Tuesday, September 23, 2014

Coklat

Tiap hujan dan udara mulai terasa dingin, aku ingat tentang pertemuan pertama kita di kedai kopi malam itu. Kita berdua duduk bersisian menanti hujan reda. Lewat coklat yang tersedia di atas meja, kita berkenalan. Kau ajarkan aku bagaimana menikmati makan coklat. Instruksimu terdengar mengada-ngada pada awalnya. Tapi aku kembali merindukan sensasi coklat asli yang memenuhi mulutku saat itu.

Saat menggigit dan mengunyahnya secara perlahan, aroma khas coklat keluar; kelembutan teksturnya lalu menyebar, meleleh di langit-langit, sisi mulut serta lidah. Ada desiran aneh dan hal itu membuat jantungku berdetak lebih cepat dari pada biasanya.

Aku tertawa menyadari semua yang kau katakan tentang sensasi coklat itu benar adanya. Kita berbincang lama dalam jarak yang cukup dekat. Aku bahkan dapat mencium aroma coklat yang keluar dari mulutmu.

Sayang, aku lupa menanyakan namamu saat itu dan aku mulai merindukanmu -- juga coklat itu.


Share:

0 comments:

Post a Comment

Free to speak up is still under circumstances, no violence