Sunday, December 7, 2014

Garis miring (/)

Kita berdua duduk berhadapan. Tak saling tegur sapa. Canggung adalah kata paling tepat untuk menggambarkan siatuasi kita berdua. Untunglah aku bisa menyibukan diri dengan mencumbui gelas kopi yang tersaji di depan mata. Setidaknya aku punya pelarian dari sekedar duduk diam tak bicara. Meski keadaan seperti inilah yang tidak aku sukai dari aku. Padahal tak sering kita bisa berjumpa, tapi kali ini aku kembali menyianyiakan kesempatan yang ada.

Aku masih belum mengenal kamu dan pribadimu. Aku masih belum mahami kamu dan maumu. Dan selama ini yang aku tahu hanya kamu dari rupamu, kamu dari  suaramu, kamu dari gerak gerikmu. Lalu jika kau tanyakan apa yang aku suka darimu adalah keberadaan sensasi asing yang menjalar tiap kali aku melihat rupamu, rasa yang menggelitik tubuhku untuk memproduksi adrenalin lebih banyak hingga jantungku berdegup lebih kencang. Kamu yang masih misteri bagiku berlakon terlampau penting dari sekedar orang asing.

10  bulan berlalu,  sensasi itu masih saja ada, diam menetap. Hingga meskipun kita sudah lebih dekat, udara yang bergetar tiap kali kau berujar selalu membuat tubuhku gemetar.Sepertinya tubuh ini selalu bereaksi tiap kali aku melihatmu. Kau adalah reaksi kimia dalam hidupku, aksimu mengundang reaksi atas tubuhku. Terkadang kau jadi isolator yang mematikan indraku atas rangsangan selain dari dirimu. Tak jarang kau jadi katalisator untuk tubuhku merespon semua yang berhubungan denganmu; bahkan kau menjadi respirator yang mengatur tiap hela nafasku tiap kali kau ada dalam jarak pandangku. Berlebihan? Tentu saja tidak. Karena itu benar adanya.

Jadi jika aku harus menghadapi situasi canggung ini, benci adalah ketidaksukaanku atas bodohnya diri. Dalam diam aku mencaci diri sendiri yang memilih berlari -- sok sibuk, sok berlaku acuh tak peduli.
Ah, bagaimana jika aku ubah sudut pandangku? Jadi jika aku ceritakan ini, kisahnya akan menjadi seperti ini:

Kita berdua duduk berhadapan. Tak saling tegur sapa. Tapi biarkan saja, biarkan kesunyian yang bicara. Menyesap segelas kopi berdua akan menjadi kenangan yang tak akan aku lupa.  Aroma pahit yang manis akan menjadi ciri khas kita. Dalam diam kita berbahasa, meski kita tak ada apa-apa tapi nyatanya kamu ada di depan mata. Itu menjadi awal yang baik untuk mengawali semuanya.

Jarak selalu menjadi sekat. Tapi meski kita dekat, tetap saja terasa belum lengkap. Rasa khawatir atasmu tak pernah lenyap.  Kita menghabiskan setidaknya sepertiga waktu kebersamaan kita dengan menikmati sendiri meski sedang berdua. Dan itu sudah lebih baik dari sebelumnya yang hanya saling menatap, melempar senyum kemudian berlalu. Dan kini, saat kita duduk berhadapan, diawali dengan kebisuan, pada akhirnya kita mulai perkenalan. Aku harap ini bisa berakhir sesuai dengan yang aku harapkan.

_______________
Ah sial, aku terlalu banyak nonton film India,  atau --- aku memang sakit jiwa?
Share:

0 comments:

Post a Comment

Free to speak up is still under circumstances, no violence