Tuesday, November 4, 2014

Erase

Aku kembali duduk sendirian di kedai kopi ini. Hanya dengan memesan secangkir kopi arabica aku melewatkan puluhan menit di tempat ini dengan tanpa suara, memandangi layar putih laptopku dengan jendela Microsoft Word terpampang di monitor utama. Layarñya masih merdeka dari jajahan huruf dan angka,  tapi hatiku masih dijajah kamu. Ya kamu yang sejak akhir tahun lalu wara-wiri di hatiku masih saja bercokol disana padahal kau sudah isyaratkan perpisahan sejak berbulan-bulan lalu.

Beberapa kali aku mulai mengetikkan deretan huruf, tapi mereka selalu terbunuh dengan tombol backspace yang aku tekan cukup lama. Aku ingin mengetikan sesuatu tentangmu, aku ingin berhasil mengeluarkan mu dari kepalaku sama hal nya ketika aku mengekspresikan kebahagiaan saat kau ucapkan cinta kala itu, atau menuliskan cerita ketika linangan air mata tak mampu menghapuskan duka saat kau memilih menghindar dari aku --- menjauh dari jangkauanku.

Harusnya menghapusmu semudah menekan tombol 'backspace'; sesederhana menekan tombol 'delete'; secepat aku mengklik icon bin. Tapi kali ini sulit. Terlanjur rumit ketika kau inginkan secuil hatiku lagi.

Aku lelah harus kembali terjebak pada hati yang pernah usir aku pergi.

Kita sudahi saja ya

Share:

0 comments:

Post a Comment

Free to speak up is still under circumstances, no violence