Saturday, September 2, 2017

Balada Malam Minggu: Listening, not just hearing

We live once. Meski di beberapa kasus ada orang yang dinyatakan meninggal lalu tidak berapa lama dia hidup lagi --- alaminya manusia itu hidup hanya satu kali. Dan oooh, jangan terlalu berharap banyak bahwa kamu salah satu orang yang bisa kembali hidup setelah dinyatakan meninggal, karena kemungkinan hal itu terjadi hampir-hampir mustahil.

Lalu ada apa dengan fenomena bunuh diri ini? Siswa sekolah, pasangan suami-istri, dua saudara kandung, pengusaha, lelaki yang putus cinta seolah sedang menjalani tren bunuh diri. Sepertinya maut menjadi favorit akhir-akhir ini. Bahkan menurut Into The  Light (komunitas pencegah tindakan bunuh diri) tidak semua kasus bunuh diri tercatat di kepolisian karena sebagian besar kejadian bunuh diri ini ditutup-tutupi oleh kerabat terdekat dengan dalih aib; beberapa kejadian bunuh diri pula dikategorikan sebagai kecelakaan. Sementara itu tak ada data yang kongkrit mengenai jumlah  orang yang mengaku berniat bunuh diri, ataupun orang yang berfikir untuk bunuh diri. Jumlahnya bisa berpuluh-puluh kali lipat lebih besar dari data bunuh diri yang dimiliki kepolisian. Jadi bisa dibilang fenomena ini bukan hal asing lagi di masyarakat.

Mengapa bunuh diri menjadi pilihan mereka?

Karena beban hidup yang besar; Dianiaya; Kehilangan orang yang paling penting; terjebak dalam tumpukan hutang; merasa tidak memiliki arti untuk hidup; atau bahkan mengakhiri hidup karena tidak ingin menyusahkan atau menjadi aib bagi orang tercinta. Banyak alasan yang bisa dibuat, banyak alasan yang bisa menjadi penyebabnya.

Namun, apa kita aware dengan keberadaan alasan-alasan itu jika ada disekitar Kita? Bisa jadi, sahabat kita yang eksis di sosial media memiliki masalah hingga ia berniat untuk bunuh diri; atau tetangga yang terlihat kalem dan santun ternyata terus memikirkan bagaimana cara untuk bunuh diri; atau teman kantor yang cerewet dan ceria Ternyata diam-diam log in ke forum bunuh diri. Apakah Kita menyadari bahwa niatan bunuh diri itu ada di pikiran orang-orang sekitar kita?

Yuk mulai aware. Lebih peka sama orang-orang sekitar. Tanyalah kabarnya, kabar orangtuanya, kabar pasangan ya, kabar anaknya. Tanya bukan buat basa-basi; bukan buat pamer kedekatan di media sosial; bukan buat kepo juga; tanyalah karena kita peduli dengan keberadaannya

Berhenti menganggap bahwa pelaku bunuh diri adalah seorang kriminal; atau seorang pendosa lemah iman. Orang-orang yang berniat bunuh diri itu orang-orang yang butuh pertolongan. Bila perlu, libatkan psikolog untuk jalan keluarnya. Please take them with care, we deal with lifes. Dan juga, jangan sok-sok-an jadi tempat curhat dengan menganggap "mereka cuma butuh didengarkan". No! That's a stupid mistake. Punya ilmu apa sampe-sampe berani ngasih konseling sama orang yang berniat mengakhiri hidup? Mau berkhotbah apa? But one thing for sure, bisa kontak @IntoTheLightID untuk sebuah langkah permulaan.
Share:

0 comments:

Post a Comment

Free to speak up is still under circumstances, no violence