelah bertahun-tahun hilang. Hihihihi, anyway temooong, aku juga kangen kamuuuuuu. Jangan bilang aku jahat karna susah hubungi aku! We'll meet up and  talk much. It must be great have two little girls who'll conquer this strange city. yipeee...
Share:

Friday, October 18, 2013

Permainan

ditengah keheningan
air mata lebih mudah jatuh tak tertahan
otak ini selalu memutarkan kenangan
selalu memikirkan kehidupan
yang jalan ceritanya tak selalu seperti yang diharapkan

ditengah kerumunan
meski bibir ini selalu menyunggingkan senyuman
terkadang suara gelak tawa seperti tak tertahankan
tapi hati ini sering kali dilanda kesepian
dipenuhi rindu yang tak pernah menghilang

ditengah kepalsuan
raga ini selalu menampilkan apa yang orang-orang inginkan
tak bisa tunjukan apa yang hati ini rasakan
mengapa demikian?
pertanyaan itu tak penah mendapatkan jawaban
namun diri ini senang sekali bermain tebak-tebakan
apa karena aku disini tanpa teman
yang bisa memeluku ketika malam datang
menina-bobo-kan-ku dengan penuh kasih sayang
aah
bukan
...
..
.
itu pasti jawaban yang diinginkan orang-orang
Share:

Thursday, October 17, 2013

Petrichor

The scent right after rain touch the the ground
Successfully bring me back to the time
When you were mine
When our hearts were bound in one
When everything was seemed so fine

It's not the memory I want
Because it always hurts even it is none now
So why can't we say it is 'done'
Since we can't turn around
Share:

Tuesday, October 15, 2013

Saturday, October 12, 2013

Dirgahayu Cinta Pertama

Kau suka puisi tentang fenomena alam, sedangkan aku menyukai puisi tentang cinta. Aku temukan puisi yang menggabungkan keduanya. Hadiahku untukmu.
“aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada” 
 ~ Sapardi Djoko Damono

Terimakasih untuk terlahir dan pernah menjadi bagian penting dalam hidupku. Kita berdua tahu, Cinta pertama jarang sekali menjadi cinta terakhir, tapi sadarilah cinta pertama selalu ada.
Share:

Monday, October 7, 2013

Gala Premier Invitation


I got invitation for attending Raditya Dika's Gala Premier: Manusia Setengah Salmon. Please say Yeaappppieeee loudly to me!


Frankly to say, it was for my Director, Mr. Ahmad Ferisqo Irwan but he couldn't attend that so it was given to ME, and my supervisor Mas Fauzan as Head of Qualitative Research. Mas Fauzan even offer me an extra ticket so I can go there with my pal. Unfortunately, my friend was too tired that night (and so was I actually), moreover he was not around. It would take much time for him to reach Planet Hollywood XXI. At the end, I just went home and left this ticket in my drawer in the office. Poor.

My senior cheered me up by telling me that there will be many invitation like this for us (RnD fellas) till we'd be sick of it and left the invitation as bookmark. Hopefully she is right.
Share:

Saturday, October 5, 2013

Diam-di...

am, merapalkan namamu dalam setiap doa; bersujud menyembah Yang Kuasa lalu meminta untuk mempertemukanmu dengan ku segera; itu adalah cara pengecutku mengharapkanmu menjadi imamku.
Share:

Thursday, October 3, 2013

Guncangan Dalam Hati

jika diukur dalam skala richter telah menembus angka 9, dan itu sungguh tidak baik untukku. Tapi getaran itu sungguh terjadi tatkala aku mendengar sebuah cerita yang selalu membuatku tak bisa berkomentar apa-apa. Sebuah cerita pengabdian seorang anak untuk orangtuanya. Hanya untuk membuatnya bahagia.

Aku selalu membandingkannya dengan diriku, hidupku --- aku sebagai anak pertama, apa yang telah aku lalukan untuk kedua orangtuaku? Sudahkah aku menjadi anak yang cukup baik yang membuat mereka bahagia? Sudahkah aku menjadi anak yang cukup bisa diandalkan hingga membuat mereka tenang? Sudahkan aku menjadi anak mandiri yang tidak membuat mereka kerepotan di usianya yang tidak lagi muda?

Getaran itu, getaran simpati sekaligus iri. 

Aku sungguh merasa kagum padanya yang begitu berusaha membahagiakan orangtuanya, tapi juga dengki menyadari aku tak sekeras itu berusaha membahagiakan kedua orangtuaku. Bagaimana hati ini tidak berguncang?

Aku anak yang selalu melambaikan tangan perpisahan sedangkan kedua orangtuaku adalah orang yang selalu membuka kedua tangan mengharapkan anaknya pulang.
Share:

Wednesday, October 2, 2013

Konspirasi

Bersambung dari Bagian 1

Jika Mestakung itu ada, lalu mengapa semesta tak membuatku bisa memilikimu? 

Bagian 2

Aku terbangun dikala mentari beranjak dari balik gedung-gedung pencakar langit. Sinarnya menggelitik kulitku karena dengan mudah menembus gorden tipis berwarna putih. Sinarnya menyilaukan, memaksaku untuk segera beranjak, pindah dari tempat tidurku. Biasanya aku akan berjalan kearah jendela, membuka tirai membiarkan cahaya memenuhi ruanganku, lalu untuk sekedar menatap keindahan pagi, aku menatap cahaya jingga seperti bunga matahari yang menghadap sang surya. Tapi kali ini, aku mangkir dari mengaguminya. Sejak semalam aku tak henti memikirkan’-nya’. Aku harus menyibukkan diri. Segera mandi lalu pergi menghadapi rutinitas yang sama setiap hari.

Jam di  lenganku menunjukan pukul 8.45. Aku tak bisa berlama-lama lagi duduk di coffee shop ini, Aku hanya punya waktu 30 menit untuk bisa mencapai kantor dengan menggunakan taksi. Aku menyampirkan tas di bahu kanan. Membawa buku agendaku dengan tangan kiri dan membawa ‘frappucino’ di tangan kanan agar aku bisa meminumnya sambil berjalan.

Aku sempat terpukau saat berada di luar. Saat aku melepaskan sun glasses, aku baru menyadari langit begitu cerah. Berwarna biru terang, dengan awan putih tipis yang sepertinya engan sekali bergerak. Mungkin karena pagi ini aku tak sempat untuk menatap matahari pagi dan aku tak kuasa menutupi fakta bahwa aku adalah seorang pengagum pagi. Bagiku pagi adalah sebuah kesempatan untuk menggapai semua mimpi. Pagiku selalu ditemani segelas kopi. Kebiasaan ‘Dia’ yang sekarang menjadi kebiasaanku hanya karena itu menjadi penawar rindu.

Ah, lagi-lagi aku membahas dia.

Dan aku seolah melihatnya berada dalam kerumunan orang mengantri di halte angkutan kota.

Hahaha, aku sudah gila.

“Tiara ....”

Aku mendengar suaranya, lalu aku melihatnya berdiri menatapku ditengah kerumunan.

Aku terhenyak, ini bukan hayalan belaka.

Jika aku selalu mempertanyakan mestakung, aku mulai percaya konspirasi semesta itu ada.

TAMAT
Share:

Tuesday, October 1, 2013

Konspirasi


Jika Mestakung itu ada, lalu mengapa semesta tak membuatku bisa memilikimu?
Bagian 1
Jam digitalku menunjukkan angka 00:01. Aku baru saja mengirimkan hasil kerjaku melalui email dan menutup layarnya. Kupandangi jendela berharap aku melihat sesuatu yang lain disana. Tak ada. Gelap. Langit polos tanpa bintang. Malam di kota asing ini mengingatkanku padamu, ya kamu! Kamu yang tak pernah membuatku menangis. Aku merindukanmu.

Tiga belas menit aku menatap kosong jendela itu. Sial. Tiga belas menit tanpa pekerjaan yang membuatku kembali mengingatmu. Seharusnya aku pergi tidur saja agar tak perlu merasakan kegalauan ini. Tapi tak bisa. Aku sudah terlanjur terjebak dalam momen kenangan.

Melewatkan 10.540.800 detik, 175.680 menit, 2.928 jam tanpamu. Aku mungkin menjadi hiperbola jika membahas ini. Baru 122 hari kita terpisahkan jarak. Malam ini genap 4 bulan kau tak lagi di dekatku. Jauh dari jangkauanku. Tapi kau tak pernah sekalipun keluar dari hatiku.

Bagaimana kabarmu?

Pertanyaan klise yang selalu menjadi pertanyaan favoritmu juga. Lucunya kita selalu sehat. Seperti janji yang kita buat sebelum kau pergi, berjanji untuk tidak jatuh sakit. Alasannya karena tak akan lagi ada aku yang membawakanmu bubur dan tak ada lagi ada kamu yang membawaku ke klinik.

Jarak yang membentang diantara kita sungguh membuat hubungan kita bertambah rumit. Sejak awal kita terlalu dekat untuk sekedar menjadi sahabat namun tak pernah ada pernyataan apapun untuk kedekatan itu. Hingga akhirnya perbedaan waktu 4 jam diantara kita membuat semuanya nampak aneh. Aku menerima ucapan selamat pagi darimu saat aku masih bermimpi dan kau mendapatkan ucapan selamat pagiku dikala kau santap makan siangmu.

Ah, aku engan berkonflik dengan rasa kalut yang menyiksa. Jika sejak awal kita tidak akan bersama, bahkan dipisahkan jarak yang begitu nyata, mengapa harus terjebak pada perasaan yang tak kasat mata? Aku tak mau perasaan ini berkembang jika tak akan pernah berbunga. Tapi siapa yang punya kuasa atas rasa? Tak ada.

Sempat ku berfikir, aku akan pergi menyusulmu kesana. Berubah menjadi wanita perkasa yang akui bahwa aku cinta.

Tapi tidak.

Aku tak bisa.

Itu bukan bagian wanita.

Jadi biarkan saja semua berjalan apa adanya.

Seperti biasanya.


Share: