Posts

Showing posts from February, 2015
Penemuan paling hebat bagiku bukanlah vaksin dari penyakit mematikan atau teknologi paling canggih yang membuat hidup manusia semakin mudah. Penemuan terhebat itu adalah Bahasa, sebuah rangkaian sistematis yang membuat manusia satu dengan lainnya saling mengerti dengan apa yang ada di dalam otaknya, atau mungkin hatinya.Hanya dengan mengkombinasikan beberapa bentuk lengkung dan garis kedalam satu kelompok, manusia lainnya memahami apa yang terjadi.Dan ketika muncul ketidakmampuan dalam berbahasa, ketidakmengertian dalam menerjemahkan apa yang ada dalam kepala, kabooom, dua manusia bisa mengambil keputusan yang bisa saling menyiksa. Saling berdiam diri misalnya.

Penyakit hati

Aku iri pada kacamatamu, yang jika tak kau temukan akan segera kau cari di segala tempat.  Sedangkan aku --- sudahlah, aku akan nampak tak berharga akhirnya.

Vs.

Jika emosi digambarkan seperti air,  maka kiranya otakku itu sedang berubah wujud menjadi spons.Spons menyerap air. Entah berapa banyak air yang bisa spons itu serap. Satu-satunya yang membuat spons itu tetap dapat menyerap air adalah sebuah ingatan bahwa sainganku bukanlah mba-mba cantik berkulit langsat dengan hijab warna pastel, melainkan para bidadari-bidadari surga yang sedari bulan lalu melambai-lambaikan tangan mencari perhatian. Mereka memang makhluk tak punya kerjaan karena surga tak perlu dirapihkan.

Doa yang diganti

Aku menatap pria asing yang tertidur disebelahku. mengamatinya dari dekat. Pria aneh ini sulit sekali ditebak. Didalam kepalanya ada banyak hal-hal yang absurd yang sering kali membuat aku tergelak.

Rambut alisnya tebal, bulu matanya lentik, nafasnya teratur dan terdengar halus.

Aku meletakan telapak tanganku di dadanya, merasakan detak jantungnya.

Aku bersyukur Tuhan tak mengabulkan semua doaku. Dia mengantinya dengan yang lebih baik dari yang aku bisa bayangkan dalam otak kecilku.

Balada Malam Minggu: Nikah Muda

Dear pals,
It’s gonna bit little diary, kenapa? Karena aku tergelitik sama pertanyaan sahabat aku a.k.a mantan temen sekamar yang di minggu ke 2 pernikahan aku, dia punya beberapa pertanyaan berbobot yang sayang klo cuma berakhir sebagai obrolan ringan saat makan siang.
Pertanyaan dia adalah GIMANA RASANYA UDAH MENIKAH?
Aku jawab dengan jawaban paling normatif sedunia: I am feeling good. Baik-baik aja. Karena itu faktanya. Bayangin aja aku baru nikah 2 minggu, for god sake! Ngeri sih klo ada apa-apa padahal usia pernikahan baru 2 minggu.
Dan tentu aja si mantan roommate itu ga terima sama jawaban itu. Dia minta detail, minta jawaban paling personal yang aku punya.
“Kamu akan nyaranin aku nikah muda juga?” itu pertanyaan dia selanjutnya karena ga berhasil ngorek jawaban yang dia mau dari pertanyaan sebelumnya.
Klo udah siap nikah, jawabannya: Marry young, indeed. Kita berdua udah tau itu.
Aku jadi balik tanya, “Kenapa tanya-tanya begitu? Apa karena kamu liat kehidupan pernikahan aku ga…
Akhir-akhir ini aku sebal jika hujan datang lebih dulu dibandingkan kamu. Dia punya kemampuan untuk menjebakmu di tempat asing, membuatmu datang terlambat untuk menemuiku. Hujan juga mengambil kesempatan menyentuhmu lebih dahulu dibandingkan aku.

Tapi aku suka jika hujan datang terlambat, setidaknya aku jadi punya alasan untuk menahanmu lebih lama, aku jadi punya alasan untuk mendekapmu lebih erat.

Morning Coffee

I can’t drink coffee as much as I want, my tummy can’t help it. But I always taste it and smell its flavor every morning ---- I do them all through your lips.
______________ 
the beauty of marrying a coffee-addict like you

Hujan bukan perempuan

Membayangkan kamu basah-basahan air hujan, terjebak dengan hujan; aku cemburu pada hujan yang buat kamu tak bisa menemuiku. Baru kali ini aku tidak menyukai hujan. Ah, untung hujan bukan perempuan