Tuesday, September 3, 2019

penjudi yang kapok duluan


Aku memberanikan diri bermain judi. Turut menenggak arak berusaha berbaur dengan mereka yang sudah lebih dulu tenggelam dalam mabuk. Di tengah waras yang hampir kalah, aku berpikir bahwa esok mungkin aku akan menjadi gila dengan segala denyut yang menyiksa kepala. Terlebih aku masih saja terus menurut untuk menelan literan najis yang terus mereka sodorkan dibalut dusta yang aku tahu bisa membunuhku kapan saja. Ah, aku tidak tahu seberapa lama tubuh ini akan bertahan. Semenit-dua menit? Aku yakin bila aku mati, mereka masih berpesta pora hingg pagi.

Eh tapi tunggu dulu. Waras ini masih ada meski aku sudah tak bisa mengontrol fungsi motorikku lagi. Aku masih mampu melihat meski mereka menertawaiku amatir di permainan yang mereka kuasai sejak lahir. Mereka memeriksa barang bawaanku, menilai hargaku, dan larut dalam ria merasa sudah mampu mengalahkanku dalam judi yang mereka ciptakan sendiri.

Aku memilih mempertahankan sedikit waras yang tersisa. Berjanji pada diri juga semesta tidak akan mau menegak haram itu lagi. Sial untuk mereka, rupanya Tuhan memilihku dalam permainan ini. Dia menyiapkan kartu bagus yang mampu membuat mereka bangkrut diujung tawa ceria. Haha, aku tidak kalah hanya karena ditaklukan arak dalam mabuk yang menyiksa. Rupanya ini cara Tuhan menunjukkan kuasanya, atas takdir yang sekehendak hati dia ciptakan bagi makhluknya.

Aku dari dulu percaya dan kini semakin percaya. Tuhan satu-satunya yang bisa aku mintai pertolongan. Yang aku harus usahakan adalah menjaga sadar ini bertahan hingga bisa gerakkan tangan dan menunjukkan kartu kemenangan.

Share:

Thursday, August 29, 2019

Agustus Tahun ketiga

Semestaku sebelum kamu hadir adalah dunia yang sistematis. Aku tahu apa yang akan aku lakukan untuk 24 jam kedepan, kegiatan apa yang akan aku lakukan di akhir pekan dan aku tidak memusingkan diri jika akan pulang larut malam. Toh semuanya itu hanya butuhkan satu persetujuan dari dia yang kita berdua panggil papa.

Aku punya definisi sendiri mengenai terik mentari yang mampu ubah air menjadi wujud tak kasat mata. Aku punya romantisasi imaji atas hujan yang basahi bumi. Dan aku punya ketidaksukaan atas bising rengekan anak yang memecah sunyi.

Kemudian kamu datang.

Membuat aku merevisi ulang macam-macam pengertian. Dengan cara yang polos dan murni kau membuatku merasakan sekaligus mensyukuri segala hal yang tidak akan mungkin kembali ke titik yang sama lagi. Kau dan tumbuh-kembangmu adalah keniscayaan yang tidak mungkin bisa aku ulangi.

Maka, lewat tulisan ini aku akan sampaikan terima kasih telah lahir dari rahim ini. Kamu yang selalu papa dan mama harapkan. Kami mungkin bukan orang tua yang kamu inginkan. Sayang inilah takdir Tuhan. Akan kami jalani peran orang tua kami untukmu sebaik yang kami bisa. Satu yang kami harapkan sebagai balas jasa, mencintai dan menghormati kami dengan sepenuh hati. Karena sungguh kami berharap bahwa kita akan berkumpul lagi di akhirat nanti.

Perjalanan kita dimulai dari kelahiranmu. Aku tidak tahu kapan akhir dari kita menyapa, kemungkinan besar itu akan terjadi saat kematian tiba. Tapi yang pasti dari perjalanan kita hingga saat ini adalah aku menikmatinya, mensyukurinya dan mengabadikannya dalam ingatan yang bisa aku putar kembali kapan saja.

Sayang, biarkan aku menuliskan apa yang aku mau dengan jalan yang paling aku suka. Izinkan aku untuk mengabadikan kisah kita bahwa sebelum kamu mengenal wanita lain dari hidupmu aku adalah satu-satunya wanitamu yang mengasihimu sepenuh hati. Bahwa tanganku ini yang menyuapimu di awal-awal masa MP-ASI. Bahwa kita senantiasa bergandengan saat kamu belajar melangkah kaki. Bahwa ada malam-malam tanpa tidur saat kamu terserang demam dan kami menjagamu dengan sepenuh hati. Ada hari-hari penuh tawa saat gusimu baru ditumbuhi  gigi. Dan ada pula masa kita berdebat mengenai mainan yang ingin kamu miliki.

Sayang. Surat ini hanya sebuah permulaan dari tulisanku tentang kita. Aku tidak tahu apakah kamu akan menerima dan membacanya kelak. Toh saat ini kamu baru mulai membiasakan diri untuk membaca. Kamu begitu fasih membaca simbol-simbol belum mengerti mengenai huruf dan angka. Jika saatnya tiba kamu bisa membaca tulisan yang mama tulis sebagai aliran rasa, mama harap kamu memahami bahwa mama dan papa selalu mencintaimu bagaimana pun keadaannya.

Penuh cinta
Dari mama dan papa


sebagai Aliran rasa level 5

Share:

Wednesday, July 3, 2019

Aliran rasa

Family projek yang menjadi tugas level 3 ini kami kerjakan dengan proses dibawah ekspektasi saya.

Tentu jika waktu memungkan, akan saya buat famili projek yang lebih baik dan semoga dapat dijalankan dengan baik pula.

Share:

Sunday, June 30, 2019

Level 3: Melatih Kecerdasan Hidup Day #10

Saya rasa amarah yang sering ditunjukkan oleh anak saya terlalu mirip dengan amarah yang saya punya.

Saya bahkan biaa memastikan bahwa amarah itu Ibnu tiru dari saya.

Melihat Ibnu yang beberapa hari ini lebih sering berbaring sementara saya masih suka terjebak dalam perasaan kesal setiap kali ada hal yang terjadi di luar harapan saya, membuat saya yakin bahwa amarah yang suka ibnu tunjukkan berasal dari saya.

Saya salah satu sumber 'contoh' melampiaskan amarahnya. Dan saya yang harus lebih dahulu diperbaiki agar Ibnu bisa mengendalikan amarahnya.
Share:

Level 3: Melatih Kecerdasan Hidup Day #9

Saya cukup lega pada akhirnya menemukan dokter yang konon termasuk senior di kota ini.

Tapi jujur saja saya tidak puas dengan pelayanannya.

Tak ada penjelasan atas penyakit anak saya

Cara perawatnya memberi obat kepada anak sungguh mengerikan.

Dan kenapa pula saya harus menunggu di luar sementara anak saya di ruang periksa dan akan diambil darahnya?

Tipe pengobatan kuno yang memaksa.

Saya memaksa meminta penjelasan tentang penyakit anak saya. Saya meminta perawat untuk menyuapi obat anak saya oleh diri saya sendiri dan saya memaksa perawat untuk menemani anak saya saat diambil sampel darahnya.

Pasien memang mencari kesembuhan. Tapi mengingat baik dokter maupun pasien sama-sama manusia, apa salahnya melakukan komunikasi yang baik? Dokter bukan Tuhan. Jika aturan Tuhan memang tak bisa dipertanyakan, tapi keputusan atas tindakan dokter tentu harus bisa dijelaskan dan mendapatkan persetujuan dari wali pasien.

Projek kali ini benenar-benar hanya untuk saya sendiri. Projek mengendalikan amarah.
Share: