Saturday, August 2, 2014

Balada malam minggu: is (s)he my future?

Keindahan lahiriah selalu berhasil menarik perhatianku, there is no second change for first impression. Begitulah faktanya. Mudah sekali mengingat orang-orang yang 'berbeda', menonjol, lebih bersinar dibandingkan dengan yang lain. Sedikit banyak, muncul keingintahuan yang lebih banyak tentang dia. Apa hobinya, warna kesukaannya, tanggal lahirnya, dan lain sebagainya.

Tapi hal itu sama sekali tidak berlaku saat jatuh cinta. Jatuh cinta sangat berbeda dengan 'tertarik'. Jatuh cinta itu seperti ada bunyi 'klik' saat pertama kali melihatnya. Berbeda dengan 'tertarik', Jatuh cinta selalu berhasil membuat semuanya menjadi sebuah kesan pertama yang tak pernah terlupa. Namun apa jatuh cinta bersama setiap momen kesan pertama itu akan membuat kita memilih dia menjadi pendamping selama kita hidup?

Sebuah pertanyaan yang tak mudah dijawab.

Seolah kesan pertama beserta informasi-informasi pendukung dirasa belum cukup untuk meyakinkan hati bahwa orang itu adalah orang yang tepat yg bisa mendampingi dalam suka maupun duka. Tidak mudah memang untuk memutuskan persoalan yang satu ini. Karena kita semua berharap ini akan menjadi once in a life time.

Tapi pernahkan mempertimbangkan tentang visi hidup dan prinsip hidup?

Saat dua insan mengikrarkan diri untuk hidup bersama dalam ikatan suci, artinya mereka akan menjalani kehidupan ini sebagai satu kesatuan. Tak ada lagi aku dan kamu, yang ada adalah kita. Kesatuan 'kita' yang menjalani hidup demi sebuah tujuan. Tujuan itulah yang disebut visi.

Beberapa orang percaya, visi adalah sesuatu yang tidak akan pernah tercapai. Terkadang mereka menetapkan visi yang  terlampau tinggi hingga acap kali membuat visi itu terlihat begitu mustahil. Tapi kita jangan mau terperangkap pemikiran itu. Secara sederhana kita bisa mendefinisikan visi sebagai sebuah tujuan yang berusaha kita capai. Jika kita diibaratkan bunga, maka visi adalah matahari yang menarik setiap sel dalam bunga untuk selalu menghadap padanya. Jika kita diibaratkan sebagai perahu, maka visi adalah sebuah tujuan agar tidak berputar-putar tak tentu arah di lautan yang luas.

Hidupku aku dedikasikan untuk visi ini. Aku bahkan berharap bahwa aku bisa terus melaksanakan visi ini saat aku menjalani hidup dengan seorang pendamping. Tak akan aku paksakan visi hidupku kepadanya.  Yang kuharapkan adalah dia memiliki visi hidup yang baik dan mendukung visi hidupku.
Tapi, tak berhenti hanya disini.

Ada prinsip yang aku pegang teguh dalam mencapai visi. Layaknya seorang petinju yang berniat untuk menang, dia akan menjaga asupan gula yang masuk kedalam tubuhnya karena gula akan membuatnya lemas. Ada aturan-aturan yang tidak boleh aku langgar. Aturan yang membentukku menjadi seperti ini. Dan dengan prinsip hidup itu, aku tak akan memilih seseorang yang memiliki prinsip hidup yang berlawanan. Mengapa? Karena sebuah kereta hanya akan berjalan diatas sepasang rel ke arah yang sama. Sebuah tujuan tak dapat tercapai dengan aturan yang saling bertolak belakang.

Mungkin setelah membaca ini satu diantara kalian cukup terinspirasi untuk bagaimana menentukan pasangan hidup. Setidaknya mulai mencari tau apa yang akan menjadi visi hidupnya lalu mulai mengingat-ngingat apa guidance dia selama ini untuk dijadikan prinsip yang tersusun dengan rapi. Lalu, saat kalian temukan orang yang cukup menarik atau bahkan menciptakan bunyi 'klik' saat pertama kali melihatnya, mungkin visi dan prinsip ini akan bisa sedikit membantu men-define, is (s)he my future?
Share:

0 comments:

Post a Comment

Free to speak up is still under circumstances, no violence