Wednesday, June 10, 2015

Lovely absurd statement

Matahari semakin terik dan awan-awan sama sekali tak berniat menghalangi sinar panas yang aku yakin mampu menyakiti kulit. Aku berjalan cepat menjangkau bayang-bayang gedung yang bisa memberikan aku perlindungan, selain itu berjalan cepat akan membuatku segera tiba di tujuanku: closet. Ya, tempat buang hajat itu jadi benda yang paling aku inginkan saat ini, saat tubuh ini masih terus berjuang beradaptasi dengan keberadaan hormon-hormon asing yang memenuhi setiap tetes darahku.

Dan harapanku yang lainnya adalah berharap pria yang sedari tadi membututiku bisa mempercepat langkahnya. Aku paham bahwa semilir angin yang menyejukan ditengah terik ini patut dinikmati; tapi mengingat waktu yang aku punya semakin menipis, kesabaranku mulai terkikis.

"Bisakah kamu berjalan lebih cepat? Karena aku akan muntah sebentar lagi"

Dia sedikit terkejut.  Wajahnya mulai menampakan kepanikan,  tanpa sadar dia sudah berlari melewatiku dan membukakan tutup tong sampah.

"Tahan-tahan, kamu muntah disini saja!"

Aku melotot padanya "aku tidak muntah di tempat seperti itu!" Lalu menghilang masuk kedalam kamar dan segera menyelamatkan diri di dalam toilet.

Aku rasa aku menghabiskan hampir seperempat jam di dalam sana. Mengeluarkan semua makan siangku dalam bentuk yang sudah tidak aku kenali lagi tentunya. Proses ekstraksi ini cukup menyakitkan, dan menguras banyak tenaga. Yang membuatku sedih, aku tak sanggup membayangkan apa yang akan diserap oleh bakal bayiku jika setiap makanan yang aku telan selalu dimuntahkan kembali?

"Kamu selalu muntah separah ini? Dengan suara mengerikan itu?" Tanyanya sambil nampak tegang. Dia menungguiku di depan toilet dengan kaku dan kedua tangan terlipat di dada.

"Iya, SELALU dan setelah aku keluarkan semuanya, aku kembali merasa lapar"

Dia membututiku yang mencari-cari pisang dalam tas. Setelah aku dapatkan, aku memakannya sambil berbaring di kasur.

"Siapa yang menghamilimu?" Tanya nya dengan nada dibuat serius.

"Kamu" jawabku.

"Baguslah, karena aku orang yang bertanggung jawab!"

Share:

0 comments:

Post a Comment

Free to speak up is still under circumstances, no violence