Monday, June 15, 2020

I tried to write a poem all day
But, I couldn't find a way
To describe how badly I want to play
With my boys at the waterway

Now, everyone in this planet always pray
That together we can have a holiday
Running down the hill and screaming hooray
Flee from yelling mayday, mayday
Share:

Saturday, January 18, 2020

Balada Malam Minggu: Tenaga yang Ku Punya

Semakin bertambah usia semakin membuat saya sibuk berdiskusi dalam kepala. Membicarakan ini-itu sendirian, mencoba memahami dan memikirkan dari berbagai sisi sebelum akhirnya saya mencetuskan isi pikiran. Saya tidak yakin apa di jaman 80-90an berpendapat akan se-'begini' merepotkan, ataukah hanya saya yang punya ketakutan yang berlebihan?

Saya bukan tipe orang yang ribet. Kalau saya mau dan mampu tentu akan saya lakukan. Kalau saya tidak mampu, ya akan saya tunda realisasikan. Saya punya sederet resolusi tahunan, tapi hanya ada segelintir prioritas yang mampu saya tetapkan. Saya tak jadikan itu persoalan. Saya faham itu namanya kehidupan. Tak melulu yang diharapkan menjadi kenyataan.

Di usia menuju 30 ini saya mulai memahami, bahwa saya tidak bisa mengontrol orang sekehendak hati. Saya yang dibesarkan di lingkungan homogen cukup terkejut ketika harus hidup di lingkungan dengan perbedaan yang tinggi. Semakin syok menyadari bahwa spektrum warna tidak hanya pelangi. Memahami orang yang aku pikir bisa dilakukan dengan toleransi, kini saya dapati sebagian orang hanya mementingkan diri sendiri.

Nyatanya ada orang yang menggunakan orang lain untuk mencapai tujuannya. Menggunakan orang lain untuk menjadi tamengnya, bumper-nya. Dia gunakan orang lain layaknya lilin yang digunakan penjual masakan menghalau lalat. Ya kalau masakannya busuk, berapapun lilin yg dinyalakan tetap saja mengundang lalat. Kalaupun berhasil menghalau lalat, tidak mengubah kenyataan bahwa masakannya memang busuk, dan mampu meracuni siapapun yang menyantapnya.

Aku lalu kembali begulat dengan kepalaku. Entah apa yang mereka pikirkan tentangku ketika aku sendiri punya penilaian tentang mereka. Aku rasa cukup sampai disini saja. Aku punya harapan, dan itu cukup aku panjatkan kepada Tuhan Semesta Alam.
Share:

1826 Hari Kemudian

Luar biasa, kita tidak bertengkar.

Lagi pula kita terlampau malas untuk berdebat panjang tentang nilai moral yang kita anut. Lebih enak menyeruput kopi dengan logo putri duyung dan melanjutkannya dengan makan malam steak New Zealand Sirloin yang dipanggang well done dengan saus black pepper. Yaaa, aku tahu. Aku yang bayar. Itu harga yang murah untuk bisa melihat tawa kemenangan di wajahmu yang selalu aku rindukan.

Kamu ingat diskusi-diskusi panjang tentang "pulang ke rumah", atau tentang "buah tangan", atau tentang "mengunjungi kerabat". Diskusi-diskusi itu tak pernah dimenangkan oleh siapa pun. Empat tahun kita terus mendebatkannya, dan kini kita menyerah. Kita terlanjur hafal apa yang diinginkan oleh yang lainnya dan engan untuk mempertahankan keinginan sendiri.

Kini kita mampu membicarakannya sebatas untuk mereview apa yang terjadi. Lebih banyak membuka diri dan mengkomunikasikan isi hati. Terlalu banyak hal di luar kendali. Yang mampu kita lakukan sebatas menjaga diri. 

Berdoa terus, berdoalah lagi.
Harapan demi harapan bukanlah sekedar mimpi.
Semoga kita menjadi lebih baik lagi.
Share:

Tuesday, September 3, 2019

penjudi yang kapok duluan


Aku memberanikan diri bermain judi. Turut menenggak arak berusaha berbaur dengan mereka yang sudah lebih dulu tenggelam dalam mabuk. Di tengah waras yang hampir kalah, aku berpikir bahwa esok mungkin aku akan menjadi gila dengan segala denyut yang menyiksa kepala. Terlebih aku masih saja terus menurut untuk menelan literan najis yang terus mereka sodorkan dibalut dusta yang aku tahu bisa membunuhku kapan saja. Ah, aku tidak tahu seberapa lama tubuh ini akan bertahan. Semenit-dua menit? Aku yakin bila aku mati, mereka masih berpesta pora hingg pagi.

Eh, tapi tunggu dulu. Waras ini masih ada meski aku sudah tak bisa mengontrol fungsi motorikku lagi. Aku masih mampu melihat meski mereka menertawaiku amatir di permainan yang mereka kuasai sejak lahir. Mereka memeriksa barang bawaanku, menilai hargaku, dan larut dalam ria merasa sudah mampu mengalahkanku dalam judi yang mereka ciptakan sendiri.

Aku memilih mempertahankan sedikit waras yang tersisa. Berjanji pada diri juga semesta tidak akan mau menegak haram itu lagi. Sial untuk mereka, rupanya Tuhan memilihku dalam permainan ini. Dia menyiapkan kartu bagus yang mampu membuat mereka bangkrut di ujung tawa ceria. Haha, aku tidak kalah hanya karena ditaklukan arak dalam mabuk yang menyiksa. Rupanya ini cara Tuhan menunjukkan kuasanya, atas takdir yang sekehendak hati dia ciptakan bagi makhluknya.

Aku dari dulu percaya dan kini semakin percaya. Tuhan satu-satunya yang bisa aku mintai pertolongan. Yang aku harus usahakan adalah menjaga sadar ini bertahan hingga bisa gerakkan tangan dan menunjukkan kartu kemenangan.

Share:

Thursday, August 29, 2019

Agustus Tahun ketiga

Semestaku sebelum kamu hadir adalah dunia yang sistematis. Aku tahu apa yang akan aku lakukan untuk 24 jam kedepan, kegiatan apa yang akan aku lakukan di akhir pekan dan aku tidak memusingkan diri jika akan pulang larut malam. Toh semuanya itu hanya butuhkan satu persetujuan dari dia yang kita berdua panggil papa.

Aku punya definisi sendiri mengenai terik mentari yang mampu ubah air menjadi wujud tak kasat mata. Aku punya romantisasi imaji atas hujan yang basahi bumi. Dan aku punya ketidaksukaan atas bising rengekan anak yang memecah sunyi.

Kemudian kamu datang.

Membuat aku merevisi ulang macam-macam pengertian. Dengan cara yang polos dan murni kau membuatku merasakan sekaligus mensyukuri segala hal yang tidak akan mungkin kembali ke titik yang sama lagi. Kau dan tumbuh-kembangmu adalah keniscayaan yang tidak mungkin bisa aku ulangi.

Maka, lewat tulisan ini aku akan sampaikan terima kasih telah lahir dari rahim ini. Kamu yang selalu papa dan mama harapkan. Kami mungkin bukan orang tua yang kamu inginkan. Sayang inilah takdir Tuhan. Akan kami jalani peran orang tua kami untukmu sebaik yang kami bisa. Satu yang kami harapkan sebagai balas jasa, mencintai dan menghormati kami dengan sepenuh hati. Karena sungguh kami berharap bahwa kita akan berkumpul lagi di akhirat nanti.

Perjalanan kita dimulai dari kelahiranmu. Aku tidak tahu kapan akhir dari kita menyapa, kemungkinan besar itu akan terjadi saat kematian tiba. Tapi yang pasti dari perjalanan kita hingga saat ini adalah aku menikmatinya, mensyukurinya dan mengabadikannya dalam ingatan yang bisa aku putar kembali kapan saja.

Sayang, biarkan aku menuliskan apa yang aku mau dengan jalan yang paling aku suka. Izinkan aku untuk mengabadikan kisah kita bahwa sebelum kamu mengenal wanita lain dari hidupmu aku adalah satu-satunya wanitamu yang mengasihimu sepenuh hati. Bahwa tanganku ini yang menyuapimu di awal-awal masa MP-ASI. Bahwa kita senantiasa bergandengan saat kamu belajar melangkah kaki. Bahwa ada malam-malam tanpa tidur saat kamu terserang demam dan kami menjagamu dengan sepenuh hati. Ada hari-hari penuh tawa saat gusimu baru ditumbuhi  gigi. Dan ada pula masa kita berdebat mengenai mainan yang ingin kamu miliki.

Sayang. Surat ini hanya sebuah permulaan dari tulisanku tentang kita. Aku tidak tahu apakah kamu akan menerima dan membacanya kelak. Toh saat ini kamu baru mulai membiasakan diri untuk membaca. Kamu begitu fasih membaca simbol-simbol belum mengerti mengenai huruf dan angka. Jika saatnya tiba kamu bisa membaca tulisan yang mama tulis sebagai aliran rasa, mama harap kamu memahami bahwa mama dan papa selalu mencintaimu bagaimana pun keadaannya.

Penuh cinta
Dari mama dan papa


sebagai Aliran rasa level 5

Share: