Thursday, April 30, 2015

2 months

Hay beb, what are you doing inside?

It's gonna be your first letter and i hope you know that you are loved and wanted.

So, let me imagine in how old you are able to read --- in English? Seven? Ten? It will be a long period to wait for you read this and understand it. Or, it might run so fast? No matter it is but you should know that you're 2 months of pregnancy right now.

It's april 30th,  2015 you made me puke all day long. I am wondering, what are you doing inside? Hopefully you are growing well dear. I drank water,  you threw it up. I ate bread -- snack, and you rejected them as well. I ate pear, a nice one from my super best friend mba silvy. Hopefully you like it. Take it okay, you really need it dear. And one day when you are born, call mba silvy with 'onty cantik' okay, she's gonna love it.

Back to the day before today. It was 29th, and i went to office by public transportation as always.  It was a shiny day and the weather is hot. Kind of tropical land. Unfortunately, the traffic was terrible. It made me dizzy all of sudden.  On the bridge,  i puked, threw up the breakfast and all at the corner of the bridge. Dear do you know what i was sorry for that time? I was sorry for not giving you good nutrition because even i ate again,  you kept throwing them up.

My love, you're loved.

I always hope that you are physically perfect, born normally,  become a sholih-sholihah child, religious,  smart, behave,  mudah-dididik-dibina-dinasehati, and of course you love your parents for no reason. Your grandparents also pray almost the same, and my super best friends mba silvy and mba dinar do too. Basically you're loved, you're wanted. And you have all material need. Now back to you, use them or discard them. Someday, when you are able to read, you know that you have basic of good people. 

You are something-lived in my tummy right now. In december 2015, as doctoc predicted, you'll be born as gift from god. Till that day come, promise me that you'll live well inside, grow healthily. I don't mind carrying you to everywhere, sleeping with you even it still makes me tired out, as long as you're good, grow well,  nothing i care.

Hey, i gonna puke again, i have to stop here.

You're loved darl,

You're loved

Share:

Saturday, April 18, 2015

Kedai lewat tengah malam

Aku selalu suka aroma kopi. Wanginya khas, buat aku tenang.

Jadi, saat aku tidak tenang, aku memilih untuk mencium bau kopi. Beruntung aku hidup di ibu kota. Meski hampir tengah malam, aku tak kehabisan harapan untuk menemukan kedai kopi yang masih buka. Sebuah kedai dengan logo putri duyung tampak bersedia melayani 24 jam sehari. Pintu nya aku dorong, membunyikan klenengan yang digantung di kusen nya.

Seorang bartender menoleh ke arahku. Dia terlihat mengantuk. Sepertinya sudah kelelahan meracik kopi sedari sore.

Saat aku berdiri tepat di hadapan nya,  dia mulai menyapa dengan pertanyaan standarnya, "Selamat malam, mau pesan apa?"

Jujur, meski aku suka aroma kopi, meski hampir tengah malam begini aku datang ke kedai kopi,  aku bukan peminum kopi. Tak ada satupun menu kopi yang aku bisa nikmati dari kedai ini.

"Aku hanya beli ini" kataku sambil memungut benda kuning dengan bungkus plastik transparan. Aku menyodorkannya untuk dibuatkan tagihannya.

"Hanya ini?" Tanya dia dengan pertanyaan standarnya, tapi aku tahu ada nada tak percaya di dalamnya. Tengah malam begini dia melayani pembeli pisang di kedai kopi!

"Kau mau brewed coffee? It's on me!" Kataku setelah ide gila terbesit begitu saja.

Dia tak menjawab, terlihat ragu atas tawaranku.

Ya, ibu kota mengajarkan kita untuk tidak mudah percaya kepada orang asing. Dan kejadian malam ini pun memang patut dicurigainya.

"Untukku saja! Buatkan brewed kopi itu untukku!"

Suara berat itu menarik perhatianku. Seorang laki-laki mengantri tepat dibelakangku dan menguping percakapanku dengan bartender sekaligus pelayan kedai. Aku sedikit terkejut. Ide gila ini disambut oleh orang gila lainnya.

"Kamu tak keberatan kan brewed coffee itu untukku?"

Aku mengangkat kedua alisku. "Brewed coffee, satu" kataku pada pelayan.

Pelayan itu dengan siap mengetikan kode yg sudah dihafalnya dan memintaku untuk membayar semua pesananku di muka.

Aku memberikan selembar uangku dan ditukarnya dengan uang nominal kecil juga struk tanda pembelian. Aku beringsut duduk di kursi bulat tinggi tak jauh dari tempatku berdiri. Laki-laki itu kemudian duduk di sebelahku. Dia menunggu brewed coffee yang dia inginkan.

Tak butuh waktu lama, pelayan itu menyajikan secangkir kopi dengan asap mengepul. Fan AC memamerkan aromanya ke seluruh penjuru ruangan. "Minumlah sedikit demi sedikit" pintaku yang lebih mirip dengan sebuah perintah.

"Kenapa kau lakukan itu?" Tanya laki-laki itu sambil menatapku yang mulai mengeluarkan pisang dari plastik pembungkusnya.

"Melakukan apa?"

"Meminta orang lain meminum kopimu!"

"Aku butuh aroma kopi. Sayangnya tak ada yang minum kopi panas malam ini di sini"

"Kau bisa meminum kopimu sendiri, menikmati aromanya sendiri"

Aku menatapnya. Dia tampak ingin tahu.

"Aku tak minum kopi" kataku pendek. Aku tahu dia mengharapkan lebih dari sebuah jawaban pendek. Tapi aku tak tertarik untuk memberikan dia alasan. Lagipula jawaban ini cukup berhasil membuangkamnya. Aku bisa mencium aroma kopi sambil menyantap pisangku dengan tenang.

"Kau hamil!" Katanya tiba-tiba.

Aku menolehkan kepalaku ke arahnya. Matanya berbinar seolah puas karena dia bisa menebak dengan tepat.

"Apa aku terlihat buncit?" Tanyaku pelan.

Dia mendengus.  Kecewa karena dia merasa tebakannya salah. "Aku masih tidak mengerti mengapa kamu membiarkan orang lain meminum kopimu?"

"Aku butuh aroma kopi, itulah alasanku datang kesini. Tapi tak ada aroma kopi disini. Ice - blended coffee tak memberikan aroma yang aku inginkan. Itulah alasanku membelikanmu brewed coffee."

"... karena kau tidak minum kopi"

"Tepat sekali"

"Karena kau hamil?"

Aku mengangkat kedua alisku

"Meski kau tidak buncit, tapi kau tidak minum kopi karena hamil?"

Aku menggerlingkan mataku dan menghabiskan pisangku. "Aku hanya tidak minum kopi. I can't help it! But yes i am pregnant"

Matanya kembali membulat. "Congratulation!"

"Thank you"

Ponselku bergetar, sebuah pesan baru saja masuk.

"Mas, brewed coffee, 1 lagi, take away ya" kataku setengah berteriak.

Pria asing yang aku traktir terheran-heran melihat tingkahku. "Kau akan mulai minum kopi?" Katanya, kembali menebak-nebak alasanku.

kali ini aku hanya mengangguk lalu tersenyum. Ups, aku segera memperhatikan deretan gigiku dari pantulan punggung ponselku. Aku tak mau tersenyum dengan sela-sela gigi dipenuhi pisang warna kuning.

"Wanita hamil memang senang melakukan hal yg absurd" katanya setengah mengomentari tingkahku.

"Brewed coffee" kata pelayan menyodorkan satu take away coffee untukku.

"Thank you"

"Kau benar-benar akan minum kopi?" Tanya pria itu penuh selidik.

"Ya..." kataku cepat. Tanganku kini sibuk merapikan penampilanku. "Hanya sedikit" tambahku dengan satu kedipan mata.

Ponselku kembali bergetar, tapi belum sempat aku melihatnya pintu kedai terbuka diiringi suara lonceng yang ada di atasnya. Seorang pria jaket dan bersepatu boot masuk, di bahu kanan menggantung sport bag sedangkan tangan kirinya menggeret sebuah koper besar.

Alasanku tidak tenang malam ini muncul. Dia nampak lelah, kumisnya tumbuh lebih lebat dari yang kuingat, dan dagunyapun turut ditumbuhi bulu-bulu rambut hitam. tapi dia masih saja terlihat luar biasa sama seperti pertama kali aku jatuh cinta padanya.

"Welcome home" kataku dengan seringai lebar. Aku tak tahan untuk memeluknya dan membuatnya sedikit limbung karenanya. Dia membalas pelukanku lalu menatapku tak percaya. "It is positive!" Katanya lalu meraba perutku.

"Yes..."

"God bless!" Dia mencium keningku lalu kembali memelukku.

"Wow... woooowww.... public place!" Kata orang asing itu menghancurkan momen bahagia kami.

"Sorry,  I'm just too happy"

"Have your coffee before it turns cold, dude!" Katanya mengingatkanku pada kopi tambahan yang aku pesan.

Suamiku segera menyeruput kopinya. Aku menarik tas-tasnya yang besar agar tidak menghalangi ruang setapak kedai meski aku sendiri tak yakin akan ada pelanggan lain yang datang selarut ini.

"Hei lady, don't you wanna have your coffee? Sip it! It's the time!"

Aku tertawa. Suamiku sepertinya kebingungan dengan apa yang aku tertawakan. Dia nampak menggemaskan dan dengan cepat aku mendaratkan ciuman singkat di bibirnya.

"How is it taste?" Tanya orang asing itu.

"Well, that's bitter!" Kataku masih sambil menahan tawa.

"What's going on? And who is this dude?"

"Nothing really!  He's just a random person i met in the coffee shop. What's your name, anyway?" Kataku ringan.

"Just call me Luke!"

Share:

Ups and Downs

"Are you happy?"

I couldn't directly answer that question.  I guess,  I've made a mistake in my stories that draws him to the question. I didn't mean to be that obvious that i am not happy. But i couldn't be that frank. I can't.  Just because i can't imagine the worst that could happen with this honesty.

He looks me in the eyes. Expecting the words from my mouth.

I shake my head. "I won't answer that"

He smiles. "Okay. I won't ask you any more"

I bite my lip. This is wrong. We should talk this over. It can't be just a pull stop like this.

He rises his hand, attracting a waiter to come over.

"Bill, please"

The waiter nods then disappears. We two don't start any conversation.  Pretending ourselves busy with our own gadgets. But i know pretty sure, nothing is inside. Nothing is inside our smart phones  that can really steals the main idea of tonight's issue.

"Excuse me, your bill is already paid. And we have same extra wine for you, the favorite couple"

I look at the waiter unbelievably. I see him as well. He has this What's-really-going-on-here?-look.

"Our owner likes you, and gives you this wine to show it." Explain the waiter.

I smile. I know whom he talked about. Letting him pour the wine inside our glasses. I can't stop smiling. We rarely eat out. But, everytime we have something to talk to, this is our favorite place. The only place that comforts us like a mom. We know the owner well. He is  more than just a friend.

I hold his right hand.  I look at him in the eyes and he answers me with a smile and a nod. Then I look at the waiter's face then say, "Send him our warm regards.  Tell him that we miss him much. Thank you for the bill and wine of course!"

The waiter smiles, he nods, "please enjoy"

He leaves us. I see his back disappear as the back door closed.

"I know sometimes life is not easy..." he paused. "... it makes me unhappy. But i know that i am with a right one, with you.."

He surprised me with his sentences. I can't say any word.

"This is probably our hard time, tomorrow can be worse than this but I believe in one day, we'll be happy as this hard time never happens."

I smile. I remember why i fall in love in the same person all the time.

"Don't you hear that we are still his favorite couple?"

I laugh.

Share:

Friday, April 10, 2015

Hope

Sepertinya bukan hari, ini --- bisa jadi besok, atau lusa, minggu depan atau bulan depan, atau tahun depan, atau tahun-tahun berikutnya...

Nanti, yaa ... nanti

------
Ini adalah harapan

Share:

FURIOUS7

"See You Again"
(Wiz Khalifa feat. Charlie Puth)

listen here

It's been a long day without you my friend
And I'll tell you all about it when I see you again
We've come a long way from where we began
Oh I'll tell you all about it when I see you again
When I see you again

Damn who knew all the planes we flew
Good things we've been through
That I'll be standing right here
Talking to you about another path I
Know we loved to hit the road and laugh
But something told me that it wouldn't last
Had to switch up look at things different see the bigger picture
Those were the days hard work forever pays now I see you in a better place

How could we not talk about family when family's all that we got?
Everything I went through you were standing there by my side
And now you gonna be with me for the last ride

It's been a long day without you my friend
And I'll tell you all about it when I see you again
We've come a long way from where we began
Oh I'll tell you all about it when I see you again
when I see you again

First you both go out your way
And the vibe is feeling strong and what's
Small turn to a friendship a friendship
Turn into a bond and that bond will never
Be broke and the love will never get lost
And when brotherhood come first then the line 
Will never be crossed established it on our own
When that line had to be drawn and that line is what
We reach so remember me when I'm gone

How could we not talk about family when family's all that we got?
Everything I went through you were standing there by my side
And now you gonna be with me for the last ride

So let the light guide your way hold every memory
As you go and every road you take will always lead you home

It's been a long day without you my friend
And I'll tell you all about it when I see you again
We've come a long way from where we began
Oh I'll tell you all about it when I see you again
When I see you again



-----
a tribute for paul
he is loved
Share:

Saturday, April 4, 2015

Tidak demikian

Saat aku memutuskan untuk menikah, seorang teman berkelakar,  katanya aku telah menemukan pria yang sempurna untuk dinikahi. Katanya dia cukup tampan, memiliki pekerjaan,  orang tuanya baik tipikal yang kekinian. Aku tersenyum, tidak menyanggah ataupun mengiyakan. Aku tak mau berdebat ataupun repot-repot menjelaskan mengapa aku begitu tiba-tiba memutuskan untuk menikah. Lagipula ini bukan perihal kesempurnaannya yang datang dengan sebuah lamaran. Ini masalah kefahaman dan tentu saja ini adalah takdir Tuhan.

Lagipula, meski tampan dan mapan adalah salah satu kombinasi yang diidamkam perempuan; meski keduanya bisa jadi hal yang kita pamerkan kepada teman-teman; meski menikahi keduanya dalam satu tubuh artinya bisa menikmatinya setiap saat atas dasar kepemilikan, tapi bukankah berada disampingnya untuk seumur hidup akan melelahkan? Karena pada satu titik dan seterusnya, ini bukan lagi perihal menyenangkannya bersanding dengan dia yang tampan dan mapan, tapi tentang memantaskan diri dan menyamakan kedudukan.

Memang benar sangat beruntung berpasangan dengan dia si tampan yang mapan. Bahkan keliatannya berjalsn bersisian dengannya sepeeti ada sebuah kebanggaan. Tapi ini bukan hanya tentang tampan dan mapan. Ini tentang keserasian dan menyamakan kedudukan. Akan sangat melelahkan jika harus menjalani hidup demikian. Perjodohan bukanlah sekedar tampan dan mapan, sayang. Pernikahan itu atas dasar kefahaman,  dan tentu saja takdir Tuhan.

Share:

Wednesday, April 1, 2015

Tanda Baca: Spasi

Aku bukan seorang perenung. Tapi jujur saja, waktu jeda seperti saat harus duduk diam dalam mobil, waktu saat diam menunggu dalam antrian, atau ketika berdiri di halte menunggu jemputan; aku, lebih tepatnya otakku selalu saja mencari-cari kegiatan diluar kendaliku. Berfikir misalnya. Aku bisa memikirkan hal yang baru saja aku lihat. Tapi yang menyakitkan buatku adalah memikirkan hal yang sudah lampau. Beberapa kali memikirkannya bisa membuatku merasa sakit, tak jarang disertai derai air mata, yang lebih parah, aku bisa saja melanjutkannya dengan penghakiman atas apa atau siapa yang pantas dipersalahkan.

Atas itulah aku tidak menyukai waktu jeda. Aku menghindari waktu dimana aku tak melakukan apa-apa. Aku menghindari waktu yang berpotensi menyakiti diriku sendiri. Tapi kali ini,  saat aku harus duduk menunggu nomor antrianku disebutkan oleh pengeras suara, aku memikirkan esensi dari 'jeda'.

Apa jadinya jika alfabet tidak mau disandingkan dengan jeda. Bisa jadi huruf-huruf itu akan saling bertumpuk dan aku tak bisa membacanya. Atau, meski dia berderet rapih dalam sebuah barisan, tapi bukankah akan memberikan kesukaran untuk membaca dan mengartikannya? Apa jadinya jika waktu terus menerus digunakan untuk bekerja? Tak meluangkan waktu untuk beristirahat; tak meluangkan waktu untuk bersenang-senang?

Bahkan dalam hubungan pun dibutuhkan jarak untuk menciptakan rindu; memberi ruang untuk cinta tumbuh; memberi rasa percaya dengan tanpa menciptakan rahasia. Memang menyenangkan berpelukan dengan tanpa ada jeda memisahkan. Tapi tak bisa bertahan lama, karena bisa jadi akhirnya membuat sesak, akhirnya tetap harus dipisahkan. Bukankah lebih menyenangkan berpelukan lalu saling melepaskan untuk saling bersitatap.  Butuh jarak yang cukup untuk bisa melihat dengan fokus yang tepat agar bisa melihat objek dengan jelas.

Jeda,
Spasi,
...

Apapun namanya itu, hanya sebuah ruang  yang tidak luas, waktu yang tidak lama, hanya diperlukan secukupnya. Digunakan untuk memperjelas, memudahkan, dan segala kebaikan lainnya. Istilah yang sering kali aku benci keberadaannya karena sering aku menampikkan fungsi utamanya.

Lain kali, ketika waktu jeda kembali, aku akan meminta maaf dan memohon perdamaian. Setidaknya aku akan berusaha memahami otakku yang tak berhenti berfikir meski tak benar-benar ada yang harus aku pikirkan. Aku akan mulai menyebut momen itu dengan momen merenung. Setidaknya pada saat itulah aku bisa kembali ke sebuah masa dengan persfektif baru. 
Share: