Monday, April 14, 2014

Edelweiss

Terbangun dengan angin dingin menyesap sukma
Mata berusaha menembus kabut tapi tak bisa
Dimanakah aku berada?
Aku tak bisa ingat apa-apa

Tak lama, sinar mentari menjelmakan sosok sang surya
Mengeyahkan kabut silaukan mata
Tampaklah bunga liar tanpa aroma
Warnanya coklat muda
Terbentang hingga tepi horizon sana
Tercekat aku melihatnya
Tak mampu membuka suara

Sebuah padang edelweiss surga dunia
Mereka bilang itu bunga cinta
Meski aku tak pernah percaya
Tapi kini aku terpesona
Oleh keindahannya.

Aku bukan pujangga yang pandai merangkai kata
Bukan juga penyair yang pandai menggubah sastra
Ini hanya sebuah karya
Untuk edelweiss yang aku tinggal di puncak gunung sana

Share:

0 comments:

Post a Comment

Free to speak up is still under circumstances, no violence