Sunday, August 31, 2014

Part 3: Reality

2 Tahun kemudian.

Aku berani bersumpah bahwa yang aku lihat saat ini adalah kamu. Kau terlihat lebih tinggi dari yang aku ingat, kulitmu lebih gelap, bentuk badanmu lebih tegap, tapi rambut yang kemerahan di bawah sinar matahari itu meyakinkanku bahwa itu adalah kamu.

Atau bukan?

Tren saat ini adalah mengecat rambutnya. Tetap terlihat hitam saat normal dan baru terlihat semburat warnanya tatkala terpapar sinar. Tapi aku yakin itu rambutmu. Aku masih mengingat setiap detik ketika kau merebahkan kepalamu di pangkuanku dan aku senang mengelus rambutmu. Aku bahkan masih bisa merasakan halusnya di telapak tanganku.

"Nay, you forget your phone again!"

Aku menolehkan kepalaku ke arah sumber suara. Kulihat Navid mengacung-acungkan smartphone-ku di atas kepalanya. Tapi aku kembali memalingkan wajah, berharap saat aku menatap kursi tempatmu tadi duduk, aku masih bisa melihatmu disana.

Itu kamu, bukan?

Tapi kursi itu sudah kosong. Orang disana lenyap dalam hitungan detik.

"Nay?"

Navid kembali meminta perhatianku. Tapi aku tak peduli. Pandanganku kini menyapu seluruh ruangan, masih berharap bahwa aku melihatmu. Bahwa kamu ada di sini. Di kota ini.

Pintu cafe seketika terbuka, menggoyangkan bel yang dipasang diatasnya. Angin musim gugur menyeruak masuk. Lalu aku mencium aromamu. Hugo Boss. Parfum yang aku beli dengan menggunakan kartu kredit papah, parfum yang sejak saat itu menjadi andalanmu.

Aku menolehkan kepalaku ke sebelah kanan. Aku melihatmu berdiri di depan counter.

"Nay, are you okay?" Navid sudah berdiri di dekatku. Dia masih menggenggam smartphone-ku. Dia tampak bingung dengan tingkahku yang mendadak tidak dia mengerti. "You're look so tense."

Aku menggelengkan kepalaku, membantah anggapan Navid atas sikapku saat ini. Aku kembali mengalihkan pandanganku ke arah counter, tempatmu berdiri. 

Dan kamu pun sedang memandangiku.

Kamu menyunggingkan senyuman khasmu dengan sudut kanan bibir lebih tinggi dibandingkan sudut lainnya. Sambil menggelengkan kepala kamu berjalan ke arahku.

"Nayla, aku tak percaya kita bisa bertemu disini."

Aku masih belum bisa berkata-kata. Sepertinya Hugo Boss-mu telah memenuhi saluran pernafasanku hingga aku tak bisa menggetarkan pita suaraku.

"Dan kau selalu tampak cantik, seperti biasa."

Gosh, aku masih saja bisa meleleh dengan rayuan tua darinya. Jantung ini disusupi terlalu banyak adrenalin hingga berdetak dengan liar. Aku kembali melihat matanya yang berwarna coklat menatap kedua mataku. Mata yang selalu dapat membaca apapun yang aku sembunyikan. Mata yang memenjarakanku kedalam pesonanya.

Jangan lupa bernafas Nayla!

Kamu melingkarkan kedua lenganmu dipinggangku. Aku bisa merasakan dada bidangmu dan hangat pelukmu setelah bertahun-tahun kau pergi dariku.

"Aku merindukanmu, Nay."

Ini bukan sekedar cerita yang aku tulis dalam naskah novelku,  dia benar-benar nyata, ada di kota yang sama denganku, bahkan sedang memeluk tubuhku. Hugo boss yang beraroma musky itu benar-benar ada,  tak hanya sekedar dalam ingatanku belaka.

"Ada apa denganmu Nay? Kau tak merindukanku? Sepertinya kau tak senang bertemu denganku disini."

Aku mengerejapkan mataku. Berusaha meraih kembali kemampuan berbicaraku yang mendadak hilang.

"Aku tak menyangka akan bertemu kau disini, aku pikir kau ada di Polandia," kataku dengan suara pelan dan bergetar.

Dia menahan senyumnya. Kedua tangan kokohnya masih berada di pinggangku. 

"Aku akan tampil bersama Phill Harmonic untuk acara tahunan di sini."

Aku masih saja mematung seperti orang tolol.

"Kau tak memberikan ucapan selamat kepadaku, Nay?"

Aku memaksakan diri untuk tertawa. Menertawakan diri yang lupa bahwa Phill Harmonic adalah orkestra terbaik Amerika, satu dari yang terbaik di dunia. Bisa bergabung dengannya untuk acara musik tahunan mereka di Kota New York sungguh prestasi yang sangat luar biasa.

"Selamat, itu sungguh prestasi yang luar biasa."

Dia tertawa lebar. Aku bisa mencium bau kopi yang keluar dari mulutnya.

"Mengapa kau begitu kaku, Nay?"

Karena semua ini sungguh mengagetkanku tolol! Karena kamu yang pernah mencuri hatiku dan tak mengembalikannya membuat aku si zombie ini seperti kembali bernyawa.

"Nayla!" Navid menyela kami berdua dengan wajah yang berkerut. Dia menatapku lalu memelototi pria yang sempat memelukku dengan tajam. Tatapannya itu menyadarkan kami bahwa kami berada di ruang publik. Dia memutuskan lingkaran lengannya dari pinggangku.

"Ah ya, Navid ...." aku benar-benar lupa pada editor yang sekaligus kekasihku ini. "Please meet my super friend, Bias. And Bias, this is my editor, Navid."

"Super friend?" kata kedua laki-laki itu bersamaan.

Aku terkejut mendengar dua suara bass yang tiba-tiba berserukan hal yang sama. 

"Wooow, you two are seem good each other"

Baik Navid ataupun Bias terlihat tidak nyaman satu sama lain, mereka saling menatap untuk beberapa detik lalu bersikap aneh. "We have to go back to the office,  Nayla!"

Aku menganggukan kepalaku beberapa kali. Lalu menatap mata coklat kesayanganku untuk terakhir kalinya dalam jarak sedekat ini.

"Senang bertemu denganmu lagi, sampai jumpa."

"Nay, bisakah kau menonton pertunjukanku nanti?"

"Akan aku usahakan."

"Berdirilah di barisan paling depan agar aku bisa melihatmu."

Aku menganggukkan kepalaku lagi lalu membiarkan tangan Navid menuntunku pergi meninggalkan coffee shop.

Udara kota New York menjelang musim dingin selalu membuatku menggigil. Angin yang berhembus selalu saja menyelinap ke balik mantel tebal yang membungkus tubuhku.

Tapi tidak kali ini. Hangat pelukan tadi masih terasa dan menyisakan rasa kebal atas udara dingin ini.

Share:

0 comments:

Post a Comment

Free to speak up is still under circumstances, no violence