Monday, August 11, 2014

Balada malam minggu: tentang bibit-bebet-bobot cinta

Bagaimana kita memulai bahasan ini?

Mungkin dengan mengingatkan bahwa satu diantara kita pernah mengalami kegalauan luar biasa ketika dihadapkan pada pilihan. Terutama pilihan yang sangat erat kaitannya dengan masa depan.
Seperti pernikahan.

Faktanya tak satupun dari kita yang ingin menikahi orang yang salah bukan? Seperti yang orang orang tua yang telah hafal dengan kosa kata bibit bebet bobot, kata-kata itu membayang-bayangi banyak anak adam dalam memilih pasangan hidup. Mencari yang paling tepat dari segala aspek yang ada, yang bisa menjadi pendamping hidup hingga akhir hayat. Matrealistis? Tentu saja tidak. Itu namanya realistis. Siapapun akan mudah beranggapan bahwa buah yang baik biasanya memiliki bibit-bebet-bobot yang baik. 

Sebagian lainnya, tak pedulikan kembar siam bibit-bebet-bobot; mereka yang tidak mempedulikan dari mana orang itu berasal, tak peduli dengan apa pekerjaan orang itu saat ini, tak pedulikan apa kata orang tentang orang itu, dia hanya permasalahkan satu, cinta. Mereka adalah golongan orang yang beranggapan bahwa hidup yang tak melulu berikan yang dia harapkan akan terasa membahagiakan karena memiliki cinta, hidup bersama orang yang dicinta.

Jujur saja, sangat membuang-buang waktu hanya untuk membandingkan, mana yang lebih baik dalam memilih pasangan hidup, apa dengan bibit-bebet-bobot itu atau dengan cinta. Tak ada ahli sains sekalipun yang mau berlelahlelah mencari kebenaran untuk mencari jawabannya.

Ah ya, tentang bibit-bebet-bobot,  setidaknya semua itu tampak cukup beralasan dijadikan sebagai tolak ukur dalam menentukan seorang pendamping. Sedangkan CINTA, cinta itu hal abstrak, tak tampak. Mungkin salah satu indikasinya keberadaan cinta akan buat jantung berdetak tak berirama, adrenalin keluar lebih banyak daripada biasanya, tapi lidah kelu tak berkata lalu membuat kita terlihat lebih bodoh dari yang pernah orang kira. Mungkin satu diantara kita pernah merasakannya.  Tapi kemudian apa? Apa cinta yang tak kasat mata itu mampu menjadi pondasi atas keputusan besar manusia dalam hidupnya?

Beberapa kali aku, pribadi, merasa iri pada mereka yang mengklaim sedang merasakan cinta. Mereka sering tampak salah tingkah saat berada di dekat yang dipuja, terlihat berbinar saat menceritakan dia yang disuka, wajahnya cerah, indah, aku senang melihatnya. Tampak luar biasa. Tapi jujur seringkali aku tidak mengerti, mengapa cinta senang datang dan pergi? Seperti rambutan, hanya muncul saat musimnya tak bisa berbuah jika waktunya belum tiba. Menyakitkan sekali ketika cinta itu harus hilang karena musimnya sudah berakhir,  saat satu dari dua insan itu memilih untuk menyerah, tak mau bertahan hingga musim berikutnya datang. Itu yang jadi problematika cinta sejauh ini.

Gaibnya cinta memang sulit dimengerti tapi yang sedang aku percayai saat ini adalah cinta akan hadir tepat waktu, saat musimnya tiba pada bibit-bebet-bobot yang layak menerimanya. Dan semoga saat musim itu tiba, aku siap untuk berjanji suci sehidup semati, karena saat musim cinta berakhir, dua insan yang telah berikrar akan berusaha memeliharanya untuk tetap hidup hingga menemui musim selanjutnya.
Share:

0 comments:

Post a Comment

Free to speak up is still under circumstances, no violence