Saturday, May 24, 2014

Tentang Dia dan Cinta untuknya

Aku akan jujur bahwa aku iri padanya yang sedang jatuh cinta. Wajahnya selalu merona tiap kali membicarakan dia yang dipuja. Tuhan, aku inginkan getaran itu ada, kembali memenuhi aliran darahku, mendesir dan menggelitik hingga tubuhku bergidik. Tuhan, aku butuhkan cinta itu untuk dia yang akan mengimami ku saat menyapamu. Lelaki yang baik budi pekertinya, baik ilmu agamanya, menyayangi kakaknya, mengasihi adik dan saudaranya kuharapkan cinta itu tumbuh berkembang, menancap dan berakar hanya untuknya. Tuhan, aku tak akan banyak pinta. Jodohkan aku pada lelaki baik itu, lalu biarkan cintanya tumbuh berkembang seiring berjalannya waktu.

Logikaku pernah bilang bahwa aku harus mulai dengan bibit cinta diawal kami berjumpa. Harus kurasakan bunyi 'klik' saat menatap matanya. Lalu suatu saat ada sebuah bisikan yang merubah pahamku bersuara, 'tak perlu cinta diawalnya jika itu bisa menggiringmu mendekati dosa'. Lalu doaku mulai berubah, 'Tuhan sang pengendali hati, buatlah cinta itu tumbuh semestinya, buat aku bisa memeliharanya tanpa harus memperlihatkannya, jika kau jodohkan aku dengannya, maka bantulah aku untuk menjaga cinta itu tetap tumbuh hingga aku bisa masuk surga karenanya. Namun jika aku tak berjodoh dengannya, maka bunuhlah rasa suka itu perlahan-lahan supaya tak menyakitkan, tumbuhkan cinta yang baru untuk dia yang berhak menerimanya.'

Perihal cinta ini ciptakan dilema. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku hanya bisa berdoa pada-Mu wahai Sang Maha Kuasa. Aku harus bisa melewatinya.

__________________________
Ah, aku ini kenapa?
Mengapa begitu tak berdaya?
Apa karena 'dia-yang-awalnya-biasa-saja'?
Share:

0 comments:

Post a Comment

Free to speak up is still under circumstances, no violence