Saturday, April 4, 2015

Tidak demikian

Saat aku memutuskan untuk menikah, seorang teman berkelakar,  katanya aku telah menemukan pria yang sempurna untuk dinikahi. Katanya dia cukup tampan, memiliki pekerjaan,  orang tuanya baik tipikal yang kekinian. Aku tersenyum, tidak menyanggah ataupun mengiyakan. Aku tak mau berdebat ataupun repot-repot menjelaskan mengapa aku begitu tiba-tiba memutuskan untuk menikah. Lagipula ini bukan perihal kesempurnaannya yang datang dengan sebuah lamaran. Ini masalah kefahaman dan tentu saja ini adalah takdir Tuhan.

Lagipula, meski tampan dan mapan adalah salah satu kombinasi yang diidamkam perempuan; meski keduanya bisa jadi hal yang kita pamerkan kepada teman-teman; meski menikahi keduanya dalam satu tubuh artinya bisa menikmatinya setiap saat atas dasar kepemilikan, tapi bukankah berada disampingnya untuk seumur hidup akan melelahkan? Karena pada satu titik dan seterusnya, ini bukan lagi perihal menyenangkannya bersanding dengan dia yang tampan dan mapan, tapi tentang memantaskan diri dan menyamakan kedudukan.

Memang benar sangat beruntung berpasangan dengan dia si tampan yang mapan. Bahkan keliatannya berjalsn bersisian dengannya sepeeti ada sebuah kebanggaan. Tapi ini bukan hanya tentang tampan dan mapan. Ini tentang keserasian dan menyamakan kedudukan. Akan sangat melelahkan jika harus menjalani hidup demikian. Perjodohan bukanlah sekedar tampan dan mapan, sayang. Pernikahan itu atas dasar kefahaman,  dan tentu saja takdir Tuhan.

Share:

0 comments:

Post a Comment

Free to speak up is still under circumstances, no violence