Sunday, February 23, 2014

Ulahku (Lagi)

Dengan serampangan aku memasukan barang-barangku kedalam tas. Melepaskan sepatuku dengan kaki, membiarkannya tergeletak berserakan di kolong meja kerja. Aku tak perduli, ada janji kencan dengannya malam ini. Aku memakai sandal jepitku lalu berjalan melewati cubicle teman-temanku dengan tanpa suara, berharap tak ada yang menyadari bahwa aku pulang lebih cepat dari mereka.

Aku menunggu pintu lift terbuka dengan tidak sabar. Kalau saja aku bukan berada di lantai 34, aku mungkin akan nekat menggunakan tangga darurat untuk segera meninggalkan gedung ini. Ponselku bergetar beberapa kali, aku mengaduk-aduk isi tasku yang berantakan, berharap secara ajaib tangan ini bisa menemukannya tanpa harus aku melihatnya. Sial, pintu lift terbuka, didalamnya sudah ada sosok para direktur yang juga hendak pulang.

Dan aku memakai sandal jepitku!!

Tapi malam ini terlalu spesial bagiku untuk menunggu lift lainnya. Aku masuk ke dalam lift dengan senyum dan sapaan ramah, berharap tak ada seorangpun yang menyadari apa alas kakiku saat ini.

Ponselku kembali bergetar. Aku tak bisa membukanya meski benda mungil itu sudah ada di genggamanku.Tak etis bukan jika aku harus memainkan ponselku sedangkan di kotak sempit itu aku berdiri di depan direktur? Aaarggh, aku frustasi, rasanya turun dari lantai 34 ini terasa sangat lama. 

Seketika, saat pintu terbuka, aku langsung mengambil langkah panjang, menempelkan access card pada sensor lalu berjalan cepat keluar gedung. Beberapa kali ponselku ini bergetar pendek. Aku yakin itu pesan yang dikirimkan olehnya. Biar saja dulu, akan aku buka ketika aku sudah melewati security check di main gate nanti.

Ponselku berhenti bergetar, tak ada lagi pesan yang masuk. Malam itu, setelah langkah panjang terburu-buru membuat aku berkeringat seperti telah dikejar anjing penjaga, aku menatap lamat-lamat layar ponselku. Pesan singkat terakhir yang membuat dadaku sesak penuh rasa bersalah.

"Mas capek disuruh nunggu terus"

Dari setiap janji yang aku buat dengannya, tak ada satupun yang aku tepati. Stupid me.

Sebagai perempuan aku tidak cukup peka dengan apa yang dia rasakan, pada apa yang dia inginkan. Padahal secara gamblang yang dia mau hal yang sederhana, aku memenuhi semua ucapanku, aku memprioritaskan dia di setiap hari kami bertemu.

Aku kembali membaca beberapa pesan lama yang dia kirimkan dulu, kebanyakan isinya mengingatkanku untuk makan dan beribadah. Ada pula pengingat untuk bangun pagi. Kebanyakan pesannya berisi celotehan betapa aku harus makan lebih banyak, bahwa aku harus meningkatkan berat badanku.
Bukankah dia begitu perhatian?

Menunggu bus pulang kali ini terasa berbeda. Aku bahkan tak lagi berharap bus yang aku tunggu segera tiba.

Aku berjalan lunglai menyusuri jembatan dan trotoar, berhenti sejenak di tempat biasa dia menungguku. Aku berharap dia berada disana, melihat sosoknya yang sedang bosan menunggu. Aku kembali memeriksa ponselku, tak ada notifikasi baru, tak ada pula pesan terbaru.

Kalimat itu masih tertera jelas disana, 

"Mas merasa enggak dihargai".


.... Ini pertengkaran kedua kita dan aku harap aku tak bisa membaca saja.
Share:

0 comments:

Post a Comment

Free to speak up is still under circumstances, no violence