Thursday, December 25, 2014

Surat Korban Pencurian

Hallo kamu pencuri,

Tak lama lagi kamu harus mempertanggungjawabkan pertanyaan yang pernah kau lontarkan padaku. Aku membayangkan kamu yang selalu diam dan berlaku misterius harus duduk tak tenang dengan wajah tegang. Bisakah kau berkompromi dengan ayahku? Mampukah kau meyakinkan dia bahwa kau tak bersalah dan pantas miliki aku?

Lucu memang. Aku tak mengerti takdir apa yang sedang kita jalani. Aku mengenalmu sejak kita masih kanak-kanak dulu. Aku suka mencuri-curi kesempatan untuk menguasai TV di rumahmu hanya agar aku bisa menonton acara televisi favoritku. Aku juga sering meminjam sepeda tanpa sepengetahuanmu, meminta adik kembarmu untuk mengajariku menggunakannya. Tak heran sikapmu selalu sinis kala itu, sering menggerutu pelan di sampingku, memelototiku seperti hendak menerkamku.

Bertahun-tahun kemudian, kita tumbuh dengan tanpa banyak interaksi, kita hanya sebatas tetangga rumah yang terpisahkan sebuah kebun milik orang lain. Tapi aku tahu ceritamu dari ibumu yang masih sering menyapaku seperti saat kecil dulu. Menawarkan tumpangan saat pulang mengaji di sore hari. Ya, hanya sebatas itu. Tapi kemudian saat orang tua kita menganggap bahwa kita cukup dewasa cerita tentangmu bukan lagi cerita tentang anak tetangga rumah yang dikhawatirkan orang tuanya karena tinggal di luar kota...

Aku tak bisa lagi berkata-kata, kau sendiri bisa menerka-nerka kisah selanjutnya.

Yang buatku terkejut, kau tiba-tiba tawarkan komitmen sakral tanpa pernah ucapkan cinta, tak pernah berlaku romantis atau sebangsanya --- tapi aku suka,  entah kenapa aku merasa kamu adalah yang aku harapkan sejak dulu, yang aku pikir tak akan penah tercipta. Ya,  aku selalu meminta untuk dijodohkan dengan dia yang baik dengan cara yang baik agar dapatkan yang baik pula. Dengan caramu yang 'seperlunya', aku merasa doaku diwujudkan dalam sosokmu, tanpa ungkapan cinta, tanpa tebar pesona.

Semua ini akan mengawali kebersamaan kita.

Lalu sejak aku sampaikan rencana hidupku kepada bosku, sejak dia menanyakan banyak hal --- tentang kemungkinan yang mungkin terjadi di masa depan. Dengan dirimu yang tak pernah menghubungiku hanya untuk sekedar basa-basi, atau bahkan untuk mencari tahu tentang aku dan bagaimana diriku, tak jarang pikiran negatif muncul dalam kepalaku; apa kau benar-benar serius kepadaku? Hingga saat tulisan ini muncul ke permukaan, sejak kau tawarkan komitmen itu, doaku satu dan selalu sama, meminta untuk terus ditetapkan hatiku untukmu dan hatimu untuku. 

Tapi hari ini semuanya akan berakhir, semalam aku semakin yakin bahwa kau yang akan menjadi imam hidupku. Sebentar lagi kau akan ucapkan mantra itu dan menyentuh untuk pertama kali, milikiku untuk selamanya. Semoga prosesi itu berjalan dengan lancar.


aku,
Korban pencurianmu
Share:

2 comments:

Free to speak up is still under circumstances, no violence