Tuesday, September 16, 2014

Invisible

Sial! Aku hanya membuang-buang waktu menunggumu. Menanti pesan sampahmu yang beberapa hari ini mangkir dari ponselku. Inginnya aku memberondongmu dengan ratusan pertanyaan, 'kemana saja kau akhir-akhir ini? '  meminta penjelasanmu atas kepergianmu yang sama sekali tidak meninggalkan pesan. Tapi aku tak berdaya, aku tak punya kuasa atasmu untuk melakukan itu.  Lagipula siapa aku? Aku hanya sebatas teman dimatamu.

Sebuah kenyataan pahit baru saja menghantamku keras. Menamparku hingga wajahku merah luar biasa. Aku melihat postingan foto terbarumu muncul di beranda media sosialku: sosokmu dalam balutan kemeja hijau toska merangkul seorang wanita anggun bergaun merah muda, kalian tertawa bahagia.

Marah? Terang saja aku merasa marah luar biasa.

Aku merasa teramat bodoh karena sudah terlampau percaya diri bahwa aku istimewa bagimu, sama istimewanya kamu bagiku.

Semua bentuk perhatianmu sungguh memabukan. Buatku terbang melayang. Kau selalu hadir dengan sapaan dan panggilan sayang. Mengisi ruang kosong diantara jari-jariku tiap kali kita pergi bersama,  bergandengan tangan seolah tak ingin terlepaskan. Kau kira akan aku anggap apa perlakuan manis itu? Tak mungkin aku lupakan itu semua, tak mungkin aku anggap itu biasa-biasa saja.

Jadi anggaplah aku pandir. Bodoh karena keluguannya.

Malam ini, ditengah hening malam, dibawah terang bulan, aku membuka-buka semua media sosialmu. Lalu mendapati diri ini terlalu naif. Meski beberapa kali kita berbalas kata, media sosialmu dipenuhi kata romansa beserta wanita itu.

Mengapa aku tak pernah memperhatikannya? Mengapa aku tak bisa melihatnya? Mengapa aku begitu terlena dengan kebahagiaan semu yang tercipta diantara kita. Terlalu banyak pertanyaan mengapa yang mempertanyakan kenapa bisa ini terjadi padahal perasaan cinta ini tampak nyata pada awalnya.

Siapakah yang harus aku salahkan jika akhirnya hati teluka parah dan tak terselamatkan?

Share:

0 comments:

Post a Comment

Free to speak up is still under circumstances, no violence