Thursday, December 11, 2014

Menunggu Dengan Hati

Journal: 11 Desember 2011

Ada seseorang yang memberiku inspirasi dari kemauannya menungguku untuk pergi sarapan pagi tadi. Tak tanggung-tanggung, aku membuatnya menunggu lebih dari setengah jam. Aku hampir saja lupa dengan janji sarapan itu. Tapi hebatnya Dia, dia benar-benar menunggu, tanpa mengeluh. Saat aku menemuinya dengan setengah mengantuk, dia masih menyambutku dengan penuh senyuman.

Biasanya, tiap kali mendengar kata menunggu, secara otomatis akan dihubungkan dengan tingkat kesabaran seseorang. Tapi, setelah melihat apa yang dia lakukan pagi ini, aku baru benar-benar menyadari bahwa menunggu tidak hanya dihubungkan dengan hal itu. Masih ada faktor lain yang dapat membuat seseorang mau menunggu tanpa mengeluh seperti yang dia lakukan pagi tadi.

Tingkat kesabaran yang aku sebutkan sebelumnya hanya akan memberikan sedikit pengaruh saat seseorang mau menunggu “dengan hati" (sama seperti yang telah dia lakukan pagi ini). Saat seseorang mau menunggu dengan hati, dia akan dengan sabar menunggu. Tidak peduli apakah dalam kehidupan sehati-harinya orang tersebut lebih suka marah-marah dan melakukan segala aktivitasnya dengan terburu-buru; orang itu bahkan bisa duduk manis membiarkan detik-detik waktu berlalu jika dia mau menunggu dengan hati.

Aku tidak tahu, apa yang membuat Dia mau menungguku selama itu pagi tadi. Jika aku punya kesempatan untuk menebak, biar aku berimajinasi. Aku membayangkan alasannya adalah:
  • Mungkin dia berfikir bahwa sarapan pagi ini cukup spesial baginya, terlalu sayang untuk dilewatkan mengingat kami jarang sekali having quality time together. (blow this reason anw, I just made it up)
  • Mungkin dia merencanakan bahwa ini sarapan kami untuk terakhir kalinya? probs, kemungkinan itu selalu ada. Mungkin itu alasannya mau menunggu. (I hope he never thinks about it)
Apapun alasannya, dia telah membukaan pemahamanku akan nilai-nilai yang tak memiliki ukuran yang konkrit tapi benar-benar ada di dunia ini.

__________
published in tumblr exactly one year after it had occurred.
and I republished it because I don't want to forget it
Share:

0 comments:

Post a Comment

Free to speak up is still under circumstances, no violence