Saturday, May 24, 2014

Maafin kakak, Da

Biarkan aku menuliskan sesuatu malam ini Tuan Pemilik Semesta Alam; menuliskan permohonan maaf, ucapan syukur, juga permintaan yang tiada bosannya aku utarakan pada-Mu disetiap akhir sujudku. Kali ini sedikit berbeda, aku menuliskannya dengan berlinang air mata. Sibodoh ini kembali ditinggalkan yang terkasih Tuan. Tak mampu menjaga hati dia yang sepatutnya dia lindungi. Bisakah aku memintanya kembali?

Tuan, kau sangat tahu aku benci ditinggalkan, kau tahu benar aku akan menangisinya semalaman. Ku mohon Tuan jangan ambil yang satu ini, tidak malam ini, tidak juga nanti. Sudah banyak orang yang datang lalu pergi sesuka hati. Tapi aku tak mau kehilangan yang satu ini. Aku ingin dia, seharusnya kita bisa lewati tanpa aral yang berarti.

Ini hanya perihal persepsi. Tak kusangka dia percaya pada akting burukku ini. Aku ternyata telah bermain dengan api. Tuan, kumohon jangan buat aku merana begini. Kukatakan padanya 'terserah, aku tak mau peduli', padahal dalam hati aku tersakiti oleh kata-kataku sendiri. Buatku, tak masalah dia marah semalaman, dia maki aku tak berperasaan, asalkan dia tak tinggalkan aku sendirian.

Aku sudah coba berikan penjelasan, Tuan. Namun dia tak mau mendengarkan. sepertinya aku memang sudah kelewatan. Dia marah dan baru saja ucapkan perpisahan.

___________
Maafin kakak ya da,
Kakak bohongnya kelewatan.

Share:

0 comments:

Post a Comment

Free to speak up is still under circumstances, no violence