Saturday, November 26, 2016

Flip

Aku benci hatiku sendiri.

Hatiku kecil dan berwarna gelap. Aku rasa karena aku mudah memberikan sebagian hatiku kepada orang-orang yang membutuhkan, yang tersisa sekarang ini hanya tinggal sepotong kecil, sementara warna gelapnya karena hati ini lebih sering terendam duka juga air mata.

Jadi biar saja telpon dipojok ruangan sana berdering setiap jam sementara handphone tak berhenti bergetar. Orang-orang yang mengetahui aku sedang merasa terluka mencoba menghubungiku. Mereka akan bertanya tentang apa yang terjadi. Memaksaku kembali ke masa kelam itu lagi. Mengingat-ingat yang tak lagi menyenangkan. Memaksaku menjawab semua pertanyaan karena mereka punya keingintahuan segudang yang minta dipuaskan.

Sudah lah, lupakan mereka. Perihal patah hati ini memang menyiksa. Kepemilikan semu adalah awalnya; sosial media adalah barang buktinya. Selama ini aku pikir selalu ada 'kami', nyatanya aku hanya berhalusinasi. Ciih, harusnya aku dengar apa yang ibuku bilang tiap Kali aku pulang: "hati-hati, sayang". Aku malah sembrono dengan jatuh hati.

Aku lelah setelah menangis semalaman. Aku butuh udara segar.

Dan di Kota ini orang-orang bisa menemukannnya di bar.

"Jerry, give me something strong!"

Laki-laki yang aku panggil Jerry itu terdiam sejenak. Dia jelas tak pernah melihatku minum alkohol, dia ragu untuk memberikan minuman 'strong' yang dia miliki.

"I'll take this!" kata S sambil menepuk pundak Jerry. "Americano," katanya sambil menyodorkan gelas kecil berisi cairan hitam pekat.

Aku terhenyak. Sedikit banyak merasa terselamatkan dengan kehadiran S dan Americano-nya. Tanpa pikir lagi aku tenggak minuman itu.

Pahit

"Super" kataku pada S sambil susah payah berurusan dengan rasa pahitnya.

"I know."

Aku tersenyum getir. "Aku tak menyangka kau akan memeregokiku seperti ini. Aku mohon jangan cerita apapun pada orang tuamu tentang hal ini --- this stupid eyes!"

S tersenyum. "Crying-baby ...."

Aku tak berani melihat wajahnya. Aku malu tertangkap basah dalam keadaan menyedihkan seperti ini. Apalagi oleh S yang aku kenal sejak kecil. Dia terlampau tahu banyak tentang aku karena kami bertetangga, bermain bersama, bahkan sekolah TPA yang sama.

Kini setelah dewasa dan tinggal di kota asing yang sama, sungguh memalukan memeregokiku seperti ini. Rasanya ingin menangis saja.

Sambil menundukan kepala, aku menyusut air mata yang hampir keluar. Menarik ingus pelan-pelan (dengan malu) karena hidungku mulai berair akibat menangis. Laki-laki ini mengingatkanku pada kejadian saat kecil dulu. Di teras rumahnya, aku dan anak-anak lainnya bermain pukul-pukulan, anak laki-laki lebih senang memukulku karena aku lawan yang paling mudah untuk dikalahkan. Aku hampir menangis karena sakit dipukuli, dia kemudian maju mendorongku keluar lingkaran. "Aku ga mau main sama perempuan." Sambil berpura marah dengan tindakan kasarnya, aku lari masuk ke dalam rumahnya, pergi ke dapur dan mendapati meja penuh makanan. entah apa yang aku pikirkan saat itu, aku makan lahap sekali. Di rumah orang lain aku makan tanpa izin, tanpa merasa sungkan. Well, itu saat aku kanak-kanak dulu.

Kenangan absurd yang muncul di waktu yang aneh. Sejujurnya, saat ini aku merasakan perasaan waktu dia menyelamatkanku dari permainan pukul-pukulan itu. Aku diselamatkan dari alkohol malam ini seperti didorong keluar dari lingkaran. Rasanya marah namun lega.

Aku memberanikan diri melihat wajahnya. Dia laki-laki yang tampan. Jujur saja aku tak pernah memandang wajahnya sedekat ini. Setelah lulus sekolah dasar, kami tak pernah benar-benar mengobrol. Ini kali pertama kami berbincang selepas masa kanak-kanak.

"I still am." Kataku sambil menyusut ingus yang aku harap jadi ingus terakhir.

"Kamu butuh orang yang mau mendengarkan ceritamu atau berdebat denganmu?"

Aku tahu, he is playing nice.

"Aku bisa jadi orang itu ---" tambahnya.

Aku menganggukkan kepala untuk bersikap sopan. Aku tak berniat untuk cerita tentang patah hati ini pada siapapun.

"Setelah jadi halalmu tentunya," katanya ringan.

Wait ... whatAku terbelahak tak percaya. Is it a proposal?

"Bagaimana? Kau mau menjawabnya sekarang atau kau butuh waktu?
Share:

Friday, November 11, 2016

Review: Hair Fall Treatment

 

Permasalahan kebanyakan wanita di dunia: kerontokan rambut yang tak bisa dihindari. Faktanya, hingga 100 helai rambut akan rontok setiap harinya. Artinya rambut rontok itu wajar. Keluhan para Suami atas sudut rumah dan saluran pembuangan air kamar mandi yg menjadi tempat singgah rambut rontok bisa kita counter dengan fakta ini. Tapi sesungguhnya  para wanita lah yang paling membenci rambut rontok karena selain sudah kehilangan helaian rambut yang berharga, mereka pulalah yang membersihkan semua itu.
Tapi jangan khawatir, semua itu akan terjadi lagi jika kita bisa memastikan rambut rontok berkurang. Cobalah gaya hidup yang baru. Misalnya saat mengeringkan rambut, cobalah untuk megurangi penggunaan hairdryer, mengangin-anginkan rambut setelah keramas tentu lebih baik untuk kesehatan rambut. Menggunakan sisir bergigi jarang juga bisa menjadi salah satu strategi untuk mengurangi kerontokan rambut. Lalu coba juga sampo ini,

Dove Total Hair Fall Treatment, sampo yang diperuntukan mengatasi masalah rambut rontok. Gunakan secara teratur juga lengkapi dengan penggunaan conditioner nya untuk hasil yang memuaskan.

Sejak penggunaan pertama saya merasa produk ini memberi kesan positif. Kulit kepala terasa lebih bersih, harum juga lebih halus dan lembut. Lalu setelah penggunaan 2-3 kali seminggu selama hampir 2 bulan, rambut rontok benar-benar berkurang. Rasanya menyenangkan sekali bisa menyisir rambut dengan jari tanpa takut ada rambut rontok tersangkut di sela-selanya. Yang menyenangkannya lagi adalah bahwa rambut cepat kering meski hanya diangin-anginkan saja. Sudah aku bilang bukan sebelumnya bahwa gaya hidup harus berubah; sampo ini jelas memudahkan saya untuk melakukan gaya hidup yang lebih baik demi menjaga kesehatan rambut saya.
Share: