Saturday, October 26, 2013

Tuhan Kami Satu, Tapi Berbeda

Bagian 1

Hari ini langit kembali mendung. Tak ada semangat terpancar untuk menjalani kelas paling pagi dalam semester ini. Pintu kelas tiba-tiba saja terbuka memecah rasa bosan di kelas Math Business. Aku tahu sosok yang datang kesiangan itu. Dia laki-laki yang biasa datang terlambat di semua kelas yang dia ikuti. Mahasiswa yang lebih memilih duduk di deretan kursi bagian belakang supaya bisa mencuri-curi waktu untuk bercanda atau tertidur. Kali ini dia datang dengan stelan kaos hitam bergambar Mickey Mouse dilapis blue jeans-vest. Celananya jeans berwarna merah yang berpipa sempit semata kaki. sepatunya Converse berwarna ungu dengan tali berwarna senada. Dia masuk dengan mengenakan sun glasses frame besar dan tompi-hat. Setelan yang 'asik' tapi C'moon dude, it's a math business class not a hang out place. Namun dosen kami tidak merasa terganggu dengan si sok model yang baru saja menunjukkan batang hidungnya.

Tak ada perdebatan yang berarti dalam kelas ini. Karena kebanyakan dari materi yang disampaikan adalah fakta-fakta spesifik yang keabsahannya tak perlu dipertanyakan. Kelas kami berakhir setelah 90 menit tepat. Ada sebuah tugas yang harus dikerjakan berkelompok. Dan aku mengerjakannya bersama Marcelino, si sosok model itu.

Jika ada yang bertanya apakah aku merasa senang menjadi teman sekelompoknya? Jawabannya adalah TIDAK. Bukan berarti aku Benar-Benar Tidak Suka, aku hanya merasa biasa saja. Nothing special. Tak merasa perlu bersorak riang bisa satu-kelompok dengan Mr. Everybody Knew. Kenyataannya aku tidak keberatan jika pada akhirnya aku harus mengerjakan tugas ini sendiri. Aku tak akan berharap banyak pada Mr. Popular menyisihkan sebagian waktu ber-sosialize dengan bangsanya hanya untuk berdiskusi dan mengetikannya dalam tulisan bersama geek sepertiku.


Geek & Popular. Dua kaum yang dipisahkan oleh pembatas tak kasat mata. Tentu saja kedua kaum itu memiliki dunia yang berbeda. Kebanyakan kaum popular merasa malas untuk bergaul dengan kaum geek dan ekstrimnya bahkan mereka merasa bahwa kaum geek akan menularkan virus yang membuat mereka kehilangan kepopuleran mereka. Oleh karena itu aku merasa takjub dia menyapaku terlebih dahulu untuk membahas tugas ini.

"Diana! Gue sekelompok sama Lo! Kapan Lo mau ngerjainnya?"

Aku mengehentikan kegiatanku memasukan barang-barang kedalam tas. "Besok?"

"Oke, Besok! Ngerjainnya mau kan di rumah Gue?"

"Boleh aja"

"Good. Lo mau ke kantin?"

"Enggak. Gue bawa bekal makan."

"Okay. Bisa minta kontak lo?"

Aku merapalkan sederet angka yang aku hafal di luar kepala. Sedangkan dia menuliskannya dalam handphonenya.

"Okay, sip. Kita kontak-kontakan ya nanti!"

Aku hanya mengangguk. Dia kemudian tersenyum. segerombolan anak datang menghampiri kami dan hanya menyapa Marcelino tanpa mengacuhkan keberadaanku. Aku kembali menyibukan diri membereskan barang-barangku. Mereka masih saja bergurau tanpa memperdulikanku. Yaa, kaum geek memang jarang sekali dianggap keberadaannya oleh mereka para populer.

***

"Morning, Di"

"Morning". Tumben dia datang pagi-pagi.

"Hari ini kita jadi kan ngerjain tugas di rumah gue?"

"Yes, sure." Padahal gue lupa sama yang satu itu.

"Hmmm, lo  mau ngerjain jam berapa?"

"Setelah makan siang?"

"Okay, kita bisa jalan setelah makan siang nanti. Tapi, kita jemput adek gue dulu dari sekolahnya ya. Lo ga masalah sama itu kan?"

Aku tak menjawab. Sepertinya tak ada pilihan lain selain tersenyum menerimanya bukan?

***

Again, Marcelino, bukan sosok teman bergaulku. Dan aku juga bukanlah tipe teman yang akan diajaknya hang out. Dia tipe ekslusif yang berteman dengan 'sebangsanya' saja. You know what I mean. Dia keren, aku cupu. Dia terkenal, dan aku ga terkenal. Bukan berarti gw merendah ataupun ada di kasta paling bawah dalam rantai kehidupan. Tapi itulah gambaran aku vs Marcelino secara kasat mata. Aku yang biasa sedangkan dia begitu luar biasa.

Jadi, apapun tawaran yang dia berikan demi mengerjakan tugas ini aku terima tanpa banyak membantah. Cukup bersyukur ternyata dia tidak seperti dugaanku yang akan membiarkanku sendirian mengerjakan tugas kelompok ini. Saat dia mulai bercerita bahwa dia harus menjemput adiknya terlebih dahulu penilaianku tentang dia mulai sedikit berubah. He is low profile.

"Kakak lama!" kata adiknya sambil bersungut-sungut.

Marcel meminta maaf dengan wajah memelas. "Maaf ya Queen!"

"Pasti pacaran dulu ya!" kata adiknya sambil menatap mataku galak.

Marcel tertawa renyah. "Anak kecil tau apa tentang pacaran?"

Adiknya yang bernama Queen itu masih saja tetap cemberut. Bibirnya sedikit mengerucut membuat wajahnya tampak menggemaskan. Aku teringat

iAku teringat permen Yuppi yang selalu ada dalam tasku. "Queen suka Yuppi?" Tanyaku menawarkan sekotak Yuppi berbentuk pizza.

Raut muka Queen berubah cerah, dia senang sekali mendengarnya. "Aku suka pizza!"
"Aah, kalo gitu kita ngerjain tugasnya sambil makan pizza aja Di, kamu mau kan? Queen kan suka makan pizza!" usul Marcelino.

Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum meng-iya-kan. Ini bukan ide buruk bukan?

***

Akhirnya, rencana kami mengerjakan tugas itu di rumahnya berubah. Kami mengerjakan tugas itu di tempat makan pizza. Makanan gratis juga wifi gratis membuat kami betah berlama-lama duduk disana. Begitu pula Queen, dia sama sekali tidak merengek minta pulang. Gadis kecil itu sibuk makan, bersenandung, mengerjakan PR, juga mengganggu kakaknya Marcelino. Dia tidak takut mewarnai kuku-kuku kakaknya dengan menggunakan spidol dan herannya, Marcelino tidak marah dengan tingkah laku adiknya yang menggemaskan selama dia tidak merengek minta pulang sebelum tugas ini selesai dikerjakan. Pria itu ternyata berbeda dengan aku bayangkan.

Waktu bergulir begitu cepat. Jarum-jarum jamnya menunjukan waktu hampir pukul 2 siang. Aku buru-buru meminta izin untuk sembahyang yang dijawab dengan anggukan.

Samar-samar aku mendengar Queen bertanya pada Marcelino, "Kak, Solat itu apa?"


***

Share:

0 comments:

Post a Comment

Free to speak up is still under circumstances, no violence