Wednesday, April 1, 2015

Tanda Baca: Spasi

Aku bukan seorang perenung. Tapi jujur saja, waktu jeda seperti saat harus duduk diam dalam mobil, waktu saat diam menunggu dalam antrian, atau ketika berdiri di halte menunggu jemputan; aku, lebih tepatnya otakku selalu saja mencari-cari kegiatan diluar kendaliku. Berfikir misalnya. Aku bisa memikirkan hal yang baru saja aku lihat. Tapi yang menyakitkan buatku adalah memikirkan hal yang sudah lampau. Beberapa kali memikirkannya bisa membuatku merasa sakit, tak jarang disertai derai air mata, yang lebih parah, aku bisa saja melanjutkannya dengan penghakiman atas apa atau siapa yang pantas dipersalahkan.

Atas itulah aku tidak menyukai waktu jeda. Aku menghindari waktu dimana aku tak melakukan apa-apa. Aku menghindari waktu yang berpotensi menyakiti diriku sendiri. Tapi kali ini,  saat aku harus duduk menunggu nomor antrianku disebutkan oleh pengeras suara, aku memikirkan esensi dari 'jeda'.

Apa jadinya jika alfabet tidak mau disandingkan dengan jeda. Bisa jadi huruf-huruf itu akan saling bertumpuk dan aku tak bisa membacanya. Atau, meski dia berderet rapih dalam sebuah barisan, tapi bukankah akan memberikan kesukaran untuk membaca dan mengartikannya? Apa jadinya jika waktu terus menerus digunakan untuk bekerja? Tak meluangkan waktu untuk beristirahat; tak meluangkan waktu untuk bersenang-senang?

Bahkan dalam hubungan pun dibutuhkan jarak untuk menciptakan rindu; memberi ruang untuk cinta tumbuh; memberi rasa percaya dengan tanpa menciptakan rahasia. Memang menyenangkan berpelukan dengan tanpa ada jeda memisahkan. Tapi tak bisa bertahan lama, karena bisa jadi akhirnya membuat sesak, akhirnya tetap harus dipisahkan. Bukankah lebih menyenangkan berpelukan lalu saling melepaskan untuk saling bersitatap.  Butuh jarak yang cukup untuk bisa melihat dengan fokus yang tepat agar bisa melihat objek dengan jelas.

Jeda,
Spasi,
...

Apapun namanya itu, hanya sebuah ruang  yang tidak luas, waktu yang tidak lama, hanya diperlukan secukupnya. Digunakan untuk memperjelas, memudahkan, dan segala kebaikan lainnya. Istilah yang sering kali aku benci keberadaannya karena sering aku menampikkan fungsi utamanya.

Lain kali, ketika waktu jeda kembali, aku akan meminta maaf dan memohon perdamaian. Setidaknya aku akan berusaha memahami otakku yang tak berhenti berfikir meski tak benar-benar ada yang harus aku pikirkan. Aku akan mulai menyebut momen itu dengan momen merenung. Setidaknya pada saat itulah aku bisa kembali ke sebuah masa dengan persfektif baru. 
Share:

0 comments:

Post a Comment

Free to speak up is still under circumstances, no violence