Sunday, October 27, 2013

Tuhan Kami Satu, Tapi Berbeda

Bersambung dari Bagian 1

Bagian 2

Aku sudah bilang sejak awal, aku dan Marcelino berbeda bangsa. Tapi semenjak mengerjakan tugas itu, aku rasa hubungan kami setingkat lebih baik daripada sebelumnya. Setidaknya dia selalu menyapaku terlebih dahulu. Tapi kedekatan kami hanya sebatas itu. Aku masih 'bukan teman'-nya. Hanya sekedar pernah berpartner dalam mengerjakan tugas, dan sebagai orang yang sekeleas saat kuliah. Jadi ketika dia memberikan sebuah undangan kecil berwarna-warni, aku cukup kaget melihatnya.

"Queen ulang tahun yang ke-8, dia ingin kamu datang dalam pestanya"

Aku senang sekali mendapatkan undangan itu, "Waaah, kapan pestanya?"

"Minggu depan!"

Aku mengagguk-anggukan kepala sambil membaca tulisan yang tertera dalam undang itu.

"Okay, gue pergi dulu kalo gitu. Jangan lupa datang ya!"

Aku tersenyum lebar mengiyakan. Mataku menatap kepergiannya menghilang ditengah kerumunan teman-teman sebangsanya.

***

Aku memilih-milih kain flanel yang membuatku bersemangat. Aku berniat untuk membuat sebuah bantal berbentuk pizza untuk kado ulang tahun Queen. Aaah, mungkin aku lupa bilang pada kalian bahwa aku senang sekali menjahit. Bukan untuk membuat baju, tapi menjahit membuat bentuk tiga dimensi seperti boneka atau bantal. Terkadang aku membuat tasku sendiri, membuat clutch bag, baggy dan sebangsanya. Beberapa hasilnya aku jual, ada perasaan senang melihat hasil tanganku sendiri disukai dan dipakai oleh orang lain.

Ide membuat bantal pizza ini muncul karena aku teringat bahwa Queen suka Pizza. Lebihan kain yang tersisa aku buatkan menjadi key holder ukuran mini dan tempat pensil. Cukup sehari aku mengerjakan project ini. Aku membayangkan wajah Queen yang mengemaskan akan senang melihat kado dariku nanti.

***

"Di, hari Minggu besok jangan lupa ya sama ulang tahun Queen! Pestanya di rumah. Lo tau rumah gue?"

Mana mungkin aku lupa dengan pesta itu. Tapi saking exciting, aku benar-benar lupa tentang alamat rumahnya. "Aku ga tau alamatnya, Cel. Boleh aku minta?"

"Biar gue jemput aja klo gitu! Gue takut lo nyasar nanti!"

"Okay..." lalu aku menyebutkan nama jalan dimana rumahku berada.

***

Marcelino menjemputku tepat waktu. Dia sempat bertemu dengan mamah dan menyalami tangannya. mengobrol barang sejenak untuk sekedar berbasa basi menceritakan perihal adiknya yang berulang tahun. Setelah berpamitan, kami berdua segera meluncur ke rumah Marcelino yang ternyata jaraknya cukup jauh. Tak heran dia mengkhawatirkanku akan tersesat jika berangkat sendirian. Selama di mobil kami tak banyak bercakap-cakap. Hanya sekedar membicarakan beberapa pelajaran singkat lalu kami berdua kembali diliputi keheningan. Untungnya dia dengan baik hati memutarkan lagu sepanjang perjalanan. Setidaknya menutupi kebisuan yang ada di antara kami.

Rumah itu dipenuhi oleh rumbai berwarna-warni dan juga balon. Tipikal pestanya anak SD. Beberapa anak berpakaian pesta sudah memenuhi ruangan. Queen, anak yang paling cantik hari itu berdiri di dekat meja yang dipenuhi tumpukan kado.

"Hallo Queen! Selamat ulang tahun."

Queen terlihat sumringah melihat ukuran kado yang aku bawa untuknya. "Waaaah, terima kasih kakaaak. Apa ini isinya?"

Aku tertawa mendengar pertanyaannya. "Nanti Queen buka sendiri yaaa!"

Queen tersenyum lalu meminta Marcelino untuk meletakkan kado itu di antara kado-kado lainnya.

Aku bergabung dengan anak-anak lainnya mengikuti prosesi pesta ulang tahun itu. Marcelino dan aku juga ikut bergabung bermain game bersama mereka meski beberapa kali mendapatkan sorakan "Wuuuuu" dari anak-anak yang merasa tidak fair karena orang yang lebih tua dari mereka berhasil memenangkan permainan. Tapi kami cukup tahu diri. Kami hanya bermain di dua buah game dan sisanya menonton kekonyolan tingkah laku para bocah berpesta.

Pesta itu sangat menyenangkan. Tapi aku tidak bisa menikmatinya dengan sepenuh hati. Beberapa kali aku melirik ke arah jam digital yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Aku belum Sholat Dzuhur. Dan sepertinya Marcelino memperhatikan tingkahku.

"Kenapa Di? Belum solat ya?"

Aku mengangguk kuat. "Aku pulang duluan ya Cel!"

"Kamu solat di sini aja!"

Aku ragu. Setahuku, agama kami berbeda.

"Kamu bawa alat sholat kan?" tanya Marcelino memastikan.

"Iya aku bawa!" 

"Kalau gitu, ga ada masalah! Kamu bisa Sholat di kamarku!"

Aku mengekor mengikuti Marcelino ke lantai dua menuju kamarnya. "Kamu bisa solat disini. Arah Sholatnya ke sana!" katanya sambil menunjuk ke arah jendela. "Dulu, pengurus rumah ini Muslim Di, jadi sedikit banyak aku tahu gimana Sholat disini!"

Aku ber 'Oooh' menanggapi penjelasannya. "Wudhu-nya Cel?"

Dia keluar dari kamarnya lalu menunjuk ke lorong yang lain. "Toiletnya sebelah sana. Kamu bisa Wudhu disana!"

Aku kemudian pergi berwudhu dan kembali lagi ke kamar Marcelino. Disana dia telah melipatkan selimut dia sebagai pengganti Sajaddah ke arah kiblat.

Ya Allaaaaah, sungguh baik hati sekali Marcelino ini!



Share:

0 comments:

Post a Comment

Free to speak up is still under circumstances, no violence