Sunday, November 30, 2014

Tanda Seru (!)

Terkutuklah rasa takut itu!

Dia penyebab utama aku tak berani katakan bahwa aku cintaimu.  Jadilah kini aku berdiri sebagai orang yang kalah dan patah hati, menatap punggung yang merangkul hangat sosok mungil berambut pajang melangkah pergi.

Jika aku putar ingatanku ke tahun-tahun silam, aku akan menemukan sosok acuh berambut gondrong menungguku di depan gang. Dia akan bersungut-sungut ketika aku datang dan duduk di jok belakang. Menceramahiku yang suka ngeret kelewatan. Tapi aku tahu kamu; aku mengenalmu sebaik kamu mengenal dirimu sendiri. Semangkok bakso sebagai sogokan bisa ciptakan senyuman yang mampu menyipitkan kedua matamu.

Sempurna.

Kau adalah lelaki yang serba ada. Kau tegas, kau cekatan, kau pengertian, dan kau penuh perhatian. Kau tahu benar jika aku sedang tak enak badan, kau tahu benar jika aku sedang dilanda kebosanan, dan kau sudah tentu tahu jika aku merasa senang. Sebagai teman dengan kedekatan hanya sejengkal jari tangan, kau buat aku ketakutan akan kehilangan. Pengertian kehilanganku untukmu bukan pada jarak yang memisahkan, melainkan pada kenyamanan yang akan aku sesalkan ketidakberadaannya.

Ketakutan yang mengutukku ini sungguh keterlaluan. Aku sudah berusaha setengah mati untuk mengikuti rasa takut itu dengan tetap memendam rasa cinta yang menyiksa, tapi lalu apa? Aku dikhianati oleh rasa takutku sendiri. Pada akhirnya dia tetap di sisi dengan kenyamanan yang tidak sama lagi.
Share:

2 comments:

  1. Gina, uber liking your word choices!
    "Pada akhirnya dia tetap di sisi dengan kenyamanan yang tidak sama lagi." This is strikingly on point. LOVE!

    ReplyDelete
    Replies
    1. ha! no kidding kan van? i have goosebumbs rite now

      Delete

Free to speak up is still under circumstances, no violence