Saturday, September 13, 2014

Final Waiting

Matahari sudah tinggi dan aku tidak tahu harus menunggu berapa lama lagi. Aku kembali melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Entah sudah berapa puluh kali aku melihatnya selama menunggu dia datang. Aku rasa jam tanganku saja sudah ingin bunuh diri karena tak tahan lagi aku teror. Aku tak bisa berhenti memelototi jarum nya tiap kali dia berpindah.

Satu jam kemudian, dia masih belum datang. Aku rasa ini akhirnya. Aku tak akan menunggunya lagi. Lelah. Lagipula aku terbiasa pergi sendiri, makan sendiri. Tanpanya di sisiku pun aku masih bisa hidup normal dan bahagia. Aku tak akan pernah mau lagi menitipkan kebahagianku padanya lagi. Akan aku ciptakan kebahagiaanku sendiri.

Kedai kopi Belanda ini sudah menjadi saksi kebersamaanku dengan nya, romantisme, canda, tawa, debat, amarah, sudah pernah kita sajikan di kedai ini. Pie apel yang menjadi menu favorit mungkin sudah jemu dipesan berkali-kali oleh aku, dia atau kami.

Aku mengangkat tangan kiriku, meminta perhatian seorang pelayan. "Bill, please,"

Seorang pelayan berjalan tergesa ke arah counter dan membawa map kulit hitam berukuran kecil.

"You didn't wait for your friend, miss?

Aku menatapnya kaget.

"We have new dish that will be ready right away for you to accompany you in waiting your friend!"

Aku melirik tanda nama miliknya yang dikenakan di dada sebelah kanan.

"No, Simon. I've spent so much time here and it's up already"

Aku menyelipkan kartu visa ku ke dalam map setelah melirik angka yang tertera disana.

Pelayan itu menatapku lebih tajam. "I know it is rude. But, since you're here by yourself and I saw you keep checking your watch, I guess you are waiting your boy and still hoping that he would show up"

Aku melipatkan tanganku di atas meja, menanti apa yang akan dia katakan selanjutnya.

"So, would you stay for another minute to wait for him, I could serve you a cup of coffee ---- for free?"

Aku menahan tawa dan kembali menatap name tag di dada sebelah kanan. Dia seorang supervisor. Cukup mengagumkan bagiku dia masih mengingatku sebagai salah satu pelangganya, padahal sudah hampir setengah tahun  aku tak pernah datang ke sini.

"That's very kind of you but no, Simon." Aku menatap matanya yg berwarna biru. "I have waited for hours and he didn't show up."

Dia menaikan kedua alisnya "you are my favorite couple so far, so i hope you two are good" lalu tersenyum ramah. "Okay then, please wait a second!"

Dia lalu membalikan tubuh dan mengurus pembayaranku.

Handphone ku bergetar. Ada dentang sekali yang menandakan bahwa ada pesan singkat dari salah satu aplikasi messanger. Aku mengaduk-aduk isi tas ku yang lebih mirip kotak harta karena berisikan banyak hal didalamnya.

Handphone ku kembali berdentang, kali ini dentangnya tak hanya sekali melainkan beberapa kali disertai getaran tanpa putus beberapa detik yang panjang. Benda mungil bersarung kulit hitam itu akhirnya aku temukan. Aku mengetuk layar handphone-ku. Muncul sebuah gambar dengan pemandangan sunset yang indah. Warna senja yang paling aku suka karena saat itu aku mengabadikannya bersama kamu. Kita berpegangan tangan sambil duduk berdampingan.

Aku menggambarkan pola aneh yg menghubungkan beberapa titik pada layar. Gambarnya kembali berubah. Foto wajah kita yg tidur pulas selama perjalanan kereta dari Malaysia menuju Thailand. Dengan sekali sentuh aku membuka rentetan pesan yang baru masuk yang rupanya adalah sederetan pesan di grup yang membicarakan tentang kelompok terorisme yang sedang menjadi isu nasional.

Dan aku sama sekali tak berniat mengikuti perkembangan beritanya untuk saat ini.

Simon kembali masih dengan map kulitnya.  Dia menunjukan apa yang ada di dalamnya,  kertas kecil yang harus aku tanda tangani.

Aku kembali melihat angka yang tertera di dua carik kertas yang dia sodorkan lalu aku membubuhkan tandatangan ku.

"Thank you Simon"

"Yes, Ma'am"

Aku sedikit menggeser posisi dudukku sehingga keluar dari perlindungan payung raksasa yang melindungiku dr sinar matahari selama menantinya disini; menatap langit yang berwarna biru dengan diberi aksen awan-awan putih tipis yang bergerak lambat. Tuhan selalu berhasil memanjakan mataku dengan pemandangan langit yang mengagumkan.

Aku mengisi penuh paru-paruku dengan udara. Tapi aku masih merasa sesak. Bukan karwna polusi udara ibu kota, tapi mungkin karena tekadku untuk meninggalkannya sudah bulat. Jujur saja, dengan hampir setengah tahun tinggal di Bali, aku sudah terbiasa tanpanya Kepulanganku ke ibu kota saat ini hanya untuk memperjelas bagaimana status hubungan kami setelah bertahun-tahun berada di stage yang sama. Setidaknya mungkin kami bisa 'bicara' untuk berikan penjelasan yang logis atas pertengkaran dan debat tanpa akhir yang terjadi diantara kami selama berbulan-bulan terakhir.

Aku menegadahkan wajahku ke langit, menutup kedua kelopak mataku, membiarkan cahaya matahari jam 2 siang menyentuh setiap jengkal kulit wajahku, merasakan tusukan-tusukan halusnya di atas kulitku.

"Don't you afraid your skin getting dark, hon?"

Aku mendengar suaranya dalam kepalaku. Aku ingat dia menanyakan hal itu ketika aku sedang menikmati matahari pagi di Phi Phi Island.

Aku mendenguskan karbon dioksida melalui hidungku. Apa aku merindukannya hingga suaranya terdengar begitu nyata di kepalaku?

Cahaya matahari ini mulai sedikit menyakitiku. Aku kembali berlindung di bawah payung. Aku seharusnya segera pergi dari tempat ini. Aku harus menempuh perjalanan yang tidak sebentar untuk kembali pulang dan aku tak ingin terjebak di dalam komuter yang dipadati para pekerja pulang kantor.

Aku masih terdiam, duduk dibawah naungan payung. Membiarkan rasa pening dalam kepalaku hilang setelah berjemur di tengah hari.

Seorang pelayan datang menyuguhkan iced lemon dan secangkir brewed coffee.

"Sorry, I didn't order anything, I am ready to leave"

Pelayan itu mematung sejenak lalu terlihat kebingungan.

"I was the one who ordered!" Kata sebuah suara bass yang familiar di telingaku.

Seorang muncul, berjalan ke arahku sambil membawa sepiring kecil red velvet. Pria itu tegap, jangkung dengan rambut diikat menyerupai cepol. Kulitnya lebih putih, bersih, dan di dagunya ditumbuhi rambut yang dicukur tipis.

"Maaf membuatmu menunggu lama" dia duduk di kursi di depanku. Lalu mendorong red velvet yang dia bawa ke hadapanku. "Sebuah sogokan kecil yang mungkin bisa sedikit menghapuskan kesalahanku siang ini"

Aku masih menatapnya tak percaya. Aku pikir dia tak akan datang seperti yang biasa dia lakukan sebelumnya.

"Berapa lama kau menunggu?"

Aku menggelengkan kepala, menolak untuk menjawab pertanyaannya. Dia bahkan seharusnya tahu berapa lama dia terlambat dari waktu yg dijanjikan

Dia menyandarkan punggungnya, menopangkan kaki kanannya ke atas kaki kiri lalu menyilangkan tangannya di depan dada. "Setelah tujuh bulan tidak bertemu ... aku tak tahu apa yang aku rasakan"

Aku menatap matanya. Warnanya coklat dan selalu menatapku hangat.

"'Hambarkah' yang ingin kau katakan?" Kataku sambil mulai menata cake dan minumannya agar berada dalam jangkauanku.

"Mungkin kita terlalu lama dalam situasi seperti ini" jawabnya sambil tetap menatapku.

Aku menggigit bibir bawahku sambil menganggukan kepala beberapa kali. "So, how's your life?"

"Well, it's not same without you"

Aku tersenyum. Ada rasa senang saat mendengarnya. "I hope it's in good way"

"Ya, I didn't say that I am better, even sometimes I feel so free like a bird with you far away from me!

"You're such a jerk"

Dia tertawa, memamerkan deretan giginya. Angin berhembus, menghantarkan aroma husky dari tubuhnya. Aroma itu dulu sempat membuatku betah berlama-lama memeluknya.

"And, how's your life? Bali is heaven, isn't it?" Dia memecah keheningan yang tiba-tiba muncul diantara kita.

"It's pretty good. The nature is good. I play around, snorkel, sun-bath ----"

"Sun bathing is sooo--- you"

Aku terkekeh.  "Most important thing, I feel so useful. You know, living in the most beautiful island on earth doesn't guarantee you live well. I help people to have good living. And yeaaah, experiencing the adventure there is soo hard to express with words"

"You are the one who loves talking!"

"Ups, I know I have to stop!"

"No worry, I love that actually... So we both are good without each other, huh?"

"Yeah, we can conclude that!"

"Have you ever have second thought about us, besides breaking up?"

Aku menatap matanya dalam-dalam. Tak ada gunanya aku tutup-tutupi apa yang ada di dalam kepalaku sementara perpisahan ini sudah semakin nyata. Setidaknya kalaupun kita berdua tersakiti oleh keputusan ini, kita sudah berusaha jujur satu sama lain

"Marriage" kataku sambil menahan senyum. "Aku mulai memikirkan pernikahan. Mungkin itu bisa menyelamatkan kebersamaan kita. Aku tak berminat untuk melanjutkan hubungan tak jelas seperti ini."

"Jadi itu maksudmu dengan 'bosan' yang selalu kau sebut disela percakapan kita?"

Aku mengangguk-anggukan kepala mengiyakan sambil mulai menyendok potongan red velvet milik ku. "Aku bosan dengan ketidakpastian. Kita sudah berteman sejak junior high, meskipun kita baru mulai berpacaran setahun yang lalu, kita tak pernah membicarakan tentang akhir dari hubungan kita."

"Apa kau sudah siap menikah?"

Aku menelan cake merah darah itu dengan susah payah. "Aku berdusta jika aku jawab 'ya'. Tapi aku percaya bahwa aku akan siap jika seseorang datang dan bisa meyakinkanku untuk hidup bersamanya, menghadapi dunia ini berdua.

"Pernikahan bukanlah hal yang sederhana, butuh kesiapan yang matang"

Aku hanya memiringkan kepalaku sambil mengangkat bahu lalu kembali memakan red velvetku. Dia benar. Tapi aku tak ingin membenarkan pernyataannya jika ita hanya untuk jadi pembenaran atas hubungan tanpa ujung ini.

Dia merubah posisi duduknya. Sedikit membungkuk ke arah meja, mencondongkan kepalanya ke arahku. Merebut sendok dan kueku perlahan dan memakannya untuk dirinya sendiri. Aku hanya tersenyum dengan tingkahnya. DIa memang gemar mengambil makanan milikku.

"Menurutmu, kita bisa menikah?"

Akhirnya, pertanyaan ini muncul juga.

Aku mengaliri tenggorokanku dengan iced lemon. "Semua yang ada padamu juga padaku adalah alasan mengapa aku percaya kita bisa menikah."

"Tapi kau inginkan hubungan kita berakhir?"

Aku menatap kedua matanya yang berubah menjadi sendu. "Aku hanya ingin kejelasan diantara kita. Setidaknya, jika memang kita tak punya gambaran masa depan yang sama, aku hanya ingin semuanya berakhir dan biar aku mulai hidup yang baru." Kataku pelan

"Jadi selama ada aku dalam hidupmu, tak pernah ada laki-laki lain?"

"Iya, aku berbeda denganmu idiot! Flying around the world as a single bird." Kataku sambil setengah tertawa.

"Dan kamu masih percaya pada si brengsek dihadapanmu untuk jadi imam hidupmu" dia masih bertanya dengan wajah serius.

"Aku tak pernah menilaimu dari siapa kamu pada saat ini. Lagipula, siapa aku yang harus mengekangmu? Hingga saat ini kau tak pernah benar-benar menjadi milikmu..." aku berhenti sejenak sambil menyandarkan punggungku ke kursi. "Secara pribadi, kau mengagumkan. Kau bekerja keras, penuh mimpi, kau selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang kau kasihi. Kau berpotensi untuk menjadi lelaki yang baik, suami yang baik, ayah yang baik"

"Kau tahu aku player"

"Jadilah player yang hanya untukku!"

Pandangan kami beradu. Sepertinya dia masih belum puas dengan jawabanku. "Kau terlalu rendah diri." Aku akan memulai sebuah cerita yang tak pernah dia dengar sebelumnya. "Kau menganggap dirimu sendiri benar-benar seorang player karena teman-temanmu mengatakan hal yang demikian. Kau senang pergi bersama teman-teman wanitamu -- bahkan sejak dulu, sebelum kita miliki hubungan ini. Tapi aku tahu tak pernah ada yang terjadi antara kalian kecuali sebagai teman."

Sekilas aku melihatnya menganggukan kepala dengan cepat.

"Kedekatanku denganmu merupakan bagian yang penting dari hidupku. Kau buatku rasakan bahwa aku wanita, layak untuk dapatkan romantisme dari seorang pria."

Dia terdiam, mungkin sedang bernostalgia mengenang aku yang sejak kecil lebih menyukai kegiatan fisik luar ruangan hingga sekarang yang memilih mengabadikan diri menjadi tenaga pembantu di daerah pedalaman.

"Kau buatku merasa hebat. Seperti punya kemampuan super yang bisa tekukkan player tangguh sepertimu."

Dia mulai tersenyum. Mungkin merasa geli dengan pilihan kata-kataku. Dia sering bilang bahwa dia suka mendengarkan ceritaku karena pilihan kata-kataku tidak membosankan.

"Dan tentu saja yang paling penting, kau buatku merasa aman. Tak ada yang berani mendekatiku karena tahu kau kekasihku." Aku terkekeh sendiri mengingat salah satu temanku yang secara intens mendekatiku akhirnya memilih mundur secara teratur saat tahu bahwa aku memiliki kekasih yang sayang-jika-aku-tinggalkan.

Dia tersenyum sambil menatapku. Senyuman dan tatapannya itu berbeda dari pada yang biasanya. Lebih bahagia.

"Habiskanlah minumanmu! Kita harus segera pergi sebelum para pekerja kantor pulang dan memadati jalanan!"

"Aku masih belum selesai bercerita!"

"Sudahlah! Kau punya semua waktuku untuk ceritakan apa yang ada dalam otakmu."

Sambil memberengut aku menghabiskan air lemon ku hingga aku bisa melihat dasar gelasnya yang berkilauan diterpa sinar matahari.

Aku mengeluarkan sebuah cincin dengan berlian kecil berpotongan solitaire yang sederhana namun cantik sekali. Dengan mata terbelahak aku menatap dia tak percaya.

"Biar aku bantu kamu pakaikan!" Katanya menarik jemariku lalu menyematkan lingkaran mungil itu ke jari manisku. "Aku akan mengantarkanmu pulang, akan aku temui ayahmu untuk memberitahunya bahwa aku dan orangtuaku akan datang meminang anak sulungnya"

_____________
Mas Abe bilang pie apple yang disajikan di kedai kopi Belanda Goedkoop dibuat sebagaimana orang Belanda membuatnya. Kurasa aku akan mencobanya.

Share:

0 comments:

Post a Comment

Free to speak up is still under circumstances, no violence