Sunday, November 30, 2014

Tanda Seru (!)

Terkutuklah rasa takut itu!

Dia penyebab utama aku tak berani katakan bahwa aku cintaimu.  Jadilah kini aku berdiri sebagai orang yang kalah dan patah hati, menatap punggung yang merangkul hangat sosok mungil berambut pajang melangkah pergi.

Jika aku putar ingatanku ke tahun-tahun silam, aku akan menemukan sosok acuh berambut gondrong menungguku di depan gang. Dia akan bersungut-sungut ketika aku datang dan duduk di jok belakang. Menceramahiku yang suka ngeret kelewatan. Tapi aku tahu kamu; aku mengenalmu sebaik kamu mengenal dirimu sendiri. Semangkok bakso sebagai sogokan bisa ciptakan senyuman yang mampu menyipitkan kedua matamu.

Sempurna.

Kau adalah lelaki yang serba ada. Kau tegas, kau cekatan, kau pengertian, dan kau penuh perhatian. Kau tahu benar jika aku sedang tak enak badan, kau tahu benar jika aku sedang dilanda kebosanan, dan kau sudah tentu tahu jika aku merasa senang. Sebagai teman dengan kedekatan hanya sejengkal jari tangan, kau buat aku ketakutan akan kehilangan. Pengertian kehilanganku untukmu bukan pada jarak yang memisahkan, melainkan pada kenyamanan yang akan aku sesalkan ketidakberadaannya.

Ketakutan yang mengutukku ini sungguh keterlaluan. Aku sudah berusaha setengah mati untuk mengikuti rasa takut itu dengan tetap memendam rasa cinta yang menyiksa, tapi lalu apa? Aku dikhianati oleh rasa takutku sendiri. Pada akhirnya dia tetap di sisi dengan kenyamanan yang tidak sama lagi.
Share:

Wednesday, November 26, 2014

Koma (,)

Aku lupa kapan terakhir kita saling ucapkan cinta. Akupun tak ingat kapan terakhir kali kita pergi berdua. Karena makan malam kali ini sungguh berbeda. Rasanya tak nyaman, tak lagi terasa sempurna.

Hidangan malam ini adalah sepiring cek-cok panas dengam saus kata-kata pedas. Itu baru menu pembuka, ada jeda 30 menit sebelum penyajian menu utama. Kita habiskan piring itu hingga mulut berbusa dan air liur muncrat kemana-mana. Kita saling cela lontarkan makian kasar disertai bukti-bukti pengkhianatan yang direkam media sosial untuk kita.

Saat menu utama tersedia, kita mulai mengayunkan kaki pada benda mati. Sayang, tak ada perlawanan tentu tak menyenangkan. Kita mengayunkan tangan diarahkan pada pipi-pipi pasangan, ciptakan tanda rona merah yang mampu didihkan darah.

Menu penutup adalah sesuatu yang manis. Ya, karena pada akhirnya aku menangis,  dan kau salah tingkah merasa bersalah. Rasa canggung menggantung di angkasa, ciptakan koma, tanda yang memisahkan kita berdua.
Share:

Friday, November 21, 2014

Tanda Tanya (?)

Tersebutlah aku Si Pandir
Manusia bodoh yang senang berprasangka
Mengira logikanya bisa tandingi kuasa Sang Maha Esa

Aku lelah menjalani sakit atas pengkhianatan cinta
Tak mau kembali dikecewakan oleh patah hati atau sebangsanya

Jadi apa aku salah jika aku memilih untuk menjauhimu
Menjaga diri dari godaan cinta yang kau tawarkan padaku
Lalu mengapa perih itu kembali padaku?
Saat aku melihat jemarimu berada di sela-sela jemari asing yang balas menggenggam erat tanganmu

Bukankah kau bukan siapa-siapaku?
Bukankah apapun keputusanmu tak berakibat apa-apa untukku

Jadi biarlah Si Bodoh ini bertanya,
Kenapa rasa ini kembali ada?
Disaat aku sedang melindungi diri dari luka
Share:

Thursday, November 20, 2014

Titik (.)

Sial, hal paling nyata adalah ketidakmampuanku beranjak dari menuliskanmu. Sudah aku coba menuliskan yang lain, tapi mereka hanya berakhir sebagai paragraf pertama di folder draft; kisahnya tak mampu aku lanjutkan ataupun selesaikan, karena menuliskannya seperti tak punya nyawa, mati rasa, hambar saja.

Tapi apa kata dia si jodoh yang aku cinta jika dia baca semua tulisanku adalah tentangmu? Tidakkah itu akan jadi masalah baru untukku? Akankah dia berfikir aku 'masih' terjebak dalam kisah cinta lama yang tak bisa aku lupa? Itu ketakutan terbesarku disaat aku akhirnya temukan cinta terakhirku tapi aku tak punya kemampuan untuk menuliskan kisah cinta selain kamu.

Bukankah roda berputar, seharusnya jika aku bisa menuliskanmu dengan segenap rasa yang membuat ceritanya seperti hidup seolah nyata ---- seharusnya aku bisa membunuhmu dan ciptakan kisah baru yang dipenuhi cinta tanpa kegalauan dan kepatahatian yang menyakitkan. Aku ingin tuliskan tanda 'titik', sebagai tanda akhir cerita. 

________
Teruntuk kamu tulisan galau yang setengah mati aku coba untuk tinggalkan.
Share:

Sunday, November 16, 2014

Semoga, kali ini ...

'Hai apa kabar?'

Seruan cerianya pecahkan diam yang meraja. Si dungu itu akhirnya menunjukan batang hidungnya setelah berhari-hari menghilang tanpa kabar berita.

Reaksiku diam saja. Dia dungu, buat apa aku hiraukan sapaan yang hanya sebatas basa-basi baginya; padahal hatiku sudah dagdigdug tak karuan dibuatnya.

'Kau sudah makan? Aku akan pergi makan sebentar lagi!'

Sebuah kesempatan untuk berduaan dengan si dungu sekali lagi. Seharusnya tak akan aku sia-siakan kesempatan ini. Dia dungu, perhatianku dan kebersamaan kita tak dia terjemahkan dengan bahasa yang sama; semoga saja makan siang kali ini dia mengerti bahwa aku menyukainya.

Dengan cara yang sederhana,

hanya inginkan dia

tak hilang dari pandangan mata

Dalam suka ataupun duka

Dia ada

...

Share:

Saturday, November 15, 2014

A meeting with 'I'

...
'what's your story?'
'Well, it's a long story ... '
'So how is it?'
'It's complicated'
'A boy?'
'Yeah, you know that pretty well'
'A break up?'
'A tragedy'
'after good things you both had?'
'It ends up in the air'
'Like fart?'
'Like fart!'
'So it is good?'
'The best we had'
'Glad to hear that!'
Share:

Tuesday, November 11, 2014

luka samar

menatap nanar

dengan hati terbakar

cemburu menjalar

melihatmu berkelakar

dengan dia -- si pacar

.
...
.

kenyataan yang menampar

buat luka samar

yang kuharap cepat pudar
Share:

Saturday, November 8, 2014

Take me home


Aku merindukan pria itu. Pria yang dulu terbiasa menjadi pria tangguhku --- cinta pertamaku.

Wangi tubuhnya tak pernah berubah, masih memakai parfum yang sama sejauh yang aku ingat. Wangi aroma kopi tercium seiring hembusan nafasnya. Salah satu favoritku adalah bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar rahangnya. Dia senang sekali menciumku sedangkan aku merasa geli dengan tusukan-tusukan tajam bulu-bulu itu. Aku senang sekali jika di akhir pekan dia mengajakku pergi jalan-jalan. Terkadang sebatas memancing ikan atau menonton pertandingan bola di lapangan sudah bisa buatku senang. Ah, dia yang pertama kali mengajakku berenang, memamerkan keberanian untuk terjun dari papan lompatan. Di mataku dia sungguh mengagumkan.

Dia selalu menjemputku dari sekolah lebih cepat di Hari Jumat dengan rambut setengah kering juga aroma sabun mandi. Aku tahu kemana dia akan pergi setelah menjemputku. Dia selalu bilang, Hari Jumat itu hari besarnya, jadi dia harus tampil bersih untuk menjalaninya. Bagiku tak masalah, toh dia membelikanku banyak camilan agar aku tak rewel saat menanti dia beribadah meski tak ada teman yang menemani.

Lalu waktu bergulir cepat. Aku rasa pria yang paling mengerti aku telah berubah menjadi pria posesif yang suka mengatur. Dia melarangku untuk bepergian, melarangku untuk bersenang-senang, pendek kata dia selalu melarangku menentukan pilihan. Maka perdebatan itu mulai muncul, pembangkanganku dan pemberontakanku selalu memancing kemarahan yang berbuntut pertengkaran.

Tahun berganti tahun, dan aku memilih meninggalkanmu demi egoku meraih mimpi. Aku tahu aku membuatmu patah hati dengan meninggalkanmu, tapi kau masih selalu menawarkan diri untuk terus menjemputku, meski yang harus kau lakukan adalah melewati batas provinsi melalui jalan darat yang melelahkan. Kau hanya bilang itu semua 'untuk putri tersayang'.

Lalu kini tahun ke-5 ku di kota asing ini aku terjebak di deras hujan dan aku tak bisa pulang. Aku rindukanmu yang selalu siaga jika aku membutuhkan sebuah jemputan. Berteduh di warung kopi tepi jalan dan memesan segelas kopi panas mungkin akan obati sedikit kerinduan. Setidaknya aku mencium aroma yang buatku merasa kau selalu ada, tak pernah menghilang. Ayah, tolong jemput aku pulang.

Note:
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari http://t.co/pk32j90nVG di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Share:

Tuesday, November 4, 2014

Catatan dari Gina

Masih ada sekitar 30 draft tulisan galau lainnya yang akan aku usahakan sebisa mungkin untuk dapat selesai ---- semoga semuanya cukup layak untuk aku publish di sebelum tahun ini berakhir. Mungkin beberapa dari kalian bertanya, mengapa aku memaksakan diri menyelesaikannya di tahun ini?

Aku  akan berhenti menuliskan hal galau dan mulai mencoba menuliskan hal lainnya. Meskipun tulisanku sejauh ini masih harus terus ditingkatkan, aku memilih untuk berhenti sejenak, emotionally aku harus berhenti untuk jangka waktu yang belum ditentukan.

Note: 
- Untuk kalian para lajang yang ceritanya menginspirasi, aku ucapkan terimakasih;
- Untuk kalian para tokoh imajiner di kepalaku, kalian sudah cukup tua, mungkin kalian bisa berhenti berlakon di benakku dan beristirahatlah dengan tenang;
- Untuk kalian pembaca tulisan picisanku, terimakasih sudah setia mengeja huruf demi huruf alfabet disini, aku berharap tulisanku selanjutnya akan lebih memanjakan mata kalian dan memuaskan hati kalian.



Terima kasih semuanya,
Gina
Share:

Erase

Aku kembali duduk sendirian di kedai kopi ini. Hanya dengan memesan secangkir kopi arabica aku melewatkan puluhan menit di tempat ini dengan tanpa suara, memandangi layar putih laptopku dengan jendela Microsoft Word terpampang di monitor utama. Layarñya masih merdeka dari jajahan huruf dan angka,  tapi hatiku masih dijajah kamu. Ya kamu yang sejak akhir tahun lalu wara-wiri di hatiku masih saja bercokol disana padahal kau sudah isyaratkan perpisahan sejak berbulan-bulan lalu.

Beberapa kali aku mulai mengetikkan deretan huruf, tapi mereka selalu terbunuh dengan tombol backspace yang aku tekan cukup lama. Aku ingin mengetikan sesuatu tentangmu, aku ingin berhasil mengeluarkan mu dari kepalaku sama hal nya ketika aku mengekspresikan kebahagiaan saat kau ucapkan cinta kala itu, atau menuliskan cerita ketika linangan air mata tak mampu menghapuskan duka saat kau memilih menghindar dari aku --- menjauh dari jangkauanku.

Harusnya menghapusmu semudah menekan tombol 'backspace'; sesederhana menekan tombol 'delete'; secepat aku mengklik icon bin. Tapi kali ini sulit. Terlanjur rumit ketika kau inginkan secuil hatiku lagi.

Aku lelah harus kembali terjebak pada hati yang pernah usir aku pergi.

Kita sudahi saja ya

Share:

Sunday, November 2, 2014

(se)tengah bahagia

Akhir-akhir ini satu persatu harapan dan impian mulai terkabul, tapi aku selalu saja kesulitan untuk menuliskannya menjadi sebuah cerita supaya orang tahu bahwa kisahku tak melulu tentang kepatahhatian saja. Apa mungkin karena kebahagiaanku buatmu terluka? Karena masih ada air mata kesedihan seiring suka cita yang kini aku punya.

__________________
kamu, simalakama bahagiaku.
Bertahanlah,
Coba tersenyumlah denganku

Share: