Sunday, January 13, 2013

Pelajaran dari Induk Kucing

Journal 19 November 2012

Ada cerita menarik pagi ini. Ada seekor anak kucing yang sedang tertidur di atas sofa. Tak jelas kapan dia masuk kedalam rumah kosan ku. Aku cukup kaget melihat segumpalan warna putih terongok diatas kursi hingga tak sengaja menjatuhkan sapu yang sedang aku pegang. Bunyi gaduh sapuku yang terjatuh membangunkan anak kucing itu. Tubuh kecilnya menjadi siaga, dia memposisikan dirinya untuk siap-siap berlari menjauh jika aku (musuhnya) melakukan sedikit gerakan yang dia pikir dapat membahayakan jiwanya.

Aku sendiri tidak tertarik dengan kucing. Pelan-pelan aku melanjutkan ritual pagiku, menyapu lantai. Anak kucing itu mencoba mengendap-ngendap menjauhiku. Mungkin dia pikir aku tidak memperhatikannya, dasar anak-anak. Setelah dia yakin aku cukup jauh untuk menjangkaunya, dia berlari secepat kaki-kaki mungilnya bisa menuju anak tangga lantai 2. Kaki-kaki kecilnya berusaha melompati anak tangga yang cukup tinggi dari tubuhnya dan dia terlihat kesusahan karena ada beberapa sepatu boots dan high-heels yang menghalangi jalur lompatannya. 

Namun akhirnya dia berhasil mencapai separu tangga. Kini dia bisa melihatku tanpa menengadahkan kepalanya.

Aku menatap dirinya tak peduli.

Tak tertarik pada kucing kampung liar.

Aku kembali masuk kedalam kamar. Menyalakan laptop, memasang earphone, dan kemudian berkutat dengan journal akuntansi yang harus aku baca.

Lalu sayup-sayup terdengar suara tangisan. Aku melepaskan earphone dan mempertajam pendengaranku. Ternyata itu bukan suara tangisan, melainkan suara eongan anak kucing dari arah tangga. Dan ada suara ketukan halus dari pintu depan, ketukan yang dibarengi bunyi gesekan pada daun pintu. Mirip sebuah suara cakaran.

Dengan penasaran aku memberanikan diri untuk menghampiri sumber suara.

Saat keluar kamar, aku melihat anak kucing berbulu putih tadi sedang mengeong-eong ke arah pintu keluar. Ku perhatikan, ada seseorang yang mendorong-dorong pintu disertai dengan cakaran halus.

Aku kembali masuk ke dalam kamar untuk mengambil kunci.

Aku berniat membuka pintu depan.

Saat kubuka pintu, terlihat seekor induk kucing bertubuh subur siaga menatapku di teras rumah. Dia mengeong kearahku sekali. Eongannya mantap dan dia terlihat tidak bersahabat.

Anak kucing putih yang ada di dalam rumah segera berlari kesetanan melihat pintu terbuka. Dia segera berhenti berlari ketika dia melihat sosok induknya yang sedang menantinya di teras rumah. Dia kembali mengeong. Eongan anak kucing.

Sang induk lalu pergi meninggalkan teras. Dia berjalan beriringan dengan anaknya pergi menjauhi rumah kosku.

Aku tak tertarik pada kucing liar kampung. Aku yakin mahluk itu tidak bersih dan penuh kutu.
Tapi ada satu hal yang bisa dipelajari disini. Bahwa sisi keibuan ada di setiap makhluk Tuhan.
Seekor induk kucing mencari-cari anaknya yang hilang.
Begitu pula yang akan terjadi pada setiap manusia yang bernama orang tua. Mereka akan mencari anak mereka ketika mereka tidak pulang ke rumah semalaman.

Lalu, bukankah sudah sewajarnya kita sebagai manusia yang diberikan akal tentu seharusnya punya pemikiran lebih baik dibandingkan kucing itu? Sebagai anak bukankah sepatutnya tahu bahwa tindakan "kabur" dari rumah akan menyebabkan kedua orangtua merasa khawatir? Membuat mereka sibuk mencari anak mereka yang tidak pulang ke rumah. Menduga-duga apa yang menyebabkan anaknya tidak pulang, Menerka-nerka sedang berada dimanakah kini anaknya berada.Tak perlu kalian jawab jika kalian tidak sedang melarikan diri sekarang. (gn)
Share:

Regrets

entah apa yang ada di otak selama ini. Most of the time I always swore to myself that yes, I was wrongly planned this from beginning. what I talk is about my undergraduate thesis.

I tried hard to push myself.
I decorated my walls with motivated-note I made by myself. Seems it works in the beginning, but gradually, it look like a crap.

Really, If only I could turn back the time.
Share: