Sunday, December 7, 2014

Balada Malam Minggu: Sekali Berkata, Terlalu Sekali

Aku mulai menuliskan hal ini sepulangnya piket akhir pekan. Ini bukan perihal pekerjaan.  Ada hal lain yang untukku pribadi cukup menarik untuk aku tuliskan. 

Ini perihal mencemooh yang sudah pada tahap keterlaluan. Bullying yang menakutkan karena bisa berakhir tak hanya sekedar tangisan ataupun hukum kurungan, tapi bisa berakhir dengan kematian. Tak ada salahnya berkomentar, mengkritisi atau bahasa paling politis-nya adalah mengemukakan pendapat.  Toh, negarapun sudah melindungi kita dengan undang-undang untuk hal ini. Tapi ada catatan besar yang harus diperhatikan mengenai hak bersuara, bahwa hak ini berbatas teritorial dengan hak orang lain dan kewajiban diri sendiri.

Aku rasa tak perlu menuliskan lebih detail mengenai hak orang lain karena hak orang lain tak jauh berbeda dengan hak diri sendiri. Pikirkan saja hal-hal yang mendasar yang layak kamu dapatkan sebagai insan Tuhan dan sebagai manusia, itulah hakmu yang dimiliki pula oleh orang lain. Begitu pula dengan kewajiban. Dari sekian banyak kewajiban yang dimiliki setiap individu, kewajiban merupakan sebuah keharusan yang wajib ditunaikan sebagai insan Tuhan dan sebagai manusia.

Dewasa ini, keberadaan social-media yang memudahkan manusia saling berinteraksi tak ayal meningkatkan kesempatan untuk bercuap-cuap lebih banyak. Ada banyak aktivitas yang dapat dilakukan di social-media, mengunggah pikiran, foto, video, bercakap-cakap,  berkomentar, dll. Mungkin belum banyak orang tahu bahwa setiap detail kegiatan yang dilakukan dunia maya dimonitor oleh negara. Lebih mengerikannya lagi bahwa setiap kali terhubung dengan dunia maya, informasinya akan langsung terekam dan tak terhapuskan. Jika kamu berfikir untuk menghapus postingan yang terlanjur kamu unggah, negara akan dengan mudah memunculkannya kembali. Kamu berfikir untuk menghapus akun sosial media kamu,  negarapun tetap bisa memunculkannya dengan tanpa susah payah.

Jadi, bijak-bijaklah dalam berkomentar. Berpendapatlah yang sesuai dengan tetap menggunakan hati nurani. Unggahlah sesuatu yang bermanfaat, setidaknya bermanfaat untuk dirimu sendiri tanpa harus memudhorotkan pihak lain.

Jujur saja, menuliskan semua ini ternyata tak semudah yang aku bayangkan. Sepertinya draft tulisan ini sudah mengendap lebih dari 5 minggu. Alasanku menuliskan semua ini adalah ketika aku membuka akun instagram Syahrini yang dipenuhi komentar-komentar bernada cemoohan dan hinaan yang menurutku itu benar-benar kelewatan. Terlepas dari fakta bahwa Syahrini sendiri tak mempermasalahkan komentar para haters, aku malah membayangkan apa yang akan aku rasakan jika aku menjadi Syahrini?  bisa jadi aku tak sekuat dia yang dihujat se - Indonesia.

Selain itu yang terlintas dalam benakku adalah ketidakmengertianku atas fenomena 1 komentar buruk yang mengundang 1000 komentar buruk lainnya. Sepertinya berkomentar buruk itu menjadi trend dimana banyak orang ingin mencobanya. Sungguh sporadis. Dan kenapa pula komentar buruk itu mudah menular? Aku tak habis pikir, padahal itu tindakan yang tidak bertanggung jawab. Mereka berkata seolah itu hal lucu dan biasa saja. Berceloteh dengan seenaknya.


Share:

0 comments:

Post a Comment

Free to speak up is still under circumstances, no violence