Monday, November 25, 2013

Sikat Gigi

Saat seorang anak menelepon ibunya sore hari:

Anak : Assalamu'alaikum,
Ibu : Wa'alaikum salam
Anak : Gimana kabarnya bu?
Ibu : Baik. Kamu udah sikat gigi?
Anak : Belum, kenapa?
Ibu : Kamu sikat gigi dulu baru boleh telpon ibu!

Aaaakkk, baru tau kalo nelpon ibu itu harus sikat gigi dulu!

Powered by Telkomsel BlackBerry®
Share:

Saturday, November 23, 2013

What They Judged

It is funny when one of my friend asked me whether I was unstable!

UNSTABLE!

Like a menopause old lady or WHAT?? Hahaa, please Laugh out loud fellas! PLEASE!

I was wonder why did he have such kind of question, and what make it's funnier is because the answer is THIS BLOG. He read my blog, read the stories specifically, then he came up with that kind of thought.

But I start thinking it over and wondering it might because the stories themselves. The genre I used to use is romantic-melancholic, one kind of topics that makes a girl in my age unstable. It seems there is no doubt on this hypothesis.

To be frank, I tried to write other genre--- (like fables or fairy tale fantasy for kids as I always dream I would become) however do that ain't easy. It's like I should learn, discuss with the one who masters it. You must know that.

But here is the least I can do: practising to write, and learn in autodidact.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Share:

Friday, November 22, 2013

Fun Fact

Ketika penguin jantan jatuh cinta dengan penguin betina, ia akan mencari keseluruh pantai untuk menemukan kerikil yg sempurna utk mas kawinnya.

Powered by Telkomsel BlackBerry®
Share:

Thursday, November 21, 2013

Happiness

I write 10 happy things happened each days and I have at least 300 happiness in a month. imagine if I write 50 happy things a day, it must be a bunch a year.

If you do the same thing, why can't you smile everyday?
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Share:

Hail to Tech

Whooaaa ... I live in a --- super realm!

I just found that I could post anything to my blog through my email. So everytime I have a moment to write, I can just type it in my phone then send it as an email --- and viola, in a second, it will be published online. It is a very user-friendly facility from blogger (I am not sure whether other provider also has this feature). 

I've trapped in the mood of have-no-willing-to-write many times, and also trapped in the moment of have-no-access-to-write because I am away from both computer and laptop, and this kind of situations give me negative impact in producing writings (in term of quantity) Email feature just save me because it solves my problem. I can write everything, everytime, as I like. I won't be afraid of loosing the idea since I can just type it on my phone (as long as I bring my phone ALIVE indeed). 

 So, if you really love writing, have a blog like this, and face the same problem as mine, just try this feature because it is the way out of your situations! Enjoy blogging fellaaaaas!

Powered by Telkomsel BlackBerry®
Share:

Wednesday, November 20, 2013

Main Bola

Lokasi: masjid di depan Tanah Abang

Anak kecil 1 : aku juga mau main bola sama kakak!
Anak kecil 2 : kalo gitu kamu harus lawan aku! Bikin goal ke sana ya!
Anak kecil 1 : tapi aku ga pinter nge-gol-in! Kita musuh tapi temenan ya!

*ah, indahnya dunia anak kecil yang bisa musuh tapi temenan


Powered by Telkomsel BlackBerry®
Share:

Tuesday, November 19, 2013

Perjalanan Sebuah Cerita Baru

Aku tahu---

Seharusnya aku lupakan saja orang yang sudah mencampakkan aku. Orang yang tanpa perasaan meninggalkan aku untuk wanita lain. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Meski otak ku cukup pintar untuk menganalisa bahwa bersikukuh menantinya, mencintainya, atau bahkan mendambakannya kembali adalah sebuah keniscayaan, aku tak mampu mengenyahkannya dari dalam hatiku.

Terkutuklah dia---

Yang sudah mencuri hatiku, menyembunyikannya, lalu saat dia tak lagi menyukainya, dia hancurkan dengan semena-mena! Dia memang orang yang kurang ajar! Bukankah dia bisa mengembalikannya jika sudah tidak suka? Mengapa dia memilih untuk menghancurkannya dengan sebuah gada?

Aku tak bisa lagi ada disini---

Kota ini terlalu menyakitkan, menyimpan terlalu banyak kenangan. Jadi aku putuskan untuk pergi dari sini, dengan tanpa pikir panjang, setelah sebulan aku berkeluh kesah sendirian, aku membeli tiket kereta, tak peduli kemanapun kereta itu menuju, aku membeli tiketnya, tiket kereta keberangkatan pertama.

Menuju Yogjakarta---

Kota asing yang tak pernah aku datangi seumur hidupku. Buat apa pula aku pergi kesana jika ibu kota, sebagai kota metropolitan sudah menyediakan semuanya, rumahku, pendidikanku, tempat rekreasiku, pekerjaanku. Tapi kota yang tak pernah aku kenal ini seolah berlaku baik padaku. Mau membukakan pintunya untukku yang butuh sebuah pelarian dari sebuah cerita kelam.

Di dalam kereta---

Matahari senja, menerobos masuk lewat celah tirai. Menggeletik mataku yang berat dan sembab, terpejam, tertidur dengan tetap memimpikan diri ini dalam rasa duka. Dengan malas aku membuka mata, hanya untuk sekedar melihat, perjalanan ini sudah sampai dimana.

Panorama itu---

Pemandangan yang memanjakan mata terbentang, membuatku terkesima. Inikah kehebatan Yang Maha Kuasa? Bagaimana bisa ada hati yang luka jika keindahan seperti ini ada, nyata, tepat di depan mata? Apakah aku terlampau begitu bodoh membiarkan rasa sakit ini begitu menyiksa padahal di di luar sana, Sang Kuasa menawarkan dunia yang patut aku puja.

Aku percaya---

Lukaku ini tak seberapa. Cuma patah hati karena cinta, karena aku masih terlalu muda, terlalu awam tentang rasa yang telah membuatku buta. Tuhan itu ada, selalu menjadi penjaga, begitu sayang dengan semua makhluk ciptaannya. Bukankah Dia tak akan memberikan musibah diluar kemampuan hamba-Nya? Sudah barang pasti, aku bisa bertahan dengan luka ini dan bisa sembuh dari rasa duka.

Powered by Telkomsel BlackBerry®
Share:

Monday, November 18, 2013

Friday, November 15, 2013

Trapped

Ternyata aku sekarang terjebak di satu titik dimana sulit buat aku menuangkan cerita yang ada dalam kepala dalam kumpulan alfabet, susunan huruf, barisan kalimat yang membentuk paragraf.

Aku tahu bahwa saat ini akan tiba, oleh karena itu aku biasanya menulisakan banyak cerita dan menjadwalkannya untuk selalu terbit, secara berkala.

But here I am now.

Stuck in a point of boredom.
Share:

Thursday, November 14, 2013

Secangkir Teh

Ada cerita secangkir teh
Yang disajikan saat turun hujan
Oleh wanita cantik perilakunya
Untuk kekasih yang selalu dicintainnya

Keduanya asik bercengkrama
Saling menggoda
Bercanda
Penuh tawa

Cangkir teh bergumam pelan
Dia berdoa pada Tuhan
Agar hari ini turun hujan
Lalu dia akan kembali menyaksikan
Cinta dari dua insan


Powered by Telkomsel BlackBerry®
Share:

Tuesday, November 12, 2013

Reunion

Perasaan macam apa ini? Jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya saat aku melihat gapura bertuliskan 'Selamat Datang'. Apa karena aku sudah terlalu lama meninggalkan kota ini? Entahlah. Aku tak tahu jawaban pastinya. Tapi yang pasti, aku tidak merasa risih dengan excitement yang tiba-tiba meroket dan siap meledakkan dadaku ini.

Aku begitu mengenal kota ini, seluk-beluknya, orang-orangnya.

Tapi itu dulu, 6 tahun yang lalu, sebelum aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikanku ke Prancis.

Aku tak menyangka, kota kecilku telah berubah banyak. Aku melihat ada gedung baru di sini. Dulu, tak ada gedung yang tingginya lebih dari tiga lantai. Aku bahkan mendengar bahwa disini sudah ada taman kota, Water Boom, dan bioskop, What kind of enjoyment is that? I had to take fourty-minutes just to reach a cinema with three-theatres in it. This town had a great metamorphosis.

Aku memperlambat kecepatan mobilku. Takut-takut aku melewatkan belokan yang seharusnya aku ambil. Dengan sisa-sisa ingatan masa lalu, aku harus berusaha mengenali bangunan-bangunan baru di tepi jalan. Bangunan-bangunan ini cukup membingungkanku yang harus segera tiba di sekolah menengahku. Temboknya dibuat tinggi, sangat berbeda dengan yang aku ingat. Tapi untungnya ketika mobil yang aku tumpangi berhenti di parkiran sekolah, aku merasa homey. Pohon Beringin yang rindang, pagar tanaman yang hijau, bunga-bunga yang bermekaran, papan nama yang sudah lapuk tak ada satupun yang berubah. Masih tetap sama dengan apa yang tersisa dalam ingatanku. 

Aku memarkirkan mobilku di sisi sebuah sedan berwarna merah marun. Saat aku keluar dan menjejaki aspal parkiran aku benar-benar serasa terhipnotis ke masa lalu.

"Apa kita bisa menjadi lebih dari sekedar teman?"

Aku tersenyum sendiri mendengar sebuah suara yang bergema dalam otakku.

"Tatap mataku dan berikan aku jawabannya"

Sungguh suara itu terdengar begitu nyata.

"Vigar, kau kah itu?" sebuah suara menyadarkan aku dari kenangan-kenangan lama yang terjadi di tempat itu. Seorang teman lama, Ludy, datang menyapaku lalu memeluk tubuhku dengan erat.

"Ludyy, It's nice to see you! You're prettier now. A grown up sexy lady!"

Ludy tertawa memamerkan gigi putihnya. "Kamu juga keliatannya makin cantik! Musim apa disana?"

"Musim Duren!" jawabku asal. Ludy tertawa keras mendengarnya.

Aku sangat beruntung bisa menyelesaikan pendidikannku tahun ini sehingga bisa pulang dan bisa menghadiri reuni angkatan. Pasti sangat menyenangkan bisa kembali bertemu dengan teman-teman menggila bersama dimasa SMA dulu.

"Ayo masuk, semua orang sudah datang dan acaranya sudah dimulai dari tadi" Kata Ludy sambil menggiringku masuk kedalam gedung sekolah.

"Oh God. It has changed! Where's our fountain?"

Ludy menggelengkan kepalanya. "Air mancur itu udah ga ada lagi" ucapnya sambil menatap nanar sebuah kolam dimana air mancur itu dulu ada. "Ayo kita ke aula, semua orang ada di sana!" kata Ludy mengingatkan alasan mengapa kami kembali ke sekolah kami.

Aku menggelengkan kepala. "Kamu pergi dulu saja! Aku masih ingin ada di sini sebentar. Akan segera ku susul kau nanti"

Ludy mengerutkan keningnya seolah berusaha membuatku berpikir ulang.

"I won't miss the party, darl" kataku meyakinkannya.

Ludy lalu pergi meninggalkanku sendiri. Ku lihat dia kembali menengokkan kepalanya sebelum berbelok diantara lorong-lorong kelas. Dia mungkin khawatir padaku yang memiliki kenangan sentimental disini. Di tempat ini.

Di tempat inilah terakhir kali aku melihatnya sebelum terbang ke Paris. Tanpa memberitahunya bahwa aku akan pergi ke sebrang benua, tanpa memberinya salam perpisahan. Aku terlalu pengecut membayangkan janji-janji untuk selalu bersama yang akan kami lontarkan lalu pada akhirnya hanya akan menjadi sebongkah omong kosong karena kita tak bisa bertahan dengan jarak yang membentang.

Dulu, ya dulu ...

"Vigar ..."

Sebuah suara mengagetkanku. Memaksaku untuk melihat ke arahnya. Sebuah sosok pria dewasa, dibalut kemeja slim-fit berusaha menyembunyikan otot-otot padatnya.

"Kau --- kapan pulang?"

Aku menatapnya terpana, memuja. tatapan yang ternyata tak berubah meski telah bertahun-tahun berlalu.

"Kau tampak cantik, selalu terlihat cantik. Jadi, dengan siapa kamu kesini?" tanyanya lagi sambil melangkahkan kaki mendekati kolam yang dulunya ada air mancur disana.

Aku menarik nafas. Menarik bibirku membentuk sebuah senyuman yang dipaksakan. Memangnya siapa yang akan datang kesini bersamanya?

"Aku hanya datang sendiri, kamu? Bagaimana denganmu?"

"Akupun datang sendiri, karena kekasihku sedang pergi"

Tiba-tiba saja perutku terasa melilit. Kekasihnya dia bilang?

"Sayang sekali. Kemana dia pergi?"

Dia menarik nafas dalam-dalam. menatap patung penari bali yang dulu memancurkan air dari tangannya. "Dia pergi tanpa memberi tahu bahwa dia akan pergi. Aku datang kesini hanya karena mungkin saja dia kembali ke tempat ini, tempat terakhir kami bertemu"

Aku menatapnya tanpa kedip.

"Aku merindukanmu, Vi"
Share:

Wednesday, November 6, 2013

Erotomania



... You, don’t you realize that the universe conspires to make us getting closer? It is countless that we were together in unpredictably. Like the bus stop this morning become the first witness today that we met (AGAIN) even though it is not my normal hour I've been in that bus station, and so haven't you. At that moment your sight hit mine and it just turned my heart beat up. Does yours respond the same way as well?

Or let me simply flashed back to yesterday, when we grabbed the same snack in the supermarket. Finally none of us take that snack just because we want to let the other has it. Or, let me highlight the obvious event which shows you were fated to me, back to the day when you donated your blood to me when I got an accident. You were there, to help me, to keep alive, then finally live with you.

Ah, this conspiracy just make me crazy about you. I’ve thought to much though.
Share:

Friday, November 1, 2013

Ku mohon...

... berhenti berbicara dan dengarkan aku sejenak: Ada kisah tentang bayangan yang hilang dalam gelap, ada cerita tentang Picasso yang membakar lukisannya sendiri, dan waktu yang tak pernah terulang kembali.

Kau bisa merenungkan dan meresapi maknanya?
Share:

Time Washes Pain

After having one hour on bus, changing two central bus stops, here I am now. Wondering what the hell I am doing here. What is it I am seeking for? Memory? Satisfaction?

Ten years leaving this country, leaving this metropolitan city to be exact, I feel like an alien. I almost get lost in my own birth-town without this small directory note from my brother. One thing that I am familiar with: the hot polluted air from the vehicle. I waved my hand to banish dark air from my face.

The coffee shop standing few meters away attracting my sight.

Is it still there?

My heart is beating wildly. I run into the porch and I smell bitter-sweet from the shop. Despite my nervousness ever since I stepped on the alley, I have to admit that I feel old homey that makes explosion in my chest. I cant hold a smile longer. It sends me back years ago when I was wearing white-grey uniform with long straight dark hair.

I found some differences here, the paints, the name tag, the bleachers. But they don’t change the feeling home here.

I close my eyes for seconds and start to imagine the old coffee shop. Laughter, warm chatters, soft music, door bell, the clap of the owner to call his barista. I really missed all of these when I was in New York, so visiting this was one of my few things that made me cry.

One of two actually.

I missed this place not only because of this place itself, but also because of the reminiscence in this place. The place of my first date with him.

On my flight home, I had promised to myself that it would be my first place I visited after I had arrived. And now, just two days after my arrival at my home town, here I am.

I have to find out if it’s still here.

I push open the glass door, hear the familiar bells jingling from above. I am completely taken back by how nothing has really changed. I could even spot the regular customers mingling with one another. Am I the only one who have actually left town? Have these people been here all along when I was gone? Has the old man in gray tweed coat been sipping his espresso all these times while I traveled the road of Manhattan, walked along fifth Avenue, sunbathed in West Coast? Has the woman in the red sweater aged at all as she sits there laughing with her girlfriends? Has the coffee stain in the wall near the bathroom been cleared at all?

I am smiling. It is totally homey.

I go to the window near the counter. Sit on the chair and touch the surface of the window frame. I find what I was looking for, two initials craved. It’s still here. 

I wave my hand in the air. A young barista looks up and smiles, “Morning. What can I get you?”

“I’ll have a tall signature coffee to go, please. And, um do you still have the strawberry short-cake? I’ll have that –“

“Either my sight has failed or I am seeing my most favorite angel in life ....”

I turn, surprised  and feels a grin lift up my entire face when I see whose the bass voice belongs to. “Mewborn!” I cry at the owner, giving the old man with graying hair a big bear hug. “Great seeing you!”

“Didn’t know you were back in town!” He shows coffee-stained teeth. “Missing your strawberry short cake, kid?”

I laugh. “I cant run away from the sweetness of it!”

“High school was long time ago, and you don’t change that taste!” Mewborn gives a nod to his barista behind the counter. “Give this kid anything she wants, on the house!”

“Mewborn, you don’t have to -"

“That’s the way I homecoming my favorite, kid!”

“Why did you get that coffee to go anyway? What’s the rush?"

“I –“ I am looking for answer. “I have stuff to do!”

After few heartwarming chats with nice old Mewborn, I am left alone at the pick-up counter waiting for my order. Minutes later I thank  the barista for the food and places some generous tip inside the jar. But, I remember something, I left my direction memo on the counter near the window. I go back and take the memo with glancing the initial crave for the last time. Then my feet are remain frozen, there is something below it. I focus my sight trying to read that.

You'll be my forever

He is not here, isn’t he? I look around the cafe in alarm. I feel dizzy all of sudden. The last time I heard, he also move out of town. So he must have written this back then ... eight years ago when all hell broke loose when confessions were made, when he sat in front of me with his head hung low, when he uttered the heart-stabbing words of not being able to choose, when I felt pain like nothing I ever experienced before, when I let him see some tear shed on my face, when I hurt him with a good bye, when I left him in the parking lot and making him vow to never bother me again for the rest of my life for the first time, when I said things that I never really meant.

My hands are trembling, I grip my brown takeaway bag tighter. Rushing reaching the exit then mumbling ‘excuse me’ to the people I accidentally bump into.

“Nay –“

That’s a familiar voice.

“You’re back!”

A face that I miss shows up. He is taller, have more muscle than I remember. I smell his perfume in the air. His smile still fires a spark inside my chest.



***

This is my first published English short story
Share: