Monday, December 2, 2013

Benar Memang: Semut di Ujung Lautan Tampak

Aku mulai merindukannya. Sahabatku yang kini ada di benua lain. Lucu memang, saat kami menghabiskan hari-hari kami bersama, aku tak pernah merindukannya seperti ini. Aku tak pernah tahu kapan perasaan membutuhkannya mulai tumbuh. Akupun tak pernah menyangka bahwa rasa seperti ini akan hadir dalam hatiku untuknya. Seperti rumput ilalang yang tak disadari telah merubah halaman gersang menjadi padang rumput yang lapang. Kemana saja aku ini? Bagaimana bisa perasaan ini luput dari pengamatan dan baru terdeteksi saat hati ini kehilangan dia dari pandangan.

Sesekali aku menghubunginya lewat sebuah pesan singkat menanyakan kabar. Terkadang aku menyisipkan pesan suara yang dia balas sambil menahan tawa. Tidakkah dia tahu rindu ini sungguh menyiksa? Bisakah dia menangkap sinyal-sinyal cinta lewat pesan yang aku sampaikan padanya? Sial memang! Kenapa aku harus mencintainya?

Tidak, bukan sial.. Tepatnya: Bodoh!

Si bodoh ini tak pernah bisa melihat ketulusan cinta orang yang ada di dekatnya. Mana ada seorang teman biasa rela menjemputmu yang tengah terjebak banjir? Mana ada seorang teman biasa memberikan kejutan ulang tahun super romantis di tepi danau? Mana ada seorang teman biasa mau mendengarkan kegalauanmu di telpon semalaman padahal dia sendiri sedang demam? --- Si bodoh ini adalah aku! Aku yang kini menyadari betapa 'si teman' sangat penting dalam hidupku saat 'si teman' sudah berada ribuan kilometer jauhnya, terpisah oleh laut-samudera, berada di daratan asing milik ras kaukasia.

Mungkinkah perasaannya yang selama 4 tahun tak terbalaskan itu telah terhapus hingga dia tak merespon positif perasaanku? Apakah aku telah kehilangan kesempatan untuk menjadikannya hanya milikku?

*si tolol yang telah menyadari kepandirannya, berharap kamu mau kembali dan menerimanya.

Powered by Telkomsel BlackBerry®
Share:

0 comments:

Post a Comment

Free to speak up is still under circumstances, no violence