Thursday, December 5, 2013

Karena Cerita Kami Dibuatkan Tuhan

Biar aku ingat-ingat kapan pertama kali kita bertemu? Saat aku semester 5 dan dia adalah seorang praktisi audit yang diundang oleh dosenku pada mata kuliahnya. Saat itu aku hanya memandangnya sebagai seorang dewasa biasa tanpa pernah menyangka akan ada pertemuan lain selanjutnnya.

Jika aku kembali membayangkan gadis itu. Dia hanya anak ingusan yang sedang berusaha menyerap semua penjelasanku yang mungkin saja tak dia mengerti. Memandangiku dengan mata bulatnya, sesekali menuliskan sesuatu di dalam catatannya. Aku tak pernah menyangka akan ada rasa penasaran atas apa yang ditulisnya dalam catatannya

Pertemuan kedua kami di coffe shop tempat aku bekerja part-time. Dia duduk di pojokan, sibuk berkutat dengan laptopnya. Dia tak tampak mengenaliku saat aku menghampirinya untuk menanyakan apa pesanannya. Tanpa banyak bertanya meminta penjelasan tentang coffee yg tersedia disini, dia memesan Americano. Satu hal yang aku simpulkan darinya: dia tahu apa yang dia mau dan tak peduli dengan yang lainnya.

Aku bertemu dengan gadis mata bulat itu lagi di sebuah coffee shop. Aku tak menyangka akan melihatnya dalam balutan seragam pelayan coffee-shop. Aku pikir aku tak akan menemukan mahasiswa yang mau repot-repot kerja part-time di kampus itu. Dia begitu profesional, menyapaku untuk menarik perhatianku, lalu menanyakan apa yang akan aku pesan. Sepertinya dia tak ingat bahwa aku pernah menjadi guest-lecturer di kelas audit-nya, atau dia adalah orang yang terlampau cuek pada orang lain? Ah, untuk apa aku memikirkan dia? aku punya banyak sekali pekerjaan yang meminta untuk aku selesaikan.

Pertemuan ketiga kami: jogging track at hidden park. Sungguh! Aku menempuh perjalanan jauh untuk memotret keindahan taman ini dan mendapatinya dalam balutan sport-suit sedang jogging menyusuri track. Dia terlihat menawan dengan 5 o'clock shadow-nya. Oooh, apa yang aku katakan?? Otak ini kotor sekali!!

Tak aku sangka aku melihatnya sedang memotret scenery di tempat aku biasa jogging. Dia mengenakan ankle boots berwarna coklat, pencil skirt warna krem, cardigan hijau belel yang kelonggaran. Dia terlihat mempesona dengan menggulung rambutnya asal-asalan dengan sebuah ikat rambut. Beberapa helai rambutnya terlepas dan tergantung bebas di dekat lehernya. Ingin sekali aku menariknya lalu merapikan rambutnya itu. Sial, pikiran macam apa ini! Dia anak ingusan yang masih kuliah semester 5!

Kami kembali bertemu di tempat yang tak terduga. International Youth Conference. Siapa sangka diantara tamu undangan yang datang ada dia duduk di deretan depan bersama orang-orang penting dari Ford Foundation, US Ambassy. Who's that person really? Aaaah, akan aku cari tahu nanti, pekerjaanku untuk mengurusi media yang datang hari ini benar-benar membuatku tak bisa memikirkan hal lain.

Apa aku salah lihat? Di International Youth Conference ini aku melihat sosok si mata bulat lagi. Dia mengenakan kaos seragam panitia, dengan name tag bertuliskan: Media Relation. Beberapa kali aku melihatnya sibuk menggiring beberapa juru warta ke lantai atas dimana para awak media bisa meliput acara ini dengan bebas. Sesekali dia berkomunikasi dengan temannya melalui radio panggil. Siapa gadis itu sebenarnya? Akan aku cari tahu nanti, sekarang ini bukan waktunya untuk memikirkan dia, aku harus beramah-tamah dengan orang-orang penting yang diundang di acara ini.

Katakanlah padaku bahwa cerita hidupku ini hanya Tuhan yang tahu. Setelah menyelesaikan pendidikan S1 ku dengan penuh keringat dan tetesan air mata, aku bekerja di sebuah TV Swasta besar di negeri ini. Bukan menjadi seorang Akuntan-auditor-atau apapun yg berbau ekonomi, tapi menjadi seorang Researcher. Hari ini aku baru saja menandatangani kontrak kerjaku, dan aku berniat untuk merayakannya bersama Mickey, seorang teman yang menjadi reporter di DAAI TV.

Dan saat itulah, setelah lebih dari setahun tak bertemu. Aku kembali melihat sosok 5 o'clock shadow favourite ku. Dia menghampiri counter dan duduk di sebelahku. 'Mau pesan Americano, Mr. Alan?' Sapaku. Entah ada energi apa hingga aku berani menyapanya. Dia menolehkan wajahnya, menatapku terkejut.

Waktu berlalu begitu saja. Setelah empat tahun menjalani profesi auditor, aku memilih keluar dan menjadi chief internal auditor di sebuah perusahaan automotif. Hari ini aku datang ke kantor lamaku untuk mengurusi beberapa dokumen yang baru selesai diproses. Setelah itu aku memilih mampir ke sebuah coffee shop di dekat kantor. Sepertinya aku akan merindukan secangkir americano disini.


Saat aku mendekati counter, aku lihat pelayannya masih terlihat sibuk meracik pesanan sebelumnya. Sambil berdiri dan mengetuk-ngetukkan kuku, suara seorang perempuan menarik perhatianku, 'Mau pesan Americano, Mr. Alan?' Gadis bermata bulat itu, dia sedang tersenyum kepadaku.

"Masih ingat padaku Mr. Alan?"

"Ya, tentu saja. Aku bahkan pernah melihatmu di tempat lain! Masih aktif di youth movement?

"Hahaha, ya... That's my passion actually. Sayapun melihat anda di IYC dua tahun lalu. Sayang saya tak sempat menyapa anda Sir"

"Oouch, c'mon! I am not that old, just call me Alan! Aku juga melihatmu saat itu, kamu terlihat begitu sibuk"

"That was a hectic day!"

"Kamu masih suka fotografi?"

"How do you know?"

"Two frappucinos and waffle" sela barista sambil menyodorkan pesananku.

"Thaaaank-you" kataku sambil menyerahkan kartu flash-ku.

Mickey tiba tepat waktu. Dia mengagetkanku dengan muncul di belakang punggung.

"Keeeet, congratulation" teriaknya kencang.

Aku hanya membelahak kaget membiarkan dia memeluk tubuhku.

"It's such a great faith! Let's me pay this to celebrate it!"

"Udah aku bayar Mike!" Jawabku sembari menahan tawa. Aku meyodorkan frappucino ke arahnya. 

"Anyway, Alan, this is my superman, Mikey, and Mike, this is Alan, a--- "

"A friend!" Jawab Alan sambil mengedipkan sebelah matanya pada Katerina.

Mikey mengerutkan dahinya dan memincingkan mata ke arah Katerina yg biasa dipanggilnya Keket. Berharap mendapatkan penjelasan dari arti kedipan Alan. Tapi katerina hanya menjawabnya dengan senyuman lebar.

Aku tak pernah menyangka bahwa kami akan mendapatkan momen untuk bercakap-cakap seperti ini. Pembicaraan singkat, menggantung, berakhir begitu saja karena aku harus segera pergi bersama Mikey. 

Apa yang baru saja terjadi? Aku dan gadis bermata bulat itu bercakap-cakap begitu akrab seperti dua orang yang telah mengenal lama. Siapa tadi namanya? Ket? Chaterine kah? Aku berlari tergesa-gesa menuju pintu keluar dan dia telah menghilang..

"Alan? Ada apa?"

Sosok gadis bermata buat itu muncul dari dalam coffee shop. Dia belum pergi meninggalkan tempat ini rupanya. Tapi kemunculannya yang mendadak membuat Alan kelu, tak tahu harus berkata apa.

"Aku lupa menanyakan namamu"

--0o0--



Kau pikir ada pertemuan seperti apa lagi setelah kejadian itu? Ada banyak. Cerita kami berdua sungguh dipenuhi dengan banyak ketidaksengajaan. Aku suka sekali dengan jalan ceritanya, jadi jangan salahkan aku jika aku memiliki cerita lengkapnya tertulis sempurna dalam buku jurnalku.

Tak akan ada yang menyangka aku kini bersanding dengan gadis bermata besar. Hanya dengan kehendaknyalah aku bisa menemukannya dan mendapatkan hatinya. Jika kisah ini dituliskan maka kisah ini akan berakhir 'bahagia selamanya'


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Share:

0 comments:

Post a Comment

Free to speak up is still under circumstances, no violence