Wednesday, April 2, 2014

Cinta putih

Lebih dari setahun kita lewati. Ungkapan cinta, sehidup semati terlafal sebagai janji. Banyak suka, duka, canda juga tawa kita lalui. Tapi ditemani kopi pahit ini, kau ungkapkan kau tak cintaiku lagi.
Sudah kuduga, ini tentang gadis yang baru kau temui. Gadis yang kau sebut cantik akhir-akhir ini. Tak jarang kau bungkam aku dengan cerita tentangnya yang kau dapatkan dari seorang sahabat yang kau percayai. Kau sanjung dan puji tinggi-tinggi di depan aku yang tak sengaja kau lukai. Senyum ku yang memudar mungkin tak pernah kau sadari. 
Sayang,
Ikuti saja apa kata hati, jika kau merasa dia adalah cinta sejati, tinggalkanlah aku sendiri. Namun ku yakin kau akan minta aku kembali karena hanya aku yang menerima kekuranganmu sepenuh hati. Kau akan pinta aku, mohon aku unyuk kembali padamu lagi.
Tapi kau harus tahu diri, aku tak akan kembali karena hati ini telah mati.

Note:
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari http://t.co/pk32j90nVG di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Share:

0 comments:

Post a Comment

Free to speak up is still under circumstances, no violence