Saturday, November 7, 2015

Lukman Ibnu Giri Nugraha

October 24, 2015 menjadi satu hari yang bersejarah bagi saya. Tepat pukul 8 pagi, saya meneteskan air mata menyadari bahwa saya harus mengeluarkan jantung mungil dari tubuh saya untuk membuatnya tetap berdetak.

Kelahiran buah hati saya sungguh dramatis.

Tanpa didampingi orang tua, suami saya yang juga masih berusia muda memutuskan untuk mengiyakan saran dokter untuk mengambil tindakan operasi caesar. Sungguh jauh dari rencana kami, bahkan sangat jauh dari harapan kami.

Bagaimana tidak, kami sama sekali tidak membayangkan bahwa persalinan ini akan dilakukan ketika usia kandungan baru menginjak 33 minggu 5 hari, dilakukan di salah satu rumah sakit Jakarta Selatan ataupun dilakukan secara caesar.

Manusia berencana lalu Tuhan menertawakannya. Itulah yang kami rasakan. Kami berencana untuk melaksanakan proses persalinan di kota kelahiran kami, ditemani orang tua - orang tua kami. Jadwal cutipun telah kami tetapkan, 3 minggu sebelum HPL. Tuhan adalah satu-satunya penulis naskah kehidupan terbaik di alam semesta. Ditengah kepanikan dan kebingungan yang kami rasakan, Tuhan menyediakan jalan yang mudah untuk kami lalui.

Jumat, 23 Oktober, air ketuban saya mengalir saat menunaikan sholat dzuhur di kantor. Saya masih belum menyadari apa arti air yang mengalir melewati pangkal paha saya. Saya masih bisa menahannya lalu memeriksanya di toilet. Sayapun masih menyempatkan diri mencari tahu di internet apa warna air ketuban.

Namun pencarian saya tidak memuaskan. Saya memutuskan untuk bertanya pada seorang teman yang juga sedang mengandung yang kemudian diresponnya dengan memerintah saya segera memeriksakannya ke dokter.

Benar memang, setibanya saya di rumah sakit terdekat, ketuban saya kembali keluar. Kali ini tanpa saya sadari air ketuban mengalir deras hingga menetes di lantai. Teman kantor yang menemani saya segera melakukan proses registrasi sementara saya menuju IGD melahirkan.

Suami saya yang menyusul kemudian adalah orang yang paling tegang di ruangan itu. Dia tidak banyak bicara, seperti biasanya. Tapi tampak sangat jelas di wajahnya bahwa dia memikirkan banyak hal, menakuti lebih banyak hal lainnya yang mungkin saja terjadi padaku ataupun buah hati kami.

Singkat cerita, dokter menyarankan untuk memberikan suntikan penenang bagi janin kami agar dia berhenti berkontraksi. Selain itu dia juga memberikan antibiotik untuk menghindari kemungkinan infeksi juga obat pematangan paru untuk mengantisipasi jika bayi kami harus lahir secara prematur.

Usaha kami semalaman itu ternyata tak berbuah seperti yang kami harapkan. Bayi kami terus berkontraksi sepanjang malam dan menyebabkan air ketuban saya habis. Kami tak dapat mempertahankan kandungan ini lebih lama lagi. Terpaksa kami mengiyakan saran dokter untuk mengambil langkah caesar demi keselamatan buah hati kami.

Bayi kami, laki-laki yang sehat, bernama Lukman Ibnu Giri Nugraha, lahir pukul 09.20  hari Sabtu, 24 Oktober 2015. Buah hati yang hidup dari kemurahan Yang Maha Esa, dia berjuang dengan setiap harapan yang tersisa dari kami kedua orang tuanya yang sangat mendambakan kehadirannya.

Saya baru bisa melihat anak saya dua hari kemudian. Bukan karena saya tak ingin menemuinya, namun karena saya baru punya kemampuan menemuinya. Sesaat setelah kelahirannya, dia harus masuk ke ruang NICU, sementara saya kembali ke ruang observasi. Proses caesar membuat saya harus membiasakan diri menggerakan badan sambil menahan rasa sakit yang luar biasa. Setelah lepas kateter, saya diijinkan untuk menemui bayi saya, dengan sebuah syarat: saya harus mampu berjalan. Hal ini membuat saya bersemangat untuk segera pulih.

Dengan menahan rasa sakit, saya melangkah masuk ke ruang NICU. Saya menatap sosok bayi di dalam kotak kaca. Jantung mungil kami yang menggeliat dan merengek diantara banyak kabel dan selang yang terpasang di tubuhnya sontak membuat saya menangis. Saya menahan haru, sedih sekaligus bahagia. Dia nampak sehat, hanya saja dia lebih kecil dari bayi-bayi kebanyakan.

Kombinasi kemurahan hati Allah SWT, takdir, juga semangat hidup adalah hal yang terus membuat kami bersyukur bahwa kami bertiga akan dipersatukan suatu hari nanti. Semua ini nampak sulit, nampak mustahil bagi kami yang ternyata hanyalah pasangan muda yang tak punya banyak persiapan dan tak tahu apa-apa. Sering kali kami saling meremas tangan, berusaha saling menguatkan. Tak jarang bahu suami saya basah oleh air mata yang tak sanggup lagi saya bendung saat meminta pertolongan Allah sebagai penguasa alam semesta. Kami bisa apa? Tak ada yg bisa kami lakukan lagi saat segala upaya kami telah coba. Mengadu lalu menjadi rutinitas kami di malam hari.

Saya tak pernah merasakan seperti ini. Menuntut banyak kemurahan hati atas satu hal yang merupakan sebuah titipan; tak pernah saya rasakan sebelumnya. Dia adalah titipan paling membahagiakan sepanjang hidup saya. 


Share:

0 comments:

Post a Comment

Free to speak up is still under circumstances, no violence