Friday, September 6, 2013

Akhirnya Kau Menikah Nak



Aku kembali melirik jam yang menggantung di tembok ruangan. Jarum-jarumnya tak lelah berputar. Entah apa yang mereka cari. Apa dia sedang mencari angka 13 yang tak mungkin dapat mereka temui? Sejujurnya itu merupakan pertanyaan bodoh. Kebiasaan burukku ketika sedang menunggu, otak ini terus bekerja, meski untuk mempertanyakan fenomena-fenomena bodoh seperti menanyakan mengapa jarum jam tak pernah mau berhenti berputar selama dia masih memiliki tenaga. Ayah berulang kali mengingatkanku untuk berhenti melakukan ini. Dia menyarankanku untuk berdzikir selama aku menunggu. Itu jauh bermanfaat daripada membuat pertanyaan-pertanyaan konyol bukan?

Sekarang ini aku sedang berada di ruang tunggu apotik. Menunggu sang apoteker meracikan obat untuk ayahku.

“Rohenda” teriak seorang wanita, tak jelas pada siapa. Tapi aku tahu, itu ditujukan untukku. Ayahku bernama Rohenda. Aku bergerak menghampiri. Wanita itu menjelaskan dengan cepat bagaimana cara mengkonsumsi obat-obat itu. Otakku masih belum kembali dari jarum jam tak bisa menangkap penjelasannya, namun apoteker sudah selesai dengan kalimatnya.

“Maaf, bisa diulangi?” tanyaku sopan. Dia sedikit merengut tidak suka. Tapi dia tetap menjelaskannya padaku. Aku mencoba mengingat apa yang dia jelaskan. Bukan hal yang sulit untuk mengingat jika kita sudah fokus bukan?

Ayahku tidak sakit parah. Dia hanya mengeluh bahwa kepalanya sering pusing, tubuhnya terasa berat, dan dadanya terasa sesak. Aku memaksanya untuk pergi menemui dokter untuk mendapatkan perawatan. Hari Minggu ini, aku menemaninya bertemu Bias, seorang teman sejak SMA yang telah menjadi dokter. Kami menemuinya di rumah sakit tempatnya praktek. Dia menjelaskan bahwa ayahku tidak sakit parah. Dia hanya kecapekan, bekerja terlalu keras di usianya yang tidak muda lagi

Ibu menyuapi ayah sepiring bubur. Ayah terlihat begitu bahagia disuapi istrinya. “Sudah lama ayah ingin disuapi ibu” guraunya menggoda pasangan hidupnya. Aku tertawa mendengarnya. Adik laki-lakiku merasa risih mendengar ayahnya mulai menggombal, sedangkan adik bungsuku dia ikut tertawa sambil merebahkan diri di kasur samping ayah.

Tahun ini usiaku genap 25 tahun. Adik laki-lakiku berusia 21 tahun dan adik perempuanku 17 tahun.  Kebersamaan ini jaranglah terjadi padaku. Aku sekarang menjadi seorang internal auditor sebuah perusahaan energi. biasanya aku pulang larut malam. Tak jarang aku harus menggunakan weekend ku untuk lembur.

“Kakak harus cepat menikah! Lihat ayah sudah renta. Ayah ingin sekali menjadi walimu ketika akad nikah nanti” kata ayah setelah menghabiskan makanannya.

Aku hanya memajukan bibirku tanda tak setuju. Beliau masih ‘muda’. Okay, dia memang sudah tidak muda, tapi 58 tahun belumlah tua. Penyakit yang beliau derita hanyalah sakit akibat kelelahan semata.

Ibu meminta kedua adikku untuk membereskan bekas makan ayah dan menyiapkan obat yang harus beliau makan. Sepeninggal kedua adikku, ibu turut membuka suara, “Kakak sudah menolak pinangan 3 orang laki-laki sejauh ini. Menikahlah” Katanya sambil menggenggam kedua tanganku. Aku terdiam. Selama ini sudah ada 3 orang laki-laki yang mencoba menyuntingku, tak ada satupun yang aku terima. Kedua orangtuaku tahu alasannya. Aku punya standar, begitu pemilih.

“Bulan depan keluarga Pak Rasyid akan datang, cobalah pertimbangkan anak laki-laki mereka” tambah ibu.
Aku hanya menganggukkan kepala mengiyakan permohonannya.

Hanya ada satu orang yang mengetahui lika-liku kehidupanku. Astrin. Adik Bias. Aku bersahabat dengan kakaknya sejak SMA. Tapi aku terbiasa curhat pada adik perempuannya. Ada perasaan takut jika curhat pada lawan jenis. Takut jika suatu hari nanti aku akan dibingungkan oleh perasaan aneh akibat perhatian yang diberikan kepadaku. Aku takut itu menjadi benih-benih maksiat untukku. Itulah mengapa aku lebih memilih untuk menceritakan semua kisahku pada Astrin.

Aku menuliskan email panjang untuk Astrin yang kali ini sedang menyelesaikan program pendidikan medisnya di Taiwan. Astrin akan segera membalas emailku segera setelah dia membacanya. Aku menutup layar notebook-ku. Kupijat lembut leherku yang terasa pegal. Jam digitalku menunjukkan pukul 02.46 dini hari. Baiknya aku solat dan meminta petunjuk-Nya sebelum aku mengistirahatkan tubuh lelah ini.

***

Hari pertemuan itu akhirnya tiba. Kondisi ayah membaik. Dia bisa kembali berkebun, hobinya. Tak ada persiapan spesial. Ibu hanya membeli beberapa kudapan untuk dihidangkan nanti.

“Kakak sudah memikirkan jawabannya?” tanya ibu.

“Iya bu. Sudah kakak pikirkan. Tapi maafkan kakak. Mungkin kakak akan mengecewakan ayah ibu lagi” kataku pelan.

Ibu menghentikan kegiatannya. Ayah menatapku lembut. Mereka berdua tak menuntut sebuah penjelasan.

Tapi aku rasanya harus memberikan penjelasan. “Aku tahu siapa anak Pak Rasyid, Amar. Beberapa teman menceritakan bagaimana sifat dan keseharian Amar. Sepertinya kakak tidak siap jika harus taat kepada suami berperangai seperti Amar”

Ibu tersenyum. Terdengar jelas desahan nafas Ayah. “Ayah dan Ibu sudah tau Amar seperti apa. Kami mengerti keputusanmu nak.” Kata ayah pelan.

Lalu hari itupun itikad baik keluarga Pak Rasyid ditolak.

Aku kembali menggeluti pekerjaanku. Larut dalam pekerjaan adalah salah satu obat paling mujarab untuk menjauhkan otakku dari mempertanyakan fenomena-fenomena dengan cara yang bodoh. Tak terasa tujuh bulan telah berlalu semenjak pertemuan antara kedua keluarga itu. Tak ada lagi obrolan pernikahan dalam percakapan kedua orangtuaku. Menurut adik-adikku, aku sudah cukup terkenal sebagai ‘heart breaker’, si tukang nolak lamaran. Julukan yang cukup menggelikan. Hal itu membuat orang berfikir beberapa kali untuk meminangku. Aku senang karena itu artinya tak ada lagi topik ‘pernikahan’ dalam waktu dekat ini. Tapi itu menjadi masalah serius bagiku ketika aku menerima kabar bahwa ayah meninggal akibat serangan jantung.

Ibu bilang bahwa ayah mendapatkan serangan jantung ketika dia sedang bermain bulutangkis bersama teman-temannya. Aku menatap sosok tak bernyawa yang terbaring di ruangan keluarga kami. Selesai disolati, jasadnya akan dikuburkan di pemakaman keluarga. Aku tak dapat mengantarkannya ke pembaringan terakhirnya. Aku dan adik perempuanku menemani ibu yang tergugu lemas ditinggal pergi kekasihnya untuk selamanya. Adik laki-laki ku, sebagai laki-laki tersisa dalam keluarga kami berangkat bersama para pelayat.

Aku mendapatkan telepon dari sebuah nomor asing. Ternyata Astrin meneleponku dari Taiwan. Koneksinya sangat buruk. Suara kresek-kresek mengganggu kenyamanan percakapan kami. Akhirnya itu menjadi percakapan yang sangat singkat. Hanya ungkapan bela sungkawa yang Astrin sampaikan, diapun mendoakan ayah agar dapat mendapatkan tempat terbaik di pembaringannya. “Kak, apa permohonan papah sebelum beliau pergi?” tanya Astrin sebelum dia mengakhiri percakapan kami. Aku semakin sedih mendengar pertanyaan itu. “Ayah ingin aku menikah” jawabku dengan uraian air mata yang semakin deras.

Rombongan pelayat telah kembali dari pemakaman. Kulihat sosok Bias berjalan beriringan dengan adik laki-lakiku yang sedang berurai air mata. Adik laki-laki ku itu bukanlah anak yang sentimental. Tapi kehilangan seorang ayah memang merupakan cobaan terberat seumur hidupnya. Dia langsung duduk bersimpuh pada ibu. Kami serempak menangis sesegukan. Rasanya dada ini terhimpit dua tembok besar hingga kami sulit bernafas. Bias menatapku penuh simpati. Aku hanya melemparkan sedikit senyuman sebagai ungkapan terimakasih. Tak mau larut dalam duka yang berkepanjangan, sebagai laki-laki pengganti ayah, adik laki-lakiku berhenti menangis. Dia berjalan ke arah dapur lalu mencuci mukanya di westafel. Dia kembali menghadapi para tamu yang melayat dengan wajah sembab habis menangis.

***

Sebulan berselang. Keluarga ini menjadi sedikit tidak seimbang. Suasana duka masih menyelimuti kami meskipun kami berusaha untuk melanjutkan kehidupan kami secara normal. Tapi tidak bisa. Urusan kebun dan tiga ratus ekor kambing yang biasa diurus ayah terpaksa harus kami ambil alih agar bisa terus berjalan. Berkebun dan berternak kambing ini yang menjadi penopang hidup keluarga kami ketika ayah mengalami PHK dulu. Dia merintis semua ini dari nol. Berbekal uang tabungan yang tersisa, pinjaman uang dari sanak sodara dan lain-lain dia memulai usahanya. Kami harus bisa menjaganya, karena dengan inilah ayah terus hidup bersama kami. Aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan tempatku selama ini bekerja agar bisa fokus mengurusi usaha ayah ini. Aku menyibukkan diri dengan bekerja. Dengan ini aku bisa sedikit mengurangi rasa sedih kehilangan seorang ayah. Tapi ternyata bekerja terlalu keras dengan terus memupuk perasaan sedih yang berlarut-larut ini membuatku ambruk dan terpaksa harus dirawat di rumah sakit.

“Kamu harus berhenti tenggelam dalam kesedihan tak berujung. Sadarilah, kepergiaan ayahmu adalah sebuah takdir Tuhan.” Teguran telak dari Bias menamparku dengan tangan tak kasat mata. “Kamu tahu amalan apa yang pahalanya  akan terus mengalir kepada ayahmu meski dia telah tiada?” ujar Bias tanpa memperdulikan adik perempuaanku yang sedang menyuapi aku makan.

Aku terdiam. Air mata kembali menggenang. Sebentar lagi meluap membentuk sungai.

“Salah satunya adalah anak yang tak berhenti mendoakan orangtuanya” katanya lembut sambil menatap kedua mataku.

Dia telah sukes membuat bendungan ini roboh. Aku kembali menangis. Kali ini aku tak mengerti, apa yang sedang aku tangisi.

***

Tiga hari setelah aku keluar dari rumah sakit, Astrin meneleponku, dari rumahnya. Dia pulang ke Tanah Airnya setelah hampir dua tahun tidak pulang. “Kak, bagaimana kabarmu? Aku bisa jenguk kakak akhir pekan nanti?”

Aku tersenyum senang, “Tentu saja bisa. Kita sudah lama tidak bertemu. Kau harus banyak bercerita tentang Taiwan padaku”.

“Papah dan mamah juga ingin bertemu kakak. Mereka berniat untuk melamar kakak.” Kata Astrid sedikit berhati-hati mengucapkan kata ‘melamar’.

Aku terdiam beberapa detik, tapi akhirnya ada suara yang keluar dari mulutku sendiri tanpa aku sadari, “Kalau begitu datanglah, bukankah sebuah itikad yang baik harus disambut dengan baik pula.”

Aku tak percaya mulut ini dengan lancar berkata seperti itu. Tubuhku bergetar, aku menceritakan percakapanku dengan Astrin pada ibu. Seperti biasa ibu dengan suara lembutnya memintaku untuk memikirkan pinangan tersebut dengan baik-baik.

***

Saat hari pertemuan itu tiba, seperti biasa ibu menanyakan kesiapanku. “Bagaimana nak, apa kali ini kau sudah memikirkannya masak-masak?” tanya ibu sambil menggenggam lembut tanganku.

Aku mengangguk mengiyakan. “Bias orang yang baik. Perangainya baik. Diapun seorang kakak yang baik. Aku mengenalnya dengan baik, bu” Kataku pelan.

“Jika ayahmu masih hidup, dia akan senang mendengar jawaban ini” katanya lembut.

Aku menatap kedua matanya yang sayu. Ya, andai ayahku masih hidup, ayah mungkin akan menatapku dengan lembut seperti biasanya dan berkata, Akhirnya kau menikah nak.
Share:

0 comments:

Post a Comment

Free to speak up is still under circumstances, no violence