Thursday, November 20, 2014

Titik (.)

Sial, hal paling nyata adalah ketidakmampuanku beranjak dari menuliskanmu. Sudah aku coba menuliskan yang lain, tapi mereka hanya berakhir sebagai paragraf pertama di folder draft; kisahnya tak mampu aku lanjutkan ataupun selesaikan, karena menuliskannya seperti tak punya nyawa, mati rasa, hambar saja.

Tapi apa kata dia si jodoh yang aku cinta jika dia baca semua tulisanku adalah tentangmu? Tidakkah itu akan jadi masalah baru untukku? Akankah dia berfikir aku 'masih' terjebak dalam kisah cinta lama yang tak bisa aku lupa? Itu ketakutan terbesarku disaat aku akhirnya temukan cinta terakhirku tapi aku tak punya kemampuan untuk menuliskan kisah cinta selain kamu.

Bukankah roda berputar, seharusnya jika aku bisa menuliskanmu dengan segenap rasa yang membuat ceritanya seperti hidup seolah nyata ---- seharusnya aku bisa membunuhmu dan ciptakan kisah baru yang dipenuhi cinta tanpa kegalauan dan kepatahatian yang menyakitkan. Aku ingin tuliskan tanda 'titik', sebagai tanda akhir cerita. 

________
Teruntuk kamu tulisan galau yang setengah mati aku coba untuk tinggalkan.
Share:

0 comments:

Post a Comment

Free to speak up is still under circumstances, no violence