Wednesday, July 30, 2014

Friday, July 11, 2014

25 kelabu

Ini bukan tentang kamu yang mulai mengacuhkan aku, bukan tentang aku dengan penyakit cuek seperti batu. Ini tentang kita mulai diam saling bisu disaat kita bertemu. Apa kau sudah mulai jemu, inginkan suatu yang baru? Aku tak tahu, kau tak pernah beri tahu. Mungkinkah aku terlampau acuh hingga tak bisa membaca apa isi hatimu, atau mungkin aku terlampau tuli untuk mendengarkan apa yang kau mau?

Pemandangan dari lantai 27 ini memang selalu memanjakan mata dengan pendar lingkaran-lingkaran cahaya dari kendaraan yang merayap, mengekor, tak jelas dimana ujungnya berada. Kita berdua berdiri di tepi gedung, menggenggam erat pagar besi, menjaga tubuh yang terasa limbung karena  hempasan angin malam.

Masih membisu. Entah karena kita sibuk dengan isi kepala masing-masing, ataukah kita mulai menyukai situasi seperti ini? Kulirik sepintas, rahangmu kokoh, kaku; pandangan matamu jauh ke horizon yang gelap, kosong; Sepertinya kau tahu sesuatu, tapi kau hanya diam saja. Aku hanya menarik nafas dalam. Tak suka melihatmu yang seperti itu. Aku bisa merasakan belaian lembut angin malam pada kulitku yang buatku bergidik. Satu-satunya alasanku untuk tetap sadar.

Sunyi dan dingin.

Kombinasi yang lengkap bagi tubuh lelahku untuk segera beristirahat dibalik selimut dan kasur yang empuk. Tapi 'waktu kita' belum mengijinkan untuk pergi meninggalkan tempat ini. Masih ada status yang menggantung minta untuk dijelaskan. Ada hati yang minta pengertian dari tingkah polah yang selama ini mulai tak mengenakan.

Biasanya malam seperti ini, malam-malam sebelumnya di tempat ini, berlalu dengan hal yang romantis. Bisikan mesra di telinga, bunga mawar merah yang muncul dari balik punggungnya atau uluran tangannya yang mengajakku berdansa atas simfoni yang dimainkan dalam kepala.

"Aku harap kau bisa jelaskan apa yang terjadi diantara kita" kataku memulai pembicaraan ini langsung pada intinya, tanpa memandangi matanya dan terus menatap pendar lingkar cahaya di bawah sana

"Jemu"

Satu kata yang membuat jantungku seperti meluncur ke dasar perut. sebuah jawaban sederhana yang melenyapkan oksigen dari udara, membuat paruparuku menciut, ciptakan sesak di dada. Sunyi di antara kita lalu hanya diisi oleh suara angin malam yang semakin kencang.

"Aku rasa kita berdua belum bisa mengerti satu sama lain hingga akhirnya hubungan kita membosankan"

"Lalu bagaimana dengan rencana-rencana kita di tahun depan?"

"Itu semua kamu yang merencanakan, sedangkan aku tidak"

Aku terdiam, kembali bungkam meski ada ratusan pertanyaan 'mengapa' yang membutuhkan jawabannya. Tapi aku tak mau menanyakannya, takut akan jawaban yang bisa saja membunuhku.

Angin malam bertiup semakin kencang.

"Aku tak ingin kita putus, ini hanya --- break. Kita perlu awaktu untuk mendalami lagi perasaan masing-masing untuk akhirnya kita mulai pikirkan hal yang serius."

Aku masih saja diam,  masih terus memperhatikan titik titik merah yang memadati jalan tol dibawah sana. Dia mencoba menjelaskan apa yang ada di dalam kepalanya sambil menatap aku yang tak mampu menatapnya kembali.

"Aku harus kembali ke tempatku, masih banyak pekerjaan yang menunggu jangan terlalu lama ada disini, kau bisa terkena flu nanti" 

Sedari tadi mataku terasa panas, pandanganku kini menjadi kabur. Dengan menahan isak, susah payah menjaga agar suaraku tak bergetar, aku berujar, "pergilah, aku masih ingin disini"

Aku bisa merasakan dia menatapku lalu mendekatiku. Tangan kanannya meraih kepalaku lalu mencium puncaknya.Air mataku buncah seiring langkahnya meninggalkanku di sini, sendiri.

****

"Dia meninggalkanku di rooftop Menara Bank Mega tempat kami berdua bekerja. Malam itu aku berulang tahun yang ke 25, dia mungkin lupa dan parahnya malah membuat luka. Saat itu aku masih berharap bahwa dingin sikapnya di minggu-minggu sebelumnya hanya akting buruknya untuk buat kejutan spesial di hari bahagia, terlebih dia mengajakku ke tempat kesukaan kami, atap gedung Menara Bank Mega. Masih ada secuil harapan di dada bahwa kami baikbaik saja, bahwa semua ini hanya usahanya untuk ciptakan momen tak terlupa. Ternyata..." 

Share:

Thursday, July 10, 2014

Berita kriminal: Pencopetan di Kopaja 66

Teman-teman semua,

Jam 10 pagi ini saya hampir dapat musibah. Cuma karena pertolongan ALLAH saya tidak mengalami kecopetan pagi ini.

Kronologisnya saat saya naik kopaja 66 dari Kuningan menuju Tendean tempat kerja. Tanpa rasa curiga, saya naik kopaja dengan biasa-biasa saja. Di dalamnya sudah ada beberapa orang penumpang pria dengan posisi duduk acak seperti penumpang pada umumnya.

Salah saya adalah saya menggunakan tab di perjalanan. Bukan untuk pamer ataupun mendengarkan musik, saya mencek whatsapp saya karena memang setiap pagi selalu ada file yang harus saya share melalui aplikasi tersebut. Bedanya pagi ini saya terpaksa melakukannya di dalam kopaja karena bagun kesiangan dan tak sempat melakukannya saat di kosan. Mungkin karena saya memperlihatkan kalau saya punya tab lah yang membuat para pencopet meng identifikasi saya sebagai target mereka.

Ketika kopaja sudah hampir sampai ke tempat saya turun, saya berdiri dan ada seorang pria yang juga ikut berdiri. Dia seperti kebingungan antara akan turun atau tidak di tempat yg sama dengan saya. Tiba2, semua pria tersebut pun melakukan hal yang sama (berdiri untuk turun di tempat yang sama dengan saya) seperti membuat saya kerepotan karena sebagian orang mendorong saya agar cepat keluar dan sebagiaƱ lagi menghalangi saya untuk turun dari sana.

Saya mulai curiga,  mungkinkah mereka pencopet? Ternyata benar, satu orang bapak di sebelah kiri saya sudah memasukan tangannya kedalam tas saya. Refleks saya tarik tas saya dengan berteriak sehingga dia pun tarik keluar tangannya takut ketahuan. Tapi dia kemudian berpura marah, 'apaan sih?' Saya benar-benar ketakutan, apapun bisa terjadi karena semua penumpang itu kelompok pencopet dan saya perempuan sendirian.

Saat itu saya katakan 'maaf' pada bapak yang memasukan tangannya kedalam tas saya. Saya katakan padanya, 'Maaf pak, tangan bapak kena (menyentuh bagian tubuh saya)', saya rasa jika saya mengatakan kalau dia pencopet, bisa2 terjadi hal yang lebih buruk pada saya. Setelah itu, saya langsung loncat dari kopaja dan segera lari pergi dari tempat itu.

Sungguh pengalaman kali ini membuat saya syok. Seingat saya, ada 2 orang di depan saya menghalangi saya untuk turun, 2 orang di kanan yang mendorong saya supaya cepat turun, 2 orang di belakang saya mengantri untuk turun dan 2 orang di kiri saya mendorong saya untuk turun juga dengan 1 orang nya bertugas sebagai eksekutor yang melakukan pengambilan barang dr target.

Untuk teman-teman semua pengguna jasa angkutan umum, mohon selaku berdoa setiap pagi dan sore karena hanya TUHAN yang bisa melindungi kalian dari orang-orang yang jahat. Usaha kalian untuk terhindar dari musibah seperti ini pun sangat dianjurkan, sebisa mungkin untuk tidak perlu mengeluarkan dompet,  gadget, atau benda berharga lainnya, karena bisa membuat anda menjadi target kejahatan.
Semoga cerita ini bermanfaat untuk kalian semua, karena pencopetan di kopaja bukan cuma cerita kriminal yang terjadi randomly, tapi bisa juga terjadi pada diri kita pribadi.

Harap selalu waspada dan hati hati


---------
Gina, 1 jam 47 menit kemudian setelah waktu kejadian
Share:

Wednesday, July 9, 2014

Kau dengan mudah buatku tak percaya diri bahwa aku akan menjadi masa depanmu. Lalu pertanyaan-pertanyaan mulai muncul saat kau meminta sebuah perpisahaan. Apakah aku hanya perhentianmu saat hatimu terluka? Benarkah itu?

-faisal, 27 tahun

Share:

Tuesday, July 8, 2014

Sometimes i want to say to him: "Can we stop pretending that we're okay? I am sick for showing that I am happy being with you ignoring me like this." But I am too afraid to risk the relationship. I am fool, aren't I?

A friend, one sleepless night
Share:

Sunday, July 6, 2014

hard times are like a washing machine.. they twist.. turn and knock us around.. but in the end come out cleaner brighter and better than before..

- Pandu F, a friend
Share:

Thursday, July 3, 2014

Tentang kita di masa depan

Hingga detik ini aku bersyukur mengenalmu; bersyukur memilikimu; bersyukur memiliki banyak kenangan bersamamu. Mungkin sedetik berikutnya aku mulai berhenti bersyukur; berhenti memujamu; berhenti mengharapkanmu; berhenti menginginkanmu.

Tapi sebelum detik itu tiba, berjanjilah padaku, apapun akhir hubungan yang kita miliki berdua, tak perlu ada satu manusiapun yang tahu apa yang terjadi diantara kita. Karena aku tak mau memulai detik hidupku dengan membencimu, mencaricari kesalahanmu, menghakimimu.

Ingatlah kita pernah baikbaik saja; ingatlah bahwa kita pernah bahagia bersama; ingatlah bahwa nama kita pernah disandingkan dalam untaian doa kepada Sang Maha Kuasa ----- 

Berjanjilah Dinda


______________
Kata Ale pada kekasihnya,
3 hari yang lalu
Share:

Tuesday, July 1, 2014

The truth behind act

So here we are, trapped in the same old talk. Sitting on the couch at the corner of the coffee shop, waiting for our favorite brewed coffee. I am in my sweet yellow dress and he is in his ripped jeans, black T-shirt, as he always wears lately.

"Would you put your cigarette down?"

He seems has no willing to stop.

"We need to talk and you pretty know that I cant help of smoke." I take an ashtray closer to him.

"We can talk after it is out babe!"

I am sick of his attitude,  THIS ATTITUDE to be exact. I dont know since when he has started to smoke, but things for sure I know him as a non smoker before hand. I shake my head for this unbelieving situation we have. I has no intention to argue with him for that stupid cigarette; so I turn my sight, looking for something that can wipe this mixed madness feeling out my head. My sight catches up a couple in non smoking room, having red velvet and blended green tea. They are look happy together.

"We're happy previously" unconsciously I start over the conversation.

"What do you mean?"

"We were good, until one of us changed"

"Define 'change'!"

I look at him right to his eyes. "Don't you feel that we are not same anymore? Like we are getting --- bad?"

"Getting bad? Is that what you feel now?"

I sigh hard. Have no strength to see him longer in the eyes. I can't be able to hold the situation. I don't want any fight, I won't risk this relationship.

"Did you want to say that because I changed --- you want to blame all on me?" He starts accusing me for no reason.

"I didn't want to blame you or anybody, all I ever wanted was we talked it over. We never talked for weeks, i am not a fortune teller, I need some verbal explanation to understand you."

His cigarette is out, but he starts to light another one.

"Eugine...!" I start to complain on his another cigarette.

"This talk makes me nervous,  I need to smoke"

"Smoke isn't a way out, all you need is talk, explain what inside your head --- to me."

"This is what I don't like from you! You ask me for explanation, you always want to report to you. You also force me to always pay attention to you, watching you."

What was he just saying? It makes me feel like in hell. I slap him hard on his right cheek. Get up and take my bag. Walking away from him. But it only happens in my head. I try to calm, try to understand why he has that kind of idea, because what he just said was totally non sense.

"I couldn't do that and I hate you for being so childish." He adds some explanation.

I feel like seeing fog which I know that it is not. It is just blur vision because keeping tears pouring out like river. No, I had enough. I've been pushed away for weeks, and now he has accused me for something which is totally wrong.

"I am pretty independent once till you who asked me to tell you every single thing to you as you are love to be fully poured with attention. Can't believe it turned up like this. We're sick, this relationship is sick. Let's be just friend."

Our order come. Two hot brewed coffee. "Here is your order, thank you for waiting. Is there any additional?"

"No, thanks", I reply it quickly.

"Enjoy your coffee then"

I drink the coffee up. Even the heat burn my tongue. I don't care because I don't even feel it. He is silent for couple minutes. After he saw me finish my drink, he starts the conversation again.

"We're still if you weren't emotionally taking decision like that. I wanted to see your response if I ignored you like that. Like I predicted, you were childishly ask me for reason, further you wanted my attention..."

I heard murmured voice from him. another voice heard inside my head, What ever you said. I wont listen to it. PREDICTED YOUR ASS! I couldn't listen to it because too busy manage the blows inside my chest and head that probably could make huge explosions with scream and endless tears.

"Pay my bill! I go home."

"But we can be friend like you said, can't we?"

"Yes, like we two hope."



--------------
It was the last time I meet him, see his eyes and listen to his voice.
We never communicate even like friend like we wish we to be.
Lately, I heard from a friend, he dated a girl in our favorite coffee shop. The truth was, it's not because of my childish, it was another girl
Share: