Saturday, May 3, 2014

Tuhan Kami Satu, Tapi Berbeda

ending version for Tuhan Kami Satu, Tapi Berbeda,

5 Tahun Kemudian

Malam ini, kami berdua kembali terjebak pada diskusi panjang tentang masa depan. Penjelasan panjang lebar yang sama sekali tidak memberikan pilihan lain. Hingga akhirnya kami terdiam, tak mampu lagi bersuara, kami memilih meninggalkan coffee shop. Pulang menuju tempat tinggal masing-masing meski jalan kekuar yang ada masih membuat kami tak berdaya.

Sepanjang jalan kami diliputi kesunyian. Aku bahkan bisa mendengar jeda sunyi pada sela-sela musik yang mengiringi perjalanan pulang kami. Hubungan kami berdua sepertinya memang tak terselamatkan meski tak satupun dari kami menginginkan sebuah perpisahan.

Dia menginjak pedal rem perlahan hingga mobil berhenti tepat di tempat dia biasa memarkirkan mobilnya. Aku melepaskan sabuk pengaman lalu menatap wajahnya yang juga sedang menatap wajahku. Ada kesedihan terpancar dari balik kaca matanya. Tangan kanannya bergerak, jari-jarinya menyentuh helaian rambutku, merapikan poniku.

"Aku bahkan sudah merindukanmu sebelum kau pergi"

Nada suaranya terdengar putus asa. Aku masih kaku, lidahku kelu.

Dia melepaskan kacamatanya, meletakkannya di atas dashboard. Lalu dengan lembut jari-jari tangannya menyusup diantara rambutku, menarik kepalaku perlahan-lahan hingga wajah kami bertemu. Keningnya menempel di keningku, hidungnya menyentuh ujung hidungku.

"Apa aku bisa tanpamu, di?"

Mataku terpejam, Aku bisa mencium aroma kopi keluar dari mulutnya.

"Apa kita bisa seperti ini sedikit lebih lama?" Tanyanya lagi.

Aku melingkarkan tanganku di tubuhnya, menenggelamkan wajahku ke lehernya. Bulir air mata tak bisa aku tahan lebih lama lagi. "Kenapa tidak ada akhir bahagia untuk kita Cel?"

Dia balas memelukku. Menepuk-nepuk pundakku. Lima tahun bertahan dan pada akhirnya tetap saja kami harus menemui perpisahan.

***

Aku melipat mukenaku. Sambil sedikit termenung aku kembali memikirkan hubungan yang telah kami jalani selama bertahun-tahun. Ketakutan ini sejak pertama telah  membayangi kami. Perbedaan dalam memanggil nama Tuhan kami, perbendaan dalam beribadah kepada-Nya, perbedaan yang mereka bilang itu  prinsip. Tapi perbedaan itu tak menjadi penghalang cinta tumbuh diantara kami.

Tapi aku lelah. Aku kehabisan tenaga untuk mempertahankan satu-satunya alasan melanjutkan hubungan ini.  Dua hari lalu ibuku mengenalkan aku pada seorang pria, anak dari temannya. Seminggu sebelumnya, Marcel dipertemukan dengan seorang wanita, teman dari saudaranya. Orang tua kami tak menyetujui apa yang sedang kami jalani. Tak satupun dari mereka mau mengerti bahwa cinta ini tak bisa jika ke lain hati.

Getar handphone ku menarik perhatian.

Ikutlah bersamaku besok. Kita akan bersenang-senang, seharian. Untuk terakhir,  sebelum kita hanya menjadi seorang teman
.
Air mata kembali berlinang. Rasa sesak di dada tak lagi bisa ku tahan.

***

Aku kembali membasuh wajahku dengan air. Kedua mataku bengkak luar biasa akibat menangis hingga jatuh tertidur. Lima belas menit lagi dia akan datang menjemputku, tapi dengan mata seperti ini hanya akan membuatnya khawatir. Aku mengambil tas make up ku, mengeluarkan eye shadow. Aku masih memilah-milih warna yang ajan aku apply tapi gerakan tanganku terhenti ketika aku mendengar seseorang mengetuk pintu kamarku.

"Siapa?"

"Ini aku, Marcel"

Aku membukakan pintu. Seaosok pria dengan five o'clock shadow berdiri sambil membawa dua kopi panas dan croissant

"Ada apa dengan matamu?" Tanyanya dengan nada khawatir.

"Bengkak, aku malas menghapus riasan di mata kemarin malam. Beginilah akibatnya" jawabku berbohong. Sedikit mencuri kesempatan meraba permukaan kasar dagunya yang aku sukai sebentar saja sebelum aku kembali mendekati kotak make up ku dan kembali memilih warna eye shadow yang sempat terhenti karena kedatangannya.

"Kamu tidak berniat untuk menutupinya dengan benda kimia ini kan?"katanya sambil memandangi palet berisikan eye shadow warna-warni.

"Dengan menggunakan ini, akan menyamarkan bengkak di mataku" aku berkilah, memoleskan kuas pada lingkaran warna coklat.

"Tidak perlu pakai make up, aku menyukai wajahmu meski tanpa make up. Biarkan saja matamu bengkak begitu. Orang hanya akan menyangka kalau kau menangis semalaman karena aku berselingkuh.

Aku tertawa pelan. "Konyol", kataku sambil menatap cermin lamat-lamat, bersiap mewarnai kelopak mataku dengan eye shadow berwarna coklat.

"Sudah aku bilang, tak perlu menggunakan make up. Kau cantik meski tanpa make up." Katanya sambil menahan tangan kananku, merebut kuasnya, lalu menutup palet eye shadow nya.

"Kita pergi sekarang, kau makan croissant mu di mobil saja" tambahnya. Dia menarik tanganku, menggiringku keluar menuju tempat dia memarkirkan mobilnya.

Sepanjang perjalanan, kami diliputi kebisuan. Aku menyibukkan diri dengan croissants dan kopiku. Dia sendiri fokus mengendarai mobil,  memperhatikan jalan.

Kami berhenti di sebuah gedung yang aku kenal. Gedung exhibition tempat kami akan melakukan project pertama kami. Dia yang memiliki sebuah event organizer, dan aku yang memiliki wardrobe collection membuat sebuah mini project yang kami beri nama 'dreamy wedding', sebuah event untuk menciptakan konsep pernikahan impian yang diabadikan melalui gambar. Setiap pasangan baik yang telah menikah ataupun belum menikah akan mendapatkan kesempatan untuk merasakan pernikahan dalam 5 tema, traditional wedding, classy wedding, army wedding, runaway wedding dan sweet weddingProject ini akan diadakan selama 3 hari dan setiap harinya akan ada 20 pasangan yang berkesempatan untuk merasakan dreamy wedding ini.

"Kesini?" Tanyaku setengah keheranan. Hari ini hari Minggu dan kami terbiasa untuk menghindari mengerjakan pekerjaan pada hari libur.

"Ya, disini... turun lah, mereka semua sedang menunggu kita"

Aku masih belum memahami apa yang sedang dia rencanakan tapi aku tetap menuruti perintahnya. Aku turun dari mobil dan langsung memasuki gedung exhibition tanpa menunggunya terlebih dahulu. Dekorasi untuk tema dreamy wedding sudah memasuki tahap 80%. Aku melihat ada July, hair-stylist ku sedang duduk sambil membolak-balik majalah. Ada juga Adam, make-up artist yang sedang sibuk memastikan neon pada kacanya berfungsi dengan baik. Dia menyadari kedatanganku untuk pertama kalinya.

"Hello lady" katanya menyapaku yang dia lihat melalui pantulan cermin. "Ouch, look at that swollen eyes! Terrible!!! Did you cry all night long?" Katanya panik setelah menyadari ada yang tidak beres dengan mataku. Dia segera berbalik dan menghampiriku, mencengkram kedua bahuku dan menatap mataku bergantian.

"Jangan beri tahu Marcel, I didn't tell him a damn" kataku sambil berusaha melepaskan diri dari cengkraman adam.

Aku merasakan July menatapku tajam. "I hate you two, damn it!! Stupid romance!! Do what you have to do, Dam. I need fresh air!!" Katanya kesal sambil melemparkan majalah yang dia pegang. Dia lalu pergi meninggalkan kami berdua.

Aku menatap Adam meminta penjelasan mengapa July tiba-tiba kesal.

"Duduklah, akan aku jelaskan sambil menata rambutmu."

Aku duduk di depan cermin seperti yang dimintanya. Dia lalu mulai menyusun alat make up-nya agar berada dalam jangkauan tangannya.

"Aku rasa, Marcel belum menceritakan apa rencananya hari ini"

Aku menatap adam dengan seksama melalui pantulan cermin. Dia sedang menyiapkan pembersih wajah sebelum mulai mewarnai wajahku, lalu dia mulai bercerita.

Semalam marcel menemui Adam dan July. Dia menceritakan bahwa hubungan kami sudah mencapai akhir, tak bisa terselamatkan. Perbedaan agama yang membuat kami harus menyerah. July, sejak awal menyukai kami, pasangan yang berbeda agama yang berhasil memperjuangkan cinta kami selama lima tahun. Itulah sebabnya dia selalu senang jika harus bekerja bersama aku maupun Marcel. Dia senang melihat perhatian Marcel yang begitu toleransi terhadap aku yang harus beribadah lima waktu dalam sehari diapun mengagumi aku yang selalu semangat mengingatkan Marcel untuk pergi beribadah di hari minggu. Dan ketika mendengar bahwa kami memutuskan untuk berpisah, July adalah salah satu orang yang sangat terpukul. Baginya, Tuhan sangatlah tidak adil bagi kami yang senantiasa beribadah kepada-Nya.

"July menyesalkan keputusan kalian" kata Adam sebagai kalimat penutup.

Aku mendesah pelan.

"Just finish what you have to, Adam!" July tiba-tiba muncul sambil membawa beberapa pakaian yang akan aku pakai untuk pemotretan nanti.

"It's your turn now!" Kata adam masih sambil tetap memandangi wajahku.

July meyiapkan satu kotak berisi jepit rambut. Dia lalu mengurai rambutku yang sejak awal aku gulung dan ikat asal-asalan.  "Kalian berdua sangat serasi"katanya sambil menyisir rambutku dengan lembut.

"Iya, kau benar"

"Jadi kalian akan tetap berpisah?"

"Kita berdua tak bisa disatukan oleh pernikahan, July"

"Kalian bisa menikah di Australia, jika kalian tak mau melepaskan agama kalian"

"Apa penjelasan yang harus kita berikan pada orang tua kita nanti?"

"Cinta"

"Dan kau lebih mencintai seorang ciptaan dibandingkan penciptanya?"

July menghentikan gerakan tangannya dan pandangan kami bertemu melalui pantulan cermin.  Dia sepertinya ingin mengatakan sesuatu, tapi dia kemudian mengurungkan niatnya.

Rambutku telah sukses dia tata dengan cantik. July menyodorkan sebuah gaun berwarna pastel show off shoulder dan sebuah sepatu tumit tinggi dengan warna senada. Aku memakainya lalu mematut diri di depan cermin. Bagian perutnya terasa sempit sekali, apa aku telah menjadi gendut ataukah memang gaun-gaun seperti ini selalu sempit di bagian perutnya? Aku masih saja berjibaku dengan bagian perutku, tak memperhatikan seseorang datang mendekat lalu dengan cepat merangkulku dari belakang.
"Cantik" gumamnya.

"Cell?! Kau membuatku terkejut"

Dia tersenyum. "Aku bisa merasakan detak jantungmu, Di"

Kurasakan wajahku memanas, dia adalah orang yang selalu sukses membuat jantungku berdetak lebih kencang meski selama lima tahun ini kami begitu dekat. Marcel mengenakan setelan jas berwarna hitam dengan saputangan pastel di sakunya. Meski dia telah memotong rambut yang selalu tumbuh di dagunya, dia Tampak begitu memikat. Aku mengagumi pasangan yang aku lihat dalam cermin. Begitu serasi dan penuh cinta.  Namun sebuah kilat mengagetkan kami. Lucas berdiri di dekat partisi nyatanya sedang memperhatikan kami.

"Sudah aku duga, dengan flash gambarnya terlihat lebih baik". Katanya berbicara sendiri.

Marcel tertawa terbahak. Entah apa yang sedang dia tertawakan. Tapi sedetik kemudian, dia menarik tanganku, membimbingku ke luar ruangan menuju ruang foto tema wedding dream. Melakukan beberapa pose berdua mengabadikannya dalam sehelai gambar. Sambil banyak tertawa kami melakukan semua ini dengan gembira. Meski beberapa kali kami sibuk mengganti wardrobes karena tiap kali berganti tema, kami harus mengganti pakaian kami, kami melewati semua ini dengan bahagia.

Sepertinya perpisahan ini tak terasa menyakitkan untuk hari ini. July menghampiriku dengan membawa satu perangkat aksesoris. "Ada satu tema yang khusus kita siapkan untuk kalian. Duduklah, aku harus memasangkan peutup kepala ini." July memasangkan hijab menutupi kepalaku, memilinnya, menghiasnya dengan sederhana, membiarkan sehelai kain itu menutupi rambut, bahu dan dada, menyelipkan ornamen bunga berwarna merah muda.

"Apa Tuhan mencintai kalian?" Tanya July. 

"Dia mencintai kami, kamu, semuanya.." jawab Marcel cepat. Dia sedang menatapku. "Kau indah dalam balutan jilbab, Di" dia berjalan menghampiriku, merengkuh kedua bahuku dan menatap bayangan kami berdua pada cermin. Dia telah mengganti jasnya dengan sebuah baju yang senada dengan  kebayaku. Yang tak bisa aku bayangkan adalah sebuah peci yang dia kenakan, menutupi rambutnya, memperlihatkan keningnya.

Pada tema ini kami duduk di belakang sebuah meja, duduk sedikit berjauhan dengan selembar kain indah memayungi kami. Jantungku berdegup begitu kencang. Beginikah rasanya dihadapkan pada detik-detik menghadap penghulu?

Lucas mengaburkan lamunanku, meminta July melepaskan kain yang menutupi kepala kami dan meminta marcel memasangkan cincin pada jari manisku. Setelah dia mengabadikan momen itu, dia memintaku untuk mencium punggung tangan marcel. Aku tak bisa lagi menahan sesuatu yang bergejolak di dadaku, mataku mulai memanas.

"Kiss her forehead, Cel!"teriak Lucas meminta marcel mengecup keningku.

Marcel menuruti apa kata fotografer nya dan mengecup lembut keningku. Aku merasakan bulir hangat meluncur mulus dari sudut mataku. Marcel menyadari air mataku, dia menarik tubuhku lebih dengat lalu memeluknya.

Aku bisa merasakan semua pasang mata menatap kami dengan nafas setengah tertahan.


***


Untuk pasangan berbeda agama favoritku yang dengan tegar menyatakan, "kugadaikan cintaku untuk-Nya"
Share:

0 comments:

Post a Comment

Free to speak up is still under circumstances, no violence