Balada Malam Minggu: Takdir/Destiny
Akhir tahun lalu, sebuah percakapan tentang takdir mampir ke telingaku. Klasifikasi lama yang sudah sering kita dengar: ada takdir yang terkunci rapat (muallaq), dan ada yang bisa diubah lewat keringat serta doa (mubram). Namun, semakin aku memikirkannya, semakin teori itu terasa seperti penghibur lara yang dangkal. Aku mulai bertanya-tanya: benarkah kita sedang memegang kemudi, atau kita hanya sekadar aktor yang sedang membaca skrip yang sudah selesai ditulis jauh sebelum kita lahir?
Persetan dengan narasi bahwa manusia adalah arsitek nasibnya sendiri. Jika kita percaya pada Tuhan yang Maha Mengetahui, maka secara logis, akhir dari cerita ini sudah ada di tangan-Nya. Tuhan sudah tahu siapa yang akan menghuni surga dan siapa yang akan terbakar di neraka. Kehidupan di dunia ini, dengan segala hiruk-pikuk usaha dan air mata doa kita, barangkali hanyalah sebuah fragmen pembuktian—sebuah justifikasi atas tempat mana yang akan kita tempati di hari akhir nanti.
Ada sebuah kengerian dalam pemikiran ini. Bahwa pada akhirnya, segalanya ditentukan oleh bagaimana kita menyentuh garis finis. Jika seseorang memang ditakdirkan sebagai penghuni surga, maka di detik-detik terakhirnya, ia akan digerakkan untuk melakukan amalan mulia. Sebaliknya, bagi mereka yang "terpilih" untuk neraka, amalan buruklah yang akan menutup usianya. Mengapa? Karena setiap tarikan napas, setiap doa yang meluncur, bahkan setiap usaha yang kita banggakan sebagai "milik kita", sebenarnya hanya terjadi atas izin dan kehendak-Nya.
Kita bergerak di dalam sebuah labirin yang dinding-dindingnya sudah ditegakkan oleh Tuhan. Usaha kita bukanlah cara untuk mengubah rencana Tuhan, melainkan cara Tuhan menjalankan rencana-Nya melalui diri kita. Pada akhirnya, kita hanyalah saksi atas takdir kita sendiri.
English:
Late last year, a conversation about destiny found its way to me. It was the same old classification we’ve all heard: the destiny that is set in stone, and the one we can supposedly reshape through sweat and prayer. But the more I sit with this thought, the more that theory feels like a shallow consolation. I find myself wondering: are we truly holding the wheel, or are we merely actors reading a script that was finished long before we were even a thought?
F off that humans are the architects of their own fate. If we believe in an All-Knowing Creator, then logically, the ending of this story is already written. God already knows who belongs in heaven and who is bound for hell. Our lives in this world, with all the noise of our efforts and the salt of our prayers, are perhaps nothing more than a fragment of evidence—a justification for the residence we will occupy in the afterlife.
There is an terror in this realization. That in the end, everything is decided by how we cross the finish line. If someone is destined for paradise, then in their final moments, they will be moved to perform an act of grace. Conversely, those "chosen" for the fire will find themselves committing the deeds of the lost as their time runs out. Why? Because every breath we take, every prayer we whisper, and every effort we proudly claim as "ours" occurs solely by the permission and will of the Almighty.
We move within a labyrinth whose walls were raised by God. Our efforts are not a way to change God’s plan, but rather the way God executes His plan through us. In the end, we are merely witnesses to our own destiny.
Grow with me in Balada Malam Minggu.

Comments
Post a Comment
Free to speak up is still under circumstances, no violence