Sunday, December 28, 2014

Tanda Kurung ( )

(Rahasia: hanya dimengerti kalangan tertentu)

Situasi canggung paling mendebarkan dalam hidupku. Aku yang diperolok-olok takdir, tak mampu berkata-kata. Diam seribu bahasa. Dan tiap kali aku ditanya, aku hanya bisa menggeleng atau menganggukan kepala. Aku bisa melihat seringai tawa pada wajah-wajah mereka saat melihat kegugupanku.

Tapi ini juga situasi yang menyentuh hatiku. Karena aku melihat dirimu yang juga dipermainkan takdir. Kau tampak lebih menyedihkan dari aku yang cuma tak mampu bersuara. Kamu hampir pingsan, kehilangan sadar. Inginku bilang saja "Hentikan semua ini! Hentikan. Kita bisa memulainya lagi jika kau sudah merasa baikan". Tapi sudah aku bilang bukan, aku tak bisa berkata-kata. Jadi kita terus menjalani prosesi ini meski kondisi jelas-jelas memihak pada satu kubu.

Kamu, menyentuh hatiku dengan cara yang keji sayang. Kamu memaksakan diri menghadapi takdir kita berdua sendirian. Kamu yang dengan terbata-bata merapalkan kata yang tak pernah kau ucapkan sebelumnya dengan penuh perjuangan. Kamu memaksa aku mendengarkan kata-kata dengan mantra ikatan dengan hati gelisah. Ya, kamu merapalkan kata yang akan membuat majelis ini membubarkan diri dengan besek sebagai bekal mereka. Kamu memperdengarkan aku mantra yang akan membuat aku tak bisa pulang ke rumah.

Kamu, pemeran utama malam itu akhirnya tumbang seusai memenangkan perang atas takdir yang memperolok kita. Dan seharusnya aku mengalungkan tangan di lehermu sebagai penghargaan atas tingkah heroikmu itu.

Share:

0 comments:

Post a Comment

Free to speak up is still under circumstances, no violence