Saturday, April 18, 2015

Kedai lewat tengah malam

Aku selalu suka aroma kopi. Wanginya khas, buat aku tenang.

Jadi, saat aku tidak tenang, aku memilih untuk mencium bau kopi. Beruntung aku hidup di ibu kota. Meski hampir tengah malam, aku tak kehabisan harapan untuk menemukan kedai kopi yang masih buka. Sebuah kedai dengan logo putri duyung tampak bersedia melayani 24 jam sehari. Pintu nya aku dorong, membunyikan klenengan yang digantung di kusen nya.

Seorang bartender menoleh ke arahku. Dia terlihat mengantuk. Sepertinya sudah kelelahan meracik kopi sedari sore.

Saat aku berdiri tepat di hadapan nya,  dia mulai menyapa dengan pertanyaan standarnya, "Selamat malam, mau pesan apa?"

Jujur, meski aku suka aroma kopi, meski hampir tengah malam begini aku datang ke kedai kopi,  aku bukan peminum kopi. Tak ada satupun menu kopi yang aku bisa nikmati dari kedai ini.

"Aku hanya beli ini" kataku sambil memungut benda kuning dengan bungkus plastik transparan. Aku menyodorkannya untuk dibuatkan tagihannya.

"Hanya ini?" Tanya dia dengan pertanyaan standarnya, tapi aku tahu ada nada tak percaya di dalamnya. Tengah malam begini dia melayani pembeli pisang di kedai kopi!

"Kau mau brewed coffee? It's on me!" Kataku setelah ide gila terbesit begitu saja.

Dia tak menjawab, terlihat ragu atas tawaranku.

Ya, ibu kota mengajarkan kita untuk tidak mudah percaya kepada orang asing. Dan kejadian malam ini pun memang patut dicurigainya.

"Untukku saja! Buatkan brewed kopi itu untukku!"

Suara berat itu menarik perhatianku. Seorang laki-laki mengantri tepat dibelakangku dan menguping percakapanku dengan bartender sekaligus pelayan kedai. Aku sedikit terkejut. Ide gila ini disambut oleh orang gila lainnya.

"Kamu tak keberatan kan brewed coffee itu untukku?"

Aku mengangkat kedua alisku. "Brewed coffee, satu" kataku pada pelayan.

Pelayan itu dengan siap mengetikan kode yg sudah dihafalnya dan memintaku untuk membayar semua pesananku di muka.

Aku memberikan selembar uangku dan ditukarnya dengan uang nominal kecil juga struk tanda pembelian. Aku beringsut duduk di kursi bulat tinggi tak jauh dari tempatku berdiri. Laki-laki itu kemudian duduk di sebelahku. Dia menunggu brewed coffee yang dia inginkan.

Tak butuh waktu lama, pelayan itu menyajikan secangkir kopi dengan asap mengepul. Fan AC memamerkan aromanya ke seluruh penjuru ruangan. "Minumlah sedikit demi sedikit" pintaku yang lebih mirip dengan sebuah perintah.

"Kenapa kau lakukan itu?" Tanya laki-laki itu sambil menatapku yang mulai mengeluarkan pisang dari plastik pembungkusnya.

"Melakukan apa?"

"Meminta orang lain meminum kopimu!"

"Aku butuh aroma kopi. Sayangnya tak ada yang minum kopi panas malam ini di sini"

"Kau bisa meminum kopimu sendiri, menikmati aromanya sendiri"

Aku menatapnya. Dia tampak ingin tahu.

"Aku tak minum kopi" kataku pendek. Aku tahu dia mengharapkan lebih dari sebuah jawaban pendek. Tapi aku tak tertarik untuk memberikan dia alasan. Lagipula jawaban ini cukup berhasil membuangkamnya. Aku bisa mencium aroma kopi sambil menyantap pisangku dengan tenang.

"Kau hamil!" Katanya tiba-tiba.

Aku menolehkan kepalaku ke arahnya. Matanya berbinar seolah puas karena dia bisa menebak dengan tepat.

"Apa aku terlihat buncit?" Tanyaku pelan.

Dia mendengus.  Kecewa karena dia merasa tebakannya salah. "Aku masih tidak mengerti mengapa kamu membiarkan orang lain meminum kopimu?"

"Aku butuh aroma kopi, itulah alasanku datang kesini. Tapi tak ada aroma kopi disini. Ice - blended coffee tak memberikan aroma yang aku inginkan. Itulah alasanku membelikanmu brewed coffee."

"... karena kau tidak minum kopi"

"Tepat sekali"

"Karena kau hamil?"

Aku mengangkat kedua alisku

"Meski kau tidak buncit, tapi kau tidak minum kopi karena hamil?"

Aku menggerlingkan mataku dan menghabiskan pisangku. "Aku hanya tidak minum kopi. I can't help it! But yes i am pregnant"

Matanya kembali membulat. "Congratulation!"

"Thank you"

Ponselku bergetar, sebuah pesan baru saja masuk.

"Mas, brewed coffee, 1 lagi, take away ya" kataku setengah berteriak.

Pria asing yang aku traktir terheran-heran melihat tingkahku. "Kau akan mulai minum kopi?" Katanya, kembali menebak-nebak alasanku.

kali ini aku hanya mengangguk lalu tersenyum. Ups, aku segera memperhatikan deretan gigiku dari pantulan punggung ponselku. Aku tak mau tersenyum dengan sela-sela gigi dipenuhi pisang warna kuning.

"Wanita hamil memang senang melakukan hal yg absurd" katanya setengah mengomentari tingkahku.

"Brewed coffee" kata pelayan menyodorkan satu take away coffee untukku.

"Thank you"

"Kau benar-benar akan minum kopi?" Tanya pria itu penuh selidik.

"Ya..." kataku cepat. Tanganku kini sibuk merapikan penampilanku. "Hanya sedikit" tambahku dengan satu kedipan mata.

Ponselku kembali bergetar, tapi belum sempat aku melihatnya pintu kedai terbuka diiringi suara lonceng yang ada di atasnya. Seorang pria jaket dan bersepatu boot masuk, di bahu kanan menggantung sport bag sedangkan tangan kirinya menggeret sebuah koper besar.

Alasanku tidak tenang malam ini muncul. Dia nampak lelah, kumisnya tumbuh lebih lebat dari yang kuingat, dan dagunyapun turut ditumbuhi bulu-bulu rambut hitam. tapi dia masih saja terlihat luar biasa sama seperti pertama kali aku jatuh cinta padanya.

"Welcome home" kataku dengan seringai lebar. Aku tak tahan untuk memeluknya dan membuatnya sedikit limbung karenanya. Dia membalas pelukanku lalu menatapku tak percaya. "It is positive!" Katanya lalu meraba perutku.

"Yes..."

"God bless!" Dia mencium keningku lalu kembali memelukku.

"Wow... woooowww.... public place!" Kata orang asing itu menghancurkan momen bahagia kami.

"Sorry,  I'm just too happy"

"Have your coffee before it turns cold, dude!" Katanya mengingatkanku pada kopi tambahan yang aku pesan.

Suamiku segera menyeruput kopinya. Aku menarik tas-tasnya yang besar agar tidak menghalangi ruang setapak kedai meski aku sendiri tak yakin akan ada pelanggan lain yang datang selarut ini.

"Hei lady, don't you wanna have your coffee? Sip it! It's the time!"

Aku tertawa. Suamiku sepertinya kebingungan dengan apa yang aku tertawakan. Dia nampak menggemaskan dan dengan cepat aku mendaratkan ciuman singkat di bibirnya.

"How is it taste?" Tanya orang asing itu.

"Well, that's bitter!" Kataku masih sambil menahan tawa.

"What's going on? And who is this dude?"

"Nothing really!  He's just a random person i met in the coffee shop. What's your name, anyway?" Kataku ringan.

"Just call me Luke!"

Share:

0 comments:

Post a Comment

Free to speak up is still under circumstances, no violence