Saturday, September 7, 2013

Surat Untukmu yang Aku Tunggu

Hallo kamu,

Yaa, kamu yang ada disana. Laki-laki yang menyayangi ibunya, menghormati ayahnya, mengasihi adiknya dan faham agamanya. Kamu yang selalu aku tunggu meski kita tak pernah bertemu.

Bagaimana kabarmu? Aku harap kau selalu dalam lindungan-Nya.

Saat aku menuliskan ini, aku baru saja menyelesaikan solat hajatku. Meminta pada Tuhan agar aku bisa segera bertemu denganmu dalam ikatan sakral yang bisa membuatku masuk surga karenamu.

Sering kali aku bertanya-tanya. Harus berapa lama aku menunggumu? Sehari? Sebulan? Setahun? Bisakah kamu segera muncul? Aku tak sabar untuk dapat bertemu denganmu. Mengetahui rupamu. Menatap lama-lama kedua matamu. Mendengar suaramu. Tak perlu takut aku tak menyukai fisikmu! Aku tak peduli dengan postur tubuhmu, tinggi badanmu, warna kulitmu ataupun bentuk wajahmu. Selama kau berani bertemu ayahku, meluluhkan hati ibuku dan mengasihi kedua adikku, kau sudah mendapatkan cintaku.

Aku menduga-duga, apa hobimu?

Mungkin kau suka berolahraga. Pergi jogging setiap Minggu pagi, bermain futsal di Jum'at malam, nge-gym di hari Selasa, Rabu dan Kamis atau simply having tread-mill di Hari Senin. Kau mungkin punya badan yang bagus jika suka berolah raga. Atau kau tipe orang yang senang tinggal di dalam ruangan, membaca buku seharian? Kau suka novel klasik milik kakek Hemingway, atau fiksi milik Dan Brown. Tenggelam seharian dalam buku-buku mereka. Aku juga suka membaca. Membaca komik dan fiksi lebih tepatnya. Biasanya aku menghabiskan beberapa jam untuk membaca habis satu novel, dan hanya menghabiskan beberapa puluh menit untuk membaca komik. Aku senang jika kita bisa menghabiskan waktu berdua. Berdiam diri berhadapan sambil membaca buku. Meski tak banyak bicara dan tak banyak yang kita lakukan, membayangkannya saja sudah sangat menyenangkan.

Ah, mungkin kau lebih menyukai musik. Memainkan satu-dua alat musik sambil bersenandung di pojok ruangan. Aku menyukai lirik-lirik lagu yang romantis. Dan sejujurnya aku lebih menyukai lagu-lagu lama seperti Autumn Leaves atau L.O.V.E yang dinyanyikan oleh Nat King Cole. Tapi seleraku tak setua itu kok. Aku masih suka lagu-lagu milik Justin Timberlake ataupun Eminem. Yaa, tergantung lirik lagunya. Jika bisa membuatku terkesima, maka aku akan menyukai lagunya.

Atau ternyata kau penyuka jalan-jalan dan wisata kuliner. Ajak aku serta pliss, pliiisss ... Aku tak pernah benar-benar pergi jalan-jalan atau mencoba semua masakan. Mungkin karena aku cuma anak rumahan di kota kecil. Terbiasa go home right after school dan dilarang jajan yang aneh-aneh sama ayah-ibu. Pasti akan menyenangkan sekali merasakan petualangan mengunjungi tempat-tempat baru, mencicipi makanan-makanan asing. Aku sangat menunggu kesempatan seperti itu.

Ada beberapa paradoks dalam hidupku yang sepatutnya engkau tahu. Pertama, aku tak menonton TV di rumah sejak sekolah dasar hingga aku lulus dari perguruan tinggi. Tapi aku senang menonton Film. Aneh. Memang. Di zaman ini bagaimana bisa keseharian dilepaskan dari keberadaan TV? Bagaimana bisa tidak menonton TV tapi menyukai Film? Tapi itulah yang terjadi.

Kedua, saat ini aku bekerja di bagian RnD salah satu TV Swasta besar di negeri ini, padahal aku lulusan Akuntansi. Sebuah pekerjaan yang tak pernah terlintas dalam hidupku terlebih ketika aku memulai kehidupan perkuliahan dulu. Hidup memang penuh misteri, kadang tak bisa ditebak dan jauh melampaui apa yang bisa manusia bayangkan.

Melihat dua paradoks paling jelas dalam hidupku membuatku memikirkan kamu. Apa dirimu akan menjadi bagian dari paradoks hidupku? Jujur saja, tak banyak laki-laki yang dekat denganku. Jumlah mereka tak lewat dari jumlah jari yang ada di kedua tanganku. Apa mungkin kau adalah laki-laki yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Kau seorang astronot misalnya. menemukan salah satu surat yang aku pernah kirimkan menggunakan balon berisi nitrogen ke angkasa.Oke, itu terdengar mustahil dan mengada-ngada. Tapi siapa yang tahu? Paradoks bukankah begitu? Tampak seperti mustahil namun itu kebenarannya.

Aku ingin bilang padamu untuk segera datang. Tapi jujur saja, aku masih belum siap bertemu denganmu di tahun ini. Bagaimana jika kau datang saja tahun depan? Minimal kau temui aku dalam alam mimpi. Muncul di hadapanku dan bilang, 'Maukah kamu menjadi halalku?'
Share:

4 comments:

Free to speak up is still under circumstances, no violence